
Suara tembakan ke arah atas terdengar, dengan santai Boy keluar. Tangannya berada di saku celananya, langsung duduk di atas meja, Reza juga keluar dengan gayanya yang menguap langsung duduk juga.
Puluhan senjata menghadap ke arah mereka, mata Reza melotot menantang. Boy sibuk menghitung jumlah senjata yang membuatnya tersenyum.
"Kalian tahu siapa aku? seharusnya membawa pasukan lebih banyak. Bunda bisa membunuh puluhan orang tanpa menggunakan senjata, Ayah bisa menghancurkan puluhan tempat tanpa pasukan. Aku tidak ingin seperti mereka, tapi Boy tahu hal ini akan terjadi, bersiaplah untuk patah tulang, atau kalian bisa mati perlahan." Boy bicara pelan sambil menggoyangkan kakinya.
"Kalian jangan pandang kami anak kecil, di dalam tubuh kami mengalir darah manusia berdarah dingin, bisa lebih gila dari psikopat." Reza bicara sambil menguap.
"Anak kecil bisa ceramah juga." Senjata siap menembak.
Boy tersenyum langsung lompat, Reza juga lompat. Keduanya membalik meja, Rinda sudah mengaktifkan lapis anti peluru untuk melindungi Boy dan Reza.
Satu dua hampir sepuluh orang tumbang, semuanya terdiam. Ruangan langsung berkabut, Boy sudah berada di tengah mereka semua, menjatuhkan setiap senjata. Reza sudah melemparkan puluhan belati, dia hanya menyisakan satu orang untuk Boy dekati.
"Kalian memang keturunan manusia psikopat?"
"Seharusnya kalian tidak datang paman, bermain senjata, belati bom mainan kami, melihat pertarungan menjadi film favorit kami. Jangan kalian berpikir kami bermain boneka Barbie atau mobil-mobilan, kami bermain dengan nyawa paman." Kaira berjalan mendekati, menghitung korban yang berjatuhan, masuk ke dalam daftar list orang yang berhasil mereka jatuhkan.
"Tenang saja mereka tidak mati, karena kami tidak di tugaskan untuk membunuh. Menyerang jika kami diserang, katakan pada Tante Natasya yang cantik dan seksi, salam dari Boy keponakan dari Raffi Chrispeter. Aku sudah memperingati dia untuk melawan para girls bukan kami, tapi mengapa datang, dia bisa mati di tangan Ayah jika salah satu kami terluka."
"Ampuni saya tuan muda,"
"Aku masih terlalu kecil untuk memiliki bawahan, pikiran Boy masih kekanak-kanakan karena aku tidak ingin menjadi dewasa terlalu cepat. Pergilah dari sini."
"Bersyukurlah penyerangan kalian tidak membuat Rinda keluar, jika tidak tubuh kalian akan meleleh tapi masih bernyawa, dia masih kecil tapi sadis." Reza mencari keberadaan Rinda yang sudah bersembunyi lebih dulu.
Setelah satu orang berhasil berlari, Boy melompat kesenangan bersalaman dengan Kai dan Reza. Mereka masih binggung karena Rinda tidak keluar.
"Rin keluar, Rinda keluar, jangan sampai kakak yang menarik kamu." Kaira melihat Rinda muncul dengan jalan yang aneh.
"Rinda!" Kaira langsung melotot kesal.
"Rin, kamu mengompol lagi?" Reza menatap gadis kecil yang sangat cantik dengan gaya manjanya.
"Rinda sudah kebelet, terus keluar sendiri. Maklum saja Rinda masih kecil."
"Lain kali pakai Pampers Rinda." Boy menatap asik kecilnya yang celananya sudah basah.
__ADS_1
"Tidak mau, Rinda sudah besar tidak boleh menggunakan Pampers lagi."
"Tadi kecil sekarang besar, suka-suka kamu Rin." Reza menepuk jidatnya."
Kaira langsung membuka tas ranselnya, meminta Rinda membuka celananya. Boy dan Reza langsung melangkah keluar. Setelah Rinda mengganti celana barulah dia keluar bersama Kai.
"Rinda ini peringatan terakhir, kalau ingin buang air kecil jangan di celana. Anak perempuan jorok sekali." Boy mengelus rambut Rinda.
"Iya," Rinda langsung membuka tasnya mempertebal warna lipstiknya.
Boy memeriksa pengawal, mereka tidak bisa kembali menggunakan mobil karena tidak ada yang menyetir. Terpaksa keempat bocah berjalan kaki sambil menunggu jemputan dari pengawal pribadi.
Dengan canda dan tawa mereka melangkah, Rinda berada di punggung Boy sambil terus mengoceh. Kai kembali berubah pendiam mengenakan kacamata berjalan sambil mendengarkan sesuatu, sedangkan Reza sibuk berlari-larian.
