
Mobil Bianka tiba di kediaman Chrispeter, matahari pagi yang cerah tidak seperti hati Bianka yang sedang hancur. Di dalam keluarga sedang berkumpul untuk mulai sarapan, mereka sedikit aneh karena Reva tidak ada di rumah. Kalau para boys memang memiliki apartemen masing-masing sehingga jarang pulang. Rindu berlari menuruni tangga, sambil teriak memanggil Bunda dan ayah.
Tapi Rindu langsung terhenti, melihat Bianka yang penuh darah, celananya juga berdarah.
"Kak Bi! kakak Kenapa?" Rindu langsung teriak kuat dan memeluk Bi.
Semuanya berlari melihat Bianka yang tersenyum, langsung melangkah mendekati Haikal dan memeluknya.
"Sudah ayah katakan, jangan pulang dalam keadaan berdarah."
"Bi kangen ayah, pengen dipeluk ayah. Bi sayang ayah." Bianka menangis dalam pelukan Haikal.
"Siapa yang menyakiti kamu sayang? Bianka Bunda sekarang cengeng sekali."
"Bunda! peluk Bi Bun. Bianka sayang bunda." Bianka berpindah ke dalam pelukan Bunga.
Air mata Haikal menetes, sakit sekali hatinya melihat putri kesayangan menangis sesenggukan dan sangat menyedihkan.
"Bi istirahat ya sayang, bunda temani. Bersihkan dulu tubuh Bi, baru kita tidur ya sayang.
Haikal menyentuh tangan Bi, mengambil obat yang Bianka genggam. Haikal memperhatikan membuatnya terkejut.
"Obat penggugur kandungan!" Haikal menatap Bianka yang masih menangis dalam pelukan Bee.
"Bi belum meminumnya ayah, tapi sepertinya dia sudah pergi dari perut Bi. Bianka tidak cocok jadi ibu, Bianka wanita egois, benar kata Raffa Bi hanya bisa menggunakan emosi." Bianka tersenyum dan langsung memeluk Haikal.
Haikal langsung menggendong Bianka masuk kamarnya, meminta Keisya memeriksa Bi. Haikal langsung keluar kamar dan melihat Rindu yang menangis.
"Apa yang terjadi Rindu? Kenapa dengan Bi dan Bara? teganya Bara menyakiti putriku."
"Rindu tidak tahu pasti ayah, tapi Reva mengirimkan pesan untuk menjaga Bianka, dia sedang bertengkar dengan Bara."
Haikal pergi ke mansion Bara, bersama Rindu. Rian dan Akbar cepat menyusul takutnya Haikal lepas kendali dan membunuh Bara.
***
Bara keluar dari ruangan perawatan bersama yang lainnya, hanya Raffa yang berada di dalam. Bara menghela nafas.
__ADS_1
"Bianka!" Bara langsung berlari, dilihatnya maid yang sibuk membersihkan darah, sapa menaiki tangga ada bekas darah. Bara masuk ke kamarnya, di sana juga penuh darah, Bara teriak memanggil Bianka.
"Bi! Bianka!" Bara masuk ke ruang Lab di sana berhamburan obat-obatan.
Lab obat berantakan di lantai, Bara menyentuh obat yang berada di meja. Cepat Bara berlari keluar, memanggil seluruh pengawalnya.
"Di mana nyonya?"
"Ada apa Bara?" Reva mendekati Bara yang memukuli pengawal rumah.
"Bianka pergi! pasti dia salah paham. Berpikir aku selingkuh." Bara mengacak rambutnya, cepat meraih ponselnya dan menghubungi Bi.
"Pasti Bi pulang ke Mansion Chrispeter."
Suara teriakan ayah Haikal terdengar, Bara langsung berlari menemuinya. Pukulan kuat menghantam wajah Bara, Rindu coba menenangkan ayah Reva juga coba melindungi Bara.
"Apa yang kamu lakukan pada putriku? selama puluhan tahun, Bi tidak pernah menangis sesedih ini."
"Maafkan Bara ayah! Bara memang salah." Dengan tatapan penuh penyesalan, Bara tidak pernah terpikirkan akan menyakiti Bianka.
"Ayah sebenarnya Bi salah paham, Bara tidak tahu apapun. Bara hanya membantu Raffa." Reva coba menjelaskan semuanya.
