BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 NYAMAN DAN CINTA


__ADS_3

Suara teriakan besar menggema di pinggir jalan, air mata Tari menetes mengumpat kasar Reza.


Banyak orang yang menatap Tari, melepaskan sepatu high heels bejalan di kegelapan malam. Tanpa Tari sadari seorang pria mengikutinya perlahan.


"Awas." Nando menarik tangan Tari yang hampir ditabrak sepeda motor.


"Lepaskan." Tari menepis tangannya.


"Kenapa kamu menangis, jika dia mencintai kamu tidak seharusnya dia tega meninggalkan kamu di jalanan."


Tari berjalan duduk di pinggir taman, Nando memegang kaki Tari, mengeluarkan pembersih luka.


"Aku Nando, kamu siapa?"


"Mentari."


"Nama yang cantik, tapi sayang cengeng." Nando memberikan tisu.


Tari dan Nando duduk diam, Tari mengusap air matanya menunggu Reza menjemputnya berharap Reza balik lagi.


"Ayo aku antar kamu pulang." Nando membawakan sepatu Tari.


Tari dan Nando langsung melangkah pulang, Tari mengucapkan terima kasih karena Nando begitu baik padanya.


"Jangan sedih lagi adik kecil, mulai sekarang kamu punya kak Nando yang akan menemani kamu." Nando melambaikan tangannya setelah Mentari masuk rumah.


Banyaknya pekerjaan belum lagi sikap Reza yang keras kepala membuat Tari stres, tidak sanggup lagi mengahadapi Reza yang ingin hasil terbaik, tapi dianya tidak berjuang.


Sikap Reza yang hanya memerintahkan membuat Tari lelah, Boy sudah ikutan memperhatikan Tari dan Reza.


Jangankan Tari, Boy juga merasakan marah, kasihan melihat Tari yang selalu menjadi kesalahan.


"Tari jika kamu tidak sanggup tinggalkan Reza, kak Boy akan menjaga kamu, tapi kak Boy tidak rela melihat kamu stres karena dia." Boy mengusap kepala Tari.


"Kak Boy maafkan Tari yang harus menyerah, Reza tidak pernah berubah."


"Iya, kamu cari kebahagiaan kamu jangan keluar batasan, hubungi kak Boy dalam keadaan apapun."


Boy melangkah masuk ke dalam ruangan Reza, menatap tajam Reza untuk berhenti memberikan perintah, Tari bukan bawahannya.


"Kenapa kak Boy membela dia? bukannya Berlian sudah kembali, sekarang jatuh cinta juga dengan Tari, silahkan ambil." Reza tersenyum sinis.

__ADS_1


Boy mengangkat tangannya, ingin memukul wajah Reza yang tidak bisa menghargai wanitanya. Boy tahu Reza mencintai Tari, tapi cinta tidak cukup jika tidak memperlakukan dengan baik.


"Kamu akan menyesal setelah kehilangan Reza, aku orang pertama yang akan tertawa dan bertepuk tangan saat kamu kehilangan."


"Aku tidak akan kehilangan apapun."


"Kamu tidak pantas dicintai, teruslah berdiri dengan sikap angkuh kamu, lebih baik berdiri dengan satu wanita asal dia setia, daripada seperti kamu berdiri dengan banyak cinta, tapi hidupnya tidak bahagia." Boy menendang kursi meninggalkan ruangan Reza.


Boy menghela nafas menatap Lian yang kebingungan, tidak biasanya Boy tidak semangat. Boy sedang mengontrol diri agar tidak terbawa emosi saat berbicara dengan Lian.


Boy dan Lian masuk ke mall ingin makan, langka kaki Lian terhenti di pojokan dia melihat Tari yang sedang menangis di depan pria lain.


"Siapa pria yang bersama Tari?"


"Teman mungkin, mereka terlihat sangat dekat."


"Ayo kita hampiri Boy."


"Jangan, biarkan saja. Aku berharap Mentari selingkuh, Reza patah hati hancur, bahkan sekalian saja dia mati rasa tidak merasakan cinta lagi." Boy menarik tangan Lian menuju meja lain.


Berlian binggung melihat Boy yang marah dengan Reza, tidak mendukung hubungan Reza dan Tari.


