BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 LUBANG


__ADS_3

Semakin masuk ke dalam rasanya semakin berbeda, Boy berhenti melangkah menatap sekitarnya yang merasakan banyak mata menatapnya.


Berlian juga berhenti melihat sekelilingnya yang sudah semakin di awasi, bau amis semakin menusuk penciuman.


Reza menatap Mentari yang memejamkan matanya, merasakan musuh yang semakin dekat.


"Mereka semua sudah bersiap, kita tidak bisa kembali ke pintu utama. Pilihan terakhir kita menembus pintu rahasia." Boy menunjukkan ke sampingan.


Semuanya melihat ke arah kiri, dari sebelah kanan keluar puluhan orang kanibal yang sedang kelaparan.


Posisi sudah membentuk lingkaran, semakin banyak yang keluar menatap dengan tatapan mengiurkan.


Berlian tertawa mengiris tangannya, Maxi Miko menatap Lian yang gila melukai dirinya dengan memancing menggunakan darah.


Ratusan kanibal mendekati Lian perlahan, Reza menatap Boy yang tersenyum saja mengabaikan, Mentari ingin mendekati Lian tapi tangannya ditahan Reza.


Rinda berjongkok mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan sebuah lipstik melemparkan kepada Lian yang langsung menyambut, Kai juga berjongkok mengambil tabletnya memberikan cairan kepada Lian untuk menutupi lukanya.


Boy melihat ke arah Lian yang sudah diserang, ratusan kanibal berbadan besar ingin mencabik-cabik kulitnya.


Maxi dan Miko juga sudah menyerang, melindungi Kaira dan Rinda yang melakukan kolaborasi untuk menciptakan bom, melenyapkan segalanya.


Mereka akan menggunakan darah Lian untuk memancing, di dalam darah Lian sudah ada racun.


Mentari dan Reza juga sudah bertarung, Boy melangkah mendekati Kai, meminta meledak Bom setelah 15 menit.


Kai menatap Boy menendang kuat sebuah pohon, membuka pintu bawah tanah yang di buat sebagai tempat persembunyian.


Lian mendorong Boy, dia juga masuk ke dalam bersama.


Tubuh Boy dan Lian terguling sampai tiba di bawah, melihat lumpur penghisap juga ada di sana.


Berlian merinding melihat sebuah lubang besar, banyak darah, juga ada mesin penghancur. Boy juga mendekat, awalnya Boy berpikir hanya lumpur hidup, tapi ternyata darah yang dicampur air.


Tatapan mata Boy melihat ke saluran atas yang lebih mirip seluncuran, langkah Boy dan Lian mundur melihat satu tubuh merosot dari seluncur jatuh ke dalam lubang besar.


Dari dalam lubang tubuhnya terpotong-potong, bau darah segar terasa membuat air semakin kental merah.


Boy menatap tidak habis pikir ada tempat pembantaian seperti ini, sangat kejam menjadikan manusia sebagai makanan kanibal.

__ADS_1


Boy dan Lian sembunyi di balik dinding tanah, suara ledakan terdengar, getarnya terasa membuat gundukan tanah longsor kecil.


Tubuh Lian penuh dengan tanah, begitu juga dengan Boy, banyak lubang terbuka, puluhan orang kanibal menyelamatkan diri dari ledakan dengan sembunyi di bawah tanah.


Mereka makan dan minum dari dalam lubang besar, tidak merasakan jijik langsung makan saja, tubuh mereka sudah mati rasa sehingga tidak merasakan sakitnya, juga menjijikan makanan mereka.


Lian ingin muntah, Boy menutup mulut Lian memintanya untuk bertahan.


Boy keluar, mengeluarkan belatinya tersenyum langsung maju menyerang, Boy menendang dan memukul tidak berpengaruh, Lian keluar mengatakan kelemahan mereka ada di jantung.


Lian melemparkan sebuah tombak, Boy langsung menangkap menendang kuat, sampai satu persatu jatuh ke mesin penghancur.


Berlian juga menyerang, ratusan kanibal yang ada di atas satu persatu keluar dari lubang. Boy dan Lian saling pandang, mereka sudah tidak mempunyai rasa sakit lagi padahal baru saja diledakkan.


"Lian kamu serang mereka, arahkan kepada aku, sisanya aku yang akan membereskan, kita bisa kehabisan tenaga jika meladeni mereka."


