
Seluruh keluarga sudah berkumpul menunggu calon pengantin wanita untuk mengucapkan janji, Boy meremas kedua tangannya merasakan jantungnya berdegup kencang.
Bara menepuk pelan tangan Boy, tersenyum melihat putra semata wayangnya akan segera menikah.
"Santai saja, kamu belum tahu rasanya detik-detik istri melahirkan. Menikah hari kebahagiaan, kamu harus tersenyum."
"Memang hari kelahiran tidak bahagia Ayah?"
"Bahagia setelah lahir, proses lahirnya membuat jantungan."
"Boy sekarang juga merasakan jantungan, rasakan dada Boy hampir meledak.
"Tenang Boy, jangan sampai kamu pingsan. Langsung batal pernikahan."
"Ayah." Boy cemberut, Bara hanya tertawa.
Di kamar hias Berlian sudah di dandan dengan cantik, wajah Lian berubah menjadi seorang ratu. Menggunakan gaun putih, mahkota putih juga penutup kepala yang menjuntai panjang.
Bianka tersenyum langsung mengusap wajah cantik Lian, langsung menemaninya melangkah bersama, Rindu, Reva, dan Keisya.
"Bunda, Lian deg-degan."
"Sudah santai saja sayang, kamu hari ini cantik sekali."
"Lian setiap hari cantik Bunda, bukan hanya hari ini." Lian menarik nafas buang nafas.
"Lian kamu ingin menikah, bukan lahiran." Rindu mengerutkan keningnya.
"Bunda bagaimana ini?" Lian langsung jongkok.
"Ada apa Lian?" Reva menatap Keisya yang langsung mendekat.
"Lian ingin buang air kecil." Wajah Lian meringis menahan bagian bawah.
Rindu menepuk jidat, meminta Lian menahannya sampai mereka menyelesaikan sumpah pernikahan.
Lian menggelengkan kepalanya, tidak bisa menahan lagi. Reva membantu Lian mengangkat gaunnya, diikuti oleh Bianka, Rindu dan Kei yang membantu mengangkat gaun tinggi.
"Bagaimana Lian bisa keluar, pakai gaun seperti ini?"
"Makanya Mommy bilang tahan dulu, ribet." Reva menyingkirkan penutup wajah.
"Lian tidak bisa buang air kecil jika dilihatin." Lian menatap empat wanita yang langsung melotot.
"Buang air kecil sekarang atau batal menikah!" Rindu menatap tajam.
"Mami, Mommy, Bunda sama Mama tutup mata. Jangan mengintip."
"Tidak ada yang niat melihatnya Lian, kita juga punya." Reva menggelengkan kepalanya.
"Lian kamu hanya buang air kecil, jangan sampai kamu buang air besar. Bunda tinggalkan kamu, busuk."
"Bagaimana jika kelepasan Bunda?"
"Lian!" Reva, Rindu dan Bianka teriak kuat.
Berlian tersenyum langsung melangkah keluar kamar mandi, tersenyum menatap empat wanita yang sudah cemberut memegang gaun.
__ADS_1
Berlian menatap wajahnya di kaca, pelayan datang meminta pengantin perempuan cepat keluar.
"Lian cantik sekali." Berlian menatap dirinya di depan kaca.
"Cepat Berlian!" Bianka menghela nafas.
Lian langsung tersenyum mendekat, melangkah pelan bersama empat wanita cantik Chrispeter.
"Bunda."
"Apa lagi? Boy sudah menunggu."
"Lian deg-degan lagi." Berlian berdiri di depan pintu.
Boy menarik nafas berdiri di atas aula, menunggu Berlian melangkah mendekatinya. Bara tersenyum menyambut tangan Lian berjalan pelan menuju tempat mengucap janji.
Boy tersenyum juga tegang melihat Lian yang melangkah bersama Ayahnya, jantung Boy berdegup lebih kencang.
"Ayah."
"Apa?" Bara tetap fokus bejalan.
"Lian deg-degan."
Bara menepuk tangan Lian sambil tersenyum, mengingat kembali moments saat dirinya juga menikahi Bianka yang mendapatkan ancaman dari Haikal.
"Ahlam, hari ini putraku Boy Chrispeter Arnold menikahi putrimu Berliana Arnold seperti keinginan kita, seharusnya kamu yang ada disisinya. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan lebih, hanya bisa menepuk tangannya agar tenang. Lian mengatakan jika dia deg-degan, aku tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa menenangkannya." Bara menahan kesedihannya.
"Ayah."
"Iya nak."