"Kak Boy, Rinda berat tidak? kak Boy sayang Rinda tidak?"
"Rinda berat, jangan tanyakan lagi."
"Kak Boy juga masih kecil tapi kenapa saat kita tidak di kawal kak Boy terlihat berbeda, dari mana Kaka belajar melumpuhkan semudah tadi."
"Saat ada yang lebih dewasa, kakak menjadi anak kecil tapi saat hanya ada kita kakak yang harus menjadi dewasa demi menjaga kalian, kak Boy memikul beban untuk melindungi kalian bertiga."
"Keempat kakek dan keempat nenek, Ayah Bunda juga selalu menegur kakak, saat kalian lahir kakak sudah mengerti tentang Keluarga kita."
"Ooh, Rinda pikir kakak hanya bisa membikin masalah."
"Rinda kamu harus tumbuh perlahan, perdalam kemapuan kamu tapi jangan kamu tunjukkan pada siapapun agar orang tidak mengenali keahlian kamu. Teruslah menjadi gadis kecil yang menggemaskan."
"Iya kak Boy."
Boy tersenyum melihat Reza dengan keahliannya yang baru hari ini dia tunjukan, tembakan belati yang langsung tepat mengenai saraf mengalahkan Boy. Sedangkan Kai yang terlihat diam, kutu buku sangat lihai memahami pergerakan, hanya dengan menutup mata melalui pendengaran Kai bisa tahu. Sedangkan si kecil, selain sering membuat panik, suka ngambek, keras kepala di balik alat make up yang dia miliki tersimpan banyak barang berbahaya, dan hanya Rinda yang mengetahuinya.
Alarm Chrispeter terdengar, puluhan mobil beriringan mengelilingi mereka berempat.
Bara langsung keluar menatap Boy yang tersenyum, Raffa langsung mengambil putrinya dari gendongan Boy, Bara melihat keadaan para bocah yang berantakan tapi tidak terluka.
"Boy masuk ke dalam, kendalikan Bunda sebelum dia menyerang markas Natasya." Boy hanya mengaguk mendengarkan perintah Ayahnya.
__ADS_1
"Papa, Rinda ngompol lagi." Kaira langsung meminta Riki menggendongnya, Riki memeluk putrinya bersama dengan Keisya.
"Issshhh, Rinda kebelet." Bibir Rinda monyong, Raffa hanya tersenyum mencium pipi Rinda, membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kamu terluka Reza? sepertinya kamu baru bangun tidur, masih ada Iler di bibir kamu." Asep tersenyum mengendong putranya dan menciumnya, Reza hanya diam saja karena dia sedang memakan permen, jika Mommy tahu pasti giginya akan di cabut.
"Kamu makan permen lagi, cepat keluarkan sebelum Mommy mengeluarkan seluruh isi perut kamu." Reza langsung membuang permen. Reza lebih takut Reva dari pada Asep.
Di kediaman Chrispeter semuanya panik, melihat para bocah yang masih kecil di serang tanpa pengawalan.
Bianka yang sedang marah, mendekati seluruh pengawal para bocah, melayang pukulan dan tendangan. Bara tidak berani menghentikan Bi jika sedang mengamuk.
"Lakukan bunuh diri sekarang atau aku yang akan membunuh kalian!" teriak Rindu sangat kuat, dia yang paling panik karena putrinya masih terlalu kecil, satu kali pukulan kepala putrinya bisa pecah.
"Rindu jangan kelewatan, puluhan nyawa bisa melayang, lagian anak-anak juga selamat." Raffa menghentikan Rindu, tatapan mata Rindu merah karena amarah.
"Maxi kirim mereka, mulai detik ini mereka keluar dari pengawal anak-anak." Keisya melangkah masuk, melihat tiga Mom yang emosinya sedang berada di puncaknya.
"Kak Boy tidak ada yang bertanya hebatnya kita hari ini, semuanya panik tidak beralasan."
"Diamlah Reza sebelum Mommy Reva melemparkan bom di kepala kamu." Boy tertawa sambil berlari di kejar oleh Reza.
Bunyi jatuh terdengar kuat, semuanya langsung mendekati sumber suara. Dua bocah jatuh dari lantai atas, sedangkan Kai dan Rinda sudah cekikikan tertawa.
"Boyyyyy!" Bianka matanya hampir keluar.
"Rezaaaaa!" Reva menunjuk dengan wajah marah.
Dua bocah yang jatuh berjalan memegang pinggang, Boy lebih sakit karena di timpa oleh Reza.
"Bocah hebat, kalian memang bisa membuat darah mendidih sampai ke ubun-ubun." Haikal tertawa bersama yang lainnya, mereka menatap putri mereka kita pusing karena masalah anak, mengigat puluhan tahun yang lalu, saat Bianka and girls masih kecil.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***