
Senyuman Mentari terlihat, meneteskan air matanya tidak menyangka bisa menginjakan kembali kakinya ke Mansion Chrispeter, merasakan pelukan Bunda Bi.
Tatapan mata Bianka tajam, pelukannya merenggang. Memeluk erat tubuh Tari, langsung mendorong kuat tubuh Berlian.
Semua orang terkejut, Bara berusaha menangkap tubuh Lian, tapi tangannya ditahan oleh Bi.
Kebingungan terlihat, Kaira menatap Bunda yang terlihat sangat marah, meminta Mentari masuk, tapi ingin menemui Lian.
"Bunda, maafkan kami." Tari merasakan kepalanya pusing, langsung jatuh pingsan.
Kaira dan Keisya menahan tubuh Tari, Rinda yang berada dalam pelukan Raffa sudah pingsan lebih dulu.
Tatapan mata Bianka beradu dengan tatapan mata Berlian, Bi langsung melangkah maju, megambil senjata dari tangan penjaga, langsung mengarahkan kepada Lian sampai muntah darah.
"Bi, kamu bahkan tidak memberikan aku kesempatan untuk memeluk Bara, setidaknya aku ingin mati dalam pelukannya." Lian langsung merenggang nyawa.
Suara teriakan Kaira, Reva Rindu terdengar. Bianka membunuh Lian yang baru saja kembali, padahal semua orang tahu betapa sayangnya Bi kepada Lian dan Tari.
Raffa melangkah masuk membawa putrinya, Rindu juga masuk tidak mengerti yang terjadi. Bara meminta Miko membawa Tari ke dalam, Max masih menjadi patung melihat Lian meninggal.
Maxi berlutut, menyentuh wajah Lian, mengusap air mata Lian yang menetes. Bara mendekati Lian tidak mengerti mengapa Bianka membunuhnya.
"Apa yang kamu lakukan Bianka?" Bara menatap istrinya yang emosinya sedang dipuncak.
"Di mana Lian Max?" Bi menatap Maxi yang mengacak rambutnya.
"Dia Lian nyonya." Max masih berusaha tegar.
"Dia bukan Lian, di mana putriku Max?!" Bianka teriak kuat.
Bianka mendekati tubuh Lian, mengambil air keras langsung menyiramnya. Wajah Lian langsung berubah menghitam, Max menarik sesuatu yang memperlihatkan wajah asli orang yang mereka anggap Berlian.
Bianka langsung masuk ke dalam, Bara juga langsung masuk mengejar Bi yang sedang marah besar.
"Jadi ini maksudnya Rinda kita gagal?" Max berdiri menatap tubuh wanita yang tidak dia kenalin.
Suara Bianka teriak memanggil nama Boy yang sedang tertawa bersama kakeknya Haikal. Boy langsung berdiri melihat Bundanya yang langsung melayangkan pukulan.
Bi langsung menyerang Boy, melihat kemarahan Bundanya Boy langsung siap menghindar.
Pertarungan terjadi di dalam Mansion, antara Boy dan Bianka. Bara langsung masuk dalam pertarungan meminta Bianka berhenti menyerang putra mereka.
"Cukup Bi, perut Boy sudah berdarah." Bara memeluk Bianka yang meneteskan air matanya.
"Di mana Berlian?" Bi menatap putra semata wayangnya.
"Di luar mungkin." Boy tidak ingin memandang mata Bi.
__ADS_1
"Boy jangan bohongi Bunda, dia bukan Lian, tatapan mata mereka berbeda, sentuhan tangannya berbeda, aku sangat mengenali Lian."
"Bunda membunuhnya?"
"Iya."
"Baguslah, aku membawanya ke sini agar Bunda membunuhnya."
"Kamu sudah tahu dia bukan Lian, kenapa kamu kembali?" Bianka teriakan kuat, ingin maju menyerang Boy, tapi pelukan Bara kuat.
"Bunda, Boy tidak memaksa dia ikut, bahkan dari awal Boy sudah mengatakan jangan ikut, tapi Bunda yang memaksa Boy agar memberikan izin mereka ikut. Salah Boy di mana?" Nada bicara Boy tinggi, matanya juga tajam.
"Boy! kecilkan nada bicara kamu kepada Bunda." Bara menatap lebih tajam.
Suasana rumah hening, menonton pertengkaran ibu, anak dan Ayah. Kaira sudah meneteskan air matanya, tidak percaya jika Lian tidak kembali. Miko juga terdiam tidak tahu tenyata mereka pulang dengan Tim yang tidak lengkap.
