
Paman dua langsung memukul leher Joe sampai tersungkur. Tubuhnya ditendang dengan kuat, menginjak sampai darah keluar. Bara melihat kebelakang yang melindungi tubuhnya, Bara menangkap tubuh Kristan yang tersenyum padanya.
Bibir Kristan langsung menghitam, tubuhnya berubah biru. Bara meletakkan kepala Kristan di paha.
"Bertahanlah!"
"Bara, jaga Nayla ya. Maafkan aku juga ibuku yang menghancurkan kebahagiaan kamu."
"Kamu yang harus menjaga Nayla, dia adikmu." Bara berusaha menahan kesedihannya, virus ditubuh Kristan tidak memiliki penawarannya, jikapun ada sudah terlambat.
"Kamu kakak satu ayah dengannya, aku titip Nay. Kamu harus hidup bahagia Bara."
"Apa yang harus aku katakan pada Nayla, jika bertanya tentang kamu."
"Aku ada dihatinya, akan selalu bersamanya. Berikan ginjal aku pada Nayla. Jangan biarkan adik kita bertahan dengan satu ginjal." Nafas Kristan terasa sesak, matanya perlahan tertutup. Menggenggam erat tangan Bara sampai dia menghembuskan nafas.
Reva langsung memalingkan wajahnya, Asep memeluk Reva yang sudah menangis. Rindu juga meneteskan air matanya, bersembunyi dibalik tubuh kekar paman 2.
Bara hanya terdiam, dia kehilangan satu keluarga dalam pertempuran. Hari ini Bara membenci perkelahian, tempat dia dari kecil yang menjadi hobinya. Tapi saat melihat saudaranya merenggang nyawa dihadapannya, Bara membenci hari di mana dia memutuskan untuk terjun ke dunia gelap.
"Maafkan aku Kristan, tidak bisa melindungi kamu." Bara membantu mengangkat tubuh Kristan tapi paman dua langsung mengambil alih memikulnya untuk berjalan keluar.
"Kita harus keluar dari sini, tempat ini akan segera hancur." Paman dua memperingati semuanya yang perlahan mengikuti dari belakang.
Bara mengandeng tangan Bianka, melangkah keluar membawa kesedihan. Mereka keluar dari bangunan yang langsung meledak, Bara tidak menoleh sama sekali, tangannya merangkul pundak Bianka yang menatap wajahnya.
"Kamu capek!" Bara menatap Bi memperlihatkan dirinya yang bersedih.
"Mau gendong." Bianka langsung naik, Bara menggendong Bi dipunggung sambil tangan Bi memeluk leher Bara, kepalanya disandarkan di bahu.
"Bara, maafkan aku ya."
"Kamu tidak salah sayang, aku lebih baik mati jika kamu yang terluka."
"Kita makamkan Kristan, selayaknya!"
"Iya Bi, ini penghormatan terakhir aku untuknya, dan yang hanya bisa aku lakukan untuk membalas hutang nyawa."
"I love you Bara."
"I love you too Bianka, aku harap ini akhir dari pertaruhan aku Bi. Hati aku hancur kehilangan adikku, melihat Nay terluka."
"Aku ikut semua yang kamu inginkan, aku juga tidak ingin kehilangan kamu."
Bi meneteskan air matanya, sehebat apapun seseorang, dia akan hancur jika menggunakan hati. Selama puluhan tahun seorang Bara terkenal dengan kehebatan juga kekejaman, tapi saat menggunakan hati dan mulai cinta dan sayang, dia melemah bahkan mundur.
__ADS_1
Peringatan ayah Rian soal Keluarga kini Bara rasakan, kehancuran kehilangan seseorang.
Semuanya berlari saat seluruh tempat mulai meledak, Bianka memeluk Bara kuat. Rindu berlari sambil memegang baju paman dua, sedangkan Reva berlari sambil menahan sakit kakinya, Asep akhirnya menggendong Reva agar kakinya tidak semakin membengkak.
Paman satu sudah menghidupkan kapal siap berlayar, menyambut kedatangan yang lainnya, semuanya masuk ke dalam kapal yang sudah bergerak. Seluruh pulau hancur seketika, membuat Bara menatap jauh ke tempat di mana dirinya kehilangan pasukannya. Dari sekian ratus yang bergerak hanya mereka yang selamat, sisanya tertinggal dalam ledakan yang menjadi lautan.
Bara menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan untuk para bayangan yang sudah setia. Asep juga memberikan hormat untuk para bawahan yang mempertaruhkan nyawa.
"Terimakasih Asep, kamu kembali bersamaku."
