
Beberapa suster menatap Maxi datang bersama Rinda, tidak biasanya Max dengan wanita lain. Tidak ada yang berani mendekati Max karena kehadiran Kaira, seorang dokter yang paling populer.
Seorang dokter menghampiri Maxi, mengatakan ingin berbicara sesuatu berduaan. Max langsung menolak tidak tertarik membicarakan hal yang di luar pekerjaan.
Rinda tersenyum mengejek, kaki Rinda ditendang, tapi berhasil menghindar. Maxi menoleh ke belakang, Rinda langsung pura-pura terjatuh mengusap kakinya.
Max langsung melihat kaki Rinda membantunya untuk berdiri, Rinda tersenyum melihat Max memakaikan sepatunya.
"Kak Max banyak orang yang melihat, Rinda dipandang sinis seperti perebut suami orang."
"Sakit tidak?" Max menyentuh pergelangan kaki Rinda.
"Aww ... sakit." Rinda meringis.
Maxi langsung menggendong Rinda di depan banyak orang, senyuman Rinda terlihat menatap banyak wanita patah hati.
Maxi membuka ruangannya meminta Rinda mengunci pintu meletakan Rinda di atas ranjang, Max melangkah menutup gorden ruangannya.
"Kak Max memiliki banyak fans?"
"Mungkin, kamu sebenarnya ada perlu apa ke rumah sakit?"
"Bertemu Dokter Nando."
Maxi langsung menatap tajam, dokter yang mengejar Kai, pria yang mencuri obat di lab. Sekarang sedang dalam pengejaran.
"Dia tidak ada?"
"Ke mana?"
"Tidak tahu."
Rinda langsung mengambil ponselnya menghubungi Nando, Max langsung berdiri mendengar Rinda mengobrol membicarakan hal yang terdengar menggoda.
Mendengar Nando menggodanya Rinda tersenyum malu-malu, Max langsung merampas ponsel Rinda mematikan panggilan.
Rinda mengerutkan keningnya, meminta Max mengembalikan ponselnya. Max membawa ponsel Rinda keluar untuk mengecek pasiennya.
Mata Rinda berkeliling melihat ruangan Max, pertama kalinya Rinda masuk terlihat sangat rapi, padahal kamar Maxi saja tidak pernah Rinda berani melangkah masuk.
Rinda turun dari ranjang, melihat beberapa buku tersusun rapi. Rinda melihat buku yang tersimpan langsung mengambilnya.
Senyuman Rinda terlihat, Max menggambar coretan keluarga ada Ayah ibu dan anak, di sebelahnya hadir wanita lain, Ayahnya melangkah pergi bersama wanita baru meninggal ibu dan anak.
Air mata Rinda menetes, membalik gambar dua anak kecil menangisi kepergian ibunya, seorang anak berlari megambil pisau di dapur berlari keluar.
Mereka membunuh Ayah dan ibu tirinya, melarikan diri tidak ada arah tujuan. Makan apapun yang mereka temukan, hidup keras penuh penyiksaan.
__ADS_1
Dua anak kecil yang saling menggenggam tangan, hanya dengan melawan mereka akan bisa bertahan. Sejak kecil membunuh memberontak.
Rinda menutup wajahnya menangis sesenggukan, tidak bisa membayangkan anak di bawah umur bisa bertindak begitu nekat.
"Apa yang kamu baca Rinda?" Max megambil buku.
Niat Maxi ingin marah, tapi melihat Rinda menangis langsung memeluknya erat. Rinda memeluk Max bisa mengerti mengapa Maxi sangat pendiam.
"Kak Maxi rindu Mama kak Max?" Rinda menatap mata Max.
Kepala Maxi menggeleng, bahkan Max tidak tahu ibunya di makamkan di mana. Dia tidak tahu harus berkunjung ke mana.
"Sudahlah jangan dibahas lagi Rin."
"Kenapa kak Max menjadi dokter, atau hanya mengikuti kak Kai?" Rinda duduk di samping Max.
Maxi tersenyum kecil, dia tidak memiliki mimpi, bahkan tidak mengetahui kemampuannya. Menjadi seorang dokter tidak memiliki alasan, kehidupan seperti Max sudah terbiasa dengan kematian, pembunuh, kekerasan, penyakit dalam, racun, obat-obatan berbahaya, bahkan senjata menjadi makanan sehari-hari.
