BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 JAHIL


__ADS_3

Suasana pagi hening, Boy menatap Maxi yang sudah sibuk di dapur berbicara dengan maid. Boy megambil air minum langsung meneguknya.


"Rinda belum bangun kak?"


"Belum, mungkin capek karena perjalanan kemarin."


"Hari ini ke rumah sakit?"


"Rencananya, tapi Miko belum bangun. Dia yang ada urusan penting."


"Tumben kak Miko bangun kesiangan, biasanya dia paling profesional soal pekerjaan.


Maxi menerima panggilan dari rumah sakit, Miko membatalkan pertemuan karena alasan keluarga.


"Miko membatalkan pertemuan, tidak biasanya." Max menatap Boy.


Suara berisik Rinda dan Lian terdengar, Rinda langsung memeluk Max meminum air minum Max yang masih diam.


"Kak Miko sudah pergi ke rumah sakit? Rinda sepertinya pergi siang."


"Miko tidak pergi."


Rinda langsung menatap Max, berlari ke arah kamar Miko membuka kenop pintu tapi terkunci. Lian menatap pintu, menempelkan telinganya.


"Mereka masih tidur?"


"Mentari juga belum bangun padahal ini sudah hampir jam sepuluh pagi."


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui Rinda." Lian melipat kedua tangannya menatap tajam ke arah pintu kamar.


"Kamar Reta masih terkunci, kamar Mika juga masih terkunci."


"Siapa Reta? Mika juga siapa? kita punya asisten baru Rinda." Maxi menatap ke arah pandangan Rinda dan Lian.


"Reta artinya Reza Tari sedangkan Mika ...."


"Miko Kaira, lalu kita siapa sayang." Boy memeluk Lian.


"Boli."


"Jelek banget."


"Perkenalkan kita Mari." Rinda berjabatan dengan Lian.


"Hai Mari, kami boli. Ayo kita hancurkan pintu kamar Reta." Lian melangkah bersama Rinda.


"Kenapa bukan kamar Mika?" Boy menatap Max yang diam saja.


"Takut, nanti mati diracun kak Kai." Rinda tersenyum.


"Kalian tidak takut di bom Reza, dia ahli membuat bom." Maxi berteriak.


Rinda dan Lian turun lagi, membiarkan Reta dan Mika tidur. Rinda dan Lian duduk di ruang makan sesekali melirik berharap ada yang bangun.


Maxi dan Boy sibuk mengobrol soal pekerjaan, Rinda menatap tajam Max yang kebingungan dengan tatapan Rinda.


"Kenapa Rinda?"


"Kenapa tadi malam kita tidak malam pertama?"


"Lupa mungkin kamu Rin, pernikahan saja kamu lupa." Lian mengunyah makanannya sambil tersenyum.


"Bagian bawah Rinda tidak sakit."

__ADS_1


Boy langsung batuk, Lian langsung memberikan minuman untuk suaminya yang menatap Rinda tajam.


"Rinda, jaga ucapan kamu?" Boy menghabiskan air minumnya.


"Lian juga penasaran, kenapa tidak malam pertama?"


"Sudah makan dulu Lian, habiskan isi piring kamu."


"Aish sial, Rinda yang mengajari Tari, dia langsung praktek, Rinda juga belum." Rinda memukul meja.


"Rinda cukup membahasnya, habiskan makanan kamu." Maxi menunjuk ke arah makanan.


Rinda langsung mengunyah makanannya, sesekali menatap Lian yang juga cemberut.


Melihat Boy dan Max yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan rumah sakit, Rinda menolak untuk pergi ke lab, karena masih capek. Berlian juga menolak yang dibiarkan saja oleh Boy.


Melihat dua mobil sudah pergi, Rinda dan Lian menatap dua pintu kamar yang masih rapat.


"Apa kita buka paksa saja?"


"Lian belum ingin mati."


Rinda membawa balon besar yang bisa diduduki, Lian juga mengambil bermain kuda-kudaan menunggu Tari dan Kaira.


Sudah dua jam menunggu belum ada yang keluar, Rinda kesal langsung megambil belati meletakan balon di depan kamar Kaira, satunya di kamar Tari.


Lian dan Rinda mengambil aba-aba, untuk memecahkan balon bersamaan.


"Satu, dua ... tiga." Rinda melempar belati, diikuti oleh Lian yang melempar belati ke arah kamar Tari.


