BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 SULIT MEMINTA HAK


__ADS_3

Pandangan Lian fokus melihat ke depan, Boy juga sama fokus ke depan melihat jalanan yang padat karena sudah jam kerja.


Sepanjang perjalanan hanya hening, tidak ada percakapan ataupun saling menyapa. Sampai tiba di kantor masih tetap dingin.


Lian meninggalkan Boy masuk ke dalam ruangannya, membanting tas menatap tajam pintu.


Boy juga sama langsung membanting pintu karena kesal melihat Lian yang mengabaikannya.


"Awas kamu Lian." Boy membanting beberapa berkas.


Lian menghela nafas karena harus ke ruangan rapat bersama Boy, Lian menendang tempat sampah. Mengikuti pegawai lainnya yang akan melakukan rapat bersama di gedung paling atas.


"Akhirnya kita bisa melihat ruangan khusus pak Boy, di sana sangat mewah."


Tatapan mata Lian sinis, karena dirinya tidak pernah tahu ada ruangan khusus.


Seluruh orang masuk, kagum melihat kemewahan apartemen yang di desain khusus. Lian tersenyum kesal melihat tempat Boy menyendiri.


Semua orang duduk membahas proyek, Lian hanya diam saja melihat Boy yang bercakap dengan beberapa wanita sambil tersenyum.


"Perempuan sialan, lelaki brengsek. Awas kalian!" Lian langsung permisi ke toilet.


Di dalam kamar mandi Lian bermain game, tersenyum melihat dirinya selalu menang.


"Pak Boy terlihat santai di sini, tidak seperti biasanya jika kita rapat di luar kantor."


"Benar, ketampanan semakin terpancar dengan senyumannya."


"Rela aku menjadi simpanannya."


Suara tawa terdengar, Lian membuka pintu menatap tiga wanita yang kaget melihat Belian.


"Kalian tahu jika dia sudah menikah?"


"Tentu kami tahu, kamu istrinya."


"Beraninya mulut kotor kalian ingin menjadi simpanannya!"


"Sepertinya pak Boy terpaksa menikahi kamu."


Liam menatap tajam, mengunci pintu langsung melayangkan tendangan. Pukulan bertubi-tubi sampai muntah darah.


"Katakan siapa yang ingin menjadi simpanan Boy?"


"Maafkan aku Lian, tolong jangan bunuh aku."


"Ternyata kamu tahu jika aku seorang pembunuh, selama tiga tahun aku ingin berhenti membunuh, tapi hari ini aku akan memberikan pelajaran kepada wanita yang tidak tahu malu."


"Maafkan kami Bu."


"Maaf, kalian diberikan mulut, mata, telinga yang sempurna, tapi dipergunakan untuk mengambil hak orang lain." Lian mengeluarkan suntikan.


"Di manapun kami hidup, darah yang mengalir ditubuh kami bukan orang lemah. Kalian baik kami jauh lebih baik, tapi jika kami disakiti kematian tempat terbaik untuk kalian." Lian tersenyum sinis.


Tiga orang berlari sempoyongan, Lian melangkah ke sebuah kamar yang sangat luas langsung mencari kamar mandi. Membasahi tubuhnya dengan bajunya, meneteskan air matanya.


Boy membuka pintu kamar mandi, langsung menarik tubuh Lian meneliti seluruh tubuhnya.


"Kamu terluka? bagian yang mana yang sakit? Lian jawab!" Boy menakup wajah Lian.


"Apa perduli kamu? sebaiknya kamu antar mereka ke rumah sakit, aku tidak menjamin mereka bisa diselamatkan." Lian mendorong Boy mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


Boy membuka jasnya yang basah, Lian juga membuka bajunya. Tubuh bagian atas Lian tidak menggunakan apapun, melihat Boy yang berdiri di belakangnya.


"Boy! apa yang kamu lakukan di situ, keluar sekarang." Lian teriak kuat.


Boy langsung melangkah keluar, membuka bajunya langsung mengganti dengan baju kaos biasa.


Lian menepuk keningnya, bodohnya dirinya memperlihatkan tubuhnya. Sekarang Lian kebingungan karena tidak memiliki baju.


"Lian maafkan aku, kamu salah paham." Boy bicara pelan.


"Salah paham matamu, tawarkan baju atau apa Lian dingin." Berlian menguping dibalik pintu, bicara pelan.


"Maaf karena sudah membentak, aku hanya mengkhawatirkan kamu Lian, kejahilan Rinda memang seperti itu, tapi sebagai yang lebih tua dan dewasa harus bisa menghentikan dia. Maaf jika ucapan aku menyakiti hati kamu, marah bukan karena kecewa, tapi karena aku sangat mencintai kamu."