"Membedah tubuh manusia bukan hak yang sulit, bedanya di luar membunuh, sedangkan di dalam rumah sakit menyelamatkan. Sebelum rumah sakit mengetahui obat-obatan, kita lebih dulu tahu."
"Kak Max nyaman ada di sini? suka dengan pekerjaan ini?"
"Iya kak Max menyukai kehidupan bebas, membantu orang, melihat senyum bahagia. Mengingatkan kebahagiaan saat kecil."
Max tersenyum sambil menundukkan kepalanya, dulu dia merasa orang paling bahagia, hidup berada memiliki kedua orang tua yang menyayanginya.
Miko dibuang oleh orang tuanya, Max merasa hidupnya beruntung sehingga menolong Miko. Kebahagiaan mereka tidak bertahan lama sampai akhirnya mereka berada di penjara Chrispeter.
"Kenapa kak Max masuk penjara Chrispeter?"
"Karena aku pembunuh, kantor polisi, rumah sakit jiwa tidak ada yang berani melakukan perawatan untuk kami karena pasti akan mati."
"Siapa nama kak Miko dan Maxi dulunya?"
"Nama kak Max Andara, sedangkan nama Miko Rizaldi."
Rinda tersenyum menggenggam tangan Max mengatakan jika Maxi bisa bahagia memiliki keluarga bahagia, tidak akan hitam seperti gambarnya.
"Rinda maafkan kak Max pernah menyakiti hati kamu, saat itu kak Max tidak mengerti apa yang terjadi."
"Tidak masalah Rinda baik-baik, Rinda sudah tahu pasti ditolak tapi tetap saja Rinda membodohi diri sendiri. Rasanya sakit sekali kak, dada terasa sesak tidak nyaman." Rinda tersenyum.
"Sekarang masih sakit?"
"Tidak tahu, tapi bisa berbicara dengan kak Maxi terasa lebih nyaman."
"Rinda masih mencintai kak Max?" Maxi menatap mata Rinda.
__ADS_1
"Tidak tahu, Rinda tidak mengerti."
Maxi menangkap wajah Rinda, meminta izin untuk mencium Rinda. Senyuman Rinda terlihat saat mengingat pertama kali Rinda mencium Max di pulau, Max marah sampai memutuskan ingin pulang.
Mata Rinda terpejam merasakan ciuman yang selama ini dia inginkan, jantung Rinda berdegup membalas ciuman Max.
Keduanya cukup lama berciuman sampai bibir Rinda merah perih, kepala Rinda tertunduk Max mengangkat dengan kedua tangannya mencium sekilas.
"Aku mencintai kamu Rinda, tidak peduli jika kamu menolak sekuat mungkin akan perjuangkan."
Rinda terdiam tidak tahu harus mengatakan apa, Max mencium kening Rinda.
"Setelah berhasil menangkap Nando, aku akan pulang ke Mansion. Meminta izin dan restu Papi dan Mami."
"Kak Max yakin? Papi sangat pemilih."
"Aku tahu." Max memeluk Rinda, merasakan rindu yang teramat dalam kepada si kecil Rinda.
Maxi melepaskan jas putihnya, langsung ingin menemui Boy untuk membahas soal Nando.
Rinda langsung menganggukkan kepalanya, melangkah bersama Maxi. Rinda tersenyum melihat tangannya dalam genggaman Abang Max.
Ponsel Rinda berdering, mobil Max jalan. Rinda langsung menjawab panggilan Nando menghidupkan speaker, Nando masih bisa bicara dan tertawa.
Rinda mencoba melacak keberadaannya, melihat lokasi yang belum pernah Rinda lewati.
Rinda terus mengobrol santai tersenyum melihat Max yang cemberut, Nando mengajak Rinda bertemu membahas pekerjaan.
Rinda menyetujuinya, menunggu kabar baik dari Nando. Setelah panggilan mati, Rinda menghubungi Boy mengatakan lokasi sudah terlacak.
Boy menunggu Rinda dan Maxi menemuinya di hotel, Reza juga sedang menuju hotel untuk berbicara.
"Mentari sudah tidak bersama Reza lagi? Rinda menatap Maxi yang fokus menyetir.
"Biarkan saja jangan ikut campur."
Maxi yakin Tari bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, baik buruknya sudah mereka lalui, hanya butuh sedikit menghilangkan ego.
"Rinda bagaimanapun kamu bisa mengenal Nando?"
"Emhhh sudah lama kak, hanya sekedar kenal satu sama lain."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***