
Suara tertawa menggema terdengar, memainkan sebuah pisau menatap delapan foto yang tertempel di dinding.
Pisau dilemparkan ke arah foto Berlian, membuat gelak tawa terdengar. Target pertama mereka membunuh Berlian akan segera dilakukan.
"Jem, para bocah ingusan ini tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi. Mereka tidak mungkin meninggalkan satu personil, jikapun membawanya pulang hanya tubuh tanpa nyawa." Juwi tertawa kuat.
"Jangan anggap remeh mereka, empat dari mereka keturunan Chrispeter, kemampuan mereka tidak bisa dianggap main-main, dua pengawal kepercayaan yang tidak pernah gagal dalam penyerangan."
"Kita hanya harus membunuh dua pengawal wanita."
"Mentari tidak bisa disentuh, Reza menanam pelacak di bagian tubuhnya tanpa Mentari sadari. Sedangkan Berlian juga licik karena darahnya sudah menetes juga tercium oleh makhluk di sini, dia sudah menjadi pemimpin dari tempat ini selain Natasya."
"Berlian bodoh mengorbankan dirinya."
"Lian bukan bodoh, dia ingin membunuh kita. Buktinya Lian berhasil memecahkan teka-teki tempat ini, sengaja mencampur darahnya di hutan kanibal demi bisa menemukan kita." Jem membanting pot bunga.
Juwi menatap bunganya langsung layu, tatapan mata Juwi langsung tajam mencekik erat Jem yang hampir membunuh bunganya.
Seekor kupu-kupu masuk mencium bau bunga, tapi tidak mati Juwi menatap tajam langsung teriak histeris. Meminta Jem menangkap kupu-kupu yang sengaja diterbangkan untuk mencari keberadaan mereka.
Teriakkan histeris Juwi membuat Jem mengambil tindakan menyuntikan obat penenang, Juwi duduk sambil masih mengoceh tidak jelas.
Natasya melangkah masuk menatap Juwi dan Jem, menampar wajah Juwi yang masih saja gila. Nata memeluk Jem melangkah pergi meninggalkan Juwi sendirian yang masih mengigau tidak jelas.
Nata berada di kamar bersama Jem sedang bercumbu, saling memuaskan hasrat. Langkah kaki terdengar, Jem langsung berdiri, mengambil bajunya membuka pintu melangkah pergi meninggalkan Nata yang kelelahan.
Jem masuk ke dalam ruangan melihat banyaknya pengunjung yang semakin bertambah, menargetkan korban mereka selanjutnya. Beberapa orang yang hidupnya sulit harus dijadikan budak di pulau mereka.
Jem menatap gadis seksi, menetes air liurnya, menginginkan gadis cantik yang ternyata Rinda Chrispeter yang sedang bergabung dengan para pengunjung lainnya.
Tatapan Jem sangat tidak manusiawi, menargetkan Rinda untuk teman tidurnya selanjutnya.
Juwi tersadar melangkah keluar, melihat Nata yang berada di kamarnya tanpa busana sedang kelelahan.
"Wanita sialan, kamu selalu aku ingatkan untuk tahu batasan. Kamu wanita simpanan, Jem suamiku perempuan sial."
"Jangan coba menyentuhku Juwi, kamu tidak boleh lupa jika aku pemilik tempat ini, seluruh harta kekayaan Iing sudah menjadi milikku."
__ADS_1
"Aku akan membunuh kamu." Juwi mengambil pedang, Nata mengiris tangannya mengeluarkan darah.
Lima manusia kanibal datang langsung memukuli Juwi, sampai Nata meminta mereka berhenti.
Lima kanibal mendekati Nata, menghisap darahnya sampai berhenti keluar barulah mereka melangkah pergi.
Juwi sudah jatuh pingsan tidak sadarkan diri, dia juga mengalami luka cukup parah. Jem datang melihat keadaan yang kacau, meminta bawahan membawa Juwi dan mengobatinya.
Nata tertawa melihat keadaan Juwi, Jem memperingati Nata agar mengendalikan emosinya, karena lawan Nata ada Berlian. Mereka manusia yang harus mereka lenyapkan.
"Siapa wanita tercantik di sini Jem?"
"Dia, gadis kecil bermata biru." Jem membayangkan wajah Rinda.
