
Mobil keluar dari area bawah tanah, berada di perkebunan anggur. Tidak ada satu orangpun yang terlihat, Boy menatap Lian yang masih ketakutan, tangan Lian bergetar, Boy tahu Lian memiliki masa lalu yang kelam soal orangtuanya.
"Tenangkan diri kamu baru keluar." Boy membuka pintu berjalan keluar menggunakan kacamatanya, melihat matahari yang sudah terik.
Rinda juga keluar, mendekati Boy mengatakan kedatangan sudah disambut, mereka sudah mengawasi sejak pertama masuk hutan. Kai melihat buah anggur yang terlihat berbeda, Maxi melarang untuk menyentuh, Lian mengganggu mengerti.
"Keluarlah, kedatangan kami dengan tujuan untuk menjalankan bisnis. Ada banyak hal yang ingin saya bahas." Boy teriak kuat.
Lima orang keluar, menatap Boy yang tersenyum licik, langsung mempersilahkan mengikuti mereka, menunjuk sebuah villa yang cukup mewah.
"Saya membutuhkan kamar, istri saya takut kegelapan dia harus beristirahat." Boy tidak melihat Lian, kembali menuju mobil langsung menggendong Lian yang sudah pucat.
"Maxi seharusnya kamu tahu Lian takut kegelapan." Boy menatap tajam, Max menundukkan kepalanya, meminta maaf.
Boy memutuskan untuk yang lain mengurus sendiri apa yang harus dilakukan, dia membawa Lian ke dalam kamar, menidurkannya.
Reza berjalan mengantikan Boy untuk menemui pemilik villa bersama Mentari, keduanya berjalan melewati banyaknya kamar yang memang disediakan untuk orang liburan.
Tangan Reza memeluk pinggang Tari, menatapnya tersenyum, Tari yakin dibalik kacamata hitam Reza dia bisa melihat apa yang ada dibalik pintu.
Seseorang membukakan pintu, Reza masuk menggenggam tangan Tari menatap seorang pria berbadan besar, menatap tari penuh pesona.
"Silahkan duduk?"
Reza langsung duduk, bersebalahan dengan Tari, di depannya duduk seorang wanita seksi, belahan dada terlihat, pahanya terpampang mulus menunjukkan keseksiannya kepada Reza.
"Bagaimana kalian bisa menemukan pintu rahasia tempat ini?"
"Pertanyaan yang unik, seharusnya anda sudah tahu tuan kiting." Tari tersenyum manis memeluk lengan Reza.
Tawa menggelegar terdengar, Reza sangat tidak menyukai tawa yang menggangu pendengarannya.
"Kami datang tidak ingin berbasa-basi, seseorang yang tidak bisa kami sebutkan namanya meminta kami datang."
"Satu hal lagi tuan Kiting, tujuan kami buka hanya sekedar liburan, tapi sama seperti bos kalian, kami menginginkan keuntungan yang menjanjikan." Tatapan mata Tari menunjukkan sosok dirinya yang kuat dan tangguh.
__ADS_1
"Kamu tidak punya basa-basi nona cantik, perkenalan dulu dirimu."
Mentari berdiri, berjalan pelan melihat sebuah lukisan cantik, seorang Queen pada masa Joseon.
Tari menatap tajam, dia mulai paham tujuan Boy untuk menghancurkan seseorang, pasti Boy sudah mengetahui banyak hal soal tempat ini.
Reza melihat dua wanita datang, berdiri di belakang Reza menyentuh pundaknya sampai ke dada.
"Lepaskan tangan kamu dari suamiku, jika tidak ingin cacat." Mentari melemparkan belati kecil.
Reza berdiri melangkah keluar, Tari juga melangkah keluar mengikuti Reza yang berhasil menemukan yang mereka butuhkan.
Senyum Reza terlihat menatap Tari yang lumayan cerdas, dia bisa mengimbangi keadaan, cara berbicaranya juga halus dan langsung pada inti.
"Sebenarnya apa tujuan Boy datang ke sini?" Reza melihat Mentari yang hanya tersenyum.
"Dia mencari seseorang untuk dihancurkan, jika aku tidak salah tempat ini dipimpin oleh seorang wanita, tapi dibaliknya ada orang yang cukup kuat, semoga saja tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Chrispeter."
