
Suasana haru terasa, Bianka memeluk keempat wanita yang memilih menetap di kota. Bianka hanya berpesan jika mereka harus kembali, jangan terlalu bebas di dunia luar, selalu kompak.
"Kalian semua harus berhati-hati, kami pulang sekarang." Bara menatap Maxi, Miko, Boy dan Reza yang menganggukkan kepalanya.
Beberapa mobil sudah menghilang dari pandangan, seluruh keluarga sudah pulang ke Mansion.
"Ayo kita pulang." Boy membukakan pintu untuk Bianka.
Empat mobil melaju menuju kota yang selama hampir empat tahun menjadi tempat pelarian, tidak menyangka juga akan menjadi tempat mereka memulai keluarga baru.
"Kak Max kita tinggal di mana?"
"Mansion lama kita."
"Empat keluarga di sana?" Rinda mengerutkan keningnya.
"Iya, mereka tidak ingin keluar."
"Tidak bisa diusir saja." Rinda melipat kedua tangannya kesal.
Maxi tertawa menggenggam tangan Rinda, tidak ada yang bisa mengusir keluarga Chrispeter dari sana, jika tidak ingin ada peperangan.
Perjalanan yang cukup jauh membuat Rinda memutuskan untuk tidur, tangan memeluk lengan Max yang membawa mobil santai.
Mobil Reza yang paling heboh, Tari menghidupkan musik sangat besar sambil bernyanyi, membuka kaca mobil merasakan angin.
Reza mengecilkan sedikit, dia malu menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Reza kecilkan musiknya, kita sudah memasuki kota." Kaira menatap Reza yang mobil mereka bersebelahan.
"Nanti Tari marah." Reza langsung mematikan musik.
Tari sudah tertidur merasakan angin yang sejuk, suara berisik kendaraan mulai terdengar. Reza menarik tangan Tari, menurunkan sedikit kursi mobil agar Tari tidurnya nyaman.
Mobil kembali melaju setelah melewati beberapa rambu lalu lintas, barulah tiba di Mansion yang dijaga ketat.
Mobil Maxi langsung masuk parkiran, diikuti mobil Boy, Reza dan Miko.
Boy keluar tersenyum menatap Max, Reza langsung mengedipkan matanya menatap Miko.
"Ada apa kalian tersenyum?" Kaira langsung mengambil tas melangkah masuk.
"Mari kita mulai taruhannya." Reza tersenyum menatap Boy.
"Kak Miko tidak ikut, karena hubungan kami bukan sebuah perlombaan." Miko melangkah masuk mengejar Kaira.
"Ya sudah kita bertiga saja." Boy tersenyum.
"Kalian berdua sedang mempertaruhkan Mansion yang aku miliki, boleh saja setelah mampu mengalahkan aku." Maxi membuka pintu, mengendong Rinda ke kamar.
Reza dan Boy langsung tertawa, Maxi tidak bisa diajak bercanda. Reza langsung masuk ke dalam bersama Boy dan Lian.
"Di mana istri kamu Za?" Boy menatap tajam.
__ADS_1
"Astaga lupa, ketinggalan di mobil." Reza langsung berlari ke luar, menatap Tari yang sudah berjalan masuk.
Tatapan mata Tari tajam, langsung melangkah ke kamarnya. Tari kebingungan melihat kamar yang sangat luas.
"Tari tidak salah masuk kamar?"
"Tidak Tari, kamar kamu dijadikan satu dengan kamar Reza, jadinya lebih luas." Maxi tersenyum melangkah ke kamar Rinda.
"Kamar Rinda gabung dengan kamar siapa?" Tari masuk kamar Rinda yang lebih luas, langsung digabung dengan kamar Kaira.
"Kamar kak Kai di mana?"
"Di lantai satu."
"Kamar kak Max jadi satu dengan kamar kak Miko."
"Betul."
"Sejak kapan kak Maxi mengaturnya?" Lian menatap kamarnya yang berantakan.
"Sejak awal memang kamarnya gabung, tapi demi keamanan kalian makanya dipisah, hanya kak Max yang tahu."
"Jika tahu, setiap malam bisa tidur dengan Lian." Boy masuk lewat pintu kamarnya, keluar lewat pintu kamar Lian.
"Jika kalian tidak nyaman, silahkan beli rumah baru." Maxi tertawa.
"Kak Max belum apa-apa sudah mengusir. Boy suka yang penting gratis."
