
Mata Bianka terpejam, bayangan Rinda muncul tersenyum dan memberikan Bianka semangat, nama Boy muncul saat Bi bermimpi melihat Rinda menulis nama Boy.
Bi membuka matanya, Bara menggenggam erat tangan Bi. Terlihat ekspresi Bara yang sudah mengambil pilihan untuk mengutamakan keselamatan istrinya.
"Kak,"
"Iya sayang, kamu tahan sebentar lagi ya."
"Boy harus lahir sekarang, Bi tidak membutuhkan ruangan operasi." Mendengar permintaan Bi, Bara memberikan perintah beberapa tim medis yang berjaga untuk membantu Bi.
Semuanya ketakutan, takut terjadi kesalahan tapi tatapan Bara seakan-akan ingin membunuh mereka semua.
"Nona yakin, masih memiliki tenaga?" seorang suster mengelap keringat Bi.
"Aku percaya kalian mampu membantu aku, anakku harus segera lahir."
Tim seadanya bergerak, memberikan instruksi ke Bi. Bara meminta Bi menarik nafas, suntikan yang masuk ke tubuh Bi memberikan rasa sakit yang membuatnya hampir terbunuh.
Teriak Bianka terdengar sampai keluar, Akbar yang khawatir langsung membuka pintu. Bi jatuh pingsan, Bara melakukan apapun yang dia bisa untuk menghindari Bianka pendarahan. Seluruh Dokter yang menyiapkan ruangan operasi berlarian, Bara tidak mempedulikan suara tangisan bayi, dia fokus ke Bi meminta Dokter bertindak.
Akbar menggendong bayi kecil, tangisannya sudah terhenti. Darah masih terlihat ditubuhnya, Kiara ikut masuk meneteskan air matanya melihat bayi mungil yang hampir minum air ketuban.
"Pa bayi ini mengingatkan kita saat pertama kali Bianka lahir, Papa Dokter yang pertama menggendongnya agar menangis."
"Kamu mandikan dulu ya sayang, aku ingin melihat Bianka." Akbar menyerang bayi laki-laki tampan.
Bianka sudah dalam perawatan, Akbar mengecek keadaan Bi. Pendarahan juga bisa dihindarkan, Bara melakukan yang terbaik untuk Bi, ditengah kepanikan.
"Bara, lihat dulu anak kamu. Bianka sekarang sudah baik, dia hanya perlu beristirahat dan memulihkan tenaganya, biarkan dia tidur."
"Nanti Pa, nyawa Bara belum kembali. Dengkul Bara lemes, jantung Bara masih berdegup, tidak sanggup Bara melihat Bi merasakan sakit." Bara meneteskan air matanya tanpa rasa malu.
Bayi Boy sudah selesai dibersihkan, mama Kia mengantar Boy mendekati Bi yang masih tidur. Bara menggendong anaknya sambil tersenyum, Boy kelaparan ingin menyusu, Kia memberikan ASI Bi yang sempat disedot.
"Pa, kita lupa memberitahu keluarga soal kelahiran Boy." Kia menepuk jidat sakin bahagianya, Bara melangkah keluar menemui keluarga.
Saat melihat Bara keluar, seluruh keluarga tertunduk. Para girls sudah menangis, Bunga apalagi sudah sesegukan dalam pelukan Haikal.
"Boy Chrispeter Arnold, lahir dengan selamat." Bara menahan tangis, Keluarga masih diam karena tidak ada yang percaya.
"Ulangi, ayah sekarang sudah mulai Bolot." Haikal menatap mata Bara yang terlihat sembab.
__ADS_1
"BOY CHRISPETER ARNOLD, lahir dengan selamat ayah."
Bunda menatap Bara langsung memeluknya, Reva dan Rindu juga berpelukan, Kei menangis dalam pelukan Riki, Raffa terduduk mengucapakan syukur, Raka Raffi juga berpelukan menghapus air mata mereka. Dara masih menangis dalam pelukan Roy.
Rian tersenyum mengusap punggung istrinya, Riani juga menghapus air matanya.
"Selamat ya Bara, kamu sekarang menjadi ayah." Haikal memeluk Bara, dipukulnya punggung Bara meluapkan kebahagiaan.
"Bara takut ayah, cukup sekali ini saja, Bara tidak sanggup lagi melihat Bi melahirkan." Bara menangis merasakan sesak dadanya.
"Mafia ternyata bisa menagis juga." Rian memukul bahu Bara.
