BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
BIANKA MENGAMUK


__ADS_3

Satu jam sudah semuanya menunggu reaksi obat yang Reva suntikan, Bara tidak menunjukkan perkembangan. Ayah hanya menggelengkan kepalanya jika Bara harus dirawat di Lab untuk meninjau lebih lanjut.


Took toook tok....


Dua pria tampan masuk sambil tersenyum, tatapan mata mereka memandangi Bara yang masih terbaring dengan wajah pucat. Raffa tahu jika Bara suami kakaknya, walaupun jarang bertemu.


"Ayah, kenapa penampilan ayah seperti ini, memangnya tidak dingin hanya menggunakan celana bokser." Raffa tersenyum, yang lainnya juga memperhatikan penampilan Haikal yang tanpa baju, tangannya disilangkan di dada dan melangkah keluar.


"Daddy ngapain di lantai, masih mengantuk lanjut tidur Dad, lagian yang jaga tidak perlu berjamaah." Riki menggelengkan kepalanya, melihat Daddy yang sangat kucel muka bantal.


"Uncle Rian juga, mendingan cuci muka. Iler semua!" Riki menghela nafas, dan tersenyum saat melihat Kei yang langsung menunduk.


Raffa duduk di samping kakaknya sambil mengelus punggung Bi, Raffa untuk pertama kalinya melihat Bianka bersedih sangat berlarut dan tidak punya semangat bangkit.


"Kak Bi, Raffa punya sesuatu."


"Raffa kakak lagi tidak punya niat untuk bercanda, jika dalam 30menit Bara tidak menunjukkan perubahan, kita hanya punya dua pilihan." Bi menangis masuk ke dalam pelukan Raffa.


"Dia tidak akan mati Bi, lagian kamu mengapa cengeng sekali. Apa jangan-jangan kamu hamil." Riki menatap Bi yang sudah menggakat kepalanya.


Dara dan Bunga saling pandang tersenyum, mereka langsung meraih Bianka dan memeluknya bersamaan. Bunda mencium pipi Bi, Mama Kei yang baru datang membawa minum langsung tumpah dan memeluk Bianka erat dan mengucapkan selamat.


Rinda dan Rindu juga langsung memeluk dan memberikan selamat. Kei juga memberikan selamat, hanya Reva yang diam saja bersama Riani. Kalau Akbar hanya tersenyum, karena Bi harus dicek dulu untuk memastikan.


"Bi tidak hamil!" Mami Riani tersenyum.


"Reva setuju!" Reva langsung memeluk Mami Riani, semua ucapannya belum pernah meleset.


"Kalau Mami Ani sudah angkat bicara, semangat langsung hancur ini." Ucap Dara kesal.

__ADS_1


"Ya sudah mommy, doakan saja secepatnya." Riki tersenyum melihat Mommy yang sangat menyukai anak kecil.


"Kamu saja Riki yang cepat menikah, Mommy sudah tidak sabar lagi ingin melihat cucu. Iya kan Kia!" Mommy Dara tersenyum ke arah mama Kia.


"Iya daripada pacaran sembunyi-sembunyi!" Mama menatap Papa Akbar yang langsung melihat ke Kei.


"Kak Riki punya pacar, kenapa Raffa tidak tahu?"


"Kalau kamu tahu! namanya bukan sembunyi Raffa." Reva melotot sambil nyegir.


"Kalian semua lebih baik keluar, dan minta pengawal membawa Bara ke Lab." Bianka sudah pasrah, hanya tersisa lima menit untuk menunggu kesadaran Bara. Bi sangat takut dengan hasil Lab, kalau Bara sudah tidak ada, nafas Bara tidak terasa lagi, darah juga sudah tidak terlihat. Tubuh Bara sangat pucat dan mirip mayat hidup.


Raffa berdiri menarik rindu dan menyerahkan cairan, mata Rindu menatap Raffa malu-malu karena pria di depannya sangat tampan. Genggaman tangan Raffa juga membuat Rindu terpesona, rasa kagum Rindu kepada Raffa semakin menjadi saat mata mereka bertemu. Tapi Raffa langsung memutuskan tatapannya.


Raffa menceritakan pertemuannya dengan Kristan, Nayla masuk rumah sakit karena memikirkan Bara yang menghilang. Cairan yang Kristan miliki, penawar yang ayah Bara ciptakan dan hanya ada satu-satunya, sehebat apapun obat terbaru tidak akan bisa mengalahkan penawaran aslinya. Meninggalnya ilmuwan yang menciptakan, maka harus lenyap juga penelitiannya.


