
Satu minggu keadaan Bianka tidak ada perubahan, pengobatan terbaik sudah dilakukan tapi Bianka masih seperti tidak punya jiwa. Keluarga sangat kasihan melihat Bara yang masih terpukul.
"Bara! ayo keluar kita sarapan." Haikal mendekati Bara yang duduk di lantai sambil menggenggam tangan Bi.
"Nanti ayah, Bara belum lapar."
"Bianka sudah sakit, kamu juga ingin sakit. Jangan memperkeruh keadaan, kamu harus kuat."
"Saat bunda hanya bisa makan melewati selang, tanpa bicara dengan ayah. Bisakah ayah makan."
"Bar! hari itu kenangan yang ayah simpan di dalam hati ayah. Hari kehancuran seorang Haikal, dan sekarang putriku juga mengikuti jejak bundanya."
"Lalu bagaimana Bara bisa makan, istriku saja bertahan dengan infus. Bara kehilangan anak yang belum aku ketahui, hari yang aku tunggu selama ini mendapatkan kabar Bianka hamil tapi takdir menghancurkan segalanya."
"Ayah hanya bisa mengatakan sabar."
"Saat Bi terbangun, dia akan melupakan Bara, membenci Bara. Bayangan ke depan sangat buruk, ingin rasanya kembali ke masa di mana kami tidak bertemu, mencintai sangat sakit dan kehilangan membuat yang kuat bisa hancur ayah."
Haikal hanya bisa menghela nafasnya, semua yang diucapkan Bara benar. Depresi yang Bianka alami bisa membuatnya kehilangan seluruh ingatannya tentang hak yang menyakitinya. Haikal keluar tidak bisa melakukan apapun.
***
Rindu melamun melihat langit yang mulai gelap sambil terdiam, dia berdiri di atas balkon kamarnya. Lama Rindu tidak berdiam dengan menatap langit, mencari kebenaran soal hubungan Raffa yang ternyata hanya jebakan. Raffa tidak pernah tidur dengan wanita ini, dia perempuan yang mencintai Ghavin dan sangat terobsesi dengan Ghavin. Saat tahu Raffa adik ipar Ghavin dia langsung menggila dan semakin ingin dekat dengan Ghavin melalui Raffa.
Raffa Chrispeter seorang pria yang sangat tidak tega menyakiti wanita, karena ini dia tidak membalas satupun perasaan wanita yang mengaguminya. Tapi kepanikan menyerang Raffa saat seorang wanita mengaku hamil anaknya, Raffa ingat pernah di hotel dalam keadaan mabuk pulang reunian.
"Rindu!" Raffa datang memegang pundak Rindu tapi langsung ditepis.
"Maafkan aku,"
"Keluar!" Nada dingin seorang Rindu terdengar, sejak kecil Rindu hanya manja kepada Raffa tapi sekarang kemarahan Rindu berada dipuncak nya. Melihat kecerobohan Raffa mengakibatkan Bi kehilangan bayinya.
"Maaf hanya kata maaf yang bisa aku katakan, bukan hanya kamu yang kecewa tapi aku juga hancur. Karena kebodohan diriku sampai menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan kak Bi." Raffa tertunduk sambil meneteskan air mata.
Rindu melangkah ingin pergi tapi Raffa menarik tangannya, menenggelamkan kepalanya di dada Rindu sambil terisak menangis.
__ADS_1
"Satu orang saja yang menenangkan aku Rin, kasih aku sedikit saja semangat. Jangankan untuk meminta maaf kepada kak Bi, bertemu dengannya saja aku tidak sanggup." Raffa memeluk erat Rindu.
"Sudahlah Raffa! semuanya sudah terjadi, tidak ada yang menginginkan hal ini. Kita hanya bisa menerimanya, kamu harus kuat." Rindu menepuk pelan pundak Raffa membuat tangisannya sedikit mereda.
***
Keluarga seluruhnya berkumpul baik girls maupun Boy. Bara turun mendekati ruang makan dengan wajahnya yang tidak begitu baik. Nayla yang melihat kakaknya langsung berlari dan memeluk Bara, tangan Bara mengelus kepala Nay dan memintanya jangan menangis.
Bara ikut makan dalam diam, Bunda berkali-kali meletakan lauk pauk ke piring Bara yang terus di makannya dalam diam dan kepala menunduk. Semuanya menatap Bara, mereka yakin Bara meneteskan air mata, tapi cepat menepisnya.
