BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
PANIK


__ADS_3

Selesai pertarungan, Asep meringis melihat wajahnya babak belur. Reva datang mendekat memberikan obat, membantu Asep mengobati wajahnya, bahkan kaki Asep sampai patah. Tidak ada yang tahu karena Asep tetap berjalan seakan-akan dia baik.


Mami datang mendekat, meminta Reva mengambil air bersih. Mami menggakat kaki Asep membuatnya teriak dalam diam sambil mengigit bibirnya.


"Kaki kamu patah, harus segera diobati jika tidak akan berakibat fatal. Mommy juga datang membawa sesuatu untuk mengobati kaki Asep.


"Terima nyonya, saya bisa mengobatinya sendiri." Asep menolak saat Mommy menyentuh kakinya.


"Mau Mommy pukul kaki kamu,"


"Asep, Kenapa kamu ikut Bara? dia lelaki kejam, tidak punya hati, Bara yang dulu berbeda dengan yang sekarang?" Mami tersenyum, sambil mengoleskan sebuah minyak ke kaki Asep.


Mendengar pertanyaan Mommy Asep hanya bisa diam, Dara menatapnya tajam. Berkali-kali Asep menghela nafas kasar, saat menatap mata Mommy Asep semakin menunduk.


"Semua orang mempunyai masalalu, tapi bukan berarti kita tidak bisa meniti masa depan."


"Hanya Bara satu-satunya orang yang menatapku, dia mengulurkan tangan memintaku melarikan diri. Sedangkan semua orang menatap aku seperti binatang, kotor dan menjijikkan. Aku terlahir dari seorang wanita malam, aku dijual untuk menjadi budak sampai aku bertemu Bara."


"Tapi kamu tumbuh dengan baik, Mami yakin dalam hati kamu penuh dengan kelembutan."


"Benarkah, aku tidak tahu nyonya. Aku hanya tahu membunuh tanpa kasihan."


"Lalu kenapa kamu tidak bisa membunuh wanita?" Mommy tahu Asep tidak bisa menyakiti wanita, dan pasti tidak pernah membunuh.


"Karena aku dilahirkan seorang wanita, walaupun aku tidak mendapatkan cinta tapi setidaknya aku hampir membuatnya kehilangan nyawa, anggap saja penghormatan."


Mommy tersenyum, memeluk Asep tapi tangannya menahan Dara, Asep langsung berdiri dengan kakinya yang tertatih.


"Kenapa, memeluk putriku bisa tapi memeluk Mommy terlihat jijik." Mata Dara melotot.


"Bukan seperti itu Mommy, maaf maksudnya Nyonya. Saya tidak biasa merasakan pelukan seorang ibu, Reva wanita satu-satunya yang pernah aku peluk."


"Sekarang rasakan, pelukan seorang ibu sangat nyaman."


"Maaf Nyonya saja tidak bisa, izinkan saya pamit."


"Nyonya Nyonya, mau peluk tidak, atau kedua kaki kamu saya patahkan." Teriak Dara memberikan perintah.


Asep diam sambil berpikir, perlahan dia melangkah dengan kaki yang pincang. Memeluk Mommy sebentar, cepat Asep ingin melepaskannya tapi ditahan oleh Dara.


Air mata Asep menetes, cepat langsung dihapus. Dara mengusap kepala Asep menepuk punggungnya. Kepala Asep terus menunduk, Mami Riani juga memeluk Asep memberikan kenyamanan.


"Pergilah beristirahat, saat kamu membuka mata ubahlah cara berpikir kamu. Banyak orang yang mencintai kamu, sayang kamu, satu orang yang paling peduli terhadap kamu ialah Bara, tapi dia tidak menunjukkan secara langsung."


"Iya Nyonya."

__ADS_1


"Panggil nyonya sekali lagi, lidah kamu Mommy tarik keluar."


"Iyaa maaf Nyonya ehhhhh Mommy." Asep langsung melangkah pergi, meninggalkan dua wanita yang sedang tersenyum.


Sambil melangkah, Asep merasakan sakit kakinya. Asep melihat Haikal yang sedang menerima panggilan, dan melihat kearahnya. Asep langsung memberikan hormat melangkah seperti biasanya, setelah Haikal menutup telpon Asep mendekatinya.


"Tuan Haikal, maafkan saya yang lancang menyakiti anda. Terima kasih karena sudah baik, tidak mengeluarkan seluruh kemampuan Anda."


"Bocah cerdas, aku akui kamu kuat. Tapi biarpun aku sudah umur, dulu aku seorang yang ahli beladiri tidak mudah dibuat jatuh."


"Iya tuan saya salah karena berani melawan tuan."


"Panggil ayah, kamu sudah benar menerima pertarungan berarti kamu siap mendampingi Putri Chrispeter."


