BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SUARA INDAH


__ADS_3

Mobil Rinda hilang kendali, cepat dia membanting setir masuk ke dalam jalan setapak menerobos sebuah rumah.


Seluruh orang yang sedang dalam rumah melakukan rapat penting lari, semuanya panik melihat mobil dengan kecepatan tinggi masuk rumah.


Maxi dan Miko mempercepat laju mobil, berhenti di depan rumah yang sederhana. Melihat banyak orang lari dari rumah, masuk mobil masing-masing.


Tidak ada yang mempedulikan Rinda, mobilnya berasap mengepul di dalam rumah. Suara Rinda batuk terdengar, Max yang berlari masuk langsung membuka pintu kemudi, mengendong Rinda keluar.


Miko mengambil alat pemadam kebakaran, menyiram mobil. Rinda sudah dibawa keluar, Rinda menutup mulutnya yang batuk.


"Rinda kamu baik-baik saja?" Max memangku Rinda yang hanya diam saja.


Miko menghubungi Boy untuk menemuinya di tempat kejadian, ada satu hal yang akan membuat Boy kesenangan.


Semua yang Boy dan Reza cari ada di dalam rumah kosong, Miko tersenyum melihat ke arah mobil melihat Maxi mengusap wajah Rinda.


Miko yang berniat menunggu di mobil membatalkan niatnya, memberikan waktu untuk mereka berbicara.


Di dalam mobil Max melihat kening Rinda yang membiru, ada sedikit darah yang Max bersihkan.


"Rinda bagian mana yang sakit?" Maxi menyentuh setiap wajah Rinda.


Merasakan sentuhan Max Rinda diam saja, dia tidak merespon sedikitpun membuat Max menghela nafasnya.


"Rinda jawab, jika kamu masih diam kak Max cium." Maxi memeluk erat tubuh Rinda.


Rinda bergerak ingin melepaskan pelukan Max, mata Rinda langsung melotot merasakan ciuman dadakan.


"Masih ingat diam?" Max mencium bibir Rinda, mengigit bibir bawahnya.


Tangan Rinda berusaha mendorong tubuh Maxi, menghentikan ciuman Max. Rinda kehabisan nafas, begitupun dengan Max.


"Maaf, maafkan kak Max Rin. Jujur kak Max sayang kamu." Maxi memeluk tubuh Rinda, mencium lehernya meninggalkan jejak kecil.


"Tolong bicara Rin, apapun yang Rinda inginkan akan kak Max turuti."


Air mata Rinda menetes, langsung cepat menepisnya. Max menyatukan kepala mereka mengusap air mata Rinda yang terus keluar.


"Maafkan kak Max Rin, tidak ada sedikitpun niat menyakiti kamu. Kak Max berpikir kamu masih terlalu muda, belum paham sebuah pernikahan. Kenyataannya bukan Rinda yang tidak dewasa, tapi kak Max. Maaf." Maxi mencium kening Rinda.

__ADS_1


"Rinda memang wanita aneh, terkadang Rinda juga merasakan risih dengan diri Rinda." Rinda menjauhkan tubuhnya dengan Max.


Max masih terdiam mendengar suara Rinda, sudah lama dia tidak mendengar suara indah Rinda yang manja.


"Kamu tidak aneh, tetapi kamu istimewa. Papi Raffa benar, kamu Chrispeter yang spesial. Tidak ada yang memahami kamu, tapi selalu memahami orang, tidak ada yang tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kamu bisa tahu apa yang orang pikirkan." Max mencium lembut Rinda, mengharap balasan dari Rinda.


Maxi tersenyum, memeluk erat Rinda yang sudah berbicara walaupun hanya satu kali. Tidak ada yang bisa mengisi hari penuh kekacauan, senyuman, kegilaan selain Rinda.


"Rin, Daddy ingin aku menikah dengan seorang wanita yang pernah aku tolong. Apa yang harus aku lakukan?"


"Kak Max cinta dia?" Rinda memonyongkan bibirnya.


"Tidak, bahkan kak Max lupa wajahnya. Daddy yang mengatur pertemuan."


"Terserah kak Max." Rinda membuang arah pandangnya.


"Menurut kamu, kak Max ingin mengikuti keinginan kamu."


"Jika kak Max ingin mencobanya silahkan, Daddy pasti sudah melihat keluarga mereka. Daddy sudah mengganggap kak Max bagian Chrispeter, tidak heran wanita terpandang menginginkan kak Max." Rinda langsung keluar dari mobil.