"Maafkan Raffa kak Bara, hukum Raffa seberat-beratnya."
"Raffi juga salah kak! Raffi siap menerima keputusan keluarga, sekalipun harus dikeluarkan dari negara ini."
"Tidak perlu Raffi, kalian kembalilah seperti biasanya. Biarkan ini menjadi masalah aku dan Bianka." Bara berdiri dan menyudahi makanan langsung kembali ke kamarnya.
Keluarga berembuk untuk membawa Bi ke Lab dan melakukan perawatan di sana dengan resiko yang sangat besar. Bisa saja Bianka melupakan keluarganya.
"Aku tidak setuju Haikal, biarkan Bianka di sini. Dia bukan sakit hanya saja sedang terpukul."
Jika Mami Riani sudah bicara, semuanya pasti terdiam. Suara Mami sangat berharga jika sedang musyarawah, tawa dan canda nya hanya saat bersama suami, anak, dan para istri lainnya.
"Hubungan Bara dan Bianka seperti malam menjadi siang, gelap menjadi terang."
"Riani istriku tersayang! semua orang tahu kalau sudah siang berakhir malam, sudah terang pasti gelap."
"Kebalik Papi!" Raka tertawa pelan melihat Papi.
"intinya sama, artinya juga sama. Pokoknya ya itu."
"Maksudnya Mami kak Bara sedang diuji, kekuasaan, ketenaran, kehebatan tidak bisa membantunya. Dengan ujian ini Bara akan mengerti pentingnya kak Bi melebihi apapun yang dia miliki selama ini."
"Tapi setidaknya kita harus mengobati Bianka, bukan hanya diam." Reva menatap Daddy-nya.
"Obatnya ada pada Bara, Bianka terluka karena Bara. Depresi Bi karena rasa kecewa terhadap Bara juga kalian bertiga."
__ADS_1
"Maafkan Raffi Pa, seharusnya Raffi menjelaskan ke kak Bi. Bukan meninggalkannya."
"kalian salah karena tidak melakukan komunikasi dengan baik, mulai sekarang buang ponsel kalian. Kalau bicara pakai hati, biar cepat mati." Riki menggelengkan kepalanya.
"Riki! mata Dara melotot.
"Riki benar, mereka hanya mengatakan mungkin tanpa memperjelas semuanya." Kiara mendekati Raffi sambil menjitak kepalanya dan memberikan minum ke suaminya.
"Kita ambil hikmahnya dari masalah ini, kalian semua sudah besar. Sudah saatnya menjadi pemimpin sesungguhnya." Bunda Bunga memberikan semangat ke semuanya.
Nayla tersenyum, ini rasanya memiliki keluarga. Asa rapat keluarga semuanya mengeluarkan suara dan pendapat. Sesuatu yang Nayla inginkan selama ini.
***
Di kamar Bara memeluk Bianka yang matanya terbuka tapi tidak merespon. Bara merasa seperti memeluk boneka kayu.
"Sayang! aku rindu, ingin melihat senyum kamu juga bibir kamu yang suka ngambek."
Bara mendaratkan ciuman ke bibir Bi, bibirnya terasa hangat tanpa respon. Bara mencium lebih dalam, lama Bara bermain di dalam meluapkan rasa rindunya. Bara langsung berhenti dan menatap Bianka dengan senyuman.
"Sayang! lidah kamu bergerak. Kamu merespon ciuman kita."
Teriakan bahagia Bara menciumi kening dan pipi Bi dan memperdalam lebih agresif, Bara melupakan Bianka yang masih lemas. Gigitan pelan di atas dan bawah bibir membuat Bi membuka mulutnya, matanya perlahan tertutup dan berkedip-kedip. Bara sangat bahagia merasakan kehangatan dari mulut Bi, perlahan juga ada balasan. Rasanya Bara ingin menangis mempersiapkan diri kemungkinan Bianka tidak mengenalinya.
"aku mencintai kamu Bianka Chrispeter!" batin Bara dalam hati.
***
Ini up terakhir dua episode ya..
Dikarenakan dekat akhir bulan author pekerjaan numpuk jadi berhenti dulu halu๐คฃ
Satu episode gpp ya ๐๐
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***