BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PERTAMA


__ADS_3

Mata Boy menatap tubuh Berlian yang baru saja bersentuhan dengannya, Boy tertunduk sambil tersenyum tubuh yang sempurna.


Berlian menyadari maksud tatapan mata, juga senyuman Boy, langsung menyilang kedua tangannya di dada. Pertama kalinya bagi Lian bersentuhan dengan lelaki, bahkan tanpa sehelai benang.


langkah kaki Boy mendekati Berlian yang langsung mundur, wajah Boy sangat dingin. Berlian diam memejamkan matanya, membiarkan Boy mendekati tubuhnya.


"Lian."


"Iya tuan." Berlian menarik selimut, menutupi kakinya yang terbuka.


"Kenapa kamu tidak ragu masuk ke dalam satu bathtub bersama, jujur aku laki-laki normal Berlian. Sejujurnya aku tidak membutuhkan pengawal, tapi pelayan. Bisa kamu melayani aku?" Boy menatap dada Belian, mendekati wajahnya.


Berlian berusaha untuk tenang, merasakan tangan Boy sudah menyentuh pundaknya, menurunkan bajunya sampai memperlihatkan pundaknya yang putih.


Hawa hangat nafas Boy juga terasa, mencium pundaknya, berjalan ke arah lehernya. Lian mencengkram erat seprai ranjang, merasakan tangan Boy menyentuh dadanya, bahkan menekan kuat, Lian langsung menarik tangan Boy untuk berhenti.


Belum sempat Lian protes, suaranya sudah tertahan. Boy sudah menutup mulutnya dengan ciuman, jantung Berlian berdegup kencang merasakan hangat bibir seorang lelaki.


Gerakan Boy pelan, mengigit pelan kedua bibir Berlian sampai Berlian memejamkan matanya menikmati saja permainan, sejak lahir dirinya sudah menjadi milik Boy, sudah saatnya Boy mengambilnya.


Mata Boy terbuka, langsung berhenti membiarkan Berlian yang sudah terbuka sampai dada. Boy mendekati jendela, melihat sebuah Drone sudah pergi menjauh, langsung mengabari Reza, Kai dan Rinda.


Boy kembali mengambil senjatanya, keluar jendela berdiri di atas balkon, tidak rela jika adik kecilnya harus di sentuh oleh pengawalnya, Boy menembak sampai Drone hancur.


Berlian menarik bajunya baru menyadari jika mereka diawasi, sehingga Boy sampai menciumnya. Boy menutup kembali tirai, membuka tabletnya mengabaikan Berlian yang sudah cemberut.


Melihat punggung Boy Berlian merasa seperti wanita malam, Lian langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi, Lian melihat dirinya yang sudah merasakan ciuman pertama.


Lian melihat tanda merah di pundaknya, di atas dadanya gigitan Boy, bahkan di lehernya mendapatkan tanda merah.


Berlian mengambil sabun, menyikat kuat lehernya, Lian merasa jijik, tapi dia tidak bisa menolak keinginan tuannya, inilah derita tidak memiliki orang tua, tidak ada yang menjaga, melindungi, sehingga harus menanggung semuanya sendiri.


Lian ingin sekali menangis, tapi tidak memiliki air mata. Lian berendam di dalam bathtub, terus menyikat setiap bagian yang sudah Boy sentuh.


Cukup lama Boy berdiam, dia berpikir Berlian tidur sehingga tidak ingin menganggu. Sampai pekerjaan selesai baru menuju ranjang, tidak melihat Berlian di atas ranjang, kening Boy berkerut melihat ke arah jendela, tidak mungkin Lian diculik.


Boy langsung membuka kamar mandi, melihat Berlian tidur di dalam bathtub. Menggunakan baju seutuhnya, Boy langsung mendekat melihat nafas Lian yang sedang tidur.


Tangan Boy menyingkirkan rambut Berlian, melihat leher Berlian merah semua, sampai terluka dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


Lian terbangun langsung menepis tangan Boy, cepat Lian berdiri menutupi tubuhnya yang basah, Boy juga berdiri langsung ke luar kamar mandi.


Dalam hati Boy merasakan bersalah, dia mencium Berlian tanpa memberikan penjelasan. Boy langsung lompat ke atas ranjang memutuskan untuk tidur.


Lian keluar dari kamar mandi, rambutnya terurai panjang menutupi lehernya yang merah. Tanpa membuka mata, Boy meminta Berlian untuk tidur di sampingnya.