"Iya, mereka sedang melihat kamu. Lian harus bahagia agar mereka juga bahagia." Bara bicara pelan, terus menepuk pelan tangan Lian yang memeluk lengannya.
Boy berdiri di depan Bara, langsung menyerahkan Berlian untuk memeluk lengan Boy. Bara menatap putranya mendekati Boy dan Lian.
"Boy, jaga Lian sebagai permintaan seorang Ayah. Jangan sakiti dia, jangan khianati dia, cintai dan prioritaskan dia, kehormatan seorang lelaki saat dirinya bisa menjaga wanitanya." Bara menepuk pundak Boy.
"Siap Ayah, Boy akan mengikuti amanah Ayah." Boy tersenyum menatap Lian.
Bara melangkah kembali duduk ke samping Bianka, Bi langsung menepuk tangan Bara sambil tersenyum.
Rinda, Max, Miko, Kaira, Reza dan Tari juga hadir melihat Boy dan Lian yang sudah berdiri berdua untuk mengucap janji pernikahan.
"Terasa tegang sekali." Rinda menghela nafasnya.
"Reza takut, bagaimana jika nanti suara kak Boy bergetar sa sa sa ya yaya." Reza langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa.
Semuanya orang menatap ke arah tiga pasangan calon pengantin yang sedang tertawa, Maxi menundukkan kepalanya.
"Za kamu jangan bicara sembarang, nanti kamu yang gagap."
"Sudah diam, kak Boy mulai bicara."
"Mic rusak, suara kak Boy tidak kedengaran."
"Belum bicara Rinda bodoh." Tari menatap sinis.
__ADS_1
"Rinda yang tegang."
"Diam."
Semuanya langsung hening, fokus menatap Boy yang sudah memegang mic.
"Saya mengambil engkau sebagai istri ... dalam susah ataupun senang ...." Boy tersenyum menatap Lian.
"Saya mengambil engkau sebagai suami ... pada waktu sehat maupun sakit ...."
(maafkan jika author salah, jadi ala kadarnya.)
Pengucapan janji selesai diucapkan, Boy mencium kening Lian setelah membuka tutup wajah Lian melihat cantiknya istrinya.
Boy memasangkan cincin ke jari manis Lian, begitupun sebaliknya Lian memasangkan cincin ke jari manis Boy.
Seluruh orang bertepuk tangan, melihat Lian dan Boy berpelukan. Air mata Lian langsung menetes merasakan kebahagiaan bisa menjadi istri lelaki yang dia cintai, juga pernah Lian benci.
"I love you istriku." Boy mencium bibir Lian membuat suara berisik.
Lian langsung memukuli Boy, membuat orang tertawa melihat Berlian mengomel.
"Bersiaplah pengantin kedua." Rian menatap Kai dan Miko.
wajah Kaira dan Miko langsung tegang, Rinda menatap langsung meringis melihat Kaira tersenyum.
Boy masih sibuk berfoto bersama seluruh keluarga, Rinda, Reza juga sudah bergabung. Maxi dan Tari juga bergabung hanya tersisa Kaira dan Miko yang masih melamun di kursi mereka.
"Miko Kaira, ayo sini." Raffi memanggil.
Semuanya langsung berkumpul saling tersenyum menyambut pernikahan pertama cucu Chrispeter, Boy Berlian.
Boy dan Lian melangkah mendekati Miko dan Kai, memberikan bunga pernikahan sambil tersenyum.
"Kak Miko Boy akhirnya lengah, lebih tegang di atas sana daripada kita berperang."
"Kamu takut."
"Bukan takut, hampir jantungan susah bernafas." Boy mengusap dadanya.
Boy tersenyum menggenggam tangan Lian, menciumnya karena akhirnya Boy menepati janjinya untuk menikahi Berlian.
Boy dan Berlian sedang tertawa bahagia karena sudah melepaskan masa lajang, hanya tersisa menunggu malam pertama.
"Sayang, besok masih ada pesta jadi kalian berdua tidur terpisah." Bi tersenyum menatap Boy.
"Siap Bunda, Boy sayang Bunda."
"Kalian berdua harus bahagia, bukan lagi tentang aku, kamu, tapi sekarang sudah kita. Kalian berdua harus saling melengkapi, menutupi kekurangan dengan kelebihan, menjadikan kelebihan untuk menutupi kekurangan pasangan. Hilangkan ego di dalam berumah tangga." Haikal memeluk Boy dan Lian.
"Siap kakek." Boy tersenyum memeluk Kakek neneknya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***
VISUAL NYUSUL