BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 TIDAK TERLIHAT


__ADS_3

Pintu ruangan Boy terbuka, Lian tidak pergi bekerja karena kelelahan. Setelah puas beristirahat barulah menyusul Boy ke kantor.


"Kak Boy."


"Sore sayang." Boy mencium seluruh wajah Lian.


"Sudah makan belum?" Lian menatap Boy yang merapikan beberapa berkas yang sudah ditandatangani.


"Sudah sayang, bagaimana istirahatnya sudah puas belum?"


"Puas banget, Lian tidur dari jam satu bangun jam empat langsung mandi pergi ke sini."


"Seluruh karyawan sudah pulang, kita ulangi satu kali lagi di sini." Tangan Boy memohon.


Rinda langsung menjatuhkan buku tebal, menatap Boy yang mengabaikan kehadiran mereka. Lian memeluk Boy langsung menolak, ingin segera naik ke lantai atas.


Boy mengerutkan keningnya, membukakan pintu untuk empat wanita. Melihat Max dan Miko sudah menunggu di luar, Reza baru saja keluar dari dalam lift.


"Reza sudah menyiapkan makanan untuk nanti malam." Reza menggenggam tangan Tari, masuk kembali ke dalam lift.


Pintu apartemen terbuka, Boy mempersilahkan masuk. Rinda langsung tersenyum melihat kemewahan apartemen Boy, hanya ada satu yang aneh.


"Kak kenapa apartemen besar ini kosong, hanya ada tempat tidur, meja makan, sofa, tidak ada buku, atau semacamnya."


"Untuk apa? kak Boy tidak pernah tidur di sini."


"Kaira juga merasakan aneh, seharusnya ada pintu kamar. Kenapa ini tidak ada sama sekali?" Kaira duduk di ranjang.


"Ini bukan apartemen, tapi gedung kosong yang biasanya digunakan untuk pertemuan, perlombaan."


"Kak Max benar, tempat ini juga bisa digunakan tempat gedung pernikahan. Tempat ini bisa menampung lebih dari seribu orang." Miko tersenyum menyentuh dinding yang masih kokoh.


Tawa Rinda langsung pecah melihat bercak merah di atas tempat tidur, Kaira menutup mulutnya melihat kamar yang belum dibersihkan.


"Ada darah?" Tari melihat di seprai ranjang.


"Darah apa ya?" Rinda tertawa lucu.


"Mungkin hantunya terluka." Tari menatap sedih.


Berlian langsung melangkah mendekati, melotot melihat bercak darah langsung menarik seprai memasukan ke dalam kamar mandi.


Suara tawa Rinda dan Kaira semakin kuat, Tari belum menyadarinya langsung membantu Lian membersihkan.


"Rinda kamu tertawa sudah sadar belum jika bekas kalian belum dibersihkan?" Kaira menatap Rinda yang langsung diam.


"Kak Kai benar." Rinda menepuk jidat karena meninggalkan hotel terburu-buru.


Acara makan malam penuh canda dan tawa, selesai makan lanjut main game bersama. Lian dan Reza lebih ahli dalam bermain game online, Mentari yang harus menangis karena tidak sekalipun menang.


Pertengkaran selalu terdengar, suara jam berdentang terdengar menunjukkan pukul dua belas malam.


Boy melihat Lian yang sudah tidur di ranjang bersama Tari, Rinda dan Kaira.

__ADS_1


"Berapa jam lagi kak?"


"Satu jam lagi." Boy langsung duduk diam menatap jam.


"Sebaiknya kita pulang Boy." Maxi menatap sekeliling yang membuatnya merinding.


"Nanti Max, kita sudah ada di sini." Miko tersenyum.


Miko kembali membicarakan soal obat, sempat mempertanyakan kepada Kakek Roy. Percakapan tidak terasa sudah satu jam, tidak ada yang menyadari karena mendengar penjelasan Miko.


Tiba-tiba angin kencang, lampu langsung mati semua. Keadaan ruangan gelap gulita, Reza menghidupkan ponselnya menghidupkan senter handphone, Boy, Max, dan Miko juga melakukan hal yang sama.


Boy menyinari jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu lewat, melihat angin semakin kencang.


Berlian terbangun, Rinda juga bangun menatap Lian. Kaira sudah memeluk Tari ketakutan.


Barang berjatuhan terdengar, Boy memijit pelipisnya berjalan mendekati Lian yang langsung minta di peluk.


