
Markas Bara hancur seketika, Reva dan Asep berjalan di depan melewati lorong. Kristan mematikan seluruh akses komunikasi mereka, getaran bom sudah terasa mereka berlari kencang, cepat untuk menyelamatkan diri. Reva menyelam melewati sungai dan berenang ke pinggir, saat tiba di daratan Asep menarik Kristan yang terluka terkena ledakan.
"Kristan! ayo cepat kamu harus bertahan, Reva kamu baik-baik saja."
"Kita tidak bisa melakukan komunikasi, atau memberikan peringatan. Hari ini Rindu yang memimpin penyerangan rahasia, Bara dan Bianka tidak mungkin turun."
"Sekuat apa Keluarga Kamil?" Asep menatap Kristan dan Reva mencari jawaban.
"Aku tidak tahu pasti kekuatan mereka! Keluarga Kamil seimbang dengan Haikal Chrispeter." Kristan menatap Reva.
"Ya! mereka keluarga yang harus kami hindari,"
"Kenapa?" Asep dan Kristan bersamaan bertanya dengan rasa penasaran.
"Dia adik dari Chrispeter! tapi berbelok haluan dengan menjalani misi kejahatan dan berganti nama Kamil, Chrispeter dan Kamil dari dulu saling membunuh, hanya Bi yang tahu detailnya karena pernah masuk ke mansion mereka, dan ayah Haikal yang menyelamatkannya."
"Rindu bisa tewas di tangan mereka, kita bagi tugas."
"Caranya? tidak ada yang akan mendengarkan perintah aku, karena gelar aku di markas sudah dicabut." Reva menendang kayu.
"Aku bisa mengirimkan kode kepada Bara, tapi masalahnya Bara bakal tahu apa tidak? setidaknya kita harus membantu Rindu."
"Bergerak Asep! aku akan mengorbankan nyawaku demi menyelamatkan adikku."
***
Bara menatap Bi yang sedang memakan buburnya, sebenarnya perasaan Bara tidak tenang. Dia ingin menuju markas tapi tidak mungkin meninggalkan Bianka.
"Kamu mau ke mana kak?" Bianka bisa membaca gerak-gerik tubuh Bara.
"Aku hanya ingin menemani kamu sayang."
"Jika mau pergi silahkan, ada bunda di rumah."
Bara mendekati Bi tapi Bianka memintanya menjauh, Bianka tidak mengizinkan Bara mendekatinya lebih dari 1meter. Bara sedikit kaget, tapi memaklumi karena Bianka mungkin masih marah.
"Di mana yang lain? Raffa, Reva tidak ada yang meminta maaf."
"Raffa pergi bersama Rindu, masih menyelesaikan masalah kemarin. Reva ada di markas bersama Asep."
"Nayla!"
"Bunda mau masak jadinya Nayla keluar bersama Rinda untuk belanja."
"Kenapa diberi izin? musuh sudah mendekat Bara. Jangan anggap remeh soal munculnya wanita kemarin, ini hanya peringatan penyerangan untuk kamu."
__ADS_1
"Sayang, jangan pikirkan apapun. Fokus kesehatan kamu, aku akan mengurus semuanya."
"Bara!"
"Iya sayang, kamu membutuhkan sesuatu." Bara mendekati Bi, tapi mendapatkan teriakan dari Bi agar Bara menjauh.
"Iya maaf Bi, aku tidak akan dekat-dekat. Jangan marah, aku minta maaf."
Bunda datang membawa makanan kesukaan Bianka, melihat bunda masuk barulah Bara melangkah keluar. Bara coba menghubungi Asep, tapi terputus. Bara membuka akses kodenya dan melihat peringatan dari Asep.
"Keluarga Kamil! astaga Rindu dan Raffa dalam bahaya." Bara langsung berlari menuruni tangga dan bertemu ayah Haikal.
"Ayah! kapan Rindu bergerak menyerang, sebaiknya Bara yang memimpin."
"Tiga hari lagi, Rindu sedang di lab untuk menemui wanita kemarin."
"Tarik pasukan Rindu ayah, Bara yang akan mengantikanya."
"Rindu bisa mengatasinya, lagian kamu harus fokus ke Bi sampai dia bisa memaafkan kamu."
"Lawan Rindu pasukan Kamil, mereka bukan tandingan Rindu."
Haikal menatap Bara tajam, Rian yang baru datang juga langsung mendekat. Mereka semua saling pandang tapi hanya diam, Kia dan Dara lewat menatap aneh.
"Bara jangan bergerak sebelum mendapatkan perintah dari ayah."