Suara ledakan pecah terdengar, Rinda dan Lian kalang kabut berlari untuk bersembunyi. Cukup lama mereka bersembunyi menunggu penghuni keluar, tapi hasilnya nihil.


"Kita bom saja Lian."


"Jangan memakai bom mematikan, Rinda punya alatnya.


Rinda dan Lian merakit bom berkekuatan kecil, sibuk sendiri membuat maid yang membersikan rumah kebingungan.


"Selesai, mampus kalian." Rinda meletakan bola kecil di depan kamar Tari dan Kai.


Satu remote di tangan Rinda, Lian duduk manis di sofa menunggu bom meledakan. Rinda tersenyum langsung meminta Lian mengikutinya untuk melarikan diri.


"Rinda ledakannya besar tidak?"


"Besar sekali, tapi tidak menyebabkan ledakan. Hanya mengeluarkan suara dentuman seperti Bom nuklir."


"Rinda jangan konyol, nanti mereka marah."


Rinda tersenyum meletakan remote langsung mengajak Lian berenang santai, karena bom menggunakan timer.


"Satu, dua ... tiga."


Doourr ... suara ledakan kuat. Rinda dan Lian menenggelamkan kepalanya di dalam air. Boy dan Max yang sudah balik lagi langsung kaget di dalam mobil, berlari kencang ke dalam.


Reza yang sudah bangun saat ledakan balon berhasil mematikan bom di depan kamarnya, ledakan terjadi di depan kamar Kaira.


Beberapa maid jatuh pingsan karena membersihkan ruangan, kaget mendengar ledakan.


Miko membuka pintu kamar, rambutnya penuh shampoo, Kaira menangis histeris karena terkejut sekali.


Tari yang sedang memakai lipstik langsung patah, berlari memeluk Reza yang berdiri di depan pintu.


"Apa yang terjadi Za?"

__ADS_1


"Biasalah, kita bisa menebak dalangnya siapa?"


"Kaira sudah diam, cepat mandi dulu." Boy meminta Miko masuk bersama Kaira.


Maxi membantu dua maid yang jatuh pingsan, meminta pengawal membawa ke dalam ruangan rawat.


"Di mana Rinda?"


"Tidak tahu tuan."


"Kamu cari juga di mana istri kamu?" Reza melangkah menuruni tangga bersama Tari.


"Berlian!" Boy teriak kuat.


"Rinda!" Boy menatap sekeliling yang sepi.


"Nona Rinda dan Lian sedang berenang Tuan."


"Dasar manusia licik, pasti dia mengatur waktu. Lihatlah yang berhasil Reza matikan, benda ini milik Rinda." Reza menggelengkan kepalanya.


Maxi langsung melangkah ke arah kolam, Boy juga melangkah ke sana. Reza dan Tari melihat dari kejauhan.


"Kenapa mereka meledakan rumah?"


"Rinda memang seperti itu. Makanya aku meminta kamu bangun saat suara balon meletus." Reza menatap bom mini rakitan Rinda.


"Lian naik sekarang." Boy menarik tangan Lian yang tersenyum saja.


"Kak Boy sudah pulang?"


"Apa yang kamu lakukan? tahu tidak yang kalian perbuat ini bahaya, dua maid pingsan."


"Belum mati Boy, kenapa kamu marah?" Lian menatap tajam.


"Kamu sudah berani melawan, masuk sekarang." Boy mendorong.


"Lian belum tahu jika Boy marah." Reza tersenyum lucu.


Berlian menendang vas bunga, langsung melangkah masuk dalam keadaan kesal karena bukan dirinya yang membuat masalah, tapi Rinda.


Maxi tidak bicara apapun, memberikan tangannya untuk Rinda naik. Rinda langsung menyambut tangan Maxi mengikutinya masuk.


Jantung Rinda berdegup kencang, menatap punggung Maxi yang berjalan ke arah ruangan medis


"Kamu lihat, akibat jahilnya kamu!" Max menatap wajah Rinda yang tegang.


"Rinda sudah memperingati."


"Kenapa kamu ingin membunuh orang yang tidak bersalah?"


"Rinda tidak ada maksud membunuh, sudah Rinda peringatkan. Meminta mereka keluar."


"Rinda, tidak semua hal bisa kamu jadikan candaan."


Maxi membentak membuat Rinda menundukkan kepalanya, ada rasa bersalah juga melihat wanita tua, sampai muntah darah karena penyakitnya kambuh.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2