
Suara teriak Boy terdengar memanggil Berlian, seseorang yang memimpin doa dalam acara yang Boy ikuti muncul menatap Boy, suara tertawa terdengar licik.
"Seharusnya kamu tidak ikut campur, kalian semua tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini."
"Kami memang tidak akan keluar sebelum kalian sebuah mati, aku juga tidak punya waktu untuk berbicara." Boy langsung melangkah pergi.
Langkah Boy kembali terhenti, puluhan orang sudah berdatangan. Boy langsung mengumpat, bergumam meminta Berlian bertahan sebentar lagi.
Boy tidak banyak tanya lagi, langsung maju menyerang mengeluarkan belati membuat dalam hitungan menit seluruh orang hampir tumbang.
Gerakan Boy sangat cepat, bahkan sekarang belati Boy ada di leher pemimpin acara, langsung mengirisnya sampai tumbang.
Senyum sinis Boy terlihat, dia tidak membutuhkan informasi apapun, juga tidak perduli jika tindakan akan berbahaya bagi nyawanya.
"Panggil seluruh pasukan kalian, aku tunggu!" Boy langsung melangkah pergi membuka setiap gerbang.
Suara tawa seorang wanita terdengar, pergerakan Boy sudah diketahui sejak awal. Satu-persatu tim Boy akan hancur.
Boy juga sudah terlambat untuk menyelamatkan Berlian, dia sudah menjadi pemuas manusia kanibal, mungkin tubuhnya juga sudah terkoyak-koyak.
Suara tawa Boy tidak kalah kuat, Lian bukan wanita bodoh dia tidak mudah terkalahkan. Bukan hanya adu mulutnya yang pintar, tapi gerakan otaknya juga pintar.
Boy yakin Berlian aslinya wanita yang kejam, kuat, tangguh. Dia bukan hanya menggunakan tenaganya, tapi otaknya cepat berpikir.
"Boy, jangan memperkeruh keadaan, aku tahu siapa kamu. Kita ambil jalan damai, jangan ikut campur dengan bisnis kami."
"Jika kamu tahu semuanya, berarti kamu juga tahu aku menginginkan tempat ini, janjiku dengan tim mengubah tempat ini." Boy tersenyum sinis, langsung menghancurkan bangunan tempat doa.
"Boy kamu akan menyesal, mencari kekasih kamu sudah terlambat, dia tidak mungkin bisa kamu selamatkan."
"Seharusnya kamu tetap diam dan mengamati, perlahan emosiku mulai terpancing. Kalian tahu gilanya aku jika sudah marah." Tatapan mata Boy tajam, mengambil ponselnya, langsung terdengar bunyi ledakan.
Bangunan tempat doa meledak, Boy tersenyum langsung melanjutkan perjalanannya. Berjalan di kegelapan, setiap tempat yang Boy lewati sudah terbakar.
"Berlian!" Boy menghirup bau aroma tubuh Lian.
Langsung berlari kencang, membuka setiap ruangan, tapi Berlian tidak terlihat.
***
Mata Lian yang tertutup akhirnya terbuka, teringat ucapan Boy jika dia pasti datang, apapun yang terjadi jangan pasrah, menyerah ataupun menyalahkan.
Tangan Lian sudah bergerak, langsung mengambil lipstik yang Rinda berikan. Tatapan mata Lian gelap, melihat lelaki buruk rupa berada di atas tubuhnya.
Lian menancapkan jarum mematikan, tubuh kanibal kebal, Lian masih berusaha untuk bangkit, memaksa dirinya untuk lepas.
__ADS_1
Suntikan memang tidak berpengaruh, tapi membuat pergerakan manusia kanibal lebih pelan, baju Lian di sobek.
"Iblis, kamu harus mati!" Lian teriak kuat.
Sebuah tangan mencengkram erat, melempar tubuh kanibal menjauhi tubuh Lian. Senyuman Berlian terlihat, menatap wajah tampan Boy.
"Maafkan aku meninggalkan kamu." Boy membantu Lian untuk duduk, menutup dadanya yang hanya menggunakan pakaian dalam.
"Tuan brengsek, Lian kecewa."
"Siapa kamu Berlian punya hak kecewa? atau kamu menyukai aku?"
"Suka, Lian membenci Tuan. Dia menjilati tubuhku dari ujung kaki, mengoyak baju Lian, semuanya karena Tuan." Lian membuang pandangannya.
"Kamu semakin lancang, nanti akan aku bersihkan." Boy tersenyum, manusia kanibal mencekiknya kuat.
Boy melayangkan pukulan, Boy melihat tangannya pukulan kuatnya tidak berpengaruh. Pertarungan terjadi Boy sampai terlempar ke dinding, mengeluarkan darah segar.
