BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BENZ HANSEN


__ADS_3

Posisi mobil langsung ditukar, Boy melangkah pergi meninggalkan Reza yang mobilnya dibawa oleh pengawal, Maxi juga melakukan hal yang sama langsung kembali ke rumah.


Boy keluar dari mobil melihat Ayahnya memasukan banyak koper bersama Asep dan Raffa.


"Boy, mereka sudah melahirkan?" Bara menghentikan Boy yang tidak bisa bicara.


"Ada apa, cowok atau cewek?" Asep menunggu lama Boy yang kebingungan.


"Kenapa kamu balik lagi Boy?"


"Iya kenapa Boy pulang ke rumah?" Boy menatap Ayahnya.


Mobil Maxi berhenti langsung berlari kencang, menabrak Boy sampai jatuh.


"Minggir Boy, Rinda ingin lahiran."


"Astaga Berlianku." Boy langsung berlari ke dalam Mansion.


Bara langsung melangkah masuk, melihat Boy dan Maxi berlarian tidak tentu arah membuka semua kamar, berteriak kuat mencari Rinda dan Lian.


"Boy, Max mereka sudah dilarikan ke rumah sakit bersama Bunga, Kiara, dan Dara. Riani sudah menyusul bersama Haikal dan Rian." Roy menatap serius melihat kepanikan Boy dan Max.


"Aish." Boy langsung berlari menuruni tangga bersama dengan Max yang berlari kencang."


Bara berdiri di samping tangga berjalan ingin menghentikan Maxi, Boy tidak sengaja terkena kaki Bara langsung terjatuh terguling dari tangga, diikuti oleh Maxi.


Raffa dan Asep langsung tertawa, menutup mulutnya melihat tingkah Bara yang kurang kerjaan.


"Ayah." Boy langsung memukul lantai.


"Ayah bisa tidak menyingkir saja, jangan menghalangi jalan." Maxi langsung berdiri ingin melangkah keluar.


"Ehh, anak kurang ajar kalian berdua beraninya membentak Ayah."


Asep dan Raffa sudah berlari mengikuti Boy dan Maxi, langsung ikut masuk mobil.


"Boy, biar Daddy yang menyetir mobil." Asep langsung pindah posisi.


"Kak Bara ayo cepat masuk." Raffa teriak menatap Bara yang masih binggung.


"Kopernya bagaimana?"


"Ayah, Boy tidak punya waktu mengurus koper. Istri Boy ingin melahirkan. Cepat Ayah jika tidak Boy tinggal." Boy menarik Bara masuk mobil langsung menuju rumah sakit.


"Kejadian puluhan tahun yang lalu terulang kembali. Aku tidak bisa tampil keren di depan anakku, sekarang tidak bisa tampil keren juga di depan cucuku." Bara menghela nafasnya, sia-sia dia membeli banyak baju, sepatu bayi, mainan bayi.


"Tunggu cicit saja Kak Bara." Raffa tersenyum.


"Sudah ubanan, wajah keriput tidak tampan lagi."


"Ayah Haikal masih tampan, walaupun uban semua."


Bara menghubungi bawahannya untuk membawa mobil yang berisi koper, Asep menatap Bara yang tidak berhenti membahas koper.


"Boy, kemarin kita membeli sepatu roda kamu letakan di mana?"


"Tidak jadi membelinya Ayah, Lian langsung marah karena anaknya tidak diizinkan bermain sepatu roda."


"Kita harus memesan ulang Boy."


"Terserah Ayah."

__ADS_1


"Aku juga satu kak, untuk Mic." Raffa tersenyum.


"Aku juga Bara dua untuk Ken dan Ren."


"Oke kita pesan sepuluh, tapi Ken dan Ren namanya hampir mirip?" Bara tersenyum.


Maxi dan Boy memilih diam karena dalam kondisi panik.


***


Rumah sakit sudah heboh karena kedatangan cucu Chrispeter yang ingin melahirkan secara bersamaan.


Kaira langsung ditangani, Miko sudah gemetaran melangkah masuk menggenggam tangan Kaira.


Reza dan Reva lebih panik lagi karena Tari yang banyak mengeluarkan darah, kekhwatiran Reza beralasan karena kandungan Tari belum cukup bulan.


Dokter langsung membawa Tari setelah mendengar keluhan Reza, melihat Tari yang sudah semakin lemah, Reza memilih menemani meminta semua orang fokus menyelamatkan istrinya.


Bianka dan Rindu menunggu di depan pintu, sangat khawatir dengan keadaan Lian dan Rinda yang dadakan menyusul ingin melahirkan.


"Ya Tuhan lindungilah anak cucu kami." Bianka mengusap air matanya.


"Tenang Bi, di sana ada Mama Kia."


Bianka dan Rindu melihat rombongan mobil yang dikawal oleh pengawal memasuki area rumah sakit, seluruh dokter langsung bergerak.


