BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SPOT JANTUNG


__ADS_3

Senyuman Berlian dan Boy tidak pernah pudar, menikmati makan siang bersama dengan status suami istri.


"Ayah muak sekali melihat kalian berdua tersenyum terus." Bara mengambil minum.


"Ayah iri ya, karena dulu menikahi Bunda tanpa cinta."


"Tidak ada cinta, maka tidak ada kamu di dunia ini." Bara menatap sinis.


Semuanya bubar untuk bersiap ke acara pernikahan kedua cucu Chrispeter.


Miko duduk panas dingin, Maxi hanya senyum saja menatap sahabatnya yang sudah menggunakan baju pengantin.


"Minggir Max, melihat wajah kamu membuat emosi." Miko mengerutkan keningnya.


"Mik, pernah tidak kamu membayangkan pada akhirnya akan menikah?" Maxi duduk di samping sahabatnya melihat ke arah depan tempat akan diadakan janji pernikahan kedua.


"Mana berani aku membayangkannya Max, hidup lama juga tidak pernah aku bayangkan. Jika boleh aku memiliki permintaan, aku memiliki satu impian menua bersama Kai, membesarkan anak kami, memiliki umur yang panjang." Miko tersenyum menutup matanya menarik nafas panjang.


Maxi tersenyum mendengar impian Miko, langsung merangkulnya menyemangati.


Suara teriakan Boy terdengar bersama Reza, menatap Miko dan Maxi yang hanya duduk berdua.


"Aku merasa kalian berdua lebih cocok sebagai, pasangan." Boy tertawa, langsung duduk di samping Miko.


"Kak Miko semangat sekali sudah lebih dulu menunggu di sini, padahal yang lain masih sibuk memperbaiki make up." Reza membawakan minuman.


Miko tersenyum, karena tidak memiliki keluarga, Miko hanya bisa langsung menuju ke tempat untuk mengucap janji pernikahan, tidak akan ada yang mengunjunginya.


"Za, aku bahkan lupa wajah kedua orang tuaku, bahkan lupa siapa nama aku dahulu. Hidup tanpa keluarga, saudara, juga teman membuat aku tidak punya alasan tetap di ruang rias."


"Lupa siapa kita?" Boy menatap Miko.


"Kak Miko selalu berkecil hati, kita juga keluarga."


"Oke, cukup sudah kita berdebat. Bagaimana perasaan kak Miko?"


"Biasa saja."


Boy mengerutkan keningnya, menatap wajah Miko yang berubah pucat, tapi masih bisa mengatakan biasa saja.


"Boy tidak percaya, jangan sampai pingsan kak Mik. Ingat pernikahan hanya satu kali." Boy tersenyum melihat wajah Miko yang semakin panik.


"Jangan menakuti Boy." Miko menutup wajahnya.


"Kak Mik menangis?" Reza mengusap punggung Miko.


"Siapa yang menangis? aku jarang bicara di depan umum."


Boy dan Reza langsung tertawa membayangkan saat pesta sedang bersalaman, Miko gemetaran.


Beberapa keluarga mulai masuk, Riki menatap Miko yang wajahnya pucat langsung tersenyum meminta Miko mendekat.


Miko langsung pindah tempat duduk, menyatukan kedua tangannya, sambil kakinya bergoyang.


"Tarik nafas hembuskan." Riki meminta Miko mengulangi sampai tenang.


Riki merangkul pundak Miko, mengusap kepalanya.


"Kamu takut apa?"

__ADS_1


"Takut mempermalukan, Miko tidak terbiasa berdiri menjadi pusat perhatian."


"Miko, kamu tidak ada kurangnya. Tampan, keren, setiap yang memandang kamu pastinya dengan tatapan kagum. Kak Rindu mengajari kamu tata krama yang baik, bersikaplah biasa saja, menjadi diri sendiri." Riki menatap Raffa yang muncul langsung duduk di samping Miko.


"Kenapa deg-degan?" Raffa melihat wajah Miko pucat.


"Melebihi deg-degan Papi, lihat kaki Miko tidak bisa diam."


"Temui Mami kamu."


"Tidak punya tenaga lagi."


"Miko doa seorang ibu memiliki sihir yang hebat, karena dia bisa membaca isi hati anak-anaknya ...." Raffa tertawa melihat Miko yang sudah berlalu pergi, sebelum Raffa selesai bicara.


"Riki, terima kasih."


"Buat apa? aku tahu kamu dan kak Rindu mendidik dia dengan baik, menghilangkan kekejaman juga kebinatangan di dalam dirinya."


"Dia pemuda yang sangat penyayang, aku yakin Kia akan bahagia bersamanya." Raffa merangkul adik ipar yang saat kecil selalu Raffa panggil kakak, setelah menikah langsung berganti status menjadi adik.


Di dalam kamar pengantin masih heboh ulah Berlian yang selalu membicarakan hal tegang, Kai yang memang deg-degan semakin gelisah.


"Lian mendingan kamu keluar."


"Nanti menunggu suami Lian menjemput."


"Jijik sekali Tari mendengarnya."


Keisya tersenyum melihat putrinya yang sudah sangat cantik, Kai langsung memeluk Mamanya.


