BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BULAN PURNAMA


__ADS_3

Suara gemericik air terdengar, Boy mandi di bawah air shower. Air mengalir ditubuh Boy yang hanya diam saja menjadi patung.


"Arrggg ... brengsek." Boy memukul kaca sampai pecah.


Suara air mati, Boy melangkah mengeringkan rambutnya. Memakai baju santai langsung lompat di atas ranjang memilih memejamkan matanya untuk beristirahat.


Reza juga di dalam kamarnya sudah membersihkan diri, duduk di pinggir ranjang. Suara ketukan pintu terdengar, Reza mempersilahkan masuk, Daddy Asep datang mendekatinya.


Asep menatap mata putranya yang terlihat memiliki beban, senyum Asep terlihat menepuk pundak Reza.


"Za, jangan sesali sebuah kegagalan."


"Kasihan Lian berada di sana, Reza tidak mengerti Boy kejam sekali membiarkan Lian menetap."


"Daddy setuju dengan Boy, Lian yang egois tidak bekerja dalam tim. Dia berpikir berkorban bisa membuat timnya selamat, tapi kenyataannya dia mengkhianati kalian."


Reza menghembuskan nafasnya, Reza menanyakan keadaan Mentari. Asep masih menunggu Keisya dan Rindu untuk melihat keadaan Tari.


***


Suasana makan malam keluarga Chrispeter hening, tidak ada suara Boy dan Rinda yang selalu membuat suasana heboh. Boy selesai makan langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Reza juga sama, selesai makan langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat total.


Rinda yang biasanya penuh canda dan tawa, melangkah pergi meninggalkan ruangan makan malam, memilih untuk tidur menambah tenaga juga memulihkan kembali tubuhnya.


Kaira hanya berdiam diri di kamarnya, makan juga di dalam kamar, selesai makan lanjut tidur lagi. Tenaga, pikirannya sudah terkuras habis, perjuangan panjang yang diakhiri dengan kegagalan.


Suara tangisan Kaira terdengar, dia yang paling bersedih karena gagal kembali bersama. Kai sudah sejak kecil bersama Lian, walaupun dia jarang berkomunikasi, tapi tetap saja mereka selalu bertemu.


Pintu kamar Kai diketuk oleh kakeknya Akbar meminta Kai ke lapangan latihan, Kaira menghapus air matanya melangkah bersama kakeknya. Neneknya Kiara juga ada di samping Kai.


Pintu kamar Boy juga diketuk, tapi Boy tidak merespon. Bunga dan Haikal masuk meminta Boy keluar menunju lapangan pelatihan.


Boy menolak, dia ingin beristirahat. Bunga memaksa Boy untuk ikut, menarik tangan cucu utamanya untuk keluar.


Reza juga sudah di luar bersama dengan Roy dan Dara, melihat kegelapan lapangan sambil menunggu yang lainnya.


Suara Rinda terdengar melangkah bersama neneknya, Rian hanya mengikuti dari belakang melangkah mendekati Reza.

__ADS_1


Semuanya berada di lapangan terbuka, suasana dingin menusuk tulang. Kai meminta kakek nenek mereka segera masuk, nanti masuk angin dan bisa sakit.


"Kalian tahu alasan kenapa bisa ada di sini?" Akbar duduk berkumpul.


"Untuk merenung, mendapatkan hukuman?" Rinda menahan tawa, karena sudah lama tidak merasakan kumpul di lapangan.


"Kalian merasa ada salah?"


"Tidak." Jawab Boy.


Semua arah pandang menatap Boy, mendengar jawaban Boy jika dia tidak merasa bersalah, juga tidak merasa mereka gagal.


"Boy, kamu sedang marah, atau patah hati?" Rian tertawa melihat Boy yang nadanya menggunakan emosi.


Suasana hening kembali terjadi, sampai larut malam masih duduk di lapangan melihat gerhana bulan merah.


Haikal tersenyum menceritakan gerhana bulan biasanya digunakan untuk orang yang kuat secara mistis sedang beradu kehebatan.


Haikal dan Rian pernah menjadi saksi pertarungan mistis di sebuah desa terpencil, mereka satu persatu mati tanpa menyentuh.


"Kenapa harus bulan purnama kakek?" Rinda mulai penasaran.


"Mitos, cerita zaman lampau. Kita hidup di zaman modern tidak ada lagi istilah menyerang tanpa menyentuh." Reza menggelengkan kepalanya.