Berlian sudah mandi keringat, berkali-kali merintih memanggil Boy. Bianka langsung menangis takut melihat Lian yang berusaha kuat.


"Bunda di mana kak Boy?"


"Sabar sayang, sebentar lagi Boy datang." Bianka menghapus keringat.


Rindu menatap putrinya yang tersenyum, bisa berjalan dengan santai karena sakit perutnya sudah menghilang.


"Iya Mami, tapi prediksi Rinda ketuban sudah pecah."


"Apa?" Rindu teriak kaget meminta dokter membawa Rinda ke dalam kamar rawat.


Lian masih ingin menunggu Boy, menanggung sakit yang hampir memutuskan nyawanya.


Langkah kaki Boy berlari terdengar, Bianka tersenyum meminta Boy segera masuk.


"Berlian belum lahiran Bunda?"


"Belum sayang, cepat masuk."


Boy masuk melihat Berlian mencengkram kuat ranjang sambil memanggil namanya.


"Sayang, genggam erat tangan kak Boy."


"Tuan,"


"Iya sayang." Boy langsung meneteskan air matanya.


"Kenapa menangis?" Lian tersenyum menghapus air mata suaminya.


"Sakit ya, aku tidak sanggup melihat kamu kesakitan." Boy menutup matanya.


"Calon Ayah menangis, tidak malu dengan baby Han."


"Lian, aku sangat mencintai kamu, berjanjilah kita akan menua bersama membesarkan anak-anak kita."

__ADS_1


"Siap Tuan, Lian akan menemani tuan hingga akhir hidup Lian, membesarkan anak Tuan penuh cinta dan kasih sayang." Lian mencium tangan Boy.


Boy tersenyum mencium kening Lian, menggenggam erat tangannya menyemangati.


"Boy minggir, perut Lian sakit lagi. Menjauh kak, sebelum kamu mati aku cekik." Lian teriak kuat.


Dokter dan perawat langsung merinding mendengar ancaman Lian, Boy tidak menyingkir sama sekali menggenggam erat tangan Lian, rambutnya juga ditarik kuat membuat dokter panik.


"Boy sakit." Lian teriak mengikuti instruksi dokter untuk mendorong bayi keluar.


"Iya sakit, kepala aku juga sakit Han cepat keluar sebelum Ayah botak." Boy meringis kesakitan merasakan rambutnya habis.


"Terus nona dorong lagi keluar."


"Bodoh, dorong terus. Kenapa kalian tidak membantu menariknya saja?" Lian teriak kuat, menatap tajam.


"Maaf Dok, istri saya memang emosian." Boy menggaruk kepalanya.


"Iya Tuan, nona ikutin instruksi saya untuk yang terakhir. Tarik nafas buang dorong lagi."


"Arrggg ...." Boy teriak bersamaan dengan Lian diikuti oleh tangisan bayi.


Dokter tersenyum menatap Boy yang terduduk lemas memegang kepalanya, melihat rambutnya yang habis ditangan Lian.


"Cukup sekali Lian kamu melahirkan, sekarang Boy mengerti kenapa tidak memiliki adik karena ini penyebabnya." Boy langsung berdiri memeluk Lian yang menangis melihat bayi mungilnya.


"Putra kita lahir sayang." Boy mencium kening Lian.


"Benz Hansen Chrispeter Arnold lahir pertama kali di generasi penerus." Boy tersenyum bahagia melihat bayinya yang menatap Lian.


"Han kamu tampan sekali mirip Ayah Bara."


"Sayang, mirip Ayah Boy." Boy mencium gemes putranya.


"Boy jorok, dia masih banyak darah."


"Aku tidak peduli darah apapun ditubuhnya, karena dia buah cinta kita, harta paling berharga dalam hidupku Berlian dan Han." Boy mencium tangan Lian dan tangan Han.


Boy langsung berlari keluar memeluk Bundanya karena sangat bahagia, dirinya sekarang sudah menjadi Ayah.


"Han sudah lahir bunda, selamat menjadi nenek." Boy memeluk Bianka erat.


"Nenek, selamat menjadi nenek lagi." Boy menciumi pipi Bunga yang meneteskan air matanya.


"Kakek, Hansen sudah lahir."


"Haikal dan Hansen, namanya yang bagus." Haikal memeluk Boy erat.


"Ayah, ingin dipeluk tidak?"


"Boy, kamu berpenampilan seperti ini di depan Han, coba kamu berkaca." Bara menggelengkan kepalanya.


"Bara, Han belum bisa melihat. Kenapa kamu masih bodoh seperti dulu." Haikal menjambak rambut Bara.


"Han buta?"


Semua langsung menatap Bara, langsung memukulinya karena kesal.


"Ayah, Ayah semakin tua semakin jahil, tapi Boy sangat sayang Ayah." Boy memeluk Bara yang juga memeluknya.


***

__ADS_1


NANTI DIKASIH BONUS, TERNYATA BELUM BISA TAMAT.


__ADS_2