Di lantai satu Miko sibuk mengeluarkan barang Maxi yang tidak banyak, Kaira merapikan tempat tidur menyusun bajunya dan Miko dalam lemari yang berbeda.
"Kai kamu istirahat saja, nanti aku yang membereskannya." Miko mengangkat koper.
"Kita lakukan bersama biar lebih romantis." Kaira langsung memeluk Miko, mencium pipinya.
Kai langsung mundur menutup mulutnya yang tiba-tiba agresif, sudah berapa kali Kai mencium lebih dulu.
"Maaf kak Kai tidak sengaja."
Miko langsung tertawa melangkah mendekati Kai, memeluk lembut. Miko tahu Kaira sedang merasa malu.
"Kai, aku mendengar kabar kamu takut menikah?"
"Bukan takut menikah, tapi takut malam pertama." Kaira menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?"
Kai kaget mendengar pertanyaan Miko, Kai sendiri tidak tahu jawabannya.
"Kak Kai malu ditanya seperti itu." Kaira langsung duduk di pinggir ranjang.
Miko berlutut di bawah, menatap wajah Kaira yang memerah menahan malu, tangan Miko menggenggam jari jemari Kai.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Kak Miko tidak akan pernah memaksa. Kita berdua sama-sama belum berpengalaman, jadi perlahan saja sayang." Miko langsung berdiri melangkah pergi.
__ADS_1
Kaira menahan tangan Miko, langsung memeluk erat. Kaira tidak mengerti dengan dirinya yang tidak bisa menahan diri menatap Miko.
Jantung Miko berdegup kencang, merasakan pelukan Kai dari belakang. Kaira tersenyum mengantungkan tangannya di leher Miko.
Keduanya saling berdekatan, pintu terbuka kuat menatap dua orang yang sedang ingin berciuman.
"Astaga Rinda salah masuk kamar." Rinda menarik pintu langsung menutupnya.
Miko dan Kaira langsung tertawa, selama ada Rinda sebaiknya pintu dikunci.
Suara pintu diketuk terdengar, Miko berjalan membuka pintu melihat Rinda yang tersenyum malu-malu.
"Permisi kak, Rinda hanya ingin mengambil boneka Rinda yang dibawa kak Kai."
"Silahkan Rinda."
Rinda langsung masuk, menatap Kai langsung mencubit pipi gemes.
"Kak Kai tunggu malam, beres-beres dulu. Rinda jadinya pengen." Rinda melangkah pergi.
Miko menutup pintu langsung mendekati Kaira, pintu terbuka lagi. Tari langsung tersenyum melangkah masuk mengambil bantalnya yang tertukar dengan Kaira.
"Permisi kak." Tari langsung menutup pintu.
"Sebelum masuk Tari, bukan setelah masuk." Miko menghela nafasnya.
"Ada barang Lian tidak di sini?" Kaira mengecek barangnya.
Miko duduk di atas meja, Kaira melipat tangannya di dada. Pintu dibuka oleh Lian, langsung ditutup lagi.
"Ada apa Lian?" Tari dan Rinda menatap serius.
"Wajah kak Miko dan kak Kai seram sekali." Lian meletakan telinganya di pintu, Rinda dan Tari juga langsung menguping.
Miko membuka pintu membuat ketiganya langsung berlari ke lantai atas, menemui suami masing-masing.
Kaira tertawa melihat kekonyolan tiga istri aneh, Miko membuka pintu lebar-lebar sambil merapikan barang mereka.
Sesekali mereka bercanda saling berpelukan, Boy berdiri di depan pintu tersenyum mendengar tawa Kaira.
"Kak, tutup pintunya. Kalian tertawa bahagia seakan-akan kita angin." Boy menarik kenop pintu langsung menutupnya.
Di kamar Maxi sibuk merapikan barang, sedangkan Rinda, Tari, Lian sibuk bergosip soal Kaira.
"Tari, rapikan baju kamu. Sebelum aku lempar keluar." Reza menatap tajam melihat istrinya sibuk tertawa, sedangkan dirinya sibuk berbenah.
"Lempar saja, nanti aku keluar rumah tidak menggunakan baju."
Maxi langsung tertawa menatap Reza yang mulai kesal.
"Oke, lihat saja. Malam ini kamu tidak punya baju lagi." Reza langsung melangkah pergi.
***
__ADS_1