
Mobil sudah ada di depan Mansion, tidak ada yang melangkah keluar. Maxi meminta Boy turun lebih dulu, tapi menolak. Miko menundukkan kepalanya tidak mungkin bersedia melangkah lebih dulu, terpaksa Max yang harus keluar mobil lebih dulu.
Max membuka pintu, berdiri menatap pintu. Rinda juga keluar berdiri di samping Max, Kaira dan Miko juga keluar, Mentari dan Berlian juga keluar menatap pintu.
Hanya Reza dan Boy yang masih diam, saling dorong membuat Lian melotot meminta Boy keluar. Boy dan Reza berdiri juga bersama yang lainnya.
"Tidak berani." Maxi langsung berlari ke mobil, diikuti yang lainnya sambil teriak.
"Apa yang kalian lakukan? kita sudah menunggu lama, cepat masuk!" Reva menatap tajam.
Semuanya langsung menatap lesu, saling mendorong untuk masuk ke dalam Mansion. Reva melihat ke belakang sambil menggelengkan kepalanya.
"Miko Maxi kalian sudah dewasa, usia sudah kepala tiga masih kekanakan. Boy Reza kalian seorang pemimpin, tapi tingkahnya seperti bocah Lima tahun." Reva langsung melangkah masuk.
"Lima tahun Mommy, Boy sudah bisa membuat anak jika Boy menginginkannya." Boy masuk lebih dulu melihat Bundanya menangis.
Semuanya masuk melihat ke dalam suara tangisan Bianka, Boy langsung berlari memeluk Bundanya yang tidak bisa mengontrol diri.
"Ada apa Bunda? Bunda baik-baik saja." Boy menghapus air mata Bianka.
"Kenapa kalian lama sekali?" Bara menatap tajam.
"Kaira lihat Mama kamu di dalam kamar sedang pingsan." Rindu menepis air matanya keluar dari kamar Keisya.
"Mama kenapa Mami? Mama baik-baik saja." Kaira langsung berlari mendobrak pintu melihat Mamanya terbaring lemah, air mata Kai langsung menetes.
Kaira memeluk Mamanya yang sadar mengatakan jika kakeknya Akbar sedang kritis, dia ingin sekali bertemu dengan Kai.
Air mata Kaira langsung menetes tidak tertahankan, terduduk lemas tidak bisa bangkit lagi.
Riki memeluk putrinya untuk kuat, mereka harus menuju villa menemui para kakek dan nenek mereka, harus bisa menguatkan neneknya Kiara.
Rinda di luar langsung meneteskan air matanya, tidak mendapatkan pertanda apapun. Rinda mendekati foto Rinda Chrispeter menatap seekor burung gagak bersuara di dekat jendela.
Suara tangisan Kaira terdengar dari kamar, Boy langsung melangkah ke dalam kamar melihat Mama Kei sedang bersedih apalagi Kaira yang menganggap kakeknya segalanya.
__ADS_1
Boy memeluk Kaira, memintanya untuk tenang, segera bersiap-siap untuk pergi ke villa. Kei juga berusaha kuat demi Mamanya.
Bara meminta Maxi mengawal juga menjaga keamanan untuk keberangkatan, jika sampai keadaan Akbar terekspos akan ada oknum yang tidak bertanggung jawab mengambil kesempatan untuk menyebarkan berita hoax.
Maxi menundukkan kepalanya, langsung melangkah pergi. Miko mengikuti Bara untuk menyiapkan seluruh mobil juga mengatur lalu lintas.
Kaira tidak bisa berhenti menangis, dia belum siap kehilangan kakeknya. Bianka memeluk Kei memintanya kuat.
Satu persatu masuk ke dalam mobil, melaju menuju villa Chrispeter yang terletak di desa pedalaman.
Perjalanan cukup jauh memakan waktu hampir 8 jam untuk sampai ke lokasi, rasa khawatir, takut sedang menyelimuti cucu Chrispeter mengigat mereka jika mereka bukan anak-anak lagi.
Rinda menyandarkan kepalanya di kaca mobil, melihat kegelapan malam sambil memakan roti karena dia belum makan malam.
Maxi tiba lebih dulu, barulah Miko juga muncul. Suasana villa sangat hening karena mereka tiba masih tengah malam.
Kedatangan Max dan Miko disambut oleh Haikal, Max duduk di samping Haikal yang duduk sendirian di luar rumah menatap langit.