"Sama-sama tuan Bara!"
"Bara sudah tewas di sana, panggil aku Ghavin!"
Asep menggagukan kepalanya, memberikan hormat kepada Ghavin dan penghormatan terakhir kepada Bara.
Tubuh Kristan sudah dibaringkan ke tempat khusus, Ghavin mengusap matanya. Tubuh Kristan sudah berwarna biru, Kei menyuntikan sesuatu agar penyebaran virus tidak mengenai ginjal Kristan yang akan didonorkan kepada Nayla.
"Terimakasih Kristan, aku sudah memaafkan ibumu. Aku berjanji akan menjaga Nayla." Bara menutup tubuh Kristan dengan kain putih.
***
Keluarga Chrispeter sudah mendapatkan kabar soal kepulangan seluruh putri, pasukan dari pulau kematian juga sudah kembali, hanya saja para pengawal Bara yang seluruhnya menghilang.
Raffa berlari menerobos ruang khusus keluar, melihat berita kedatangan para girls. Raffi juga datang bersama Raka dan Riki.
"Reva kakinya patah, Nayla terluka parah kehilangan salah satu ginjalnya."
"Apa?!" suara Raka melengking tinggi.
"Tapi Nayla selamat."
"Syukurlah, hampir jantungan!" batin Raka mengelus dada.
"Keisya baik-baik saja ayah." Riki mendekat dan duduk di samping Haikal.
"Iya, hanya ada satu korban jiwa."
"Siapa?" semuanya bertanya serempak.
"Kristan! dia berkorban menyelamatkan Bara yang sedang menyelamatkan Bianka."
Semuanya menunduk sedih, di sana Bara yang paling terluka. Kehilangan saudara laki-laki dan melihat adik perempuan terluka parah.
"Raffa! persiapan pemakaman terbaik, untuk memberikan penghormatan untuk Kristan."
__ADS_1
"Siap Papa!" Raffa melangkah ingin pergi tapi terhenti karena Mami Riani jatuh pingsan.
Papi Rian sangat panik, melihat istrinya yang mendadak pingsan. Mami dibaringkan di ranjang dan diperiksa.
"Masa iya istriku hamil!?" Rian menatap yang lainnya.
Kepala Rian mendapatkan pukulan dari Roy, ucapan Rian tidak pernah normal. Riani hamil tiga juga tidak pingsan.
Suara gemuruh burung terdengar, Papi Rian membuka jendela. Hampir seluruh jenis burung berterbangan.
"Pertanda apa ini?" Rian menatap langit aneh, langsung melihat istrinya kembali.
Mami langsung sadar, Bunga dan Dara membantu duduk dengan bersandar. Mama Kia sudah mengecek keadaan Mami dan semuanya normal.
"Ada apa Ani? kamu sakit." Bunda menatap mata mami yang langsung meneteskan air matanya.
"Kita akan berduka Bunga, lihatlah semuanya sudah mengucapkan belasungkawa." Riana menatap kaca yang penuh burung.
"Iya, adiknya Bara meninggal!" Dara coba menjelaskan kepada Riani.
Mami hanya menggelengkan kepalanya, sambil terus menangis. Papi menghampiri sambil memeluk Mami menenangkannya.
"Tenanglah sayang!" perasaan Papi juga mendadak tidak enak, perasaan kacau juga ingin sekali melihat para girls.
Haikal keluar kamar, kembali ke dalam ruangan mencoba mencari kesalahan yang terjadi. Mencoba menghubungi tapi tidak tersambung. Ayah mengirim bala bantuan di pantai untuk menutup segala akses, agar kedatangan mereka tidak terhambat.
***
Setelah menemui Kristan, Bara melangkah mendekati ruangan Nayla, di sana juga ada Rinda yang terbaring lemas. Bara tersenyum menatap Rinda yang hanya diam saja.
"Dek, bangunlah." Bara mengelus wajah Nay yang perlahan membuka matanya.
Bianka dan lainnya juga masuk melihat keadaan Nay, mereka semua tersenyum melihat Nay jauh lebih baik. Nayla akan segera dilarikan ke rumah sakit untuk melakukan donor ginjal dari Kristan.
"Kak! kakak di mana?" Nayla meraba-raba.
"Kakak di sini dek." Bara duduk di depan Nayla.
"Nayla tidak bisa melihat kakak!" air mata Nay langsung mengalir.
Bara menangkup wajah Nayla, kepanikan terjadi. Kei juga menatap mata Nayla yang tidak berfungsi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA.
__ADS_1
JANGAN lupa KASIH HADIAH JUGA YA
***