BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
RACUN PELUMPUH


__ADS_3

Keadaan kapal langsung gaduh karena melihat keadaan Nayla yang tidak bisa melihat. Bara yang dari awal sudah berusaha untuk kuat dan menahan air matanya, coba mengontrol emosi nya.


"Nay, pejamkan mata kamu, lalu buka lagi." Bara memberikan instruksi, Nayla mengikutinya tapi tetap saja Nayla tidak bisa melihat.


"Bara! Nayla buta, larikan saja dia ke dalam Lab Chrispeter. Carikan donor mata." Rinda bicara dengan suara lembut dan pelan.


"Apa yang terjadi?"


"Boby menyiram mata Nayla, agar tidak melihat yang dia lakukan. Cairan yang Boby gunakan bisa mengakibatkan buta permanen."


Semuanya terdiam, marah juga sudah percuma. Boby sudah menjadi tulang belulang yang sudah hangus.


Rinda menundukkan kepalanya, memegang darah yang keluar dark mulutnya. Rindu langsung mendekat, dan mengecek keadaan Rinda.


"Kamu juga terluka Rinda?" Rindu nampak khawatir, Reva juga mendekat.


"Boleh kita kumpul berlima dan bercerita perjalanan kita sampai saat ini." Rinda tersenyum lalu meneteskan air matanya.


"Nanti saja Rinda, saat kita tiba di mansion. Kita bisa bicara sepuasnya."


"Rinda takut tidak punya banyak waktu lagi."


Tangisan Nayla dalam pelukan Bara, mengalihkan konsentrasi Rindu dan Reva. Mereka juga kasihan melihat Nay, belum lagi dia tahu soal Kristan. Dengan berat hati Bara menyuntik Nay agar tidur.


Mata Bara terpejam melihat keadaan adiknya, Bianka memeluk lengan Bara untuk menguatkannya. Mereka akan melakukan segala cara agar Nayla mendapatkan donor mata.


"Aku keluar dulu Bianka," Bara langsung keluar meninggalkan ruangan Nayla menuju ke atas kapal untuk menenangkan diri.


Bi melihat ke arah Rinda yang semakin melemah, Bi coba mengecek keadaan Rinda tapi terlihat normal dan baik-baik saja.


"Wajah kamu pucat sekali Rinda, bagian mana tubuh kamu yang sakit." Bi menyentuh seluruh tubuh Rinda, yang lain juga berkumpul melihat keanehan dari tubuh Rinda.


"Bi, jagalah keluarga kecil kamu berjanjilah akan bahagia, Rinda bangga menjadi bagian dari perjalanan Bi."


"Kak Rindu! jaga Mami dan Papi, hiduplah bahagia jangan sering bertarung lagi, Raffa mencintai Kaka menikahlah dan hidup bahagia."

__ADS_1


"Bicara kamu aneh Rinda! melihat keadaan seperti ini masih sempat bicara ngelantur."


"Kak Reva, terimakasih karena selalu menjaga Rinda. Kaka juga harus terus semangat mengejar cinta Kaka, hiduplah dengan normal kak."


"Kei, jaga kak Riki, Rinda senang karena seorang Kei menjadi adik ipar untuk Rinda."


"Berhentilah bicara Rinda!" Rindu membentak, Rinda hanya tersenyum manis.


"mungkin ini pertemuan terakhir kita."


Semua mata menatap Rinda tajam, tidak ada yang menjawab ataupun mengerti. Ucapan Rinda seakan pesan terakhir dan kata-kata perpisahan untuk selamanya.


Air mata Rinda perlahan mengalir, tangannya juga sudah mulai gemetaran. Sedih sekali hatinya harus berpisah dengan saudarinya yang selalu melindunginya, menjaga juga membuatnya menangis dan tertawa.


"Maksudnya kamu apa dek? jangan membuat kita semua khawatir." Rindu bicara pelan dan menghapus air mata Rinda.


"Iya Rin, kita berhasil keluar dari pulau. Kita pulang ke Mansion dan kembali seperti biasanya." Kei juga menangis tanpa alasan, perasaannya hanya sedih saya.


"Rinda meminum ramuan pelumpuh, hanya bisa bertahan sesuai kekuatan tubuh. Boby mengambil organ tubuhnya Nay, membuatnya buta juga ingin memberikannya sebagai uji coba racun terbaru. Rinda meminta Boby memberikannya pada Rinda, Nayla harus hidup panjang."