Tanpa banyak bicara, Berlian menurut langsung menarik selimut memunggungi Boy. Nafas Boy terdengar, Lian berusaha menutup matanya.


"Maaf jika kamu merasa aku melecehkan kamu, sekarang kamu harus paham mengapa aku menolak dikawal oleh seorang wanita." Boy memejamkan matanya, menutup dengan tangannya.


"Saya mengerti tuan, hanya saja saya belum terbiasa."


"Belum terlambat Lian untuk kembali, besok pagi kamu bisa kembali ke Mansion. Jika kamu tidak ingin tinggal di mansion pergilah cari kehidupan normal, jangan memilih hidup seperti kami." Boy langsung berbalik, memunggungi Berlian.


Lian langsung duduk, menatap Boy tajam. Setelah puas menciumnya sekarang memintanya pergi.


"Tuan membuang saya?"


"Bukan membuang, memberikan kamu kesempatan hidup lebih layak."


"Saat Lian lahir, sudah digariskan untuk menjadi budak tuan. Lian hanya belum terbiasa, saya akan berusaha lebih baik lagi."


"Saya tidak menganggap kamu budak Lian, saya hanya merasa bersalah mencium kamu tanpa izin, langsung mengabaikan kamu. Lihat leher kamu merah semau karena merasa jijik atas perbuatan saya." Boy mendekati Berlian, menyingkirkan rambutnya.


"Maaf tuan."


"Tidak perlu meminta maaf, besok pagi kembalilah. Jika kamu masih memaksa untuk ikut, mungkin kita bisa melakukan hal lebih dari tadi. Ingat Berlian aku lelaki normal, terkadang aku tidak bisa mengendalikan nafsu."


"Tuan sering bercinta dengan banyak wanita?"


"Kenapa kamu menjadi kepo." Boy langsung tertawa melihat wajah Lian.


"Generasi penerus Chrispeter mesum."


"Saya tidak pernah sembarang menyentuh wanita Lian, kamu wanita pertama yang saya cium. Berhenti memanggil tuan, panggil Boy."


"Tuan jijik tidak mencium Lian?"


"Saya tidak mencium kamu dengan nafsu Lian, jika aku bernafas baju kamu sudah terlempar semua."

__ADS_1


"Mengapa tuan mengabaikan saya?" Lian menatap tajam, meninggikan suaranya.


"Di luar sana ada Kai dan Rinda, keadaan Reza lebih buruk lagi, dia meminum air di dalam botol yang sudah dicampur obat perangsang. Mentari dalam bahaya."


"Bagaimana keadaan Mentari?"


"Reza bisa mengendalikan diri, sampai pengawasan selesai dia dan Mentari bisa bertahan. Sekarang Reza sedang beristirahat dalam pengawasan Tari, Reza menyuntik dirinya sendiri dengan obat bius."


Berlian bernafas lega, ternyata Reza tidak mesum seperti ucapannya, bahkan menjaga Tari. Sekarang Berlian yang bodoh menyakiti dirinya sendiri, tentu membuat Boy bersalah.


"Maafkan Lian tuan, mulai saat ini Lian akan belajar mengendalikan keadaan."


"Berlian kita tidak akan bisa mengendalikan keadaan, generasi kakek semuanya laki-laki, generasi Bunda perempuan, sedangkan kita gabungan. Kamu pikir aku bisa mempercayai kak Miko dan Maxi, bahkan aku tidak bisa mempercayai diri sendiri. Sebaiknya kamu dan Mentari kembali."


"Tidak mau tuan."


"Bagaimana jika suatu hari kita berhubungan ranjang?" Boy langsung mengeluarkan nada dinginnya.


"Tuan harus bertanggung jawab!" Lian bernada lebih tinggi lagi.


"Saya tidak tertarik dengan cinta Berlian!" Boy menatap tajam.


"Bagaimana jika Berlian hamil, jika tuan tidak ingin bertanggung jawab Lian gugurkan saja." Lian menatap Boy sinis.


Boy langsung berdiri menunjuk Lian emosi, beraninya Berlian melawannya.


"Perempuan sinting, beraninya kamu membunuh anak sendiri."


"Lian tidak ingin hamil tuan! Lian belum siap menikah." Berlian teriak kuat, Boy langsung menutup telinganya.


Berlian berdiri di atas ranjang, langsung tersenyum melihat Boy duduk kembali, menarik selimut untuk tidur. Boy menatap sinis, melempar Berlian dengan bantal.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2