Nata langsung memukul kepala Jem, tatapan mata Jem tajam, mencengkram rahang Nata yang tidak punya hak untuk menghentikannya berhubungan dengan wanita manapun.
***
Rinda menyerahkan sesuatu kepada Berlian, mereka bisa mendengar pembicaraan Jem dan Juwi juga Nata, tapi tidak bisa merekamnya.
Lian tersenyum menatap Rinda, Lian sudah tahu semuanya soal darah. Manusia kanibal sangat banyak, mereka orang yang kehilangan jiwanya karena terpengaruh dengan kepercayaan yang tidak masuk akal. Setiap hari mereka mencium darah Nata, sehingga mereka tahu siapa Tuhannya.
Saat penyerangan di hutan buatan, Lian bukan diserang, tapi mereka mengehentikan darah Lian.
"Manusia kanibal juga bisa dikendalikan?" Rinda menggaruk kepalanya.
"Bisa Rinda, otak mereka sudah disetting dari awal, mereka hidup seakan mati, apapun bisa mereka makan, melebihi hewan buas."
"Teknologi canggih bisa mengubah apapun, tergantung orang yang menggunakannya untuk kebaikan atau melakukan kejahatan." Kaira tersenyum menatap Lian dan Rinda.
Kaira menatap Lian, melihat tangannya yang beberapa kali disayat. Kai melihat leher Berlian memiliki banyak bekas hisapan.
"Siapa yang melakukannya Lian? lebih baik kamu mati daripada melayani mereka." Kaira mencengkram lengan Lian.
"Aku memang memilih mati daripada melayani mereka, bekas di leher aku tidak ada sangkut pautnya."
"Dada kak Lian juga banyak bekas bibir." Rinda menarik baju Lian.
__ADS_1
"Boy, kamu dan Boy berhubungan." Kai menutup mulutnya.
Rinda langsung menutup mulutnya, tersenyum menatap Berlian yang sudah bersatu dengan kakaknya.
"Wow, kabar baik semoga cepat hamil kak Lian." Rinda lompat-lompat bahagia.
"Rinda diam." Kaira membentak Rinda yang langsung tertunduk melangkah keluar.
Kaira menatap Lian, meminta Berlian menjelaskan. Jika Bunda Bianka sampai tahu pasti akan memukuli Boy, Kai tahu Bunda sangat menyayangi Berlian.
"Lian kamu mengecewakan, jika kamu mencintai kak Boy begitu juga sebaliknya, Kai yakin Bunda merestui." Kaira langsung melangkah pergi.
Kaira mencari keberadaan Boy, membuka pintu kamar melihat Boy tidur tanpa menggunakan baju, pakaiannya juga berhamburan.
Kaira menutup pintu kembali membantingnya sangat kuat, Reza yang berada di kamar sebelah membuka pintu melihat Kaira marah.
"Jangan ikut campur dengan hubungan pribadi kak Kai, mereka sudah besar bisa memilih bahagianya. Kita di sini memiliki tujuan yang sama, tapi hubungan pribadi pilihan mereka." Reza menatap Kai yang tatapannya tajam.
"Reza Berlian masih kecil."
"Berhenti mengatakan masih kecil, Rinda benar kita semua sudah besar tidak ada alasan anak kecil berada di sini." Reza meminta Kai masuk.
Reza sudah mengetahui keberadaan Juwi, Kaira melihat Reza mengatur cara agar mereka semua bisa selamat, terutama Lian dan Boy.
Jika salah satu terluka pasti keluarga juga salah satu sangat terluka, Reza akan melakukan caranya agar semuanya bisa keluar saat ledakan dihidupkan.
Kaira melihat titik lokasi tempat pengeboman, Kaira setuju dengan rencana Reza. Di balik cueknya Reza dia masih memikirkan keselamatan Boy dan Lian.
Kaira menatap Mentari yang asik duduk di ranjang, menatap dua bocah yang langsung mengatakan jika mereka berdua tidak melakukan apapun.
Kaira duduk di samping Tari mengusap kepalanya, Kai mengingatkan Tari agar tidak terpesona dengan ketampanan Reza, Tari tidak boleh membiarkan Reza menyentuhnya.
"Kak Kai juga tidur dengan kak Miko, tidur di atas tubuh kak Miko. Kenapa Tari tidak boleh?" Tari menatap Kai yang kebingungan menjawab, sedangkan Reza sudah tertawa.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***