
Suasana tenang, Reva membawakan cincin memberikan kepada Tari yang langsung memasangkan ke jari manis Reza.
Suara tepuk tangan terdengar, Reza dan Tari tersenyum bahagia.
"Hamil anak siapa kamu Tari? membuat heboh saja."
"Hamil?" Tari mengusap perutnya yang rata.
"Iya, banyak orang mengatakan kamu hamil?"
"Reza sialan, kita baru menikah beraninya kamu menuduh aku hamil anak orang lain." Tari memukuli Reza kuat menjadi tontonan.
"Jaga sikap, aku suami kamu." Reza menatap tajam.
"Tari belum hamil, kak Lian saja yang langsung melotot. Tari hanya mengatakan Reza calon suami juga calon Ayah untuk anak-anak kami nantinya. Salahnya Tari di mana?" Mentari langsung melangkah turun menjauhi Reza.
Suara seluruh orang tertawa terdengar, Reza langsung menahan Tari memeluk erat.
"Lain kali bicara sampai selesai sayang, nantinya jadi salah paham." Reza mencium bibir Tari.
Tangan Tari memukuli Reza habis-habisan, tapi pelukan Reza langsung menghentikan.
"Maaf istriku." Reza menakup wajah Tari menyatukan hidung mereka.
"Sudah, sebaiknya kita berfoto lalu istirahat sebentar. Kita masih ada satu acara lagi, baru bisa istirahat dengan tenang." Asep meminta semuanya berkumpul untuk foto bersama.
Semuanya meninggalkan ruangan pernikahan, langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Tari menghapus make up-nya, menatap Rinda yang asik tidur mengorok melupakan acara pernikahannya.
Lian, dan Kai juga sudah tertidur karena lelah dari pagi, Tari langsung tidur di samping Rinda yang sudah membuka matanya.
Rinda langsung melangkah keluar melihat langit yang sudah gelap, Rinda melangkah mengikuti langkah kakinya melihat Maxi duduk di belakang taman hotel.
"Ayang memikirkan apa?" Rinda memeluk Maxi dari belakang.
"Kamu tidak tidur?"
Rinda tersenyum dia terbangun karena bermimpi melihat Max duduk sendirian, ternyata mimpi Rinda nyata.
"Rinda kamu jangan membuat masalah seperti Tari?"
"Tenang saja Rinda tidak akan membuat heboh." Rinda memeluk lengan Max.
Maxi membuka matanya yang ternyata sedang tertidur melihat bulan yang sudah tinggi, Max menatap Rinda yang tidur di pundaknya.
Max langsung melihat jam tangannya, menatap Rinda tajam langsung membangunkan Rinda.
"Rinda ini sudah tengah malam?"
"Terus."
"Kenapa kita masih tidur di sini?" Max langsung berdiri.
Rinda langsung teriak kuat, melihat jam tangan Maxi, berlari bersama menuju ke tempat pernikahan.
__ADS_1
Max membuka gerbang, melihat tempat mereka mengucap janji sudah berantakan. Max memijit pelipisnya, Rinda melihat sekelilingnya langsung menangis sesenggukan.
"Bagaimana kak Max? kita batal menikah." Rinda menangis langsung memeluk Max.
"Sabar Rinda, kita temui dulu semua keluarga."
"Besok pesta, Rinda belum menikah. Sekarang sudah jam tiga dini hari, hanya hitungan jam pesta di mulai. Rinda ingin menikah sekarang." Rinda menendang kursi kuat.
"Ya sudah, ayo menikah walaupun hanya berdua." Maxi menakup wajah Rinda.
"Tidak ada saksi, pendeta juga tidak ada. Rinda tidak suka seperti ini." Rinda menangis, duduk di lantai membuang sendal beruang.
"Kak Max harus bagaimana?"
"Semuanya jahat!" Rinda teriak.
Max juga terduduk di kursi, Rinda marah-marah karena tidak ada yang membangunkannya. Pernikahan impiannya akhirnya hancur.
"Rinda teriakan kamu besar sekali." Boy memeluk Lian dari belakang menggunakan baju tidur yang sama.
"Kak Boy. Kalian jahat, Rinda belum menikah."
"Kalian berdua menghilang."
"Tidak, Rinda ada di belakang taman hotel." Rinda melempar Boy dengan sendalnya.
"Sudahlah Rinda memang nasib kalian berdua, belum boleh menikah."
"Diam! kamu jangan banyak bicara Lian, Rinda yang paling ingin menikah. Malam pertama impian Rinda hancur." Rinda teriak-teriak kuat.
Reza dan Mentari juga muncul, melihat Rinda mengamuk. Miko dan Kaira berlari melihat Rinda menangis dalam pelukan Max.
"Kak Mik, Rinda ingin menikah seperti kalian." Rinda memeluk Miko yang mengusap kepalanya.
Miko menatap Maxi, Boy dan Reza yang hanya diam saja. Miko menghapus air mata Rinda, memintanya berhenti menangis.