Maxi tersenyum, ternyata perasaan Rinda masih sama. Cemburu tanda cinta, hanya perlu berbicara dengan Daddy Raffa yang tidak sembarang orang menyentuh putrinya." Maxi juga melangkah keluar mengejar Rinda.


"Max bibir kamu kenapa merah?" Miko menyenggol lengan Maxi.


Rinda melihat ke belakang mobil Boy, Reza juga ikut bersamanya. Keduanya langsung melangkah masuk melihat satu meja hancur ditabrak mobil.


Reza melihat beberapa komputer, Boy juga melihat surat menyurat penting tertinggal.


"Dasar manusia bodoh, ingin menjadi penjahat tapi mental lemah. Seharusnya mereka melakukan perlawanan, tetapi kenapa melarikan diri." Boy menatap Reza.


"Sudah Reza katakan, mereka memiliki banyak bawahan. Orang yang perlahan jatuh miskin mereka angkat menjadikannya mainan, juga alat pencari uang." Reza menunjukkan laptop yang retak, tapi masih hidup.


Boy dan Reza tersenyum, pekerjaan mereka akan lebih mudah sehingga bisa liburan. Reza menyerahkan kepada Boy, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya agar saat liburan pikirannya tenang, tidak ada lagi suara Tari yang mengomel soal kerjaan.


Miko, Reza, Boy Maxi sibuk mengumpulkan seluruh barang bukti, kali ini mereka akan memberikan kepada pihak yang berwajib.


Boy menangkap banyak sekali karyawannya yang memakan uang masuk, bekerja seakan-akan tidak mempunyai dosa.


Rinda duduk menatap empat orang yang menyalin seluruh barang bukti, penting Rinda berkerut.

__ADS_1


Reza melihat Rinda langsung lemas, menyenggol Boy untuk melihat ke arah Rinda.


"Apa Rin? kita sudah menyusun rencana untuk liburan jangan kamu bilang akan ada masalah lebih besar lagi." Boy menatap lemas.


"Kak kalian sadar tidak jika di mobil Rinda ada perekam, bisa melihat mereka semua. Orang lemah akan membusuk di penjara, tetapi orang yang memiliki kekuasaan bisa lolos dengan mudah selama mereka memiliki uang." Rinda tersenyum.


"Maksudnya Rinda, pihak kepolisian juga tidak bisa kita percaya?" Miko menatap Rinda.


"Rinda ingin bertanya, penjara mana yang paling kejam?"


"Chrispeter." Max membuka sebuah map.


"Rinda, orang waras masuk sana keluarnya gila, orang gila keluarnya mati."


Max setuju dengan Rinda, mereka harus diberikan pelajaran. Penjara biasa tidak akan cukup, hukuman untuk orang yang memakan yang bukan haknya tidak pantas hidup bebas."


Boy dan Reza saling pandang, menatap Max yang harus membawa mereka ke markas, setelahnya mereka akan mendapatkan kejutan.


Rinda tertawa langsung berdiri merasa lucu dengan tingkat Max, Reza, Boy dan Miko. Mereka sudah besar juga tua tapi pikirannya kekanakan.


"Rinda hanya bercanda, kalian harus memikirkan keluarga korban. Pilihlah salah orang yang paling bersalah untuk bertanggung jawab, tapi pahami juga perasaan anak mereka." Rinda langsung melangkah pergi.


"Rinda sedang mengetes kita?" Maxi menatap tiga pria yang melihatnya kesal.


"Kak Max Rinda sedang melihat betapa kejamnya kak Max." Boy menatap tajam, Maxi langsung melangkah pergi.


Melihat Maxi pergi, Boy langsung tertawa kuat. Reza juga tidak bisa menahan tawanya melihat Maxi yang sangat polos.


"Jadi kita memilih rencana yang mana?"


"Rencana yang paling cepat sehingga kita bisa liburan." Boy melangkah pergi.


Maxi menahan tangan Rinda, meminta maaf jika di mata Rinda Max pria yang kejam. Rinda tersenyum mengusap kepala Maxi.


"Kenapa minta maaf, kak Max akan mengerti setelah merasakan yang namanya keluarga sehingga kekejaman itu langsung lenyap."


"Keluarga?" Max tersenyum menatap Rinda yang melangkah pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2