Rindu mengambil cairan, langsung masuk ke dalam ruangan penelitian milik Bianka, Rindu bisa melihat jika cairan memang aman. Tapi ini juga pertama kalinya, Rindu ciptaan penawar yang sangat hebat, tidak heran Bara cerdas dan jenius ternyata turunan dari ayahnya.


Seandainya Bara tidak terkena virus, mungkin mereka bisa meneliti soal cairan ini, tapi Bara jauh lebih membutuhkannya. Rindu memindahkan cairan ke dalam suntikan dan langsung mendekati infus Bara, Bianka yang ingin melepaskan infus langsung berhenti melihat tingkah Rindu.


"Tenanglah Bi, aku bukan Rinda yang sembrono. Sebelum masuk ke tubuh Bara aku sudah mengecek terlebih dahulu."


Bianka duduk kembali, Rindu mengatakan jika penawar akan bereaksi dalam waktu satu jam tapi mereka tidak menyangka. Tubuh pucat Bara langsung kembali, dalam 10menit mata Bara terbuka perlahan.


"Gila, ayah Bara jenius sekali. Gabungan penelitian Bianka, Bara, juga ayah Bara bisa menjadi penawar yang menjanjikan. Seadanya kita bisa meneliti lebih dalam pasti sangat luar biasa." Rindu melompat kagum.


Bianka juga tersenyum, hasil penelitian Bara yang disempurnakan para ayah, mampu membuat Bara tersadar. Hasil penelitian Bianka yang disempurnakan oleh Reva bisa membuat Bara bertahan, dua obat yang digabungkan bisa menghilangkan fungsi virus yang seharusnya bisa membunuh dalam hitungan detik tapi bisa membuat Bara bertahan cukup lama.


"Keren banget ayahnya Bara, dia bisa menciptakan virus berbahaya, tapi juga bisa menciptakan penawar yang luar biasa." Reva bertepuk tangan.

__ADS_1


Bi tersenyum melihat Bara yang mulai mengerakkan tubuhnya, seluruh keluarga berkumpul melihat Bara. Ingin sekali Bara tertawa melihat masing-masing wajah keluarga dengan ekspresi yang berbeda.


"Kalian siapa?" Bara menatap binggung.


Semuanya saling pandang mengaruk kepala, baru saja berhasil membuat sadar tapi sekarang sudah hilang ingatan.


"Rindu, kenapa sekarang Bara hilang ingatan." Reva menatap Rindu yang melongok tidak percaya.


"Entahlah! hal yang mustahil dia bisa hilang ingatan."


hiks hiks hiks tangisan Bianka nyaring membuat semuanya semakin panik, Bara ingin sekali tertawa melihat Bianka yang sangat mengemas. Andaikan tidak ada keluarga sudah Bara lahap hidup-hidup.


"Mendingan kalian semua keluar, pusing kepala Bi! Kamu juga Bara, sudah tahu berbahaya tapi masih saja dipertahankan. Lihat sekarang, semuanya mirip orang bodoh, untuk menyelamatkan satu orang saja hebohnya satu keluarga." Bianka memukuli Bara, yang lainnya langsung keluar sebelum Bianka mengamuk, para ayah dan Bunda juga keluar. Kalau Bianka sudah mengamuk langsung hancur satu kamar.


"Kak Bara, semangat! Raffa do'akan semoga saat keluar nanti masuk dalam keadaan hidup." Raffa berlari bersama Rindu diikuti Reva dan Kei.


"Bara, aku mengenal Bianka, 25tahun dan keluarga sangat tahu betapa gila nya Bianka saat mengamuk, semoga kamu selamat." Riki langsung keluar, meninggalkan Bianka dan Bara hanya berdua.


Bara yang awalnya ingin mengerjai Bianka dan kelurga jadi panik sendiri. Segila apa seorang Bianka kalau sudah marah. Bara melihat Bi turun dari atas ranjang, dan mencari sesuatu.


Perlahan Bara membuka infus, bagaimana kalau Bi membuatnya jadi hilang ingatan sungguhan.


"Kamu lupa siapa aku Bara?" Bianka melihat ke ranjang, tapi Bara sudah menghilang.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


***

__ADS_1


__ADS_2