BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 REBUTAN OBAT


__ADS_3

Senyuman Rinda terlihat, menatap ruangan lab mini yang penuh obat-obatan yang sudah dikembangkan. Maxi datang mengecek keadaan Rinda yang baik-baik saja.


"Kamu baik-baik saja Rin, ada luka tidak?"


"Luka sudah biasa kak Max, lihatlah." Rinda menunjukkan sesuatu di dalam laboratorium.


Semua obat-obatan ada di dalam lab, Maxi mengecek semuanya yang sangat berbahaya. Rinda mengambil beberapa cairan, langsung membuang sisanya di dalam lautan.


Suara teriakan minta berhenti terdengar, tatapannya penuh kemarahan. Ayah Amel langsung menembak Rinda, tapi berhasil menghindar.


Maxi langsung melemparkan belati, menancap pas bagian jantung. Tubuh Ayah Amel langsung tumbang.


Rinda melangkah keluar bersama Max, melihat Reza dan Mentari bertarung. Max langsung maju menolong Tari melayangkan pukulan berkali-kali.


"Di mana Boy dan Berlian?" Reza menatap Max.


Semuanya saling tatap, tidak ada yang melihat Boy dan Lian. Tari langsung berlari melindungi Reza yang hampir tertembak oleh Amel yang sudah tergeletak.


Reza membalik tubuhnya menerima tembakan, kedua pundak Reza tertembak. Tari melihat Reza sudah menembak kepala Amel.


"Tuan."


"Cepat cari Boy dan Lian, kita keluar dari kapal sebelum meledak."


Seorang pemuda mendekati Amel, memeluknya dengan erat melihat wanitanya meninggal dengan bermandian darah.


Rinda menghela nafas, semua yang Amel lakukan demi menyelamatkan lelaki yang dicintainya, mendekati keluarga Chrispeter bukan rencana dirinya, tapi kedua orangtuanya.


Keluarga Chrispeter bukan hanya sukses dalam bisnis, tapi hampir seluruh keturunan bisa membuat obat-obatan, mereka sangat ahli di dalam bidang penelitian.


Rian Chrispeter bahkan pernah mengeluarkan obat terbaru yang menghilangkan virus di daerah pantai, menyembuhkan seluruh nelayan dan warga sekitar.


Rindu Chrispeter dan Keisya Chrispeter juga pernah mengehentikan penyebaran virus di sebuah kota, kemapuan mereka turun temurun.


Saat mengetahui jika Kaira Chrispeter sedang membuat obat terbaru, mereka langsung mencurinya, tanpa mengetahui jika obat belum sempurna.


Rehan membantu mereka membuat obat versi baru, membuatkan penawar yang paling hebat. Mereka menyingkirkan Rehan memutuskan untuk melarikan diri, membawa seluruh harta kekayaan juga obat-obatan yang bisa mereka jual di luar negeri.


Rinda tersenyum, obat yang mereka ciptakan, bukan untuk pengobatan tapi hampir sama dengan jenis obat terlarang untuk dikonsumsi oleh orang biasa, tanpa adanya penyakit, sama saja Amel dan keluarga berencana mengedarkan obat yang berbahaya dan bisa membunuh banyak orang.


"Pergilah kalian biarkan aku di sini."

__ADS_1


"Kapal ini akan meledak." Reza menatap tajam.


"Tidak masalah, biarkan kami mati bersama."


Reza langsung melangkah pergi, diikuti oleh Tari, Reza Rinda dan Max. Mereka langsung mencari Boy dan Lian.


Kening Reza berkerut melihat Lian sedang tidur, sedangkan Boy sedang menatap ibunya Amel yang mengembalikan seluruh perusahaan yang pernah dia tipu.


"Hidup bahagia buka karena memiliki harta, tapi hidup tentram tanpa mengusik kehidupan orang lain." Boy tersebut tersenyum sinis.


"Boy cepatlah kita harus pergi." Reza menatap Lian yang langsung berdiri lompat melangkah keluar.


Semuanya langsung berlari keluar, ada tiga jet ski yang sudah menunggu.


Boy langsung turun menyambut tangan Lian, melaju dengan kecepatan tinggi. Max juga pergi bersama Rinda yang tersenyum melihat kemenangan mereka.


Reza menghela nafas menatap Tari, keduanya saling pandang. Reza naik langsung menyambut Tari melaju cepat mengejar Boy dan Maxi.


