
Setelah satu Minggu Bara terlihat sangat pulih. Seluruh keluarga sarapan bersama, jika keluarga Chrispeter lengkap saat berkumpul pasti akan heboh.
"Bi, mana Bara sayang?"
"Masih di kamar Bun, sebentar lagi turun."
Bara menuruni tangga, tatapan semua orang tajam menatapnya. Bara menarik kursi di samping Bi, menerima makanan yang sudah Bi siapkan.
"Selamat pagi pak Ghavin, senang akhirnya bisa sarapan bersama dengan anda." Raffa tertawa melihat pemimpin hebat, bisa menjadi keluarganya.
"Maaf tuan Raffa Chrispeter, jika anda ingin tertawa. Silahkan keluar!" Bara tersenyum, Raffa langsung manyun.
"Bara!"
"Iya ayah."
"Mau ke mana kamu? apa mulai bekerja di perusahaan atau balik jadi mafia." Haikal menatap Bara, yang berpenampilan sangat rapi.
"Mau ke rumah sakit ayah, menjenguk Nayla."
"Bara, tinggalkan dunia mafia. Kamu menantu Chrispeter, perlahan saja! mulailah mundur."
"Baik ayah, tapi untuk sekarang belum bisa. Bara harus menemukan Clo dan mengerakkan bawahan agar tetap stabil."
"Kamu akan mundur, setelah menyadari istri dan anak kamu akan dalam bahaya. Kami dulu juga sama seperti kamu, tapi setelah menikah dan mempunyai anak. Hal yang paling disesali pernah menyentuh dunia hitam." Papi Rian tersenyum.
"Kenapa Papi?" Riki sangat penasaran dengan dunia Papi Rian.
"Dulu aku menggunakan tubuh orang untuk menjadi objek penelitian, Papi membunuh tanpa pandang bulu. tapi saat Mami Riani diserang, Papi sadar tidak ada gunanya kuat, jika melindungi wanitaku saja gagal."
"Syukurlah kita lahir dengan selamat, jika tidak mana ada dua wanita astral." Raka tersenyum menatap si kembar yang menatapnya.
Bara menatap Bianka, yang dikatakan Papi Rian benar, jika dia memiliki anak. Bara tidak rela anaknya menjadi seperti dirinya, dia ingin anaknya hidup normal dan jauh dari kekerasan.
"Kenapa menatap aku?!" Bianka melotot melihat Bara yang menatap perutnya.
"Hanya membayangkan anak kita, aku tidak ingin dia hidup dalam dunia kekerasan."
"Ibu dan ayahnya juga keras, dapat darah kalemnya dari mana?" ejek Rindu.
"Dari aku! Bara nyolot.
Sarapan pagi di temani oleh tawa Raffa yang selalu mencairkan suasana, tapi jika sudah menyebut nama Rindu yang dijodohkan dengannya langsung diam. Rindu sedikit merasa sedih, dirinya sangat cantik tapi tidak ada yang tertarik dengannya.
Rindu pergi dari ruang makan, suara ejekan masih terdengar. Tidak lama Raffi datang mendekatinya yang bibirnya manyun.
"Raffi, Rindu cantik tidak?"
__ADS_1
"Cantik!"
"Cocok tidak sama Raffa?" Rindu menatap Raffi yang masih sibuk dengan tablet nya.
"Kak Rindu, semua wanita cantik di mata laki-laki yang tepat."
"Berarti di mata Raffa kakak tidak tepat!"
"Jangan suka menyimpulkan sendiri, tanya langsung!" Raffi tertawa, melirik Rindu sekilas.
Melihat Raffa lewat, Rindu langsung memanggilnya. Raffi geleng-geleng. Rindu langsung ke inti, memang tidak tahu malu.
"Raffa! kenapa kamu tidak menyetujui perjodohan kita, ada wanita lain yang kamu cintai."
"Kalau ada kenapa? mau mematahkan tulang belulangnya." Raffa menatap wajah Rindu yang terlihat sedih.
"Tidak! aku tidak punya niat menyakiti orang lain. Kalau kalian mencintai lanjutkan saja!' Rindu tersenyum langsung melangkah pergi.
"Para perempuan Chrispeter, hidupnya simpel. Tidak ada niat berjuang, langsung lepaskan!" Bara merangkul pundak Raffa yang terdiam, mendengar jawaban Rindu.
"Tapi para pria Chrispeter selalu berjuang kak."