Berlian menganggukkan kepalanya, mengerti maksud ucapan Boy soal mesin lubang penghancur.


Langkah kaki Lian langsung maju, Boy menghela nafas, perempuan konyol di tempat seperti ini masih bisa berjalan dengan sepatu bot.


Boy mengambil tombak langsung menyerang lagi, menerima satu persatu orang yang Lian dekatkan ke arah lubang pemotong, Boy dengan mudahnya bisa melemparkan ke sana.


"Boy."


Wajah Lian sudah hampir menyentuh lubang, tapi Boy berhasil menarik rambut panjang Lian. Keduanya terjatuh saling berpelukan.


Lian memukuli dada Boy yang hampir melemparkan tubuhnya ke dalam lubang yang berisi tubuh manusia.


"Aku minta kamu mendorong manusia kanibal, kenapa kamu yang terlempar?" Boy mendorong kepala Lian untuk menjauhinya.


"Lian kehabisan tenaga, jadinya jatuh kamu tendang kuat perut aku." Lian memukul kepala Boy.


Boy tertawa melihat wajah Berlian, Boy juga kaget mendengar suara Lian memanggilnya, bersyukurnya masih bisa ditangkap, jika tidak tinggal nama Lian.


"Tuan gila masih bisa tertawa, jika Lian jatuh sudah sisa tulang."


"Tulang kamu juga habis." Boy tertawa, menangkis pukulan Lian.


Satu persatu tubuh kanibal jatuh ke bawah, menggelinding masuk ke dalam lubang. Boy dan Lian hanya bisa menatap tubuh jatuh, langsung hancur, puluhan kanibal jatuh ke bawah.

__ADS_1


Boy terdiam mendengar suara Reza memanggil namanya, Max dan Miko juga terdengar, suara paling nyaring suara Rinda yang teriak manja.


"Kak Boy." Rinda langsung mendekati Boy, melangkah ingin memeluknya.


Tubuh Rinda jatuh tergelincir mendekati lubang, Boy teriak kuat menangkap tangan Rinda, tapi terlepas.


Suara jatuh terdengar, tangan Boy gemetaran tidak mungkin adiknya jatuh ke dalam lubang. Reza berlari melihat Rinda yang sudah berada di seberang lubang bersama Berlian.


"Rin, kamu baik-baik saja?" Reza mengusap dada melihat Rinda mengangguk kepalanya.


"Kak Lian baik-baik saja." Rinda menatap Lian baju sobek, kakinya juga terluka cukup parah.


Boy berdiri melihat Lian yang wajahnya pucat, Boy yang gagal menangkap tangan Rinda, tapi Lian mengorbankan nyawanya melemparkan sebuah pelampung lompat ke dalam lubang menangkap tubuh Rinda, menggunakan tombak untuk menyebrang ke seberang.


Lian menatap pelampung sudah lenyap, tombaknya juga sudah lenyap. Mentari dan Kai bertepuk tangan, mereka sangat tahu Lian pintar memainkan tombak, juga sangat ahli pole dance bukan hanya tiang besi, Lian biasanya berlati dengan pohon.


"Kak Lian hebat, terima kasih." Rinda memeluk Lian.


"Bersyukurnya tubuh kamu kecil, sehingga pelampung bisa menampung kita berdua."


"Kecil, Rinda sudah besar, lihat dada Rinda sudah besar."


Lian tersenyum langsung ingin berjalan, tapi langsung terduduk melihat sepatu high heels sudah hilang bawahannya, sepatu Lian bolong.


"Kaki kak Lian terluka." Rinda meringis melihat kedua kaki Lian berdarah.


Boy langsung berlari melihat kaki Lian, meminta Kai segera mengecek kaki Lian yang terkoyak.


Puluhan orang terlempar ke dalam lubang, Max dan Miko datang melihat kekacauan yang baru terjadi, Lian terluka menyelamatkan Rinda yang hampir terlempar ke dalam lubang.


"Maafkan Rinda yang tidak berhati-hati, jangan marah." Rinda melangkah melewati max dan Miko yang hampir jantungan jika Rinda jatuh ke dalam.


Kai mengobati kaki Lian, tangan Lian menutup mulutnya agar tidak berteriak, mencengkram erat tangan Boy.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...

__ADS_1


***


__ADS_2