
Boy dan Miko saling pandang melihat sebuah sumur, lima orang muncul mengelilingi mereka berempat.
Maxi menatap tajam, tidak mengenali satupun dari mereka. Terlihat juga kekejaman dari raut wajah mereka, tubuh besar yang sangat kekar sangat berbeda jauh dengan tubuh Boy dan Maxi yang terawat.
"Kak mereka besar sekali, Lian tidak ingin bertarung." Lian langsung memeluk Boy dari belakang.
Tatapan mata Lian tajam, tersenyum sinis dari belakang Boy. Langsung melangkah mundur bersama Tari, sedangkan Boy dan Maxi terlihat santai maju ke depan.
"Boy Reza tidak merespon kita, berarti mereka juga sedang bertarung." Max menatap Boy yang tersenyum santai.
"Kak Max mengenal mereka?"
"Tidak, mungkin orang di bawah aku, tapi sepertinya mereka pembunuh berdarah dingin."
"Emhhh, berhati-hatilah kak."
Lima orang langsung maju menyerang Maxi dan Boy, keduanya langsung maju melawan. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi tidak memberikan sedikitpun peluang untuk menjatuhkan.
Boy menatap Maxi yang terlempar menghantam pohon, Rinda langsung maju membantu Maxi. Boy melihat Lian yang berdiri dengan tubuh gemetaran.
Boy berdiri tegap, mengeluarkan dua belati yang sudah beracun langsung maju menyerang, dua orang langsung menyerang Boy.
Tendangan dan pukulan manusia normal tidak berlaku, hanya dengan memutuskan urat nadi yang menjadi sumber kelemahan.
Pukulan yang menghantam wajah Boy tidak terasa, melihat darah menetes bersama dua orang yang melangkah mundur.
Rinda terlempar jatuh ke dalam sumur, Maxi tidak menyadari masih bertahan untuk menyerang.
Lian melihat Rinda terjatuh, langsung melangkah mendekat dengan tangan gemetaran langsung mundur.
Melihat Boy dan Maxi bertahan untuk melumpuhkan pasti akan terlambat menyelamatkan Rinda, Lian menarik nafas tidak ingin menjadi kelemahan yang lainnya langsung meninggalkan jejak lompat ke dalam sumur.
Rinda terguling berkali-kali sampai terpental ke sebuah batu membuatnya langsung tergeletak pingsan, beberapa pasang mata melihat kehadiran Rinda.
Suara dentuman jatuh terdengar kembali, Lian terguling berkali-kali sampai menghantam batu, tapi berhasil menghindar.
Lian melihat Rinda jatuh pingsan, kepalanya berdarah. Lian langsung menutup kepala Rinda meminta bangun.
Mata Lian melihat banyaknya orang yang berlalu lalang, dari kecil dan besar. Wanita dan pria juga sedang menatap Lian dengan tatapan mematikan.
__ADS_1
"Rinda bangun, kita keluar dari sarang semut masuk sarang ibunya."
Rinda cekikikan tertawa, memegang kepalanya berusaha untuk membuka matanya. Suara tertawa Rinda terhenti melihat banyaknya orang di dalam sumur.
"Ini bukan ibunya Lian, tapi keluarga besarnya." Rinda menepuk jidatnya yang sakit.
Berlian duduk diam, Rinda juga duduk diam melihat anak kecil mendekati Rinda, langsung ingin mengigit tangan Rinda. Lian langsung memukuli kepala anak kecil, Rinda juga langsung menampar dan menendangnya kuat langsung berlari bersama Lian.
Suara teriakan Rinda dan Lian sangat besar, ruangan sempit membuat suara mereka berdua terpantul, puluhan orang menutup telinga membiarkan Rinda dan Lian berlari.
"Kita lari ke mana lagi?" Rinda binggung melihat banyaknya cabang jalan.
"Gila Rin suara siapa yang teriak sangat besar, sampai sakit telinga Lian."
"Dasar Lian bodoh, itu suara kita berdua." Rinda memukul kepala Lian.
"Kamu kiri aku kanan."
"Bagaimana jika pintu keluar di depan?"
Lian langsung berlari ke depan, Rinda juga berlari ke depan, tapi balik lagi menuju ke arah kanan kemungkinan tembus ke hutan, jika mereka ke depan masuk penjara, sedangkan kiri tidak tahu pasti.
"Pastinya tidak, tapi kita coba saja."
