
Suara tembakan terdengar, Reva dengan wajah marah terus menatap target tajam, menembaknya sampai hancur.
"Kak, bisa berhenti marahnya."
"Aku kesal! Bianka yang gila menembak Asep, ayah yang bicara meremehkan Asep. Aku tidak suka Rin." Reva melempar senjatanya.
"Rindu tahu kak rasanya diabaikan, rasanya berjuang sendiri, rasanya melihat seseorang yang kita cintai bersama orang lain, semuanya sangat menyakitkan tapi lebih menyakiti jika kak Reva menyerah sebelum berperang."
"Kamu enak Raffa Chrispeter, dia masih terikat dengan kita. Tapi aku dan Asep sangat berbeda jauh Rindu."
"Ya sudah lupakan Asep, Ikuti keinginan Daddy untuk dijodohkan dengan keluarga Eksel."
"Dia tidak imbang, dan aku merasa risih melihatnya." Reva masih ingat saat pertama bertemu keluarga Eksel, keluarganya memang sangat bersih tapi sikapnya yang sangat ramah menggangu Reva.
"Kak, tapi jika Rindu diposisi kak Reva, tetap akan mempertahankan Asep karena melihat Asep sama seperti Bara."
"Sama dari mananya?"
"Misterius."
"Bara sangat ceria, suka bercanda, tapi aslinya sangat dingin dan kejam sedangkan Asep dia sangat dingin juga kejam."
"Tapi dia pria lembut, buktinya dia melindungi Kaka. Dia dingin karena mempunyai luka, dia tidak punya tempat bergantung, bercerita kecuali menyerahkan hidupnya kepada Bara."
"Kamu benar Rindu, Bara mafia kejam juga bisa menjadi suami lebay, tapi tetap tegas dan penuh kelembutan."
"Tapi perjalanan Kaka harus melewati gunung yang terjang, lautan yang luas. Mendapatkan restu orangtua juga yang paling penting masalahnya Asep suka kak Reva tidak?" tawa Rindu pecah dan cepat langsung lari, sebelum Reva melemparkan racun yang tersimpan di balik kalungnya.
***
Pesta pertunangan Keisya dan Riki diadakan di hotel milik keluarga Chrispeter, rekan bisnis Riki yang tidak mengetahui jika dirinya keturunan Chrispeter cukup terkejut. Seluruh keluarga Chrispeter hadir dan menyambut para tamu.
Baik putra maupun putri Chrispeter sangat sempurna, cantik juga tampan banyak orang yang mengagumi tapi tidak mungkin berani mendekati, keluarga Chrispeter bukan hanya memiliki kekuasaan juga kekayaan tetapi juga menjadi keluarga yang paling ditakuti.
Keluarga sibuk berkumpul untuk pemasangan cincin, para tamu undangan juga melihat ke satu tujuan. Keturunan Chrispeter bergabung, pertunangan putra utama Chrispeter dengan putri dari anak tertua Chrispeter. Di saat yang paling dinantikan tiba, Bianka menghilang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Mau ini, ini juga, nah ini, mau ini juga, semuanya mau." Bianka mengambil banyak makanan, tidak meletakkan dalam piring tapi langsung ke dalam mulutnya.
Pengawal dan pelayan hanya bisa menundukkan kepalanya melihat Bi yang asik sendiri, mulutnya sudah penuh makanan.
__ADS_1
"Minum!" teriak Bianka yang kepedasan, Asep yang mengawal dari kejauhan langsung berlari mendekat memberikan minum.
Setelah minum dan kekenyangan Bianka berjalan ke tempat pojokan, Asep juga ikut dan berdiri di sampingnya.
"Asep duduk, leher Bi bisa copot melihat keatas."
Dengan penuh kesopanan Asep duduk sedikit menjauh, Bi hanya tersenyum melihat Asep yang sangat berhati-hati.
"Nona, bisa tidak jangan bikin malu, kenapa tidak mencari tempat duduk, jangan dilantai?"
Bi hanya diam menatap jauh ke depan, Asep mengikuti pandangan mata Bi. Terlihat Reva sedang berdiri dengan seorang pria yang Bi tahu dia Miko Eksel. Miko terlihat sangat bahagia, senyum penuh canda dan tawa.
"Dia Miko Eksel, pria tampan, baik, juga dari keluarga terpandang. Seluruh orang hanya tahunya keluarga mereka, tapi tidak tahu sifat masing-masing."
Mata Asep tajam, dia bisa menebak ucapan Bi, pasti ada rahasia yang selama ini ditutupi, bahkan keluarganya sendiri tidak mengetahuinya.
