
Semuanya duduk melihat Kai mengobati kaki Berlian, Reza menatap lubang yang di dalamnya ada mesin pasti ada yang mengendalikan.
"Sebaiknya kita keluar dari sini, mereka sudah tahu keberadaan kita, begitupun kita sudah tahu keberadaan mereka." Maxi melihat ke arah CCTV, langsung menembaknya.
Boy langsung menggendong Lian, melangkah keluar bersama yang lainnya. Reza berjalan di depan seluruh CCTV mati.
Mereka semua kembali ke penginapan, tidak akan ada yang menyerang, setengah pasukan lawan sudah lenyap hanya perlu menyingkirkan Natasya, Juwi, Jem.
Berlian menatap wajah Boy, kedua mata bertemu. Boy tidak mengatakan apapun, meletakan Berlian di atas ranjang, langsung melangkah keluar.
Semuanya membersihkan diri, beristirahat sejenak. Rencana menghancurkan dalam satu malam ditunda.
Reza mengawasi lokasi menggunakan drone, dugaan mereka sudah tepat, Nata sedang ketakutan mencari tempat persembunyian. Juwi Jem juga tidak muncul, mereka lebih memilih jalan aman.
Miko dan Max masih berjaga sampai pagi, memperhatikan pelayan setiap geraknya tidak ada yang mencurigakan.
"Tuan ini sarapan." Pelayan menyerahkan.
Maxi mengecek makanan terlebih dahulu, tidak ingin ada racun yang sudah dicampur ke dalam makanan.
Semuanya makan bersama kecuali Berlian yang masih tertidur beristirahat.
"Di mana Kai?"
"Di kamarnya, kak Kai baru saja selesai membuat obat untuk kak Lian." Rinda mengunyah makanannya, baru bisa makan dengan tenang setelah pertarungan menegangkan.
***
Miko mengetuk pintu kamar mandi, Kai sangat lama berada di dalam kamar mandi. Perlahan Miko membuka pintu kamar mandi melihat Kai berada dalam bathtub sedang menutup matanya.
Miko melangkah masuk membangunkan Kaira, mata Kai terbuka tersenyum melihat Miko. Tangan Kai menyentuh wajah Miko mengelus dengan lembut.
"Kai, kamu kenapa?"
"Tidak tahu, tubuh Kai panas juga tidak bisa berpikir jernih." Kaira langsung mencium leher Miko.
Suasana hening, Miko berpikir dari ucapannya. Merasakan Kaira mengigit pelan lehernya, Mik baru menyadari Kaira meneliti ramuan baru, bisa saja ramuan obat penenang pikiran, juga memancing hasrat Kai, jika Kaira dalam pengaruh obat pasti langsung memaksa, tapi melihat gerakan Kai, dia hanya penasaran.
__ADS_1
Miko langsung berdiri mencari penutup tubuh Kai, tatapan Miko melihat ke arah lain sambil memasangkan baju untuk Kai.
"Kak Mik Kai kenapa?"
"Hanya butuh istirahat Kai." Miko menggendong Kaira untuk keluar kamar mandi meletakkannya di ranjang untuk tidur.
Miko melihat obat di atas meja Kaira, mencium baunya. Dugaan Miko sudah tepat, langsung mengambil obat meninggalkan Kaira sendirian menyerahkan kepada Boy agar luka Berlian cepat mengering, juga ada obat bagian dalam.
Boy mengucapkan terima kasih, meminta Miko menjaga Kai karena membuat obat ini memiliki efek samping karena termasuk ke dalam obat keras. Miko menatap Boy yang ternyata mengetahui yang terjadi.
Tangan Boy menyentuh leher Miko yang memiliki bekas gigitan, Boy tahu hubungan Kai dan Miko, meminta Miko berhati-hati.
"Kak Miko, Boy sangat menghormati kak Miko, tahu resiko kita berada di sini, jaga kehormatan Kaira. Jika berani menyentuhnya temui Papa Riki dan Mama Keisya, jika Kaira sampai terluka, kak Miko mati ditangan Boy." Boy menekan ucapannya peringat keras untuk Miko.
"Aku tahu batasan Boy, maaf jika aku lancang. Aku pria dewasa tahu cara menghargai seorang wanita." Miko melangkah keluar, tersenyum melihat Boy yang tersenyum.
