BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 BANGUNAN ASING


__ADS_3

Langkah kaki Rinda berlari kencang, Maxi yang sudah berpindah tugas binggung melihat Rinda yang sedang tidur, tapi langsung mendadak bangun dan berlari keluar.


"Nona berhenti!" Maxi memeluk erat Rinda, membaliknya yang ternyata Rinda dalam keadaan sadar.


"Apa yang kamu lakukan?" Rinda menatap tajam.


"Maafkan saya nona, melihat Nona berlari ...." Maxi binggung harus mengatakan apa.


Melihat kupu-kupu putih hingga di atas kepala Rinda, Max meminta izin untuk mengusirnya, Rinda melarang membiarkan seluruh jenis kupu-kupu berada di sisinya.


"Max, jangan panggil aku Nona, tapi Rinda. Satu hal lagi, terkadang ada hari banyak hewan yang akan mendekati aku, mulailah terbiasa."


Rinda langsung melangkah pergi, Max mengikutinya dari belakang, masuk ke dalam hutan kecil yang tidak jauh dari penginapan. Max tidak mengerti Rinda ingin pergi ke mana.


Langkah Rinda berhenti di balik bangunan tua, Maxi menarik Rinda untuk menyingkir. Terdengar suara langkah kaki, memasuki bangunan tua.


Tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi Rinda dan Maxi memilih untuk tidak masuk, Rinda menutup hidungnya, ada bau yang sangat tidak enak tercium, Rinda menahan agar tidak muntah.


Maxi melihat sekilas tubuh seseorang dibawa ke sana, langsung ditutup dengan pintu menyerupai pohon dan tumbuhan liar.


Setelah beberapa orang pergi, Max meminta Rinda tetap diam, Max melangkah mendekat melihat sekitar, melihat ke dalam bangunan tua yang hanya menampung sampah.


Max membuka gerbang, tapi sulit, menyingkirkan dedaunan, tapi tetap tidak bisa terbuka. Max diam berpikir sejenak, masuk ke dalam bangunan menemukan sebuah saklar lampu, tapi tidak ada lampu dibangunan.


Saat Maxi keluar gerbang sudah terbuka, dia masuk ke dalam, tapi beberapa orang muncul kembali langsung menutup gerbang.


Rinda kaget melihat Maxi tertinggal di dalam, satu orang masuk ke dalam bangunan, tidak lama keluar lagi, salah satu dari mereka marah, meminta lebih berhati-hati untuk menutup pintu sebelum pergi, sangat berbahaya jika terbuka.


Melihat orang-orang sudah pergi, Rinda langsung cepat mendekat, memanggil pelan nama Maxi, tapi tidak ada jawaban, Rinda berusaha untuk membuka pintu, tapi kesulitan.


Rinda masuk ke dalam bangunan, mencari sesuatu yang mungkin bisa membuka gerbang, Rinda mengeluarkan lipstiknya, alat canggih pendeteksi magnet.


Lama Rinda mencari belum juga menemukan apapun, sangat mengkhawatirkan keadaan Max di dalam.


Tangan Rinda terus meraba dinding, menepuk pelan dinding sampai muncul benda berbentuk saklar lampu.

__ADS_1


Emosi Rinda rasanya naik, dia sudah mati-matian mencarinya. Cepat Rinda berlari ke luar melihat gerbang terbuka, bau busuk menyengat, Rinda langsung muntah tidak sanggup dengan baunya, entah bagaimana nasib Maxi di dalamnya.


"Kak Max, Maxi kamu ada di dalam?" Rinda ragu ingin masuk, bau busuk terlalu menyengat.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Rinda menyusul masuk, menutup hidungnya perlahan semakin masuk.


Bau semakin menyengat, Rinda langsung menutup mulutnya kuat agar tidak teriak, melihat satu orang tidak bernyawa yang baru saja dimasukan, banyaknya tulang belulang.


Rinda terus melangkah masuk, melihat seorang wanita tanpa busana sedang makan daging. Rinda teriak, tapi mulutnya langsung ditutup oleh Max.


Nafas Maxi bisa Rinda rasakan, suara detak jantungnya juga terasa. Rinda merasakan pelukan hangat, tangan Max juga mengusap lengannya agar tenang.


Langkah kaki Maxi membawa Rinda menjauh, langsung menggendongnya agar tidak merasakan tulang belulang yang sudah habis di makan.


