
Pintu kamar Bi terbuka lagi, langsung ditutup dengan kuat. Bianka langsung duduk dengan memegang jantungnya. Reva masuk dengan wajah marah, Bi mengerutkan keningnya.
"Ada apa lagi?" Bianka melemparkan bantal.
"Asep pacaran dengan maid, jatuh harga diri Reva."
"Maid! Reva Chrispeter kalah saing." Bianka tertawa sambil memegang perutnya, kecantikan girls Chrispeter tidak ada duanya tapi soal cinta tidak ada yang berani mendekatinya.
"Lucu!" Reva menatap kesal.
"Ya sudah, daripada kamu marah-marah mendingan kita keluar. Aku lagi pengen makan seafood." Bianka membuka bajunya dan menggantinya di depan Reva.
"Bi! dada kamu semakin besar, perut kamu juga buncit. Tapi kamu mau makan seafood."
"Besok diet," Bianka ingin diet, tapi makanan seafood sedang berkeliling di kepalanya.
"Bi! tapi kamu mulai berisi, dari pipi, dada, perut, body kamu juga semakin montok."
"Efek setelah menikah mungkin, tapi aku sama Bara sudah lama tidak berhubungan sejak masalah kemarin. Sudahlah mulai besok aku diet." Bianka berjalan di depan Reva yang masih kebinggungan.
"Tapi aura kecantikan kamu semakin terlihat, tanpa polesan saja sangat cantik dengan tubuh kamu yang seksi." Reva memukul boking Bi sambil berlari menjauh.
Di depan Mansion, Reva dan Bianka bertemu Asep yang sedang membantu kepala kebersihan rumah. Asep langsung menyapa Bianka ingin menuju kemana.
"Nona ingin pergi?"
"buta, punya mata untuk melihat bukannya hanya untuk melotot." Reva menatap dingin.
Asep membukakan pintu mobil, Bianka masuk Reva ingin menyetir tapi ditarik Asep duduk di samping kemudi. Asep juga langsung masuk menjalankan mobil.
"Siapa yang memberikan izin kamu ikut?" Reva menatap ingin mengamuk dengan tindakan Asep.
"Bara yang kasih perintah Reva, Asep harus ikut jika aku ingin pergi."
"Tapi Bi, aku tidak ingin melihat pria ini."
"jika tidak mau, bisa aku turunkan." Asep tersenyum melihat Reva yang menatapnya dengan sengit.
"Sudahlah Reva jangan marah-marah nanti jodoh."
__ADS_1
"Dia bukan selera aku! maid lebih cantik daripada Reva Chrispeter." Reva teriak di dekat telinga Asep, sedangkan Bianka hanya tertawa.
"marah-marah tidak jelas, cempreng." Asep bergumam pelan tapi Reva bisa mendengarnya.
"Cempreng! Kenapa masalah buat Lo. Haaaahhh! aku tahu dia cantik, seksi, montok tapi lihat saja umurnya tidak akan panjang. Akan aku ledakan kepalanya."
Suara tawa Bianka sangat lepas sampai dia memegang perutnya, rasanya perut Bi keram karena terlalu banyak tertawa. Wanita memang sangat lucu jika sedang cemburu, tidak pernah perduli tempat dan keadaan.
Asep tidak ingin meladeni Reva, dia fokus menyetir. Dia juga tidak tahu kesalahannya yang membuat Reva mendadak marah. Padahal pagi tadi masih bercanda.
Mobil sampai di restoran yang Bianka inginkan, mereka langsung turun. Asep mengamankan tempat duduk Bi yang private tapi Bianka menolak, dia ingin bergabung dengan banyak orang.
Bi memesan banyak makanan yang membuat Reva binggung, semua pesanan sudah Bianka pesan. Jadinya Reva hanya memesan minuman saja. Asep ingin duduk menjauh tapi dilarang Bi, dia ingin Asep juga makan bersamanya.
"Asep, kenapa lama sekali. Perut aku lapar!" Bianka bicara seakan-akan dia ingin menangis.
"Sebentar Nona!" Asep langsung masuk ke dalam dapur restoran, mengeluarkan senjata meminta makanan untuk Bianka dipercepat. Setelah mengancam bari Asep melangkah keluar.