Dengan tatapan jijik, ditangan Miko sudah ada suntikan. Bianka hanya tertawa, Asep berdiri tidak percaya jika pria yang bersama Reva bisa mengancam putri Chrispeter. Tanpa aba-aba Asep langsung berlari menarik tangan Reva berdiri dibelakangnya.
"Siapa dia Reva, selingkuhan kamu jangan lupa jika kita terikat perjodohan."
"Perjodohan kalian tidak akan terjadi." Asep menatap Miko, tangannya sudah disembunyikan di belakangnya menyembunyikan suntikan obat terlarang.
"Sayang ayo bangun, nanti kamu kotor." Bara menarik tangan Bi, lalu melihat arah pandang Bi.
"Kak Miko sangat penasaran dengan keturunan Chrispeter, dia ingin menguji Reva melalui suntikan obat terlarang. Dia tidak tahu jika Reva bisa mengeluarkan ususnya."
"Tidak mungkin sayang,"
Mendengar jawaban Bara, Bi langsung menatap sinis. Tidak ada yang percaya ucapannya soal Keluarga Eksel, Bi sangat kesal bisa-bisa Bara memihak musuh.
"Kamu tidak percaya?"
"Bi, jangan marah sayang. Biarkan menjadi masalah Reva dan Asep, jangan membuat keributan antara kita ya sayang."
"Aku akan buktikan, kamu tonton saja anak dan istrimu dalam bahaya." Bianka melangkah pergi mendekat, Bara yang mendengar langsung marah, hanya untuk membuktikan sampai ingin membahayakan kandungan.
Miko tersenyum saat melihat Bi, tangannya langsung menangkap tangan Miko dan mengambil suntikan. Wajah ketakutan terlihat, mata Bi sangat menakutkan. Miko cepat melarikan diri, Bi menatap Bara yang juga terlihat emosi.
"Bianka!" teriak Bara membuat Bi terkejut dan ketakutan.
__ADS_1
Reva dan Asep juga terlihat kaget, Reva langsung mengambil suntikan. Langkah kaki Bara yang mendekat membuat keduanya melangkah mundur.
Tangan Bara menekan kuat kedua lengan Bi, tatapan marah juga terlihat. Bi tidak pernah setakut ini kepada Bara, tapi kali ini Bara terlihat sangat menakutkan.
"Aku cukup sabar Bi menghadapi kamu, tapi jika kamu ingin membahayakan anakku, jangan salahkan aku jika bersikap keras.
Bianka ingin menjawab tapi mulutnya terasa pahit, matanya langsung berkaca-kaca. Air bening akhirnya mengalir, Bara belum juga melunak melihat air mata Bianka.
"Aku, ma aaf," teriakan histeris Bianka terdengar, beberapa orang menatapnya.
"Ayah bunda!" tangisan Bi semakin menjadi, Bara bukannya merayu atau menghentikannya tapi langsung melangkah pergi meninggalkan Bi yang masih menangis.
Reva binggung menatap Asep, dia lupa dengan suntikan ditangannya. Di tengah kebinggungan, Reva melangkah tapi terpeleset dan suntikan terlempar kepada seorang pria tua. Asep menatap kaget, Reva langsung terduduk lemah beda dengan Bi yang menagis tapi tidak ada air mata lagi.
Suntikan dicabut, tatapan matanya merah melihat Bianka. Perlahan dia mendekat, Asep ingin menarik Bi tapi ditahan Reva.
"Seksi!"
"Bara!" Bianka teriak menggema membuat seluruh keluarga berpindah tempat melihat keributan, para tamu undangan juga ikut melihat.
"Obat perangsang! itu bukan obat terlarang. Dasar pria brengsek." batin Reva dalam hati, melihat pria aki tua membuka bajunya.
Sebuah tangan sudah berada di leher, cengkraman kuat mematikan. Riki yang melihat langsung berusaha mengehentikan Bara, tapi tidak dihiraukan.
"Beraninya kamu menatap istriku, anggap saja ini nafas terakhir."
"Bara hentikan! dia lelaki tua, cepat lepaskan." Riki menatap tajam di depan Bara.
"Tidak perduli tua atau muda, lelaki atau wanita. Hanya aku yang boleh memandang Bianka."
Raffa ikut membantu, Raka dan Raffi coba membantu melepaskan tangan Bara. Asep langsung mendekat menekan tangan Bara kuat, sampai terlepas lalu membalikkan tubuh Bara, Raka langsung menyingkirkan lelaki tua.
"Beraninya kamu Asep!"
"Pandangan di depan tuan jauh lebih indah, daripada kakek tua tadi. Nona sedang ketakutan dia butuh tuan."
Akhirnya Bara menatap Bi, bibirnya manyun air matanya menetes. Langsung berlari ke dalam pelukan Bara juga dibalas penuh rasa bersalah.
***
__ADS_1