
Suasana makan malam hening, Haikal tersenyum merindukan kehebohan anak-anak. Sekarang semuanya sudah dewasa sedangkan dirinya sudah tua.
"Boy, sudah ada rencana menikah?" Haikal menatap Boy yang tersenyum.
"Sudah, masih menunggu giliran."
"Max, bagaimana keputusan kamu soal perjodohan yang Raffa atur. Hubungan Raffa dengan mereka sangat baik."
"Wanita yang dijodohkan dengan Maxi sangat baik, dia juga lemah lembut, kekurangan hanya satu, dia buta." Raffi menatap Max.
Tari tersenyum, merasa lucu soal Raffi mengatakan wanita lemah lembut. Bunga juga tersenyum meminta pendapat Tari soal wanita yang dijodohkan dengan Maxi.
"Di mana kejelekan Amel?" Bunga tersenyum melihat Tari yang terdiam.
"Di mana bagusnya dia?" Tari balik bertanya.
Reza langsung mendekati Tari menutup mulutnya, meminta Tari berhenti ikut campur soal hubungan Max. Tari menepis tangan Reza menatapnya.
"Cukup Tari, kamu bukan siapa-siapa yang berhak mengoreksi siapa Amel."
"Ohhh tidak punya hak, bagus Reza kamu semakin hari semakin menunjukkan di mana posisi aku di mata kamu. Kamu pikir aku tidak tahu, kamu ke hotel bersama dia. Wanita buta model apa yang bisa bersama pria berjam-jam."
"Aku punya urusan sendiri, tidak harus selalu lapor kepada kamu."
"Baguslah, kamu sudah besar tahu posisi yang terbaik. Mulai hari ini aku mengundurkan diri." Tari melangkah pergi.
"Selalu mengancam seperti itu, sudah basi." Reza menatap tajam."
Semuanya terdiam menonton pertengkaran Reza dan Tari, walaupun keduanya sudah baisa bertengkar.
Tari tertawa, memutuskan kalung di lehernya, memutuskan berkali-kali sampai menjadi putus kecil-kecil. Tari juga melepaskan cincin coupel mereka membuang tidak tahu arah.
Tari memutuskan semua kenangan mereka, menatap tajam melihat Reza langsung melangkah pergi. Reza menahan tangan Tari.
"Tega kamu memutuskannya?"
"Kesabaran seseorang ada batasnya Za, sudah cukup aku sabar mengatasi kamu, pertengkaran kita kamu anggap candaan. Ada saatnya bercanda, ada juga waktunya seriusan. Kamu menganggap masuk hotel candaan?" Tari tersenyum sinis.
__ADS_1
"Di kamar itu ada Boy, tanyakan saja."
Boy menganga, semua tatapan mata tertuju padanya. Berlian mengerutkan keningnya menatap Boy.
"Hotel mana Za?" Boy menutup mulutnya.
"Hotel mana, berarti kamu banyak sekali pertemuan di hotel." Lian memukul lengan Boy.
Reza dan Boy saling pandang, tidak ada berniat lebih dulu menjelaskan. Reza wajahnya sudah panik, melihat Tari yang wajahnya tidak bersahabat.
Kaira dan Rinda saling pandang, Max juga mengerutkan keningnya. Dirinya yang dijodohkan tetapi Boy dan Reza yang ditemui.
"Kalian berdua berhubungan dengan satu wanita?" Kai menatap tajam.
"Bukan, mereka berdua memang berhubungan baik dengan wanita ini." Lian langsung melangkah pergi.
Boy langsung berdiri mengejar Lian, Mentari sudah melangkah pergi Reza mengejar meminta maaf.
Bianka menatap tajam Raffa, Lian melangkah pergi meminta Miko dan Max mengikutinya. Rinda hanya tersenyum saja.
"Raffa siapa Amel? kamu jangan sembarang menjodohkan Max, dia bagian dari Chrispeter aku tidak akan membiarkan orang asing masuk." Bianka melotot menatap Raffa yang tersenyum.
"Apa yang terjadi Rinda?" Bi menatap Rinda yang diam saja.
"Rinda tidak tahu pasti Bunda, tapi Amel tidak buta mata, tapi hatinya yang buta."