Tiga jet ski melaju diikuti satu kapal milik Reza, mereka berhenti melihat kapal meledak seketika setelah Max menekan tombol.


Langsung melanjutkan perjalanan, sebelum kebakaran di tengah lautan diketahui oleh pemerintah, mereka harus segera meninggalkan jejak.


Rinda dan Lian tertawa bahagia merasakan air laut, sambil memeluk dengan erat. Tari bibirnya monyong, matanya terpejam karena takut dengan kecepatan Reza.


Tangan Mentari memeluk erat pinggang Reza melihat luka tembak di kedua pundak membuat Tari merasakan sedih.


Reza meninggalkan Boy dan Maxi, mempercepat lajunya karena rasa sakit pundaknya bisa mengakibatkan kehabisan darah.


Boy melihat Reza yang mempercepat laju langsung mengejarnya, Maxi juga melakukan hal yang sama.


Reza sampai di pelabuhan, Tari turun mengikuti Reza yang melangkah cepat ke arah mobil.


Tari menunggu Berlian yang berlari tersenyum melihat Tari, Rinda juga langsung berlari mendekati Lian.


"Kak Lian di mana penawarannya?" Tari dan Rinda menatap Lian.


Mendengar pertanyaan Rinda dan Tari bersamaan membuat Lian kaget, menatap keduanya dengan tatapan binggung.


"Berikan kepada aku Lian, kak Miko membutuhkannya."


"Boleh Mentari juga minta, Rehan juga harus diselamatkan." Tari memohon kepada Lian dan Rinda.

__ADS_1


"Hanya tersisa sedikit, untuk satu orang saja belum tentu cukup." Lian menatap botol yang ada ditangannya.


Rinda mengambil dari tangan Lian, tidak perduli dengan Rehan karena tidak mengenalnya. Rinda harus segera mendapatkan penawar agar bisa mengobati kakaknya.


Mentari menahan tangan Rinda langsung merampasnya, tatapan Rinda tajam.


"Kak Rehan juga membutuhkannya." Tari melangkah mundur.


Boy, Max dan Reza saling pandang. Rinda mengerutkan keningnya tidak percaya ucapan Boy benar jika Mentari sudah tidak mencintai Reza lagi.


"Begitu mudahnya hati kamu berpaling Tari, tapi maafkan aku. Kak Miko juga membutuhkannya, Rehan sebaiknya mati karena dia yang menyebabkan Miko terluka." Rinda langsung menyerang Mentari.


"Rinda, kak Miko memiliki Kai yang bisa menyelamatkan dia."


Rinda tetap menyerang meminta kembali obat, Reza langsung maju menghentikan pertarungan. Reza mengambil botol dari tangan Rinda, mengambilnya dan menyerahkan kepada Mentari.


"Pergilah selamatkan Rehan." Reza meminta Mentari pergi.


Reza langsung menahan Rinda yang memukulnya, tidak akan memaafkan Reza jika sampai terjadi sesuatu kepada Miko.


Maxi menghentikan Rinda membawanya masuk ke dalam mobil, Reza langsung meminta kunci mobil Lian langsung melangkah pergi.


Mentari juga sudah meninggalkan pelabuhan dengan mobilnya, Max hanya pulang bersama Rinda.


Boy dan Lian mengejar Reza, meminta Reza duduk di belakang. Lian juga langsung masuk untuk pulang ke Mansion.


Sepanjang perjalanan Reza hanya diam, Lian berkali-kali menatap Reza yang terlihat sangat murung.


Boy memanggil Reza, tapi tidak dipedulikan. Lian menepuk pundak Boy sebaiknya membiarkan Reza sendirian.


Mata Reza terpejam, rasa sakit punggungnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya. Reza tersenyum akhirnya Mentari menemukan kebahagiaannya bersama orang lain.


"Za, kamu bisa berjuang kembali."


"Untuk apa! terluka lagi." Reza tersenyum sambil tetap memejamkan matanya.


"Pasti ada kesempatan Reza, kalian masih bisa bersama. Lian yakin Tari masih mencintai kamu."


Reza tersenyum, Reza dan Boy berbeda cara memperlakukan wanita. Reza sulit bersikap lembut, peduli. Sedangkan Boy meninggalkan segalanya demi cintanya.


"Aku akan belajar lagi, memahami isi hati aku." Reza tersenyum meminta Lian dan Boy diam, jika sudah sampai Mansion meminta dibangunkan.

__ADS_1


Boy menganggukkan kepalanya ....


***


__ADS_2