Tidak lama makanan Bianka mulai berdatangan, dengan menelan ludahnya Bi sudah tidak sabar lagi. Cepat Bi memakannya dengan menggunakan tangan, Bi makan dengan lahap. Reva hanya melongo tidak bisa bicara sepatah katapun, Bi tidak pernah makan sebanyak ini.
"Kami kerasukan setan rakus ya Bianka,"
"Enak!" Bi hanya tersenyum dan terus makan.
"Kenapa tidak memesan ruang privat Reva?" Riki duduk dan melihat Bianka yang hanya tersenyum.
"Bi menolak!"
Riki berdiri mengikat rambut Bianka yang menggangu makannya, Kei membantu Riki mengikatnya.
"Terimakasih Kei." Riki tersenyum melihat calon istrinya.
"Bi, makanlah dengan pelan." Riki mengambil tisu dan membersihkan bibir Bianka yang celemotan.
Kei menatap Riki penuh rasa kagum, dia melihat sosok Papa Akbar yang sangat lembut mengahadapi Mama Kia. Alasan Kei jatuh cinta kepada Riki Chrispeter bukan hanya pesonanya tapi sifat dewasanya.
"Kei jangan dilihatin terus, kak Riki tidak akan menghilang." Reva tertawa melihat keisya yang sangat terpesona melihat kakaknya.
"Tidak," Kei menunduk malu, Riki hanya tersenyum melihat Kei yang malu-malu.
__ADS_1
Bianka sudah menyelesaikan makanannya, Kei binggung melihat porsi makan Bianka yang sangat banyak. Kei memegang tangan Bi, menyentuh perutnya yang buncit.
"Bianka kamu sudah haid belum?" Kei menatap Bi yang sudah mengantuk.
"Sudah, tapi hanya sedikit sejak keguguran aku hanya haid sedikit sepertinya flek."
Keisya menatap tajam Bi, sekilas juga melihat kearah Reva yang hanya menggakat kedua bahunya.
Suara Rindu membuyarkan pikiran Kei, Bara dan Raffa juga bersamanya. Bara mendekati Bianka yang matanya perlahan tertutup.
"Siapa yang makan sebanyak ini?" Bara menatap satu-persatu.
Reva hanya menunjuk kearah Bianka yang asik menguap. Bara menatap istrinya yang polos tanpa polesan tapi masih sangat cantik.
"Kak ayo pulang ngantuk," Bianka masuk ke dalam pelukan Bara, Bianka sudah melupakan jika dia sedang marah kepada Bara.
Bara sedang fokus mendengarkan pembicaraan Raffa, tapi Raffa berhenti bicara karena mendengarkan suara dengkuran dari Bianka yang sudah terlelap dalam pelukan Bara. Rindu hanya menggelengkan kepalanya, orang sedang bicara serius dianya tidur.
"kurang ajar banget kamu Bi." Rindu melemparkan tisu.
"Sebaiknya aku pulang, kita bicara di rumah saja." Bara membenarkan Bianka, agar masuk dalam pelukannya.
Bara dan Bianka satu mobil bersama Asep dan Reva, sedangkan Raffa bersama Rindu. Kei bersama Riki, mobil beriringan menuju ke Mansion.
Bi tertidur dengan pulas, Bara menggakat tubuh Bianka masuk ke dalam membuat Bunda kebinggungan. Tidak biasanya Bianka bisa tidur di dalam mobil.
"Bi kenapa Bara?"
"Tidur Bunda, Bara permisi ke atas." Bara melangkah menaiki tangga, masuk ke dalam kamarnya meletakkan Bianka, memakaikan selimut dan mencium kening Bi.
Di lantai satu Kia bertanya dengan perubahan Bianka, Reva menceritakan porsi makan Bi berkali-kali lipat dari biasanya. Kia memikirkan tentang kehamilan Bianka, jika keguguran tidak mungkin secepat ini hamil lagi. Dari awal Kia ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan Bianka, tapi keadaan mereka sebelumnya tidak memungkinkan.
Kia memutuskan menunggu seluruh keluarga berkumpul, Kia berharap perasaannya benar. Jika Bi masih bisa mempertahankan kandungannya, jika memang hamil, anak Bi sungguh luar biasa. Dia ikut pertempuran dengan Bundanya, berkelahi, berlari, bersedih, terpukul tapi dia kuat tidak ingin meninggalkan Bundanya.
"Anak kuat, sehebat ayah bunda juag kakek nenek kamu." Kia ingin menangis membayangkan menjadi Nenek.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***