Miko kembali ke kamar melihat Kaira menggigil, mengambil selimut tebal, menutup tubuhnya. Miko tersenyum melihat wajah Kai yang sangat natural, berbeda dengan Rinda yang selama ini Miko jaga, Rinda tidak pernah lepas dari makeup.
"Kak Mik tubuh Kaira dingin sekali."
"Sabar Kai efek sampingnya selama tiga jam." Miko merasakan pelukan Kaira, Miko mengusap punggung Kai untuk tenang.
Miko berbaring bersama Kai, memeluknya erat meminta Kai untuk tidur saja. Miko menatap wajah Kai yang terlihat lelah, kasian juga karena demi Lian mengambil resiko yang membuat dirinya sendiri terkena efek dari obat, karena tidak menggunakan pengaman.
Seluruh tubuh Kai ditutup dengan selimut bersama Miko, bibir Kai juga menciumi Miko yang hanya diam saja, Miko memilih memejamkan matanya untuk beristirahat.
Rinda mengetuk kamar Kaira, langsung masuk terdiam menjadi patung melihat di ranjang Kaira memeluk Miko, bahkan tidur di atas tubuh Mik.
Senyuman Rinda terlihat, kakak perempuan yang super cerewet tertarik dengan pengawalnya moments yang harus Rinda abadikan.
Rinda duduk dipinggir ranjang melihat pakaian berhamburan di bawah, Rinda menutup mulutnya membayangkan dibalik selimut.
"Kak Kai lagi ngapain?" Rinda menatap Kai sambil tersenyum.
"Apa ini malam pertama?" Rinda tertawa.
Maxi masuk mencari Miko, terdiam melihat di ranjang. Tatapan mata Max tajam melihat baju berhamburan di bawah.
__ADS_1
"Miko!" Maxi teriak kuat.
Rinda menutup telinganya, takut melihat tatapan Maxi. Max mendekati ranjang menyingkirkan tubuh Kai dari atas tubuh Miko.
Tangan Max mencekik kuat Miko, Kaira sudah teriak kuat meminta Maxi berhenti. Tangisan Kai terdengar meminta Max melepaskan Miko, Kai berjanji akan menjelaskannya.
Rinda mendekat melihat wajah Maxi yang penuh amarah, tidak sedikitpun mendengarkan ucapan Kai, Max sudah berjanji siapapun yang menyentuh Kai harus mati.
"Kak Max hentikan." Kaira teriak kuat diiringi tangisannya.
Rinda mencium bibir Max, Kaira langsung terdiam. Max melepaskan tangannya, merasakan Rinda memeluknya.
Miko Batuk sampai mengeluarkan darah, Kai mengusap membantu Miko untuk menjauhi Max. Rinda tersenyum menghentikan ciumannya melihat wajah Maxi yang menatapnya tajam.
"Apa yang kalian lakukan? teriakan Kaira sampai keluar." Reza melangkah masuk melihat empat orang menjadi patung.
Reza melihat Miko yang batuk, langsung bangun dari ranjang dia masih menggunakan baju lengkap muntah darah karena ulah Maxi.
"Kenapa kak Miko kak Kai?"
"Dicekik kak Maxi." Kaira mengusap air matanya.
Reza melihat ke arah Maxi yang langsung melangkah pergi, Rinda sudah berbaring di ranjang cekikikan membayangkan wajah marah Maxi.
Miko langsung melangkah keluar mencari Maxi melayangkan pukulan, Kaira dan Reza meminta berhenti, keduanya bertarung saling memukul.
"Berhenti!" Boy keluar bersama Berlian, Mentari juga keluar melihat perkelahian.
"Max, aku tahu kamu menyayangi Kaira, aku sudah berjanji tidak akan melewati batas, seharusnya kamu bertanya dulu bukan langsung ingin membunuhku." Miko memegang lehernya yang merah membiru.
"Kamu belum berubah Max, masih sama seperti dulu tidak bisa mengendalikan emosi. Tidak memandang keluarga, semuanya kamu anggap musuh." Miko menepis tangan Max.
"Aku memang sama, tidak ada alasan aku memiliki keluarga." Max menyentuh wajahnya, Miko melayangkan pukulan ke wajah Max.
"Sudah cukup, nanti kita membuat rumah tangga, Rinda Mommy, kak Maxi Daddy, nanti kita punya anak terus terbentuk keluarga." Rinda mencium kening Max sambil melompat, karena tubuh Maxi lebih tinggi.
"Rinda." Semua orang teriak kuat, menatap si kecil centil.
__ADS_1
***