
Suasana berisik karena sedang hari libur, satu rumah mewah yang berada di pusat kota. Mansion terbesar dengan penjagaan yang sangat ketat.
Rumah mewah ditempati oleh pengusaha tampan, dokter bahkan ilmuwan cantik.
Mobil Boy memasuki kawasan rumah, melangkah masuk melihat Rinda dan Mentari rebutan sepatu, Kai hanya menonton saja sambil memainkan ponselnya.
"Kak Boy dari mana?" Kaira melangkah mengikuti Boy.
"Baru pulang dari kantor, soalnya banyak pekerjaan."
"Temani Kai berbelanja."
"Di mana kak Max? aku hari ini ingin tidur seharian Kai."
"Ya sudah." Kaira langsung membuka kamar Reza yang baru sudah mandi.
"Ketuk pintu dulu Tari." Reza teriak kuat, tapi menghela nafas saat melihat Lian.
"Tari terus, hari ini temani kak Kai berbelanja."
"Tidak mau, di mana kak Max?"
Kaira menghela nafasnya, punya adik dan kakak sibuk semuanya. Kaira merindukan kedua orangtuanya, kangen dengan suasana Mansion Chrispeter yang hangat, bukan sibuk dengan dunia masing-masing.
Kai masuk ke kamarnya, menghias sedikit wajahnya menggunakan baju santai, kacamata hitam melangkah pergi ke luar.
Mobil Kai keluar dari kawasan Mansion elite, langsung bermain kebut-kebutan. Terlalu lama berada di rumah sakit, hanya melihat pasien, ruang operasi, membuat Kai merindukan suasana baru.
Mobil Kai berhenti di tempat bioskop terbesar, melangkah seorang diri melihat semua orang berpasangan.
Kaira mengikuti orang menonton film romantis, membeli cemilan juga minuman, langsung melangkah masuk karena film akan segera di mulai.
Ruangan langsung gelap, Kai tersenyum melihat orang duduk bersama, sedangkan dirinya memeluk popcorn dan minumannya.
Bibir Kai monyong tidak mengerti film yang dia tonton, mata Kai mengantuk melihat suasana menyedihkan dari kisah patah hati.
Kepala Kaira terjatuh, terlelap tidur sampai film selesai. Kai terbangun melihat lampu sudah hidup, bahkan bioskop sudah kosong.
"Nyenyak tidurnya?" Miko tersenyum melihat Kai.
Kaira kaget melihat Miko duduk di sampingnya, tersenyum melihat Miko memegang pundaknya yang Kai jadikan bantal.
"Maaf."
"Sekarang ingin ke mana?"
"Emhhh, Kak Miko tidak mengawal Rinda?"
"Dia sedang camping di rumah."
Kaira tertawa melihat Rinda yang masih kekanakan, Kai dan Miko melangkah ke tempat permainan. Miko dan Kaira bermain bersama menghilangkan rasa lelah seharian bekerja.
"Maxi ke mana Kai?"
"Pulang ke kediaman Chrispeter."
"Kamu tidak ikut pulang?"
__ADS_1
"Kaira besok ada operasi pagi, jadinya tidak bisa."
Miko tersenyum mengikuti Kai melangkah, Kaira meminta Miko membelikan minuman, Kai ingin bersantai melihat anak-anak bermain.
Tatapan mata Kaira langsung ke arah lain, melihat seorang wanita bermain di depan matanya. Kai melihat ke arah Miko yang sudah menghilang, saat Kai melihat kembali wanita yang Kai lihat sudah tidak ada.
Kaira melangkah pergi, tidak mungkin matanya salah lihat. Kai sampai berlari kecil mencari ke segala tempat, tapi wanita yang Kai cari tidak ada.
Miko berlari mengejar Kai yang panik, memberikan minum meminta Kai berhenti bergerak untuk menenangkan diri. Miko mendengarkan cerita Kai hanya terdiam.
Keduanya berkeliling area permainan, Kaira memaksa untuk melihat rekaman CCTV. Miko meminta Kai berhenti pulang dan beristirahat.
"Kai hanya ingin memastikan."
"Sebaiknya pulang Kai." Miko menarik tangan Kai, melangkah pergi kembali ke rumah.
***
Rinda mengomel tidak jelas, kesal melihat Mentari. Rasanya Rinda ingin meracuninya agar tidak banyak bicara.
Senyuman Rinda terlihat menatap banyaknya kupu-kupu, Rinda duduk sendirian di bawah pohon, membawa buah-buahan juga cemilan untuk bersantai.
Terlalu lama berada di ruang penelitian membuat kepala Rinda ingin pecah, dia membutuhkan yang segar untuk menenangkan pikirannya.