"Ada masalah apa kak Boy?" Lian tersenyum memanggil kakak.


Boy tahu rasa sakitnya kehilangan orang yang dicintai, menunggunya kembali menyiksa batin. Mencintai seseorang dengan ketulusan hati, saat kehilangan sangatlah hancur.


Reza belum tahu rasanya kehilangan cinta sehingga dia dengan santainya, bisa mengabaikan pengorbanan Tari.


"Boy, maafkan Lian."


"Bukan salah kamu sayang, aku tersiksa karena tidak bisa menyelamatkan kamu, aku tidak bisa memaafkan diri aku sendiri, jadi akan aku tebus kesalahan dengan mencintai kamu sampai mati. Jika kamu ingin melihat aku hancur pergi tinggalkan aku."


Berlian menggelengkan kepalanya tidak mungkin sanggup kehilangan Boy, mereka berdua berjanji untuk saling memperbaiki diri, menyiapkan diri agar benar-benar siap untuk menikah.


"I love you Berlianku." Boy mencium tangan Lian.


Boy melihat ke belakang menatap Tari, wajah pria yang bersama Tari menoleh. Boy mengerutkan keningnya, wajah pria yang tidak asing.


"Lian, kamu harus ingat wajah pria yang bersama Tari, aku merasa dia bukan orang baik, tapi terlihat baik sekali kepada Tari."


"Dia mungkin mencintai Tari?" Lian menatap Mentari yang tersenyum.

__ADS_1


Boy dan Lian saling tatap, saat ada bunga putih untuk Mentari. Senyum Tari terlihat menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih.


"Persahabatan, mereka hanya sahabat jika cinta seharusnya berwarna merah."


"Mungkin bunga merah sedang habis." Boy tertawa melihat Lian yang memukul tangannya.


"Kita abaikan mereka, sebaiknya kita makan." Boy menyiapkan makan untuk Lian.


Berlian tersenyum mencium bau wangi masakan, langsung menyantapnya. Kebahagiaan terbesar bagi Lian memiliki Boy disisinya, pria yang setia baik dan penyayang.


Lian mengigat ucapan Bunda Bi, jika suaminya pria yang kejam,tapi aslinya sangat lucu. Lian langsung tertawa membuat Boy menatap aneh.


"Boy, kamu ingat tidak saat kamu lahir? ada cerita lucu."


"Tentu aku ingat, menendang perut Bunda. Saat aku sudah keluar kamu masih proses pembuatan." Boy tertawa melihat wajah Lian.


"Bunda pernah cerita saat kamu ingin lahir Tuan Bara heboh sendiri."


"Tidak perlu diceritakan, Ayah bikin malu."


"Lucu Boy."


"Lucu darimana, malu Lian." Boy menggelengkan kepalanya.


"Padahal Lian berharap saat anak kita ingin lahir, kamu seperti Ayah Bara."


Boy langsung tersedak, Lian langsung memberikan minum menatap Boy cemberut.


Selesai makan Boy menunggu di mobil tidak jauh dari mobil Tari.


"Mentari kamu harus melepaskan dia, carilah bahagia kamu. Aku ingin saat kita bertemu kamu tidak menangis lagi, tapi tersenyum bahagia." Nando memberikan Tari semangat, mengacak rambut Tari.


Boy tersenyum melihat Reza memecahkan seluruh barang di kamar Tari, mengigat kejadian Tari bersama Nando membuat Boy ada senangnya melihat Reza terluka.


Boy menghubungi orang kepercayaan untuk mengawasi Tari, jangan sampai terluka sedikitpun.


"Sudah aku katakan Reza kamu akan hancur setelah ditinggalkan, cinta kamu sudah tidak ada gunanya lagi, saat wanita kamu sudah nyaman dengan orang lain." Boy melangkah pergi membiarkan Reza menangis.


Boy melangkah dengan tersenyum, pelajaran untuk cinta jika rasa nyaman bisa membuat cinta menghilang.


Boy melihat tabletnya menatap Nando sedang sekarat bersama Tari.

__ADS_1


"Sial, aku pikir Nando memiliki penawarannya, tapi ternyata tidak. Jadi siapa yang mencuri penawarannya." Boy langsung berlari ke dalam lab.


***


__ADS_2