Suara Boy mengumpat kasar, dia sudah membuang banyak waktu, langsung mengeluarkan senjata menembak dada sampai pelurunya habis, darah sudah mengalir di wajah Boy, bahkan kaki Lian sudah penuh darah.
"Saat aku menembak, artinya lelah meladeni kalian, sangat membuang waktu." Boy langsung menendang sampai tubuh manusia kanibal tergeletak jatuh.
Berlian menatap Boy yang berbeda, biasanya dia penuh canda, tapi wajah juga tatapan matanya berbeda sangat mengerikan.
Puluhan orang sudah ada dihadapannya, Boy mengisi kembali senjatanya. Lian berjalan tertatih di belakang Boy, menutupi tubuhnya dengan bajunya yang robek.
Banyaknya orang yang ingin menyerang membuat Lian menyentuh ujung baju Boy. Suara tembakan terdengar, Boy mengarahkan di kepala membuat tubuh sebelum menyentuhnya sudah tumbang lebih dulu.
Saat peluru habis, puluhan belati sudah menancap di dada. Lian menatap Boy, berapa banyak senjata yang dia gunakan.
Lian melihat ke belakang, kobaran api sudah membakar kamar yang tadinya tempat dia berada.
"Lambat sekali langkah kamu Lian." Boy menatap Berlian yang memprihatinkan.
Boy langsung menggendong Lian, melangkah menjauhi tempat yang akan rata. Lian melihat mata Boy yang ternyata menggunakan lensa.
"Tempat ini sangat luas." Boy menendang sebuah kamar, Lian kaget melihat tubuh seorang wanita sedang melakukan hubungan, tapi langsung tumbang.
Boy melayangkan belatinya, membunuh tanpa menyentuh. Lian duduk melihat mayat.
Kamar yang cukup luas, Boy menyiramkan bunga ke tempat mandi. Suara Boy memanggil Lian terdengar, tapi Berlian menolak mendekati Boy.
"Lian! kamu sudah tuli."
"Kenapa tuan membunuh mereka semua?" Lian menatap tajam.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? mereka sudah mengetahui keberadaan kita, tidak punya waktu untuk menunda lagi, jika mereka bisa kejam, aku jauh lebih kejam." Boy langsung menggendong Lian membawanya ke dalam kamar mandi.
"Setidaknya dengarkan mereka, siapa tahu ada orang baik?"
"Tidak ada orang baik yang bisa memasuki bangunan ini." Boy memasukan tubuh Lian ke dalam bak mandi.
"Tuan sebaiknya keluar, aku bisa mandi sendiri."
"Kita tidak punya waktu, tempat ini akan segera terbakar." Tangan Boy menyentuh perut Lian memintanya cepat mandi.
Boy menuangkan sabun, Lian menyikat tubuhnya membuka semua pakaiannya menyikat bekas jilatan manusia kanibal.
"Apa yang dia lakukan kepada kamu Lian?"
"Menjilati kaki sampai paha Lian, membuka baju Lian."
"Belum masukkan?"
"Pertanyaan Tuan bodoh sekali."
"Beraninya mengatakan aku bodoh, memangnya salah jika aku bertanya?"
"Tidak salah, hanya saja pertanyaan tuan ...."
"Lian kamu milikku, jika sampai ada lelaki lain mengambilnya, berarti kamu sudah tidak bernyawa, ingatlah itu." Boy langsung melangkah pergi keluar.
"Lian tahu, sejak lahir sudah dikatakan aku milik tuan, hidupku untuk Tuan." Lian meremas tubuhnya.
Suara pintu kamar mandi diketuk, Lian membuka sedikit, Boy menyerahkan baju baru untuknya.
Boy melihat seisi kamar, melihat sebuah lukisan wajah. Dugaan Boy sudah tepat, dia harus menemukan wanita yang beraninya mempermainkan.
Lian keluar melangkah mendekati Boy, tangan Boy langsung menarik Lian, keduanya berlari saat api semakin dekat.
Boy membuka pintu keluar, berlari menjauhi bangunan yang akhirnya melahap satu bangunan yang sangat luas, dari atas sampai bangunan bawah tanah dilahap api.
"Tuan mengetahui seluruh area bangunan ini?"
"Terpaksa mengetahui demi kamu, seadanya kamu tidak menghilang, bangunan mewah ini tidak mungkin hancur." Boy melepaskan satu lensa di matanya, mendekati wajah Lian, memasangkan di satu mata Lian.
"Mulai hari ini kita berdua terikat, jangan menghilang lagi. Aku hampir menggila." Boy menyentuh wajah Lian.
Lian menahan senyumannya, melihat satu matanya bisa melacak lokasi. Menembus bangunan.
***
__ADS_1