Rinda tertidur di bawah pohon, keripik kentang masih ada di mulutnya, susu masih berada dalam genggaman tangan.
Suara Rinda tidur mendengkur terdengar, sudah bertahun-tahun Rinda tidak tidur dengan nyaman.
Boy berdiri di depan Rinda, melihat matahari yang sudah mulai terbenam. Boy membiarkan Rinda tidur dengan nyenyak, mimpi indah.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak mereka kembali dari pulau, kehidupan mereka juga sudah berubah jauh.
Sudah lama Boy tidak memegang senjata, tidak bermain pedang, bahkan bertarung. Bukan hanya Boy, tetapi Reza, Kaira dan Rinda juga sudah lama berhenti.
Mentari juga sudah bekerja sebagai sekretaris pribadi, Reza yang selalu membuat masalah, Mentari yang membereskannya.
Pesona Reza sudah seperti artis yang memiliki banyak fans membuat Tari kesal, juga banyak membuang waktu.
"Kak Boy." Rinda memeluk lengan Boy sambil tersenyum.
"Mimpi apa Rin?" Boy mengusap kepala adik kecilnya.
"Mimpi aunty Rinda, dia cantik menggunakan baju putih, senyuman aunty sangat manis. Rinda menyukainya." Senyuman Rinda lebar.
"Sudah lama kamu tidak bermimpi aunty Rinda, pesan apa yang dia bawa, lihatlah banyaknya kupu-kupu."
"Tidak ada pesan, hanya tersenyum sebelum aunty melangkah pergi hanya mengatakan hidup berpasangan." Rinda menatap Boy, mengerutkan keningnya.
Rinda langsung berdiri, teriak kuat membuat Boy berdiri binggung.
"Ada apa Rinda?"
"Astaga kak Boy, ini peringatan untuk Rinda kelamaan jomblo. Rinda harus segara menikah, bisa keburu jadi gadis tua." Rinda berlari ke dalam rumah.
Boy tersenyum melangkah mengikuti Rinda, Boy heran sejak kapan Rinda punya pacar, dia hanya tahu penelitian tidak tahu hal lain, tapi sekarang ingin menikah.
Maxi baru saja kembali melihat Rinda yang lari kencang, langsung berhenti di depan telpon yang langsung terhubung kepada keluarga Chrispeter.
__ADS_1
"Jawab Mami." Rinda menutup panggilan.
Rinda menatap Max yang kebingungan, membawa sebuah map menyerahkannya kepada Boy.
"Surat apa kak Max, surat perintah Rinda harus menikah?" Rinda langsung mengambil map dari tangan Boy.
Tatapan mata Rinda tajam, menyerahkan Map yang berisi urusan bisnis, Rinda langsung ke arah kamarnya.
"Rinda kenapa Boy?"
"Biasalah, bulan lagi naik mulai tidak normal. Dia mimpi aunty Rinda yang mengatakan hidup berpasangan, dia langsung ingin menikah."
"Menikah dengan siapa?"
Boy menggelengkan kepalanya, memilih untuk masuk ke kamar. Maxi menggaruk kepalanya melihat tingkah Rinda yang belum juga berubah.
"Waktu memang sudah berlalu, tapi Rinda masih kekanakan."
Suara Kaira datang teriak-teriak memanggil Boy, Rinda, Reza, Tari untuk berkumpul. Rinda melihat wajah Kai dari lantai atas, Tari juga keluar melihat Kai.
"Ada apa Rin?" Tari menatap Rinda yang menyengir.
"Kak Kaira ingin menikah."
Mentari dan Reza kaget, Kaira ingin menikah dengan siapa. Boy juga melihat Kai melangkah ke lantai satu.
Semuanya duduk menatap Kai, Rinda melihat tangan Kai. Kaira menarik tangannya.
"Mana kak?"
"Apa Rinda?"
"Kak Kai katanya ingin menikah, seharusnya ada cincin." Tari juga memperhatikan jari Kai.
"Siapa yang ingin menikah Mentari?"
Rinda tersenyum menatap Tari yang melotot, Reza menatap Kai mempertanyakan tujuan Kai mengumpulkan mereka semua.
"Aku melihat Berlian." Kai menyentuh dadanya yang berdegup.
Semuanya hening menatap Kai, Boy hanya biasa saja melangkah pergi kembali ke kamarnya.
Reza dan Mentari juga pergi, Rinda sudah berlari meninggalkan Kaira.
"Kak Boy Kai melihatnya."
"Sebaiknya kamu istirahat Kai, lupakan kejadian tiga tahun yang lalu."
"Iya, setiap tahun kak Kai melihat terus, membuat harapan tidak pasti." Mentari menatap sedih.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***
__ADS_1