"Kalian tidak menyadari sudah masuk ke mana? pulau yang kalian datangi bernama pulau Heart, tempat pertarungan lima bersaudara bertarung saling menunjukkan kemampuan mistis sampai akhirnya mereka semua tewas, mengubah pulau hati menjadi pulau paling menakutkan." Haikal menghela nafasnya.


"Tidak semenakutkan yang sebenarnya kakek, pulau itu menjadi menyeramkan karena mulut ke mulut yang membuatnya menjadi tempat yang ditakuti." Boy menatap kakeknya.


Rian tertawa, pulau hati yang membuat kakek mereka meninggalkan, dia meregang nyawa di pulau hati, tapi hebatnya dia bisa kembali ke kediaman Chrispeter.


Tidak ada yang tahu siapa yang mati di pulau, siapa yang mati di Mansion, kenyataannya keduanya mati dalam jarak waktu tidak lama.


Berlian berkorban mengembalikan seluruh Chrispeter, kembali tidaknya Lian dia akan tetap mati, karena ada satu orang yang sudah menyerupai dirinya secara rinci, bahkan sulit dibedakan.


Satu mati di pulau, satunya sudah dipastikan mati di luar pulau. Bianka membunuh seseorang yang menyerupai Lian, tanpa mendengarkan harapan terakhirnya.


"Boy tahu keinginannya dia bisa memeluk Ayah, tapi jangan harap Bunda membiarkan. Siapa yang menyentuh Ayah Bara dengan tatapan cinta, sudah pasti Bunda singkirkan."


"Bunda kamu sama seperti nenek kamu Boy, sama hewan juga cemburuan." Haikal tertawa menatap istrinya Bunga.

__ADS_1


"Ada harapan tidak kakek Lian selamat?"


"Ada, dia juga tidak ingin mati di sana." Riani menatap Boy yang tersenyum.


"Kita harus kembali ke sana?" Kaira langsung berdiri.


"Pulaunya sudah hancur Kaira Chrispeter." Rian tersenyum melihat cucunya yang mulai agresif.


"Kita hanya bisa menunggu sampai dia kembali, atau tidak akan pernah kembali selamanya." Dara melihat bulan merah.


Akbar meminta semuanya melepaskan Berlian, Maxi dan Miko juga yang ikut bergabung diminta tetap di posisi masing-masing.


Sementara dalam beberapa tahun keturunan Chrispeter dilarang untuk pergi ke negara manapun, karena berita hancurnya satu pulau yang cukup di percaya banyak orang yang sakral hancur karena penerus Chrispeter.


Kaira diminta kembali ke rumah sakit utama, Rinda juga diminta kembali ke laboratorium untuk meneliti perkembangan obat, juga senjata.


Boy dan Reza harus kembali ke perusahaan, mereka berdua harus menggabungkan dua perusahaan yang sudah terpecah, antara bisnis Chrispeter yang di urus oleh Asep juga bisnis milik Ghavin yang sempat terpecah.


Boy sudah biasa berurusan dengan bisnis, tapi berbeda dengan Reza yang tidak tahu apapun. Reza tidak begitu tertarik dengan bisnis, dia lebih suka membuat senjata, juga menguasai bisnis, gedung, pulau, juga kekayaan para pejabat.


"Reza kakek tahun kamu banyak membuat masalah, perseteruan dua perusahaan karena Asep dan Bara yang tidak pernah sependapat, walaupun hubungan mereka baik. Kamu bisa memulai dari awal dalam bimbingan Tari, dia tangan kanan Asep dan Reva." Roy menatap Reza yang mengerutkan keningnya.


"Kakek nenek seharusnya kalian cukup mengatakan kami harus hidup normal, meninggalkan pertarungan." Boy tersenyum menatap kakek neneknya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kai akan kembali ke rumah sakit."


"Rinda juga akan kembali ke pusat penelitian."


"Reza tidak ingin berbisnis." Reza mengacak rambutnya.


"Boy akan kembali juga, Reza kamu harus menurut berhenti membuat masalah." Boy menendang Reza membuat keduanya langsung bertengkar.


Miko akan kembali mengawal Rinda, sedangkan Maxi mengawal Kaira.


***


...minal aidin wal faizin selamat hari raya idul adha...


***

__ADS_1


__ADS_2