"Maxi Miko terima kasih sudah menjaga cucu Chrispeter, kalian sangat setia. Kakak Haikal harap kalian tidak akan pernah berkhianat."
Haikal tersenyum saat melihat mobil bersusun berdatangan, Haikal tersenyum melihat anak cucu mereka datang.
Kai langsung berlari ke dalam, menangis memanggil kakeknya. Bunga muncul bersama Dara melihat kesedihan Kaira.
"Sayang." Kiara tersenyum mendekati cucu cantiknya yang sedang ketakutan.
Kai memeluk Kia, mempertanyakan keadaan kakeknya. Kei juga berlari memeluk Mamanya sambil menangis.
"Jangan menangis Kei, Kai. Kalian harus lebih bisa menahan diri, karena kami sudah tua hanya menunggu waktu untuk berpulang, jangan ditangisi."
"Nenek, jangan bicara seperti itu Kai masih berharap kalian masih ada di sisi Kai sampai menikah bahkan memiliki anak. Kakek pernah mengatakan ingin melihat Kai menjadi seorang ibu."
"Tidak ada yang tidak ingin Kai sayang, tentu kami ingin melihatnya, tapi kita tidak bisa melawan takdir." Kia memeluk putri tercinta dan cucunya.
Boy Reza, Rinda dan Kai berdiri di depan kaca besar melihat kakeknya yang sedang dalam perawatan. Di dalam ada Kei dan Riki melihat keadaan Akbar.
__ADS_1
Air mata Bi menetes, Rindu juga merasakan kembali suasana puluhan tahun yang lalu, saat satu persatu keluarga menemui Rinda untuk pamitan.
Sekarang mereka sedang bersiap untuk mendengarkan amanah kakek Akbar yang kondisi tubuhnya memburuk.
"Kalian ingat saat kita masuk ruangan Rinda, dia pamit untuk meninggalkan kita?" Rindu memeluk erat Reva mengingat adik kembarnya yang sudah tiada.
"Kaira masuklah sayang." Bi meminta Kai masuk bersama Boy.
"Kai tidak ingin masuk, kakek yang harus keluar menemui Kai. Kakek harus kuat, harus sehat kembali." Kai menangis sesenggukan dalam pelukan Boy.
Rinda melangkah masuk lebih dulu, duduk di samping Akbar yang terbaring tidak berdaya. Tubuhnya lemas, tidak bertenaga menggunakan alat bantu bernafas membuat Rinda merasa sedih.
"Kek maafkan kita yang menunda waktu karena takut pulang, kakek tahu kami melakukan kesalahan, juga takut mempertanggung jawabkan kesalahan. Kami masih kekanakan" Rinda tersenyum, menyentuh tangan Akbar menggenggam erat.
"Rinda, dulu kakek takut sekali menemui aunty kamu. Dia tersenyum seakan-akan tidak merasakan sakit, Rinda sangat pintar menutup luka. Kakek ingin kamu kuat seperti aunty kamu."
"Tidak kek, Rinda ingin menjadi diri sendiri tidak mengikuti jejak siapapun, Rinda ingin hidup lama melebihi aunty Rinda."
"Iya sayang kamu bisa hidup lama."
"Kakek juga bisa, bertahanlah kek. Kita tidak bisa melawan takdir, tapi tidak ada yang tahu takdir seseorang jangan menyerah dulu. Rinda ingin kakek tetap bersama kakek Haikal, Rian dan Roy, jika kami sedih mereka jauh lebih sedih, kakek bisa bertahan sampai melihat Kami semua dewasa." Rinda menepis air matanya.
Akbar meneteskan air matanya, melihat cucunya Kai di kaca sambil menangis. Tidak terlihat keberadaan sahabat juga adiknya, mereka sedang bersembunyi takut dengan berita duka.
"Rinda jika kakek tidak punya waktu lagi, sampaikan amanah Kakek kepada cucu Chrispeter untuk menyelesaikan tugas terakhir kakek."
"Bicara sendiri saja kek, masih punya banyak waktu. Rinda ingin mendengar Kakek meminta Kai menikah." Rinda tertawa memeluk lengan Akbar.
"Kamu sudah mengetahui pikiran kakek, siapa calon yang pas untuk Kai."
"Buat janji dulu dengan Rinda untuk bangkit dan sehat kembali." Rinda meletakan jari kelingkingnya.
Rinda menghapus air mata kakeknya, memintanya beristirahat. Rinda melangkah keluar mencari neneknya yang tidak terlihat.
***
__ADS_1