Rinda memeluk leher Maxi, memejamkan matanya. Ternyata nyaman juga bertualang dengan pria dingin, jarang berbicara, melakukan dengan tindakan, bukan hanya banyak berbicara.


Max menurunkan Rinda, langsung masuk ke dalam bangunan menutup kembali gerbang, Rinda masih diam. Max melihat kaki Rinda yang kotor langsung menggendongnya menuju ke arah air yang tidak jauh dari tempat mereka.


Rinda menatap wajah Max yang sudah dewasa, Rinda sekarang berusia 17 tahun, Max sudah kepada 30an, tapi terlihat sangat gagah dan tampan.


"Kak Max sudah menikah?"


"Belum."


"Kenapa belum menikah, Rinda juga ingin menikah muda, pasti menyenangkan bisa bertualang bersama suami."


Max hanya diam, tidak merespon ocehan Rinda, dia hanya sibuk membersihkan kaki, setelah selesai membersihkan kaki Rinda langsung menarik tangannya untuk naik ke atas.


Bibir Rinda langsung monyong, dia seperti sedang berbicara dengan pohon. Hanya bergerak, tapi tidak bisa berbicara.


Max dan Rinda melangkah pergi untuk keluar, Rinda langsung menahan tangan Max, dia baru mengingat soal kejadian di dalam bangunan.


Rinda kagum dengan Max yang terlihat biasa saja berada di tempat penumpukan orang tidak bernyawa, bahkan sudah membusuk, hanya sisa tulang belulang.


"Kak, tidak mual perutnya berada di tempat tadi? tolong dijawab jika Rinda bertanya, jika tidak menjawab mulai detik ini jangan pernah mengawal Rinda, ada kak Miko yang siap menemani Rinda."

__ADS_1


Max menarik nafas panjang, jika bersama Kai, pasti terasa tenang, berbeda dengan Rinda yang super cerewet.


"Kak, jawab!" Rinda teriak kuat, Max menutup mulutnya.


Max akhirnya menyerah mengatakan jika dirinya sejak kecil sudah melihat pembunuhan, juga sudah pernah membunuh sejak kecil, berada dalam penjara bawah tanah, melihat orang yang tidak mampu bertahan, akhirnya meninggal, membusuk dan hanya tersisa tulang.


Bertahan hidup dengan kegilaan di sekitarnya membuat Max tidak mencium bau dan merasakan apapun, dia sudah mati rasa, bahkan hampir tidak punya perasaan.


"Kanibal di dalam tadi belum menyedihkan, hidup aku dan Miko dulu lebih kejam, bahkan aku tidak merasakan sakitnya, cambukan, dipukul, ditendang, bahkan ditembak juga tidak ada rasa."


Rinda mencubit lengan Maxi kuat, memintanya merasakan rasa, tapi ekspresi wajah Max biasa saja memang terlihat tidak merasakan apapun.


"Kak Maxi mati rasa, tapi bisa berdarah tidak?" Rinda mengambil sebuah suntikan, menancapkan jarumnya di lengan Maxi.


Wajah kaget Rinda terlihat, tidak ada darah yang keluar. Max juga aneh melihat Rinda, sikapnya konyol seperti orang yang tidak punya pekerjaan.


"Sakit tidak kak?"


"Tidak, sebaiknya kita kembali."


"Kalau ini ada rasa tidak?" Rinda mencium bibir Max.


Tatapan mata Max langsung tajam, mencengkram kuat lengan Rinda, suara Rinda meringis terdengar. Max langsung melepaskan Rinda yang hampir terjatuh, ditinggalkan begitu saja.


Rinda kaget melihat respon Max, dia marah juga terbakar emosi. Rinda melihat lengannya merah memar.


Rinda berlari mengejar Max, langkah kaki Maxi sangat cepat. Mereka keluar dari hutan, langsung menuju tempat menginap, Kai yang sedari tadi mencari Rinda langsung menahan Max.


"Nona Kai sebaiknya Miko yang menjaga Rinda, aku tidak bisa bekerja dengannya." Max langsung melewati Rinda.


"Apa yang terjadi Rinda?"


"Tidak tahu, dia marah karena aku menciumnya."


Kai kaget mendengar ucapan Rinda seakan-akan sangat sepele.

__ADS_1


***


__ADS_2