"Sekarang apa mau Rinda?" Miko menatap serius.
"Rinda ingin menikah sekarang." Rinda memajukan bibirnya cemberut.
"Oke kak Miko menjadi pendetanya, kalian semua menjadi saksi." Miko tersenyum menatap istrinya, Lian dan Tari yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Maxi menahan tawanya, berdiri di atas altar pernikahan. Melihat Miko membacakan konseling pranikah, barulah kegiatan doa untuk ungkapkan rasa syukur, dilanjutkan pemberkatan.
Maxi tersenyum menakup wajah Rinda yang masih cemberut, melihat ke bawah mencari kedua orangtuanya.
"Rinda menikah menggunakan baju tidur." Rinda memukul dada Max.
"Rinda Chrispeter aku mengambil engkau menjadi istriku ...." Maxi mengucapakan dengan suara lembut juga penuh wibawa.
Rinda juga mengucapkan janji setia pernikahan, senyuman Rinda terlihat menatap Max yang sangat tampan.
"Rinda, aku tidak memahami karakter kamu. Saat kamu lahir aku melihat mata indah kamu, ada kebahagiaan yang sangat besar saat melihatnya. Mencintai kamu sebuah anugerah yang tidak bisa aku ungkapkan betapa bersyukurnya aku. Terima kasih sudah menerima aku sebagai suami, menerima semua kekurangan aku, menerima betapa buruknya diriku."
"Rinda tidak tahu apapun, hanya tahu betapa besarnya Rinda mencintai kakak."
__ADS_1
Maxi memeluk erat Rinda, mencium keningnya lama. Boy tersenyum menarik tangan Lian untuk naik ke atas altar.
Reza, Miko juga menarik istri mereka untuk berdiri bersama ke atas altar untuk berfoto. Miko memasang kamera langsung berlari ke arah Kai.
Boy tersenyum merangkul pinggang Lian, berdiri di atas altar, Maxi dan Rinda berdiri di samping Boy saling tatap.
Reza mencium pipi Tari berdiri bersama dengan Miko yang mencium kening Kaira.
Semuanya tertawa memeluk istri masing-masing, Boy mencium bibir Lian, diikuti oleh Maxi dan Rinda. Begitupun Miko dan Kai, Reza Mentari yang terlihat di dalam foto.
Keempat pasangan pengantin tertawa bahagia, Rinda masuk ke dalam pelukan Maxi, memejamkan matanya melihat dirinya dan Maxi menggunakan baju pengantin.
Rinda melihat dirinya berjalan bersama Papinya Raffa, lelaki pertama yang Rinda cintai, lelaki yang selalu mencintainya sejak lahir ke dunia.
Raffa tersenyum mencium kening Rinda, meminta Maxi menjaga putrinya. Menerima baik buruknya sikap Rinda, sanggup meladeni bertapa manjanya putrinya.
"Maxi, jaga putriku."
"Terima kasih Tuan sudah memberikan restu, Maxi berjanji akan menjaga, melindungi juga mencintainya selamanya." Maxi menyambut tangan Rinda.
Mata Rinda terbuka menatap wajah Maxi, mendengar suara teriakan Maminya yang meminta semuanya bubar untuk bersiap ke kamar rias.
"Apa yang kamu lakukan Rinda?" Mami Rindu menatap putrinya.
"Rinda, pingsan saat pernikahan?" Rinda mengigit bibirnya.
"Akhirnya kamu sadar membedakan antara mimpi dan nyata. Buat malu saja, dicium suami jatuh pingsan." Rindu tersenyum menatap Rinda yang memandang cincin nikahnya.
"Rinda sudah menikah, cincin ini sudah melingkar dijari Rinda." Air mata Rinda menetes langsung menatap tajam Miko, Boy dan Reza yang sudah tertawa langsung keluar.
Rindu juga melangkah keluar, membiarkan Rinda dan Maxi berduaan.
"Kak Max, Rinda jatuh pingsan."
"Kak Max sudah katakan jangan tegang, akhirnya jatuh pingsan." Max memeluk Rinda.
Maxi langsung menggendong Rinda menuruni altar, berjalan kembali ke hotel.
"Selesai pingsan Rinda tidur, padahal Rinda ingin malam pertama."
"Kumpul tenaga untuk besok saja Rinda, kita memiliki banyak waktu bersama."
"Kak Max ayo mandi bersama?"
Maxi langsung tertawa, seharusnya lelaki yang mengatakan.
"Rinda, kita pisah kamar dulu ya."
"Tidak mau."
"Memangnya Rinda sudah siap malam pertama?"
"Lahir batin." Rinda menciumi wajah Maxi.
Maxi hanya tersenyum, Rinda memang wanita paling unik. Selama make up gemetaran, selesai memasangkan cincin langsung jatuh pingsan, membuat heboh semua orang yang langsung panik, tapi saat bangun melupakan pernikahan.
__ADS_1
Rinda sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan.
***