
Setelah satu tahun pernikahan Reva dan Asep waktunya pernikahan Raffa Chrispeter, dan Rindu Chrispeter. Perjalanan hubungan keduanya tidak semulus cinta Bara Bianka yang awalnya saling mencari keuntungan berubah menjadi cinta, tidak juga seperti Keisya dan Riki yang sejak muda memang saling mengagumi hingga sampai pelaminan. Tidak juga penuh drama seperti cinta Reva dan Asep yang ditentang orangtua.
Raffa dan Rindu memiliki banyak keraguan, banyak rasa bimbang sehingga membuat Rindu tidak bisa menerima lamaran dari ayah Haikal dan Bunda Bunga. Tanpa persetujuan Rian, Rindu menghilang dan pergi berkelana seorang diri memutuskan komunikasi dengan keluarga Chrispeter, dia pergi bersama Maxi pengawal pribadi keturunan Reva.
Kekecewaan pasti dirasakan oleh Raffa, dia juga mulai menjalin hubungan dengan wanita terpandang, bahkan sampai lamaran. Bunga sudah berusaha menghentikan Raffa tapi dia tetap pada pendiriannya untuk membina rumah tangga bersama kekasihnya.
Rian yang cukup stres mencari keberadaan Rindu, tapi setelah hampir enam bulan pas di acara pertunangan Raffa, Bianka langsung meninggalkan acara saat bisa berkomunikasi dengan Rindu. Reva tidak bisa pergi karena baru saja hamil satu bulan sedangkan Kei juga tidak bisa pergi karena masih harus menjaga bayinya. Tanpa sepengetahuan siapapun Bianka pergi bersama Nayla, dia yang mengetahui tempat keberadaan Rindu saat ini.
Belum selesai pemasangan cincin, Raka mendekat dan membisikan sesuatu, jika Bianka dan Nayla pergi menemui Rindu yang kemungkinan besar dalam bahaya.
Raffa langsung memeluk kekasihnya, membisikkan permintaan maaf langsung berlari pergi. Berantakan sudah pasti, malu dua keluarga besar merasakannya, bahkan dari pihak wanita menuntut keluarga Chrispeter, tapi siapa yang bisa mengancam sama saja mencari mati.
Setelah dua jam keluarga baru mengetahui soal Rindu, Bara melihat anaknya yang mengamuk menolak meminum susu karena ingin bertemu Bundanya.
Ada rasa marah melihat cara kerja Bianka yang lupa dengan anak, tidak ada tempat bertanya karena Raka dan Raffa sudah pergi. Semuanya hanya bisa menunggu kabar kepulangan Bianka Nayla, Raffa Raka.
***
Di dalam kamar Bara bermain dengan Boy yang super aktif, sangat pintar mengelabui, juga diam-diam menghanyutkan.
"Boy, Bunda lama sekali?"
"Bu Bu pergi yah,"
"Ayah tahu Bu Bu pergi, tapi Kenapa lama?"
"Tanya tuhan ya."
"Bunda masih hidup Boy Arnold?!" Bara mulai bicara nada tinggi.
"halua sudah mati, bisa bicara Ama tuhan ya yah." Boy anak yang tidak bisa dikalahkan dalam perdebatan.
"Ya tidak."
"Artinya ya yah odoh."
Bara langsung mencengkram guling memukulinya, bahkan seorang Bara yang mempunyai kuasa bisa dibilang bodoh oleh anaknya.
Tidak lama pintu di buka, Bianka langsung masuk mencium Bara yang sudah pasti sedang kesal. Bi langsung masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
"Bu Bu Puyang, hoye Bu Bu nyenyen." Boy lompat-lompat di atas ranjang kesenangan.
"Nyenyen! hanya itu yang kamu tahu." Bara menarik kedua pipi putranya gemas.
__ADS_1
"Y yah juga cukanya nyenyen." Boy menjulurkan lidahnya, Bara hanya menatap sinis andaikan bukan putranya sudah Bara lempar ke langit ke tujuh.
"Duluan siapa yang lahir?" Bara menantang.
"Ya yah,"
"Jadi semua yang ada sama Bunda punya ayah, Boy hanya meminjam nya."
"serah Bu Bu mau kasi ciapa, Bu Bu cayang Boy balu cayang ya yah."
"Ayo bertarung!" telinga Bara sudah ditarik Bianka, Bara dan Boy jika menyangkut dirinya pasti saling posesif, tapi jika hal lain sangat kompak.
