
Kapal sudah banyak orang yang baru saja Kai dan Miko selamatkan, Kaira meminta semuanya masuk dan berdiam di dalam kapal.
Mentari di bawa masuk ke dalam keadaannya tidak sadarkan diri, Kai meminta Miko mempersiapkan air bersih, Maxi meletakan tubuh Tari di kamar khusus.
Rinda menyobek baju Tari, menutup darah yang terus mengalir keluar. Tubuh Mentari sudah membiru bahkan wajahnya menghitam.
"Racun, Tari meminum racun." Rinda membuka mulut Mentari, lidahnya sudah hitam gelap.
Kaira masuk melihat keadaan Tari yang tubuhnya mulai mengeras, Kai meminta Rinda mengatasi tembakan. Kaira akan berusaha mengatasi racun yang sudah menyebar sampai setengah badan.
Rinda menganggukkan kepalanya, Kaira membuka suntikan, menancapkan di lengan Mentari.
Rinda mengikat kuat pinggang Tari, memberikan suntikan yang sudah Kaira persiapkan.
Kai membuka mata Tari, melihat bola matanya sesuai dengan penelitian Kai soal tumbuhan beracun.
Jem yang sudah menciptakan racun mematikan, tidak ada penawarannya.
Kaira langsung berlari keluar kapal, Miko mengejar Kai yang menuju ke arah hutan kanibal. Miko tidak banyak bicara, Kai memaksa masuk ke hutan demi mendapatkan satu ramuan.
Api yang sudah melahap hutan semakin besar, Kaira dan Miko kebingungan untuk masuk. Kai memutuskan masuk ke dalam bangunan tempat persembunyian.
Miko hanya mengawasi tidak ingin Kaira terluka, Mik mempermudah jalan Kaira untuk masuk ke dalam bawah tanah yang terasa panasnya karena bagian atas sedang terbakar.
"Kai, jika satu yang gugur setidaknya lebih baik dari pada semuanya gugur." Miko mengikuti langkah Kai yang tidak bisa diam.
"Prinsip keluarga kami, lebih baik gugur semua daripada salah satu gugur. Kami pernah kehilangan salah satu keluarga, menjadi sejarah luka paling dalam bagi keluarga kami kak Miko." Kaira meneteskan air matanya, terus berjalan melihat ke atas.
"Berarti kita harus kembali sekalipun membawa jasad."
"Iya, kami diajarkan pantang pulang dengan Tim yang kurang. Selama masih ada jalan untuk berjuang, tidak ada alasan untuk kita menyerah."
Miko tersenyum, alasan dirinya mengikuti keluarga Chrispeter karena mereka keluarga yang sangat harmonis, juga kekeluargaan sangat mereka jaga.
Keturunan Chrispeter tidak pernah mundur, sekalipun nyawa mereka diujung kematian.
"Kamu mencari apa Kai?"
__ADS_1
"Akar pohon merah, Kai ada melihatnya di hutan kanibal. Kita tidak bisa lagi masuk hutan, tapi mungkin akarnya ada di sini."
Miko tersenyum, Kaira Chrispeter yang cerdas, dalam keadaan yang genting dia masih bisa berpikir hal yang tidak terpikirkan oleh siapapun.
Tangan Miko menyentuh dinding atas, meninju kuat dinding membuat Kaira teriak, dinding longsor berjatuhan. Kaira teriak memeluk Miko menciumi wajah Miko, langsung mengambil satu akar yang berwarna merah, juga ada beberapa akar yang Kai anggap penting.
Miko sudah menjadi patung, terkejut dengan ciuman bertubi-tubi Kaira. Suara Kai memanggil terdengar, Miko langsung berlari keluar.
Langkah kaki Kaira berlari kencang menuju kapal, berharap Mentari bisa selamat.
***
Di dalam kapal Rinda berhasil mengeluarkan peluru, luka Tari cukup dalam sampai harus menjahit beberapa lapisan.
Maxi mendekati Tari, nafasnya sudah terhenti, hanya detak jantung yang masih terasa sangat kecil.
Rinda masih fokus membersihkan luka tembak, air mata Rinda perlahan menetes. Tangan Mentari sudah dingin, hampir sekujur tubuhnya sudah dingin.
Maxi melangkah keluar, mengacak-acak rambutnya. Dia yang selama ini menjaga Tari dan Lian tidak sanggup melihat adik kecilnya menutup mata secara tragis.
