
Setelah mengantar kepergian para kakek dan nenek untuk liburan, Bara meminta anak-anak berkumpul di markas. Boy masuk ke dalam penjara bersama Reza, Kai dan Rinda. Rinda berhenti melihat seorang wanita muda, hanya diam saja menatap kosong. Rinda binggung melihatnya bisa berada di tempat penjara yang paling mengerikan, bahkan memiliki tanda berbahaya.
Rinda melangkah mendekat mencoba menyapa, tatapan mata keduanya langsung bertemu, Rinda tersenyum melambaikan tangannya. Langkah cepat mendekat, tangan Rinda ditangkap, Maxi langsung melepaskan tembakan, Rinda langsung ditarik menjauh. Boy langsung berlari mendekat, saat mendengar suara tembakan, tetesan darah langsung diarahkan ke dalam mulutnya, Reza bertepuk tangan seorang manusia tidak merasakan sakit tembakan, langsung menghisap darahnya sendiri.
"Kamu baik-baik saja Rin?" Maxi menatap Rinda yang masih terdiam.
"Dia terlihat tenang, tapi mengapa sangat mengerikan?" Kai menatap dari kejauhan.
"Dia korban pelecehan, pernah melahirkan, anaknya dibunuh, kejiwaan terganggu, darah menjadi kesenangan baginya." Maxi menatap iba.
Reza tertawa melihat Maxi, pria yang dulunya sangat bringas, dingin tapi bisa berubah menjadi seseorang yang memiliki rasa kasihan.
"Kak Max coba senyum." Reza cengengesan melihat Max yang membuang pandangannya.
"Ayo kita keluar, mungkin tuan Bara dan Asep sudah menunggu di aula."
Semuanya mengikuti Maxi keluar, Rinda masih menatap kasihan melihat seorang wanita yang tertembak.
"Rin, hilangkan sifat kasihan, kamu bisa dimanfaatkan." Boy mengelus kepala Rinda.
Di aula, Bara berdiri bersama Asep. Rinda berlari mengagetkan kedua pamannya. Asep mengelus kepala Rinda yang mengemaskan.
"Apa yang kamu temukan di dalam sayang?" Bara menatap Rinda.
"Seorang wanita cantik, tapi dia hampir saja memakan tangan Rinda, bersyukurnya ditolong kak Maxi."
"Lain kali hati-hati Rinda, kekejaman seseorang tidak terlihat dari wajahnya."
"Paman, kenapa masih dibiarkan hidup? hidup atau mati tidak ada gunanya lagi."
Bara tersenyum melihat Rinda, Bara pernah satu pemikiran dengan Rinda, mati lebih baik daripada hidup dalam kegelapan. Kenyataan mereka tidak ingin mati, menunggu orang yang sepantasnya mati bersama.
"Rinda, kak Maxi juga dulunya ada di sana, mati memang pilihan, tapi sembuh menjadi harapan."
"Ayah, Boy ingin pergi ke kota xxxx, boleh tidak Boy pergi sendiri." Boy mendekati Ayahnya yang duduk di kursi menatap ponselnya.
"Boy alasan kalian berada di sini untuk menemukan seseorang, dia tahanan yang lebih mengerikan dari wanita yang Rinda temui. Mereka berjumlah lima orang, berhasil melarikan diri, membuat puluhan pengawal kita menjadi korban." Asep menunjukkan layar.
__ADS_1
Beberapa foto terlihat, Boy menatap tidak ada yang istimewa. Terlihat seperti masyarakat biasa, dari postur tubuh, penampilan bahkan tatapan mata.
"Di mana mereka melarikan diri paman?"
"Kota xxxx, mereka bersembunyi di sana."
Boy langsung tersenyum, menatap Reza yang juga menggagukan kepalanya. Kai menutup bukunya menatap foto, menyimpan di dalam kepalanya.
Rinda membuka kacamatanya, melihat dengan serius, Rinda tidak menemukan hal yang unik.
"Mereka sangat berbahaya." Rinda langsung merinding.
Suara alarm berbunyi, Miko melangkah masuk bersama dua wanita yang tidak kalah cantiknya. Bara tersenyum melihat keduanya akhirnya kembali.
Langkah kaki yang berirama, Rinda melipatkan tangannya melihat dengan kesal. Hanya wanita biasa, tapi berpenampilan layaknya seorang putri.
"Selamat siang tuan, kami kembali." Keduanya menyapa Bara dan Asep.
"Selamat datang, Berlian dan Mentari." Bara meminta keduanya bergabung bersama Boy dan yang lainnya.