"Ihh bodoh, kita tidak punya waktu untuk coba-coba mencari jalan yang tepat." Lian menatap tajam.
Langkah Rinda terhenti, mereka kehilangan jaringan dari lensa mata yang mereka gunakan untuk penerangan. Lian menggenggam tangan Rinda, memintanya jangan takut.
"Ayo melangkah bersama, di depan kita ada banyak bahaya. Lian yakin kita bisa keluar, karena ada keluarga yang menunggu kita, ayo Rinda jangan menyerah, kehilangan cahaya tidak membuat kita kehilangan semangat." Lian menarik tangan Rinda melangkah bersama.
Rinda memejamkan matanya, menggenggam tangan Lian. Senyuman Lian terlihat di kegelapan terowongan.
"Rinda, bejalan terus aku akan menjadi mata untuk kamu. Dulu aku berjuang sendirian merayap di ruangan sempit, tujuan Lian ingin hidup hanya untuk membunuh Boy, tidak menyangka sebenarnya tujuan aku ingin hidup bersamanya." Lian tertawa kecil.
"Jangan tertawa Lian, kamu mirip hantu." Rinda tersenyum berusaha terlihat santai, Rinda tidak ingin meninggalkan timnya juga keluarga seperti Rinda Chrispeter yang lalu.
Boy terjatuh dengan penuh darah, menatap langit malam mengatur nafasnya. Seluruh tubuh Boy mengeras sulit bergerak, dia sudah lama tidak bertarung habis-habisan dengan lawan yang sangat kuat.
Maxi berlutut, menghapus darah dari hidung dan mulutnya, langsung merangkak mendekati Boy menepuk pundak Boy mempertanyakan keadaan Boy.
__ADS_1
Boy langsung duduk menatap Maxi, mata Maxi juga menatap Boy sangat tajam. Keduanya langsung melihat sekitar tidak melihat Rinda dan Berlian.
"Kak Max di mana?" Boy teriak kuat, langsung berdiri tapi terduduk kembali karena kehabisan tenaga.
Maxi mengeluarkan senjata, mengarahkan kepada seseorang yang tertawa mengatakan jika wanita mereka sudah pasti mati.
"Katakan di mana mereka?" Maxi mengarahkan senjata ke dalam mulut.
Tidak ada yang menjawab, Max langsung menembak berkali-kali langsung berdiri berteriak memanggil Rinda.
"Rin, Rinda kamu di mana?" Maxi melihat ke arah sumur melihat sebuah tanda gelang Berlian.
"Mereka ada di dalam kak Max." Boy langsung ingin masuk, tapi Maxi menahan Boy.
"Tutup lubang ini, jangan sampai ada yang keluar lagi, kita cari lubang kedua." Maxi langsung ingin meledakkan, tapi seseorang langsung mendorong Maxi.
"Jangan bunuh anak istri kami!"
Boy dan Maxi langsung kaget, Max menendang kuat menyingkir pria besar tinggi di hadapannya.
"Anak istri, kalian sudah beranak-pinak di dalam terowongan." Boy menghela nafas.
"Jika sampai Berlian dan Rinda terluka jangankan anak cucu, semut di dalamnya juga akan mati." Boy mengancam.
Maxi langsung menarik tubuh Boy, sebuah ledakan langsung menghancurkan lubang besar sampai tertutup.
Lima buronan tubuhnya terkoyak-koyak hancur karena terkena ledakan. Max menarik Boy bersembunyi, seseorang melangkah mendekat sambil tertawa.
Boy menatap tajam, Max menahan Boy agar tetap sembunyi. Keluar sekarang hanya akan mati konyol.
"Chrispeter, kalian harus hancur. Hampir lima puluh tahun aku berada di dalam penjara Chrispeter, dari kecil sampai tua tidak melihat dunia luar, tidak punya kesempatan untuk melarikan diri. Tidak masalah aku terkurung selama hidup di sini karena tempat ini akan menjadi kuburan cucu Chrispeter." Suara tertawa terdengar.
"Z. Tempat ini akan menjadi kuburan kamu. Tidak akan aku biarkan kamu menguasai tempat ini, susah payah kakek menjaganya agar menjadi tempat paling aman untuk orang yang berbahaya. Kamu akan melihat betapa kuatnya cucu Chrispeter." Boy menggenggam erat tangannya, bersumpah akan berkumpul dengan timnya kembali.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***