Sudah tidak ada lagi suara Mentari yang berisik, tingkah laku Mentari yang selalu membuat tawa orang sekitarnya.
Rinda mengganti baju Tari, mengusap wajahnya. Menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh Mentari, Rinda memperhatikan urat Tari yang sudah diserang racun.
Mata Rinda melihat suntikan di leher Mentari, langsung membedah, menghisap darah Tari yang berwarna hitam, tidak ada peralatan medis yang lengkap, Rinda menghisap sampai kehabisan tenaga.
Suara Kaira terdengar, Rinda tersenyum akhirnya Kaira kembali, berharap mereka bisa menyelamatkan Mentari.
Kai membuka pintu, melihat keadaan Tari yang semakin memburuk. Mata Kai menatap Rinda yang tersenyum meminta Rinda menyingkir.
Kaira seperti biasanya membutuhkan ketenangan, Rinda melangkah keluar dari dalam kamar.
Mata Rinda langsung gelap, tidak bisa melihat Miko atau Maxi yang ada di depannya, Rinda langsung duduk memeluk lututnya menyembunyikan wajahnya.
"Rinda." Maxi menggendong Rinda yang sudah jatuh pingsan.
Maxi membawa ke kamar lain, membaringkan tubuh Rinda. Miko langsung masuk mengecek keadaan Rinda.
__ADS_1
"Di mana tas make up Rinda?" Miko menatap Max yang berlari ke luar.
Maxi masuk kembali ke dalam, Miko mengambil tas Rinda, membuka perlahan mencari pil yang sering Rinda minum.
Maxi menatap wajah Miko yang kebingungan, langsung mengambil alat make up. Mengambil benda yang berbetuk eyeliner, menekannya mengeluarkan pil berwarna merah, memasukkan ke dalam mulut Rinda.
Tatapan Miko tajam, Rinda tidak pernah memberitahunya rahasia barang yang Rinda bawa, tapi Maxi bisa tahu.
"Bagaimana kamu tahu Max?"
"Saat kalian pergi, Rinda mengatakan jika dia jatuh pingsan berikan pil di dalam benda ini."
Maxi menyentuh tangan Rinda, merasakan dingin. Rasa yang sama saat menyentuh Tari, Max menyimpulkan Rinda menghisap racun Tari, walaupun tidak separah Tari, Rinda membahayakan dirinya, demi membantu Tari sedikit bertahan, sampai Kai datang.
Sungguh Maxi tidak mengerti, seharusnya seorang putri kaya raya tidak memperdulikan kehidupan orang lain sangat berbeda dengan Rinda dan Kaira yang tidak memandang status.
Miko meminta Max menjaga Rinda, Max mengangguk kepalanya melihat Miko melangkah keluar.
Di depan pintu Miko menatap Kaira yang masih sibuk mengurus Tari, berkali-kali Kai berbicara meminta Tari bertahan, mengusap keningnya yang sudah mandi keringat.
Miko juga melihat ke arah luar menunggu kedatangan Boy, Reza dan Lian yang masih bertarung melawan mahkluk asli penunggu pulau.
Matahari sudah siap terbit, satu persatu pengunjung masuk ke dalam kapal, terdengar suara mereka mengatakan jika ada suara ledakan, sesuatu dengan isi surat mereka tidak ada yang keluar, atau mencoba mencari tahu.
Miko tersenyum meminta semua orang masuk ke dalam, menunggu sebentar sampai matahari terbit. Lebih tepatnya menunggu tiga orang yang belum juga kembali.
Boy, Reza dan Lian hanya memiliki waktu 1jam untuk kembali ke kapal, karena jika mereka terlambat pulau akan meledak sesuai jadwal bom yang sudah diatur.
Matahari yang hampir terbit masuk kembali, berganti dengan awan hitam pertanda hujan dan badai.
Gelombang air semakin besar, kapal yang berada di pelabuhan pantai juga bergoyang kuat, Miko melihat ke arah jauh, ledakan semakin banyak terlihat.
Suara teriak beberapa orang terdengar, mengatakan jika penginapan sudah meledak. Pengunjung memaksa untuk berangkat sekarang juga.
Miko memperingatkan jika ingin selamat lebih baik diam, jika sampai mendengarkan protes Miko akan membuat mereka sama seperti mayat yang mengapung terbawa ombak.
Mendengar ancaman Miko semuanya diam, memilih bersembunyi tidak ingin melihat tubuh manusia yang mengapung di sekitar kapal.
__ADS_1
***