Bara langsung berdiri meminta Boy, Reza berada di depan. Keduanya saling tatap saat melihat dua wanita berada di samping mereka.
"Kalian masih mengigat janji yang pernah Paman Ahlam dan Ahlan ucapakan. Mereka berdua putrinya, karena hanya memiliki seorang putri, mereka akan menjadi pengawal kalian."
"Ayah, kenapa harus rumit. Sekalian saja nikahkan mereka dengan kami, dari pada menjadi benalu di setiap langkah Boy."
"Reza juga tidak setuju Paman, kita tidak sejalur. Wanita hanya akan memperlambat gerakan kita."
Asep tersenyum melihat putranya menatap dengan meremehkan, Boy juga menolak secara langsung.
"Kalian lupa, kita bukan kuat karena memiliki kemapuan, tapi karena kita memiliki Tim." Bianka datang bersama, Rindu, Keisya dan Reva.
"Kalian juga pasti masih mengigat, bahwa kami kehilangan satu personil." Reva menatap tajam.
"Mommy, masalahnya kita tidak saling mengenal. Sudah cukup hadirnya Kai dan Rindu yang harus kita lindungi, tidak cukup waktu Mom, menyelamatkan mereka." Reza menatap seorang wanita disampingnya.
"Silahkan kalian bertarung, Lian jatuhkan Boy, dia cukup kuat dalam beladiri, tapi lemah bertarung cepat. Tari, pecahkan bibir Reza karena sudah menganggap kalian beban." Rindu meminta dua wanita cantik bersiap.
__ADS_1
Boy meminta Kai menggantikannya, Boy tidak tertarik memukul wanita. Akhirnya Kai setuju, Rinda juga maju.
Lian dan Tari memberikan hormat, tidak mendapatkan balasan dari wanita Chrispeter. Reva tersenyum melihat dua putri yang sama-sama sombong, berbeda pada masa mereka dulu yang dari kecil sudah turun dalam bela diri, juga menghormati lawan.
Kai sudah manja dengan fasilitas yang lengkap, Rinda hidup menikmati kekayaan Raffa dan Rindu, memiliki segalanya, dengan nama Chrispeter dibelakangnya membuatnya lebih sombong lagi, karena dia lebih berkuasa dari orang lain.
Kai langsung maju tanpa aba-aba, gerakan Kai cepat tapi Lian jauh lebih cepat. Pukulan juga tendangan Kai tidak bisa menyentuh sedikitpun kulit Lian.
Tatapan Kai tajam merasa dipermainkan, Lian menatap santai, melihat Kak maju, langsung maju balik, memutar tangan Kai membuatkan berlutut.
Rinda hanya santai saja, tidak menyerang, Tari tersenyum berdiri tegak melepaskan gelang tangannya, langsung menendang kuat, hampir saja mengenai wajah cantik Rinda.
Emosi Rinda terpancing langsung menyerang, gerakan Rinda diluar dugaan Rindu, dia lihai dalam beladiri. Kemapuan Tari juga tidak diragukan, dia juga sanggup mengimbangi kemapuan bela diri Rinda.
Kai berputar langsung dekat dengan Rinda, keduanya cukup kagum dengan bela diri pengawal Boy dan Reza.
Rinda dan Kaira maju bersama, Lian langsung menyamping, berputar menendang kepala Kai yang belum sempat menghindar. Boy langsung menahan kaki Lian, menarik Kaira yang hampir jatuh.
Rinda mendapatkan pukulan, Reza langsung menangkap adiknya meminta Tari berhenti. Boy meminta Kai dan Rinda berhenti.
"Aku akui bela diri dasar kalian kuat, tapi kalian tidak bisa membedakan siapa lawan kalian. Kamu sedang uji coba, seharusnya tidak melayangkan tendangan, hampir mematahkan leher Kaira. Kesalahan kecil, tapi berakibat fatal. Seseorang yang hebat bukan soal kemampuan, tapi kerja dalam tim." Boy tersenyum sinis.
"Kalian berdua hanya bisa bertarung untuk melindungi diri sendiri, saat sadar tim kalian sudah gugur." Reza melihat wajah Rinda yang tergores.
"Jangan salahkan orang yang menyerang, tapi salahkan tidak bisa menghindar." Berlian tidak terima disalahkan.
Boy langsung maju cepat, belati langsung berada di leher Mentari. Berlian yang kaget tidak bisa menarik Mentari.
"Seperti ini, satu tim kamu gugur." Boy melangkah pergi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1