
Tatapan mata Boy langsung berkaca-kaca berlutut di depan pintu, suara teriak Max membuat Tari dan Reza langsung berlari melihat seluruh orang menetes air mata tertunduk lemas.
Mendengar tangisan Max, membuat Tari langsung terjatuh. Reza menatap Boy menggoncang tubuh Boy.
"Kak jangan bercanda." Reza terduduk dihadapan Boy.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Kaira langsung berlari mendobrak pintu melihat Maxi memeluk Miko.
Suara Kaira menangis teriak kuat, Bara menarik Kai yang sedang memberontak menangis tidak bisa menerima kenyataan.
"Ayah Bara, tolong ini tidak mungkin." Kai memukul Bara.
Kai langsung mundur menatap Akbar yang berada di kursi roda, langsung berlutut memeluk kakeknya meminta meyelamatkan Miko.
"Kakek tolong kak Mik, tidak ada gunanya ada dokter jika tidak bisa melakukan apapun."
"Kaira, kamu harus menerima apa yang ada di hadapan kamu."
"Tidak!" Kaira teriak kuat.
Kiara langsung berjongkok memeluk cucu satu-satunya yang sekarang hatinya sedang hancur, mengusap punggung Kai memintanya untuk kuat.
"Sayang, ada satu hal yang tidak bisa kita lawan di dunia ini, takdir kematian akan datang menghampiri siapapun. Kematian tidak memandang kapan kamu siap, tidak memilih dengan cara apa." Riani mengusap wajah Kai.
"Kai baru saja merasakan mempercayai seseorang melebihi percaya kepada diri Kai sendiri, Kai tidak sekuat Mami Riani yang kehilangan putrinya, Kai tidak sehebat nenek dan kakek. Kaira baru membayangkan masa berdua."
"Jika kejadian hari ini tidak terjadi, esok atau lusa Miko akan tetap pergi." Riani meminta Kaira berdiri.
"Nenek Ri benar, tapi kak Mik sudah terlalu banyak sakit, setidaknya ...." Kaira menutup wajahnya.
"Kaira, nenek juga merasakan hancur karena kehilangan putri bungsu nenek, tapi nenek ingin hidup dengan kuat demi yang masih ditinggalkan, sampai kapan kita akan merasakan hancur, ada suami, putra dan putri yang harus nenek kuatkan. Kamu juga harus kuat, ada Papa, Mama kamu yang paling menderita jika kamu terluka berlarut-larut."
Kaira menggelengkan kepalanya, langsung melangkah masuk melihat Miko yang terbaring masih menggunakan alat bantu, Maxi sudah terdiam duduk di lantai.
Kai duduk menggenggam tangan Miko, menciumnya berkali-kali, air mata Kaira sudah tumpah membasahi pipinya.
Suara langkah kaki berlari terdengar kembali, Berlian dan Rinda menatap seluruh orang sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mami, Rinda menemukan penawarannya. Kita bisa meyelamatkan kak Miko." Rinda tersenyum bahagia.
Rindu langsung memeluk Rinda, mengusap punggungnya mengatakan jika sudah terlambat Miko sudah meninggal.
Rinda melepaskan pelukan Maminya, langsung menatap Papi yang matanya merah. Rinda langsung menatap pintu operasi.
"Kak ... kak Miko." Rinda langsung masuk bersama Lian menatap Maxi dan Kaira yang terdiam.
Rinda meneteskan air matanya, mengusap wajah Miko. Menyentuh dada Miko yang sudah terbalut.
"Kakak bangun, jangan tidur terus. Kak Max sudah berjanji akan terus bersama Rinda." Bibir Rinda bergetar.
Maxi langsung berdiri, melangkah keluar dari ruangan perawatan. Berjalan sempoyongan melewati seluruh orang, meneteskan air matanya tidak peduli lagi menjadi pusat perhatian.
Haikal menatap Maxi sama seperti saat pertama melihat Max masuk penjara, matanya kosong tidak bisa ada yang bisa membaca pikiran Maxi.
Max melangkah pergi ke kamarnya, langsung menutupnya perlahan berbaring menarik selimut menutup kepalanya, suara Maxi menangis sesenggukan terdengar menyayat hati.
Miko keluarga satu-satunya yang Maxi miliki, sahabat yang setia mengikuti jejak kaki, selalu menjadi pelindung sejak mereka kecil.
Terbayang saat Maxi berlari tertawa bersama Miko, sampai akhirnya mereka berdua bebas dari penjara Chrispeter saat remaja, bertemu kembali di bandara.