Dia ingin menemui keluarga Chrispeter, tapi Raffa menolak mati-matian. Sampai wanita ini mabuk-mabukkan dan mengacau bisnis Bara, dia ingin bunuh diri.
"Setidaknya kami ingin menyelamatkan anaknya ayah!"
"Anak siapa? Rindu kamu buktikan soal wanita ini, habisi siapa saja yang terlibat. Dapatkan buktinya, jika perlu hancurlah hotel yang berani menjebak keturunan Chrispeter."
"Baik ayah!"
"Kamu Reva! mulai hari ini kamu di keluarkan dari markas dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Kamu tidak pantas turun partisipasi."
"Salah Reva apa ayah?"
"Kamu keturunan Chrispeter, tapi memilih membiarkan Bara membawa wanita kotor ke rumah ini, seharusnya kamu buktikan kebenarannya. Kamu juga dilarang memasuki pulau kematian." Haikal menatap Reva yang menunduk sedih.
"Maafkan Reva ayah, Reva mengaku salah."
__ADS_1
"Bara mengapa kamu membawa sembarang wanita ke rumah kamu, tidak pernah kamu berpikir soal perasaan istri kamu."
"Dia sedang hamil, Bara tidak tega. Mengirimnya ke hotel lebih berbahaya dengan skandal, meminta pengawal dia bilang kalau tidak dengan Bara dia lebih baik mati. Jadi Bara putuskan pulang, meminta Raffa datang menjaganya, dan Bara juga memanggil Reva. Soal Bi, Bara tidak berpikir jika Bianka akan menunggu Bara pulang sampai hampir subuh."
"Bara memang orang jahat, tapi setidaknya bukan merenggut nyawa bayi yang belum lahir."
Raffa keluar melihat ayahnya yang datang, suara Haikal tertawa mendengar penjelasan semuanya. Tatapan Haikal tajam ke Raffa dan melayangkan pukulan sampai Raffa terlempar dan keluar darah dari mulutnya.
"Maafkan Raffa ayah." Raffa bertekuk lutut di kaki ayahnya.
"Kalian sangat hebat nak, Bianka tidak menyakiti wanita malam itu jika kalian menghubunginya terlebih dahulu."
"Ayah hanya ingin memberikan selamat, untuk Raffa Bara juga kamu Reva."
"Kalian bisa menyelamatkan anak dalam kandungan wanita itu, dan membunuh bayi yang Bianka kandung."
Deg jantung Bara seakan berhenti berdetak, tubuhnya kaku dan mengeras. Tatapan matanya tertuju ke ayah yang mengusap wajahnya. Bara mencari kebohongan dari wajah ayah Haikal, Reva sudah terduduk di lantai. Raffi yang baru datang, menjatuhkan gelas minum untuk ayah Haikal, Raffa sudah meneteskan air matanya.
"Bohong ayah," Bara bicara terputus-putus.
"Kamu kehilangan anak kamu Bara! Bianka keguguran."
Bara melihat obat yang dia pegang, jantungnya sakit, dadanya sesak. Tidak mungkin Bianka menyakiti anak mereka, tangan Bara menggenggam kuat obat. Bara teringat darah di kamar, Bianka terluka karena dirinya, Bara ingat mendorong Bianka, gerakan Bi saat berkelahi.
"Tidak mungkin!" Bara ingin melangkah pergi tapi ayah menahannya.
"Jangan temui Bi, sia-sia Bara. Tidak ada lagi yang bisa kalian perbaiki, seharusnya kalian berpikir sebelum terjadi."
"Ayah ini salah Raffa, kak Bi terluka karena Raffa."
"Sekalipun kamu bunuh diri, anak kakak kamu tidak akan kembali. Ayah sangat kecewa dengan Kalian semua."
Rian dan Akbar hanya berdiri diam melihat kesedihan Haikal, Bara sudah pergi menuju Mansion Chrispeter. Air mata Bara keluar mengigat Bi, Bara tidak bisa membayangkan harus kehilangan anaknya bahkan belum sempat dia mengetahuinya. Betapa Bara menanti hari di mana dia mendapatkan kabar kehamilan Bi, menemani Bi melahirkan dan membesarkan anak mereka bersama-sama.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
***