"Bianka, tujuan kita datang berkunjung untuk melihat hubungan anak-anak dari dekat. Max menghubungi aku jika ada penyusup, hebatnya teknologi Rian tidak berfungsi, berarti mereka sudah mengambil alih teknologi milik Reza. Pertarungan ada dua jenis fisik dan logika." Haikal tersenyum menatap Rian dan Roy.
"Kami memang sudah tua, tapi jangan ragukan kehebatan kami. Cucu kita belum luas pengalamannya, bahkan kamu juga tidak mengetahuinya." Roy menatap Bara dan Bi yang menundukkan kepalanya.
"Ay juga tahu?" Bianka menggoyangkan lengan Bara.
"Tahu sayang, aku harus melindungi putra semata wayang kamu, juga putri kesayangan kamu." Bara tersenyum manis.
Suara perdebatan Boy dan Reza terdengar, Rinda langsung berdiri melihat keduanya. Maxi langsung menghentikan Boy dan Reza meminta mereka berhenti berdebat.
"Dasar emosinya kedua anak ini masih tinggi, tapi niatnya ingin menikah, baru masuk satu wanita rumah tangga sudah hancur." Bunga menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Akbar menepuk pundak Raffa, merangkulnya. Akbar bangga melihat Raffa yang menjadi sosok Ayah yang luar biasa.
"Rinda sudah dewasa Raffa, dia tahu tempat bermanja-manja dan serius."
"Iya Pa, makanya Raffa sedang menyiapkan diri untuk melihat Rinda membina rumah tangga, hanya Maxi yang bisa kuat dari segala serangan."
"Sebenernya Boy juga siap, tetapi amarahnya masih terlalu tinggi, sedangkan Reza dia terlalu meremehkan wanita sehingga pertengkaran akan terus terjadi." Haikal tersenyum menatap putranya.
Rindu tersenyum memeluk lengan Raffa, mencium pipinya akhirnya Raffa menyerah menentang hubungan Rinda dan Max.
"Sudah selesai ngambeknya?" Raffa mengusap kepala Rindu.
"Maaf, Rindu kecewa Papi menjodohkan Max." Rindu tersenyum manja.
Maxi menatap Rinda menatap Boy dan Reza, menggelengkan kepalanya.
"Kalian berdua memang tidak salah, masalahnya bukan mereka berhasil tidaknya menghancurkan bisnis kalian, tujuan mereka menghancurkan hubungan kalian. Apa kalian putra Chrispeter ingin saling menjatuhkan?" Maxi menatap Reza dan Boy.
"Aku tidak pernah menjatuhkan Reza, walaupun dia selalu membuat masalah."
"Aku juga tidak tertarik mengusik bisnisnya."
"Yakin kalian berdua." Max melihat Reza dan Boy menganggukkan kepalanya.
"Lihat daftar pemenang saham kalian."
Reza dan Boy melihat handphone masing-masing, Reza langsung berlari mencari Tari yang sahamnya jatuh ulah Reza yang menandatangani kontrak tanpa membaca dan melihat stempel resmi.
Boy terdiam langsung duduk di lantai melihat dirinya turun ke nomor lima, kepala Boy langsung pusing dan stres.
Haikal tertawa melihat Reza dan Boy, langkah kaki Asep mengejar Reza yang menjatuhkan saham perusahaan.
Asep baru pulang menyelesaikan masalah perusahaan, jika tidak ada Tari perusahaan pasti jatuh ke tangan orang lain.
"Uncle, bagaimana dengan saham Boy?"
"Derita kamu Boy, sekarang kamu kehilangan triliunan. Sedangkan anak satu ini hampir membuat ribuan karyawan menjadi pengangguran." Asep menarik telinga Reza.
__ADS_1
"Bisnis tidak dinilai dari besarnya perusahaan, tapi prestasi, bukti yang diberikan. Kalian berdua bersaudara, kerja sama lebih kompak lagi. Reza belajar dewasa sebelum kamu kehilangan seseorang yang kamu anggap penting, hilang satu perusahaan kamu tidak jatuh miskin tapi menghancurkan banyak mimpi orang yang sedang berjuang mengembangkan perusahaan. Sedangkan kamu Boy, kamu pemimpin bukan preman, rangkul karyawan kamu, dengarkan keluh kesah mereka, maka kamu akan paham solusi dari masalahnya. Kalian berdua jadikan masalah ini pelajaran. Soal Amel biar Uncle yang mengurusnya." Raffa mengacak rambut Boy dan Reza.
***