"Arrggg ... kenapa harus pergi Mik." Maxi membuang selimut bantal guling.
Menghamburkan seisi kamarnya, Max berlari ke kamar mandi langsung menghidupkan air shower, memukul kaca dengan kepalanya.
Tangan Max penuh darah, memukuli kaca di depannya. Raffa langsung membuka kamar mandi menatap Maxi yang berlutut, air berubah menjadi darah.
Raffa tidak mengatakan apapun, membiarkan Max memeluk lututnya berdiam diri di bawah tetesan air.
"Keluarga Chrispeter berduka kembali." Raffa duduk menemani Max atas perintah Haikal.
Di dalam ruangan operasi, Rinda mengamuk karena Miko tidak bangun. Seluruh alat perawatan Rinda banting, suaranya teriak kuat menghabiskan seluruh suaranya.
Bara langsung menarik Rinda keluar, satu Bara tidak kuat menahan tubuh Rinda yang sedang mengamuk.
Asep langsung memeluk Rinda memintanya untuk keluar, Boy dan Reza langsung masuk menarik Rinda keluar, Rindu sudah menangis sesenggukan melihat putrinya mengamuk.
__ADS_1
"Diam!" Rinda menatap tajam ke arah jendela langsung melangkah membuka jendela mendengar suara banyaknya burung.
Boy langsung memeluk Rinda erat, meminta untuk tenang bukan hanya Rinda yang kehilangan, mereka semua kehilangan.
"Sabar Rinda, kamu harus lebih kuat dari Kaira."
"Sejak Rinda kecil, kak Miko yang selalu menemani Rinda, menjaga Rinda. Semua orang menuntut Rinda menyalahkan terus, tapi kak Miko langsung ada di depan Rinda mengatakan jika dia yang salah." Rinda langsung memeluk Boy erat.
Berlian menatap Miko sambil menangis, menyentuh tangannya. Menggenggam erat.
"Kak Miko kenapa tidak memberikan kami kesempatan untuk menyelematkan kakak, kamu sudah berjuang menemukan penawarannya, kami masih berharap kak Miko bangun." Lian menetes air matanya.
Matahari sudah bersinar, Rinda yang sudah tenang langsung melangkah masuk bersama Boy dan Reza, mengusap kepala Kai yang masih menangis memeluk Miko.
Raffa juga mendorong Maxi untuk masuk, mereka harus memberikan penghormatan terakhir.
Bianka membawa baju mandi, langsung menutupi tubuh Maxi yang basah, mengelap rambutnya, memeluknya erat meminta masuk.
Boy, Reza, Tari, Lian, Rinda, Keisya dan Maxi sudah berada di ruangan Miko berdiam diri.
Kai mengeratkan genggaman, Rinda juga mengeratkan genggaman di tangan Miko. Kaira dan Rinda mencium tangan Miko, suara tangisan kembali terdengar.
"Kaira akan meninggalkan dunia medis, tidak ada gunanya Kaira menjadi dokter. Kai tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan kak Miko." Kaira tersenyum, menahan air matanya langsung melangkah pergi, tepat di depan pintu langsung jatuh pingsan.
Rinda juga langsung keluar setelah menundukkan kepalanya, melangkah dengan sempoyongan.
"Rinda baik-baik saja, jangan temui Rinda." Rinda melangkah ke arah kamarnya langsung terjatuh, duduk di tangga sambil melamun.
Reza langsung menggendong Rinda, melangkah ke kamar. Maxi melangkah keluar bersama Boy, Maxi melangkah ke luar Mansion diikuti oleh Boy.
Mentari dan Berlian masih di dalam, Tari menggenggam kotak kecil, meremasnya erat menghapus air matanya.
"Kak Miko lahirlah kembali." Tari memeluk Mik langsung melangkah pergi.
Berlian menundukkan kepalanya, memperbaiki selimut menutup tubuh Miko, tersenyum sambil menghapus air matanya.
"Kak, saat sedang membuat penawar Rinda mengatakan dia tidak ingin kehilangan seperti masa lalu, seadanya kak Miko menunggu kami sebentar saja, mungkin kita masih bisa tertawa lagi. Tim tidak lengkap lagi, Boy Berlian, Reza Tari, Maxi Rinda, tapi Miko tidak ada sudah meninggalkan Kaira sendiri." Lian duduk menepuk tangan Miko, kecewa karena Miko memilih meninggalkan mereka.
__ADS_1
***