Semuanya berkumpul di atas ranjang berpelukan, Tari menutup mulutnya menahan tangisnya memeluk erat Reza.


Handphone Boy mati, Reza, Max dan Miko juga mati. Suasana anak-anak mulai terdengar, berlarian ke sana-kemari mengelilingi mereka.


Maxi memeluk erat Rinda memejamkan matanya ketakutan, Kaira juga sudah menangis dalam pelukan Miko.


Langkah kaki berirama juga terdengar, Rinda melihat sosok wanita berjalan anggun menggunakan baju serba putih.


Boy langsung menggenggam tangan Rinda, melarang Rinda untuk melihat wajah wanita yang berjalan mondar-mandir di depan mereka.


Tangan Rinda panas dingin, melihat wanita dipukuli dihadiahkan mereka, ditendang kuat.


"Kalian sudah mati, seharusnya kalian tidak di sini." Rinda menatap seorang wanita yang menangis.


Suara tangisan anak-anak terdengar, mereka semua dipukuli.


"Tari ini buang air kecil."


"Berapa lama kejadian ini Boy?" Reza menatap Boy tajam.


"Aku tidak tahu, tidak berani juga mencari tahu "


"Sebaiknya kita pergi dari sini?" Kaira bergetar ketakutan.


"Mereka sama seperti kita ada, tapi tidak terlihat." Berlian tersenyum melihat seorang pria berbadan besar menggunakan baju pengantin.


"Kepala aku sakit, tidak sanggup lagi mendengar mereka." Maxi langsung ingin muntah.


Kaira langsung jatuh pingsan bersama Tari, Max juga sudah tidak bangun lagi, Boy menutup telinganya tidak tahu lagi apa yang terjadi.


Berlian dan Rinda terlihat paling santai, Miko dan Reza hanya mengawasi saja. Mereka juga takut, tapi rasa penasaran jauh lebih besar.


Rinda langsung berdiri dan jatuh pingsan, Lian langsung memeluk Rinda. Miko dan Reza langsung mundur melihat bayangan hitam.


Lian menatap Miko dan Reza juga jatuh pingsan, Rinda langsung bangun sambil menangis.

__ADS_1


Seluruh lampu hidup, keadaan kembali normal angin juga berhenti bertiup.


"Kamu baik-baik saja Rin?"


"Iya, mereka sudah pergi dari sini."


"Kenapa mereka ada di sini?"


Rinda memeluk Lian, menceritakan apa yang Rinda lihat. Pesta pernikahan usai tempat jam dua belas malam, seluruh keluarga masih kumpul minum bersama sampai sebuah tragedi terjadi.


"Mantan kekasih membunuh pengantin wanita."


"Bukan hanya pengantin wanita, tempat ini di bakar, seluruh orang meninggalkan termasuk pelaku."


"Sedih sekali."


"Kak Lian tidak takut?"


"Tidak, kemarin aku melihat mereka, tapi tidak ingin memberitahu Boy karena dia penakut."


"Berarti saat kalian malam pertama banyak yang mengintip?"


"Mereka berada di dunia yang berbeda Rinda, memangnya mereka mengerti malam pertama?"


Rinda tertawa langsung memeluk Lian. Rinda baru mengetahui satu fakta yang tidak ada orang ketahui soal Berlian.


"Kak Lian bisa berkomunikasi dengan mereka?"


Lian langsung meletakan jarinya di bibir, Lian tidak ingin ada orang yang mengetahuinya, karena orang akan menganggap Lian wanita aneh.


"Kak Lian istimewa."


"Kamu juga istimewa Rinda, sehingga bisa melihat sesuatu."


"Kita keturunan kak, dari nenek terus Aunty Rinda, turun ke Rinda. Seandainya aunty masih ada, putra atau putrinya pasti sangat istimewa."


"Kak Lian juga keturunan, Mama dan ibunya Tari kembar. Aunty bisa melihat yang tidak terlihat, Tari tidak memilikinya, tapi kak Lian sejak kecil bisa."


"Siapa yang tahu soal ini kak?"


"Kakek Haikal, juga nenek Bunga. Mereka meminta Lian mengabaikan apapun yang Lian lihat."


"Kak, bagaimana dengan anak kalian?"


"Pikirkan saja anak kamu Rinda." Lian tertawa bersama Rinda.


"Mereka semua pingsan?" Rinda tertawa lucu.


Lian tersenyum melihat ke belakang, melambaikan tangannya meminta semuanya pergi.


***


TIGA EPISODE LAGI TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2