"Mama, Kaira takut." Bibir Kaira langsung monyong.


"Takut apa sayang?"


Semua orang langsung menatap Kaira, suara tertawa terdengar. Kai bukannya panik pernikahan, tapi langsung memikirkan malam pertama.


"Apa yang kamu takutkan Kai? surga dunia." Rindu tersenyum menatap Kaira.


"Takut, nanti dipaksa."


Rinda dan Rindu menatap Kaira langsung tertawa, Miko tidak pernah memaksa apapun.


"Kaira, Mami jamin Mik bukan pemuda pemaksaan, dia akan memprioritaskan kenyamanan kamu." Rindu langsung melangkah pergi.


"Sudahlah, jika Kaira takut malam pertama. Kita batalkan saja pernikahannya, lanjut pengantin ketiga."


"Yeee, giliran Tari."


"Menantu sama mertua cocok, selalu semangat jika soal cinta. Reva rela pergi dari rumah karena cintanya ditolak. Tari pergi dari rumah karena dicuekin." Bianka bertepuk tangan.


Reva langsung memeluk Tari, mencium pipinya. Menantu dan mertua harus sejalan.


"Kaira mau menikah, sekarang sudah siap malam pertama."


"Menikah dulu Kaira, tidak ada malam pertama sampai pesta tujuh hari tujuh malam." Reva tertawa melihat wajah kaget Kai, Lian, Tari dan Rinda.


Rindu berjalan menatap Miko langsung mendekat memeluk Miko yang panas dingin.


"Apa yang membuat kamu takut, cemas, gelisah, tidak percaya diri? Miko menikah bukan hanya karena cinta, tapi menjadi penyempurna kehidupan."

__ADS_1


"Miko deg-degan, lihat tangan Miko."


"Tersenyum sekarang, berjalan bersama Mami." Rindu menggenggam erat tangan Miko, berjalan mendekati tempat Miko dan Kaira akan mengucap janji.


"Berdiri di sini, lihat semua orang yang tersenyum. Kamu harus menjadi orang paling bahagia hari ini."


Miko tersenyum, menggenggam erat tangan Rindu.


"Mami, boleh minta peluk."


Rindu langsung memeluk erat, mengusap punggung putranya. Rindu tidak menyangka harus kehilangan putra dan putri sekaligus dalam satu hari.


"Mami tunggu di sana, kamu bisa Miko." Rindu melangkah pergi duduk di samping Raffa.


Seluruh orang sudah bersiap, pintu terbuka. Kaira berjalan bersama Riki melewati karpet merah untuk menemui mempelai pria, senyuman Miko terlihat menatap Riki di depannya langsung menundukkan kepalanya.


"Miko, aku serahkan putriku, berjanjilah akan membuatnya bahagia. Satu hal lagi jangan memiliki anak perempuan satu-satunya."


"Siap Papa, nanti kita berikan putra saja." Miko tersenyum langsung menyambut tangan Kaira.


"Enaknya melihat kak Miko tenang, tidak seperti kak Boy." Rinda tersenyum menatap Boy yang melotot.


Rindu menggenggam tangan Raffa kuat, jantungnya berdegup kencang melihat Miko yang menatap Kaira.


"Sayang sakit." Raffa menarik tangannya yang bisa remuk.


Pendeta meminta Miko mengucapkan janji setia, kepala Miko mengangguk.


Miko mengucapkan janji setia sehidup semati dengan suara lantang, dilanjutkan oleh Kaira yang juga mengucapkan janji setia dengan suara lembut dan halus sambil tersenyum.


Sampai selesai semua orang masih terdiam, menatap dua insan yang tersenyum saling berpelukan.


Tidak ada yang memberikan tepuk tangan, Miko dan Kaira menatap seluruh keluarga yang menjadi patung.


"Kenapa mereka diam kak?"


"Tidak tahu."


"Berikan tepuk tangan." Pendeta membesarkan suara mic barulah gemuruh suara terdengar.


"Astaga kenapa aku hampir jantungan. Mereka yang di sana tersenyum bahagia." Riki tersenyum menatap Keisya.


"Sudah selesai, Tari berhenti bernafas sesaat." Tari mengusap dadanya.


Reza, Rinda dan Maxi terdiam menjadi patung merasakan kecemasan sendiri.


"Selamat Miko, kamu hari ini hebat sekali. Kita semua masih terpesona melihat kalian, ternyata sudah selesai." Akbar memeluk cucu dan cucu menantunya.


"Terima kasih Kakek, sehat selalu agar bisa melihat Miko dan Kaira Versi kecilnya."


"Kakek pasti sehat, kakek ingin melihat generasi selanjutnya." Akbar tersenyum mencium kening Kaira.


Maxi langsung melangkah keluar, Reza juga sudah menghilang karena cemas.


"Rinda, Tari takut."


"Aku juga, tapi kak Miko dan kak Kaira bisa lancar dan membuat kita semua spot jantung."


***

__ADS_1


Rencananya langsung dua orang, tapi ternyata belum bisa mohon bersabar gays. Satu orang lebih dari seribu kata.


***


__ADS_2