"Alasan." Lian tersenyum.


"Seharian tidak bicara membuat hati aku sakit, diamnya aku berharap kamu menyadari kesalahan. Berlian aku ingin membentuk sebuah rumah tangga, ada aku kamu dan anak-anak kita, impian ini akan tercapai jika kita berdua saling memahami."


Lian membuka pintu kamar mandi, menunjukkan kepalanya menatap Boy yang terlihat kacau.


"Kamu banyak bicara Boy, aku tidak meminta kamu bersujud meminta maaf, setidaknya rayu aku, dimanja, disayang, bukan diabaikan."


"Maafkan aku Lian."


"Tidak berniat memberikan baju?"


"Keluar dulu baru aku berikan baju."


Lian mengerutkan keningnya, bisa membaca pikiran Boy yang mulai liar.


Lian tidak punya pilihan, berjalan mundur menggunakan rok basah, high heels tinggi, tapi bagian atas tidak menggunakan apapun.


"Buka high heels kamu."


Lian langsung menendang ke sembarang arah, langsung menatap Boy yang sudah berdiri di belakangnya.


"Awas kamu macam-macam."


"Iya, tidak akan. Kamu ingin membantu aku mencapai mimpi indah."


"Tentu Lian menginginkannya, siapa yang menginginkan mimpi buruk."


"Berarti kamu siap malam pertama?"


"Tidak, tidak siap sama sekali."


"Kamu tega melihat aku menunggu lama, sudah tiga tahun aku menunggu hari ini."


"Kamu tadi menggoda wanita, kamu jahat Boy."


"Lalu kenapa tidak marah sayang, kamu boleh pukul aku, caci-maki saja sepuasnya. Melihat kamu marah lebih baik dari pada diam rasanya sakit sekali."


Lian membalik tubuhnya, langsung menutup mata Boy lompat ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Lian basah."


Berlian melepaskan seluruh pakaiannya, melemparkan ke arah Boy.


"Jorok."


"Biar, sana keluar."

__ADS_1


"Keluar ke mana?" Boy menatap sekeliling yang tidak memiliki pintu.


"Kamu pasti sering membawa perempuan tidur di sini?" Lian menatap tajam.


Boy tersenyum mendekati Lian, suara Berlian teriak membuat Boy melangkah mundur sambil tertawa.


"Jangan macam-macam Boy, Lian mengenal lelaki berotak kotor seperti kamu."


"Jadi kapan malam pertama kita?"


"Tidak ada malam pertama."


Boy menghela nafasnya langsung menganggukkan kepalanya, langsung melangkah ke meja mengambil beberapa berkas penting.


"Ingin pergi ke mana Boy?"


"Aku masih ada pekerjaan, kamu istirahat saja."


"Kamu meninggalkan Lian di sini? bagaimana jika ada orang yang masuk?"


"Tidak ada yang berani mendekati tempat ini tanpa perintah."


Boy memperbaiki pintu, memberikan keamanan yang langsung tersambung kepadanya.


Lian turun membawa selimutnya mendekati Boy yang terlihat sedang kecewa. Lian duduk menunggu menatap wajah Boy yang sangat tampan.


"Sekarang aman, aku belikan kamu baju sebentar?"


"Jangan pergi." Lian meminta digendong.


"Perempuan aneh, tadi marah-marah." Batin Boy langsung menggendong Lian yang ribet membawa selimut tebal.


"Kak cium."


"Tidak mau, nanti aku kepancing terus kamu menolak melayani."


"Apa sangkut pautnya memancing dan melayani?" Lian memonyongkan bibirnya.


""Tidak lucu Berlian, jika kamu minta dicium, kamu harus melayani aku."


"Sudah Lian layani menyiapkan baju, makan ...."


"Aku tidak membutuhkan itu. Aku ingin kamu melayani birahi."


"Oh."


"Oh, hanya oh." Boy langsung melangkah pergi.


"Sakit tidak? Lian belum pernah melakukannya?"


"Siapa yang berani mendahului aku? aku pastikan habis tujuh turunan."


"Iya, hanya kamu. Lian takut, nanti sakit."


"Sakit di awal wajar sayang, saat orang berjuang juga dari hal yang menyakitkan, tapi hasil sebuah kebahagiaan. Sama halnya melayani suami, awalnya sakit, nanti hasilnya anak."


"Lian tidak mau." Berlian memunggungi Boy.


Boy ingin sekali mencengkram Lian, menjadikannya adonan. Meminta hak sendiri juga sulit.


***

__ADS_1


__ADS_2