"Asep, Reva putri utama dalam keluarga ini, statusnya mengalahkan para putri lainnya, jangan pernah kamu sakiti dia. Pergilah beristirahat, dan obati kaki kamu yang patah." Haikal melangkah pergi, menepuk pelan pundak Asep.


Asep menunduk kepalanya memberi hormat, berniat untuk menemui Papi Rian yang berada dalam Lab. Melihat Asep datang Rian menatap dingin.


"Tuan, maafkan saya dan terima kasih karena masih berbaik hati, sebenarnya pertarungan dari awal saya kalah, jika tuan tidak membuat saya terjatuh menghindari pukulan tuan Roy."


"Kak Roy orang baik, tapi jika menyangkut putrinya kamu harus berhati-hati. Kamu memang kuat Asep, tapi aku jauh lebih kuat dari kamu, dari awal aku mendukung kamu."


"Iya tuan terima kasih." Asep menatap gelombang berbusa yang sedang Rian tatap.


"Kamu tahu tentang dia? di mana dia sekarang?" Rian bersemangat.


"Jangan usik kehidupannya tuan, sudah 10tahun dia memilih menghilang."


"Aku tahu, tapi ini demi penyempurnaan obat Nayla, aku harus membuat putriku pulih total dan bisa hidup seperti gadis lainnya."


"Papi mohon katakan padanya, aku membutuhkan bantuan dia Asep."


"Baiklah tuan, saya yang akan mengaturnya. Tapi maafkan saja tidak bisa memberitahu keberadaannya. Dan satu hal lagi tuan, dia seorang wanita bukan lelaki."


Rian tersenyum memeluk Asep, mengacak rambutnya. Dia sudah lama mencari Profesor mata hitam, untungnya Asep yang bertanggung jawab, jika Riani tahu seorang wanita bisa tidur diluar Rian.


Terakhir Asep ingin meminta maaf pada Roy, tapi ternyata Roy juga berada di Lab bersama Rian. Asep kaget karena Roy memeluknya dan menepuk pundaknya.


"Beristirahatlah, berhenti minta maaf, beritahu Mommy soal kaki kamu."


"Iya tuan."


***


Di dalam kamarnya Bi sudah sering merasakan sakit, dia berjalan mondar-mandir tidak tenang.Bara masuk mengelus perut besar Bi.

__ADS_1


"Kenapa sayang boy mau lahir ya?"


"Tidak tahu kak, tapi rasanya semakin sakit, lebih baik Bi bertarung daripada menahan sakitnya."


Bara semakin panik, setiap langkah Bi terus diikuti saat Bi berhenti menahan sakit, Bara juga seakan merasakan sakitnya.


"Kak, rasanya sakit sekali." Bi teriak memegang perutnya sambil terus memanggil Bunda.


"Kita ke rumah sakit sekarang?" Bara ingin menggendong Bi tapi langsung berhenti.


Bi menahan tawa, melihat Bara mengambil koper memasukan bajunya juga baju Bi. Sampai dua koper Bara siapkan, satu tas Bi juga berisi alat make-up Bi yang tersusun di meja rias.


Bara juga membuka laci yang berisi beberapa senjata yang diselipkan di bajunya, Bi melongo lupa dengan rasa sakitnya melihat suaminya.


"Bara kamu mau ke mana?" Bunda Bunga menatap menantunya yang terlihat aneh dengan koper dan tas.


"Rumah sakit Bunda, Boy mau lahiran."


"Tapi kenapa banyak sekali koper?"


"Astaga, kopernya Boy hampir lupa." Bara melangkah mencari satu koper lagi.


"Bun bawa Bi ke rumah sakit sekarang, tinggalkan saja Bara. Dia lebih mirip orang gila." Bi meringis menahan sakit perutnya.


"Bara lebih bodoh dari Haikal." Bunga membantu Bi berjalan keluar, meninggalkan Bara yang mengisi koper dengan baju bayi, bukan hanya baju, topi, sepatu bayi juga dia masukkan.


Di lantai bawah Haikal sudah panik melihat air yang keluar diantara kaki Bi, semuanya berkumpul untuk menyiapkan keamanan. Para ayah terlihat mirip patung, menggigat momen istri akan melahirkan.


"Di mana Bara Bi?" Asep mendekat melihat para ayah juga sudah linglung.


"Entahlah Sep, dia sibuk mengurus koper."


"Boleh aku izin menggendong kamu ke mobil, seperti kamu juga kesulitan berjalan." Asep bersiap menggakat, terhenti saat mendengarkan teriakan Bara.


"Beraninya kamu menyentuh istriku!"


"Tuan cepatlah, tinggalkan koper-koper bodoh itu, istri anda bisa melahirkan di sini!" Suara teriakan Asep lebih besar dari Bara, cepat Bara membuang koper langsung berlari.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2