"Kurang ajar Boy, dia hanya mencari keuntungan kepada dirinya sendiri." Reza tertawa kecil.
"Pintar juga kamu, awas saja jika kamu menjadi beban." Reza tersenyum sinis.
***
Boy melihat ke luar jendela, menghidupkan ponselnya menghubungi seseorang, Lian terbangun mendengar pembicaraan Boy soal wanita yang memiliki pulau, dia ingin bertemu secara langsung, menyebutkan namanya, Lian kaget ternyata Boy tahu banyak hal tempat ini, dia mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.
"Tuan, anda pria licik, bagaimana bisa melibatkan dua nona untuk mendapatkan keuntungan bagi diri tuan sendiri." Tatapan Lian tajam, tidak menyangka Boy hanya penampilan saja pria yang ceria.
"Lian aku tidak pernah memanfaatkan siapapun, aku tidak memaksa mereka ikut, kedatangan kami berempat memiliki tujuan masing-masing, juga demi keuntungan masing-masing." Boy tersenyum.
Boy tahu tujuan Reza datang, memaksa ingin tetap pergi walaupun dia tahu resikonya besar, Reza menginginkan tempat ini, seseorang yang kuat dia yang bisa merampas bisnis ilegal.
Kedatangan Kaira juga beralasan, dia sedang mencari sumber obat-obatan yang sedang menyebar, menurut penelitian sumber kekacauan dunia medis ada di tempat ini, tanpa terkecuali Rinda, dia ingin menemukan seseorang yang sudah mengambil penelitiannya, juga mematahkan tulang belulangnya.
Boy satu-satunya orang terakhir yang memiliki tujuan, awalnya hanya iseng ingin melihat kehebatan ketiga adiknya, tapi ternyata pemilik tempat ini orang yang penuh bermain-main dengannya.
__ADS_1
"Seharusnya kalian memberitahu kami tuan."
"Jangan lupakan status kamu Lian, kamu bukan seorang pengawal, hanya wanita biasa." Boy tersenyum sinis.
Berlian terdiam menggenggam tangannya kuat, tidak menyukai ucapan Boy, dia tidak selemah yang Boy katakan, putra utama yang sombong meremehkan juga memandang sebelah mata.
"Apa yang ingin tuan lakukan sekarang?"
"Liburan."
Boy meminta Lian keluar, tanpa banyak bicara Lian langsung pergi, membanting pintu dengan kuat, Mentari berdiri di depan pintu mengikuti Lian yang sedang emosi.
"Kak mereka memiliki tujuan datang kesini, semua manusia sama, hanya menginginkan keuntungan."
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan Tari? jangan pernah kamu membantu Reza dalam misinya."
"Mustahil kak, Tari binggung sebenarnya mereka sadar tidak tempat ini berbahaya?"
"Mereka sudah mengetahuinya Tari, keluarga Chrispeter memang seperti ini, dari generasi ke generasi mereka suka mencari kematian, jangan ragukan mereka, tujuan mereka tidak buruk hanya memuaskan rasa penasaran." Maxi mendekati dua anak didiknya yang tidak mengerti dengan tuan mereka.
Maxi meminta Lian untuk fokus, jangan memperdulikan apapun yang Boy lakukan, jangan ragukan kehebatan Boy dia orang yang berpengalaman, baik dalam dunia bisnis maupun dunia hitam.
Tari juga diminta jangan banyak berbicara, Reza anak yang tenang, tidak suka diatur. Ikuti saja terus berhati-hati, tujuan utama Boy dan Reza pasti tetap melindungi dua putri Chrispeter.
Rinda mendengar pembicaraan Maxi dan kedua bodyguard, ternyata Maxi cukup berpengalaman, sekalipun dia tahu tujuan masing-masing, hanya diam dan mengikuti.
Generasi Chrispeter tidak pernah ingin mencari kematian, tapi menghindarinya. Cukup sekali kegagalan dalam misi, saat kehilangan Rinda Chrispeter yang pertama, Rinda yang sekarang tidak ingin kejadian lama terulang kembali.
Senyum Rinda terlihat, mengangkat tangannya, saat melihat kupu-kupu berterbangan hinggap di tangannya.
"Aunty, jaga Rinda, kak Kai, Boy dan Reza, biarkan kami kembali dengan personil yang lengkap, membawa kemenangan bukan Kematian."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
__ADS_1
***