"Kekurangan lawan kamu ya, anak juga diajak bertengkar."
"Bu Bu nyenyen."
"Kenapa kamu tidak nyenyen botol saja, dasar kamu Boy suka bikin masalah."
Bara menjulurkan lidahnya mengejek putranya yang sudah manyun, langsung berjalan perlahan mengambil botol susu yang sudah disiapkan oleh maid.
Bara menertawakan putranya, matanya sinis ingin memukul Ayahnya, sedangkan Bara sengaja memeluk Bianka yang sedang menggunakan baju.
"Bara kamu nanti aku tendang dari kamar."
Boy balik menjulurkan lidahnya, joget-joget mengejek ayahnya. inilah rutinitas Bianka, meladeni dua lelaki yang sama-sama tidak ingin mengalah.
Kehebatan Rindu yang tersembunyi tentang keahlian meretas keamanan bisa mengimbangi Reva, dengan mudah Rindu Rindu mengadu domba seluruh keturunan, dia menjadi ratu di markas Alber dengan banyak pengikut, Rindu juga dilindungi oleh Maxi.
"Lalu mengapa kamu harus menjemput Rindu?"
"Aku pikir dia dalam bahaya, tapi ternyata dia menangis patah hati melihat Raffa akan bertunangan, menyesal pernah menolak lamaran Ayah."
"Pertunangan Raffa juga batal."
"Kenapa?"
"Raffa pergi, aku tidak tahu selebihnya soal istriku juga pergi tanpa pemberitahuan." Bara mulai kumat kesalnya.
"Ya maaf, aku kasih dua ronde malam ini."
"Bener ya." Bara dan Bianka tertawa bersamaan."
"Sayang, Rindu dan Raffa saling mencintai, tapi mereka tidak mempunyai komunikasi dengan baik sehingga salah paham terlalu banyak."
__ADS_1
"Makanya, jika ada sesuatu yang membuat hati risau coba diskusi, jangan menyimpulkan sendiri. Karena kita dua orang yang berbeda, tapi ingin menjadi satu, makanya banyak perbedaan pendapat sehingga kita berdua harus mencari solusi terbaik.
"Suamiku sekarang sudah sangat pintar,"
"Bi, aku dari dulu memang sudah pintar, makanya Boy juga pintar."
"Pintar ngeles." Bianka tertawa bersama Bara melihat putra mereka yang sudah tidur, setiap hari pasti ada saja masalah baru yang dia perbuat."
***
Batalnya pertunangan Raffa membuat Haikal marah,Rian lebih marah lagi melihat sikap Rindu yang tidak berkabar, apalagi dia menghilang karena salah paham melihat Raffa berdua dengan wanita di mobil sampai menolak keinginan Bunga.
"Mulai hari ini Rindu keluar dari kediaman Chrispeter."
"Oke Papi." Rindu langsung berdiri tidak berdosa.
"Rindu mau pergi ke mana?" Bunga menghentikan Rindu.
"Ke Mansion Bianka, di sana juga nyaman sama seperti di sini."
"Minta maaf dulu ke Papi, dia sangat khawatir."
"Seharusnya Papi bilang terima kasih karena Rindu berhasil membalas dendam Mami."
"Terima kasih Rindu, rasanya aku ini bukan Papi kamu. Aku merasa gagal mendidik kamu." Rian langsung melangkah pergi, bahkan Riani juga terkena imbas kemarahan Rian.
"Papi!" Rindu berlari dalam pelukan Rian, tangisan Rindu pecah mengatakan semua kemarahannya.
"Rindu, kamu tidak tahu betapa khawatirnya Papi, sekalipun Mami mengatakan kamu baik tapi sebagai seorang ayah, rasa khawatir pasti ada. Sudah cukup Papi kehilangan adik kamu, jangan buat Papi hancur karena melihat kamu terluka."
"Maafkan Rindu Papi, tapi izinkan Rindu tinggal di mansion Bianka. Di sini tidak seru lagi hanya ada Nayla, tidak bisa diajak bertarung."
"Pergilah,"
"Terima kasih Papi, I Love you." Rindu mencium kedua pipi Rian, tapi saat bertemu dengan Raffa Rindu menatap sinis.
"Enak ya yang mudah mencari pacar, batal tunangan langsung saja cari istri tanpa ikatan." Rindu melangkah pergi.
"Baiklah, akan aku jadikan istri tanpa tunangan."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***