"Tapi kenapa tubuh kamu normal, hanya memucat saja." Semuanya mendadak panik, racun pelumpuh bisa membunuh dengan cepat.


Bi langsung berlari mencari sesuatu untuk mengetahui tingkat kelumpuhan tubuh Rinda, Reva juga mulai mencari tahu agar Rinda lebih lama bertahan. Rindu sudah menangis, dia pernah menangani kasus soal racun pelumpuh. Ada yang bertahan satu hari, dua hari, paling lama empat hari. Rinda satu-satunya yang bisa bertahan lima hari tanpa penawar.


"Kei dunia medis pernah menangani T


racun ini."


"Pernah, tapi resikonya sangat besar. Mengalami kelumpuhan, menghilangnya fungsi otak, tapi tetap saja berakhir dengan kegagalan."


Tangisan Rindu semakin kuat, dia memeluk Rinda yang tidak bisa berdiri lagi. Paman satu dan dua yang mendengar tangisan Rindu langsung masuk dan melihat Rinda melemah, Asep juga masuk mendengar yang terjadi pada Rinda.


"Paman satu, jadilah pengawal pribadi keturunan kak Rindu. Paman sudah janji akan melindungi Rinda, lanjutkan pada keturunan kakakku. Perjuangkan Rinda sudah berakhir."


Paman satu langsung berlutut, dia melipatkan kedua tangannya. Gadis kecil putri Rian, orang yang pernah menangkapnya dan memasukkannya dalam penjara. Tapi melihat senyuman Rinda hatinya langsung luluh, melihat perjuangan para putri paman satu sangat bangga dengan keluarga Chrispeter.

__ADS_1


"Bertahanlah! paman memohon."


Asep berlari naik ke atas kapal menuju tempat Bara meluapkan emosinya.


"Tuan! Nona Rinda meminum ramuan pelumpuh beracun. Tubuhnya semakin melemah, dia sudah bertahan selama lima hari."


Cepat Bara berlari, melompati tangga dan melihat keadaan Rinda yang tersenyum dalam pelukan Rindu. Melihat keadaan Rinda, Bara terdiam rasanya tidak mampu lagi berdiri.


Rinda orang pertama yang membuat Bara bisa tertawa lepas tanpa kepalsuan, Rinda orang yang mengajari sebuah ketulusan. Tawa Rinda yang polos membuat Bara nyaman dan tidak memiliki beban hidup.


"Rinda! maafkan aku tidak bisa menepati janji untuk melindungi kamu, aku pernah mengatakan kamu menjadi orang yang akan aku lindungi di dunia ini."


Bara mendekat dan berlutut dihadapan Rinda, mata Bara langsung merah. Tangisan tanpa berair, dada Bara sesak karena dia pernah gagal menyelamatkan adiknya Asep karena racun pelumpuh.


"Menangis kak jangan ditahan, rasanya sangat sakit kak Bara menangis tanpa air mata. Jaga anak dan istri kakak, jangan terlalu larut dalam kesedihan." Rinda hanya tersenyum.


Cepat Bara memberikan perintah untuk mengabarkan kepada keluarga Chrispeter soal keadaan Rinda, permintaan Rinda ingin pulang ke Mansion.


Nara mencari Bianka yang ternyata sudah terduduk, matanya sembab karena menangis. Bianka pernah meneliti soal racun pelumpuh yang membunuh perlahan, racun pernah dihilangkan sejak penciptaan meninggal. Tidak pernah ada yang tahu jika masih ada yang mengembangkannya.


"Sayang!"


"Kak! Bi takut, sudah cukup Bianka terluka karena tidak bisa menyelamatkan anak Bi. Sekarang Rinda juga sekarat." Bianka menangis dalam pelukan Bara yang juga ikut menangis mengingat anak mereka.


"Maafkan aku Bi!"


"Bagaimana kita menyelamatkan Rinda, dia sudah bertahan lima hari Bara."


"Aku dulu pernah mencoba menyelamatkan adiknya Asep, tapi jika kita memaksa membuat tidak sadarkan diri. Jantungnya bisa langsung berhenti."


"Aku sudah memberikan kabar kepada keluarga, kita berharap para ayah bisa melakukan sesuatu. Sebentar lagi kapal akan bersandar."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2