"Berjuang demi!"
"Harta!" Raffa tertawa diikuti Bara dan Raffi.
***
"Bara, kamu hampir membunuh Asep! kenapa dia turun ke Medan perang tanpa pasukan."
"Karena aku tidak memberikan perintah untuk berperang, dia hanya ditugaskan untuk menemukan Clori."
"Sialan!"
"Kenapa kamu marah Reva? karena kamu mengirimkan bawahan kamu Asep terluka." Bi menatap Reva tajam yang tidak mengerti ucapan Bi.
"Para wanita Chrispeter sangat tidak sabaran, apalagi sudah soal cinta. Pertama Rinda sekarang Reva." Bara menggelengkan kepalanya.
"Cinta! aku hanya ingin menolong."
"Terserah kamu Reva, akan ada saatnya kamu menyadari ucapan aku hari ini."
Bara dan lainnya masuk ke dalam ruangan Clori, keadaan Clo sangat memperihatinkan. Tubuh penuh luka, bahkan hampir seluruh tubuhnya terbakar.
"Dia di bakar!" Bara mendekati Clo yang masih belum sadar.
"Clo berhasil menyelamatkan diri dari jurang, tapi dia masih dikejar. Saat tertangkap, Clo siap dibakar dan disaat yang bersamaan aku datang untuk menangkap mereka, tapi mereka berhasil melarikan diri karena kedatangan Reva."
__ADS_1
"Inilah akibatnya Reva, jika kalian gegabah. Clo tidak mungkin terbakar, jika kamu tidak datang mengacau." Bara menatap Reva yang bersembunyi dibalik tubuh Bianka.
"Aku yang akan membiayai pengobatannya." Reva bicara pelan.
"Kamu pikir aku tidak mampu, ini bukan soal uang tapi kerjasama tim. Aku tidak akan membiarkan Asep mati dalam misi, jadi kamu tidak perlu takut kekasihmu terluka."
"Tuan saya dan Nona Reva tidak seperti itu." Asep tidak enak dengan Reva, tapi berbeda dengan Reva yang tersenyum.
"Terimakasih nasib Sep, kamu akan terkena masalah besar karena berusaha dengan keluarga Chrispeter."
Bara langsung keluar, untuk melihat keadaan adiknya yang hari ini bisa ke luar rumah sakit. Bi berjalan di sisi Bara, Kristan di belakang mereka.
"Maafkan Reva Bara, aku juga minta maaf soal pengkhianatan."
"Iya, tapi kamu akan tetap mendapatkan hukuman."
"Hukumnya apa?"
"Lihat saja nanti, kamu tidak boleh menolak." Bara tersenyum, dia sangat menanti hari hukuman Bianka.
Kristan membuka kamar Nayla, mata Nay mencari seseorang tapi tidak muncul. Nay sangat berharap suatu hari kakaknya Bara yang muncul.
"Kak Bara belum ditemukan?"
"Nay, kita pergi jauh dari negara ini, kita hapus nama Bara."
"Satu kali saja kak, Nay hanya mau bilang. Nayla sayang kedua kakak Nay, jika boleh Nayla ingin mempunyai keluarga, walaupun tanpa ayah dan ibu.
Bara mendengarkan keinginan Nayla, satu hal yang tidak akan pernah bisa dia kabulkan. Mengembalikan ayah dan ibu.
Langkah kaki Bara masuk bersama Bianka, dilihatnya Nayla sedang menundukkan kepalanya. Sesekali menghapus air matanya, Bara mendekat dan memeluk Nayla.
"Kak Bara!" tangisan Nayla pecah, teriakan kecilnya sesegukan memeluk erat Bara.
"Jika kamu ingin keluarga yang utuh, kenapa kamu tidak menikah saja?" Bara tersenyum, Bi mencubit perutnya, sedangkan Kristan melotot.
"Nayla masih kecil, belum boleh menikah."
"Iya ya lupa, ada yang tua tapi belum juga menikah. Pengen nikah tapi batal." Bara melirik Kristan yang menatapnya kesal.
"Mendingan aku dari pada kamu menikah tapi hanya status." Kristan menatap mata Bara, yang pandangan yang tajam.
"Siapa bilang status, tunggu saja kalian bakal segera melihat keponakan kalian. Iyakan Bi?" Bara meminta pembelaan dari Bianka.
Bi hanya menggakat kedua bahunya.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
***