"Tidak perlu malu Bara, kita juga pernah menagis bukan karena kita lemah tapi karena kita telah jatuh cinta, jika orang yang kita cintai merasakan sakit, kita tidak bisa melakukan apapun, di sanalah pilihan kita hanya menangis." Rian menguatkan Bara, karena dulu dia sampai pingsan karena terserang penyakit kaget, ketakutan.
"Kita bisa jenguk Boy."
"Boleh Reva, dia bersama Mama Kia sekarang."
***
Bianka masih tertidur pulas di dalam kamar yang berukuran besar, Boy juga tertidur di dalam boks bayi. Haikal mendekati Bianka menggenggam tangannya, mencium tangan Bi, putri kesayangan.
"Maafkan ayah yang tidak bisa menolong kamu, sekarang kamu sudah memiliki anak, kamu akan merasakan mengapa ayah menantang keinginan kamu untuk berkuasa, hidup berkeluarga jauh lebih menyenangkan Bi."
"Jahat sekali ayah, jangan bilang pasukan yang Asep lenyapkan dulu." Bara menatap Asep yang berdiri di dekat pintu, mengagumi ketampanan Boy dalam gendongan Reva.
"Aiiiss sial, calon menantuku yang membunuh pasukanku."
"Asep! Roy bilang kamu calon menantunya, asik yang dapat restu." Rian teriak mengagetkan semua orang, Boy langsung menggeliat.
Lemparan tisu gulung melayang mengenai wajah Rian yang berisik, Bunga menatap sinis dan kesal.
"Boy," Bianka membuka matanya, menyentuh perutnya yang sudah mengempis, air mata Bi menetes. Bara langsung melangkah mendekat.
"Bara Boy, Ayah anak Bi." kedua tangan Bi digenggam oleh dua lelaki yang paling dia cintai.
"Sayang Boy baik-baik saja, terima kasih sudah memberikan harta paling berharga dalam hidupku." Bara mencium tangan Bi, Reva menggendong Boy mendekati Bianka.
Tangisan Bi pecah, disentuhnya putranya yang masih terlelap. Bi mencium wajah Boy membuat keluarga bahagia.
Bara mengusap air mata Bi, sungguh dia bahagia melihat keluarga kecilnya. Raffa juga mendekat, Bara langsung menyingkir membiarkan dua bersaudara berbicara.
__ADS_1
"Kaka baik-baik saja, maafkan Raffa tidak bisa menolong Kaka."
"Jangankan kamu, seorang Mafia juga tidak bisa melakukan apapun." Bi mengacak rambut Raffa ya g sudah menggenggam tangannya.
"Jadi cowok jangan cengeng, menikahlah biar tahu rasanya menangis saat istri melahirkan." Haikal menjitak kepala Raffa.
"Yakin Raffa boleh melangkahi kak Reva, nanti dia bisa jadi perawan tua kebanyakan dilangkahi adik." Raffa tertawa, tatapan Reva sinis.
"Tenang saja Bunda sudah punya calon untuk Raffa, wanita baik, lemah lembut, perhatian, juga dari keluarga terpandang."
"Apaan Bun, jangan main menjodohkan Raffa punya perempuan pilihan."
"Pokoknya Bunda mau kamu sama dia, berani menolak keluar dari daftar keluarga."
Raffa menghela nafas, matanya menatap Rindu yang tersenyum. Tidak terlihat wajah khawatir ataupun cemburu, Raffa merasa Rindu sekarang sudah mulai menjauh.
"Sebelum Raffa menikah, aku harus menikahkan dulu putriku. Sayang cepat carikan jodoh untuk Rindu."
"Papi, Raka saja belum menikah."
"Raka sudah punya jodoh, tapi butuh waktu sekitar tiga tahun lagi, soalnya jodohnya masih di bawah umur." Rian tertawa, diikuti yang lainnya.
"Tidak ada yang kasihan dengan Raffi, aku juga masih jomblo."
Semuanya tertawa melihat Raffi, pemuda tampan keluarga Chrispeter yang paling pendiam, ternyata punya niat untuk menikah juga.
***
Keluarga semuanya kembali, hanya tersisa Bara dan Reva yang menunggu. Ada Asep juga yang menjaga keamanan, di luar rumah sakit juga banyak pengawal bayangan yang di sebar.
Bara menatap Boy yang sedang menyusu, senyum manis Bi dan Bara terlihat.
"Boy, ayah boleh minta satu ini punya ayah, kamu hanya meminjam nanti balikin." Bara bicara pelan, Bianka ingin tertawa melihat tingkah suaminya.
"Kak, di mana koper yang sudah disiapkan."
"Koper apa sayang?" Bara berpura-pura lupa soal kebodohannya soal koper, sungguh memalukan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***