"Lian bertugas melindungi Boy, bukan Boy yang harus melindungi dia." Boy melangkah pergi, meninggalkan ruang tengah.
"Bunda tidak akan memaafkan kamu, Bunda kecewa melihat pria pengecut seperti kamu." Bianka memalingkan wajahnya.
Boy menghela nafas, berjalan mendekati Bunda langsung berlutut di bawah, menundukkan kepalanya mencium kaki Bi. Boy meminta maaf karena tidak bisa memaksa Lian untuk kembali, Berlian yang mengambil keputusan untuk tidak kembali.
Jika Lian ingin dia pasti memiliki banyak jalan, jika Lian berniat tidak mungkin memberikan kesempatan orang lain mengambil posisinya.
Boy tidak bisa melakukan apapun, dia sudah berusaha melindungi Lian. Setiap orang memiliki keputusan, juga sudah takdir Lian terikat selamanya di pulau.
"Lian masih hidup?"
"Cari Berlian sampai ketemu, sekalipun kamu harus membawa mayatnya." Bi melangkah mundur menjauhi Boy.
"Maafkan Boy Bunda, jika Bunda ingin mencari Lian, kerahkan seluruh pasukan carilah sampai ke kerak bumi." Boy berdiri maju mencium kening Bundanya.
Boy langsung melangkah masuk, perlahan menghilang masuk ke dalam kamarnya.
Reza langsung berjalan mengendap, memilih menghindari Bunda agar tidak mendapatkan pukulan dari Bunda Bi, karena tenaganya masih full kuat.
Bianka langsung menangis memukuli Bara, mata Bara terpejam merasakan sakitnya pukulan Bi yang bertubi-tubi.
"Bara temukan putriku." Bi memeluk Bara kuat.
"Baiklah, aku akan meminta seluruh bawahan untuk mencarinya." Bara mengusap kepala Bi, menghapus air matanya.
"Jangan dicari." Riani menutup tabletnya.
Bianka langsung berjalan, duduk di samping Mami Riani, menyentuh tangannya.
"Mami di mana Lian?"
__ADS_1
"Bi, semuanya sudah terjadi jangan mencarinya lagi."
"Bi sayang Lian Mami?" Bianka memeluk Riani.
"Semuanya sayang Putrinya Ahlam, tapi dia yang memilih untuk tetap tinggal, sudah selesai tugas kamu menjaganya, karena sebuah rasa bersalah atas dirinya kehilangan kedua orangtuanya."
"Bi sayang dia dari hati bukan karena rasa tanggung jawab."
"Jangan dicari lagi Bi." Riani ingin melangkah pergi.
"Dia masih hidup atau sudah tiada?"
Riani diam, menatap cucunya Rinda Chrispeter yang bersembunyi di balik dinding mendengarkan semua pembicaraan.
"Mungkin Rinda bisa memberikan jawabannya, dia dan Boy tahu jika Lian tidak kembali."
Riani melangkah pergi, mencium kening cucunya masuk ke kamarnya.
"Papi."
"Tenanglah Bi, biasanya jika keluarga kita berduka pasti banyak burung gagak, jika tidak ada berarti dia selamat." Rian tersenyum.
"Papi yakin?"
"Tentunya tidak, aku tidak ikut pergi bertualang."
Bibir Bi langsung cemberut, Papi Rian memang tidak pernah mengerti suasana sedih. Bianka meminta Rinda mendekat, langkah kaki Rinda mendekat, duduk di samping Dara, memeluk erat sambil menangis.
"Nenek, Rinda tidak suka melihatnya."
"Sabar sayang, kamu istimewa." Dara mengusap kepala Rinda, menghapus air matanya.
Kaira duduk berlutut di kaki Rinda mempertanyakan keadaan Lian yang tidak kembali bersama mereka.
"Rinda melihat kak Lian di dalam mimpi, dia berada di dalam kobaran api, tidak melarikan diri, tapi hanya melambaikan tangannya."
"Lian memang tidak ingin kembali?"
"Bukan tidak ingin, tapi tidak bisa."
"Dia masih hidup tidak Rinda?" Bianka mengusap air matanya.
Rinda langsung melihat ke arah kaca, puluhan burung gagak hitam berterbangan. Tangisan Kai terdengar langsung melangkah pergi, Rinda juga meneteskan air matanya, tapi terlihat juga senyuman karena ada sekumpulan kupu-kupu di belakang burung gagak.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***