Bara hanya bisa mengangguk, dan kembali mencari tahu komplotan dari Kamil yang masuk kekuasaannya. Bara mengacak rambutnya, Gerry dan Clori putri dari angkat keluarga Kamil.
"Apa alasan mereka menyerang keluarga Chrispeter, aku tidak punya urusan dengan mereka."
Di dalam Lab pribadi Bianka Bara mengumpulkan semua bukti soal keterlibatan dirinya, Bara tidak habis pikir jika masih ada sangkut pautnya dengan ibunya dan Bara langsung berlari mencari Nayla.
"Bunda di mana Nayla?"
"Belum kembali bersama Rindu, katanya langsung ke rumah sakit menemui Kei."
"Bisa hubungi Kei bunda, Bara ada yang ingin ditanyakan kepada Nayla."
"sebentar ya sayang, bunda mengambil ponsel dulu." Bunda Bunga langsung keluar kamar Bi, menghubungi Keisya yang sedang berada di rumah sakit.
Di dalam hati Bara berharap dugaannya salah, keluarga Kamil selama ini mencari keturunan Arnold untuk membunuhnya, keselamatan Nayla dalam bahaya.
"Ada masalah apa?" Bi mengunyah jeruk dan memberikannya kepada Bara, belum sempat Bara mengambil Bi sudah memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
"ini masam! coba yang ini." Bianka menyicipi jeruk dan memakannya dengan lahap, Bara hanya menunggu Bi sambil memegang bijinya.
__ADS_1
"Sayang! jeruk yang kamu pegang pasti masam semua karena satu." Bara memijit pelipisnya, Bianka terlihat aneh.
"Tapi yang pertama manis, coba buka lagi pasti masam semua. Kalau masam semua akan aku habiskan."
Kening Bara berkerut, orang pasti makan yang manis, Bianka mencari yang masam. Bara binggung sekarang bukan waktunya membahas jeruk.
"Bi makannya jangan terlalu banyak, tidak takut sakit perut."
Bianka menatap jeruknya, langsung melemparkannya di lantai. Bunda yang baru datang kaget, langsung membantu Bara memunguti buah jeruk yang berhamburan.
"Kenapa dibuang sayang?"
"Karena dia menyumpah aku sakit, jika tidak suka ya buang saja. Jangan diletakkan di sini."
"Ya sudah maaf sayang, jangan marah." Bara menelan ludah, Bianka begitu membenci dirinya. Tidak ada lagi tatapan sayang yang ada hanya tatapan benci.
***
Dalam Lab keluarga Chrispeter, Rindu mempersilahkan Raffa masuk dan melihat keadaan Nia. Rindu langsung melangkah pergi meninggalkan keduanya, masuk ke area penelitian. Sejujurnya hati Rindu terluka, alasan Raffa menolak perjodohan karena ada wanita lain di hati Raffa.
"Selesai misi ini, aku akan pergi menjelajahi dunia dan melupakan kamu selamanya Raffa Chrispeter." Rindu mengambil beberapa senjata dan belati menyembunyikan di beberapa bagian tubuhnya.
Raffa berada di dalam sedang bicara dengan Nia, wajah Raffa sangat kaget mendengarkan seluruh penjelasan Nia soal dirinya.
"Siapa kamu?"
"Aku putri kandung dari keluarga Kamil, ayah mengirim pasukan membunuh keturunan Arnold."
"Siapa keturunan Arnold, sangkut pautnya dengan Chrispeter."
"Bara dan Nayla, keturunan Arnold yang dicari puluhan tahun yang lalu."
"Jadi menyerang keluarga Chrispeter karena kehadiran mereka."
"Keluarga Kamil dan Chrispeter sudah bermusuhan sejak generasi pertama, mereka juga mengirim pasukan untuk membunuh anakku, dan menghancurkan keluarga Chrispeter karena keturunan satu-satunya keluarga Arnold meninggal karena cintanya ditolak oleh Raffa Chrispeter."
Nia langsung kejang-kejang, mulutnya berbusa. Keluar darah dari dalam mulut Nia. Raffa berteriak membuat Rindu datang. Cepat Rindu mengecek keadaan Nia yang sudah merenggang nyawa.
"Raffa! apa yang terjadi?"
"Nia mengatakan jika dia putri keluarga Kamil, dan mereka akan menyerang keluarga Chrispeter atas kematian keturunan satu-satunya keluarga."
"Kamil! kita pergi dari sini Raffa." Rindu menghentikan langkahnya dan menariknya Raffa memasuki jalur bawah tanah, karena kemungkinan besar lab sudah diawasi atau lebih tepatnya sudah dikuasai.
***
__ADS_1