BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
KEHADIRAN BIANKA


__ADS_3

Memasuki ruangan yang penuh darah, Kei melangkah mengikuti darah segar yang masih mengalir. 5 orang meninggal dengan luka yang cukup parah, Kristan menarik Kei masuk ke dalam bangunan bawah tanah yang terbuka, cepat mereka berlari tapi di sana kosong dan mengikuti tangga naik kembali ke sebuah ruangan yang cukup mewah tapi bau tidak sedap juga terasa di sana.


"Nayla!" Kristan langsung berlari menggakat tubuh Nay ke atas sebuah ranjang kecil.


Kei langsung membersihkan darah ditubuh Nay, suara Rinda juga terdengar dengan masih penuh air mata. Kristan langsung mengeluarkannya dan memeluk Rinda yang sudah jatuh pingsan, tubuhnya melemah karena mendapatkan suntikan racun.


Peralatan medis yang minim, belum lagi tubuh Nay dibedah sembarangan. Bertahan dengan satu ginjal sudah cukup sulit, keluar juga masih sulit karena pertempuran di luar gedung.


Keisya hanya bisa melakukan perawatan seadanya, menunggu kesadaran Nayla dan Rinda.


"Rin, di mana kamu yang sakit."


"Selamatkan Nayla! kasihan dia."


Kristan keluar dengan kemarahan, air matanya perlahan jatuh. Adik perempuannya terluka dengan menanggung sakit kehilangan organ tubuhnya, sakit sekali hati Kristan, dia mencari Boby yang sudah melarikan diri. Kristan akan mengambil ginjal Boby dan mengembalikan pada adiknya.


Bara belum mengetahui keadaan Nayla, Kristan yakin Bara akan membunuh keluarga Kamil sampai ke negara luar, jika mengetahui Nayla bertahan dengan satu ginjal.


***


Di kediaman Chrispeter, Bianka mengerakan pasukannya untuk menyusul karena dia harus bertarung secara langsung melawan seorang wanita gila.


"Bianka pergi ayah bunda." Bi menemui kedua orang tuanya.


"Hati-hati Bianka, wanita ini belum terlacak."


"Hanya Bi yang tahu wajahnya, Bara juga mungkin tidak mengenalinya."


"Siapa yang mengawal kamu?"


"Pasukan dari pulau kematian! juga para kanibal dari penjara."


Haikal melepaskan Bianka pergi untuk menemui saudaranya, Bianka melakukan penyamaran mulai memasuki area perairan dari arah yang berbeda.


"Bi pulau itu dikuasai oleh manusia kanibal."

__ADS_1


"Aku tahu! jangan sampai mereka lolos dari sana. Aku menginginkan wanita gila."


"Kamu lebih kejam dari ayah kamu, dan suami kamu Bara juga pasti mengetahui tentang wanita ini. Dari usia muda dia sudah bisa berkuasa, bukan hal yang sulit bagi Bara mengetahui sesuatu yang tersembunyi."


Bi hanya diam saja, dia tidak mengetahui banyak hal soal Bara saat muda. Tapi Bi berharap tidak ada korban antara keluarganya, Bara lelaki kuat, dan pasti bisa menaklukkan misi kali ini.


Hari mulai gelap Bianka sudah keluar dari kapal, masuk kapal selam dan langsung bersembunyi di pinggir pantai. Pasukan sudah disebar Bi mencoba melacak keberadaan Bara tapi gagal, Bianka yakin Bara sudah masuk dan menumpas markas.


"Kalian pergilah! saat matahari terbit kita sudah bisa menemukan mereka."


Saat semuanya berpencar, hanya tersisa Bi dan dua manusia yang Haikal bebaskan.


"Paman! pernah tidak kalian berpikir akan meninggalkan dunia gelap ini, kita seperti orang buta yang berjalan tanpa melihat."


"Kamu pernah memimpikan untuk meninggalkannya?"


"Iya, saat aku tahu jika ada bayi yang pernah aku kandung, mimpi hanya satu hidup bahagia bersama anak dan suamiku."


"Mimpi yang indah Bi!


"Terimakasih paman! saat belajar menjadi seorang ibu Bi belajar berterima kasih dan meminta maaf."


"Kamu menjadi lebih baik, setelah melewati masa yang menyakitkan."


***


Pertarungan terjadi, Bara coba mencari keberadaan wanita gila ditengah pertarungan mereka, sesekali juga mengawasi Reva dan Rindu agar tidak terluka. Bara merasakan perasaan takut, saat melibatkan keluarga. Satu goresan saja Bara tidak rela apalagi mengeluarkan darah.


Gerakan musuh sangat cepat, Reva kewalahan bertarung dengan tenaga. Dia lebih suka merakit bom dan meledakan kepada musuh. Tubuh Reva mulai mendapatkan pukulan, Bara langsung menarik Reva dan menumpas lawan Reva.


"Jangan bayangkan kebiasaan kamu yang hebat, kenyataannya kamu harus bertarung dengan tangan kosong. Gunakan tubuh mereka untuk melindungi kamu." Bara langsung pergi meninggalkan Reva yang sudah kembali bertarung.


Ucapan Bara benar, musuh yang datang menggunakan racun di senjata mereka. Reva berlindung dari tubuh musuh yang berhasil dia jatuhkan.


Rindu menarik pedang dari tubuh seseorang yang sudah terjatuh. Permainan pedang salah satu keahlian Rindu, tidak ada yang bisa mendekati Rindu. Semua orang mulai berjatuhan, Bara menggagukan kepalanya.

__ADS_1


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, sebuah goa yang tidak tahu di mana ujungnya. Reva menghidupkan kupu-kupunya untuk berkeliling, beberapa panah mulai melesat. Bara menarik Reva dan Rindu untuk berlindung di pohon besar.


"Tidak ada jam istirahat ya, capek banget. Nyawa ngos-ngosan." Reva menarik nafas, ini pertama kali pertarungan dengan tangan kosong, tanpa tim.


"Bara lakukan sesuatu!"


Bara melangkah keluar, asap mengepul Bara langsung melangkah pergi diikuti oleh Reva Rindu. Mereka melihat gua tapi Bara menolak masuk, mencari cela ruangan bawah tanah.


"Bara mungkin ini ujung dari bangunan tempat Kristan dan Kei."


"Rindu benar, pasti ini tempat mereka melarikan diri."


"Bianka juga berada di sini?" Bara menghela nafas, satu lagi yang harus dia lindungi.


"Yes! akhirnya formasi kita lengkap, tinggal bertemu dengan yang lainnya." Reva tersenyum lanjut mengikuti Bara.


Setiap sudut pasti ada korban yang berjatuhan, Bi bisa mencium amis darah. Bianka duduk santai karena di depan matanya bangunan tempat Rinda berada, tapi Bara tidak berada di sana. Bi menunda untuk masuk sampai waktu yang tepat.


Dua paman yang menjaga Bi berkeliling menjaganya, saat matahari terbit seorang wanita cantik juga berada di depannya.


Tatapan mata mereka bertemu, seorang wanita yang pernah satu tim bersama Bi saat penelitian di Inggris. Karena wanita ini Bi bisa dikalahkan oleh tim Barata, jika dirinya tidak menolong Liona yang licik tidak mungkin dia kalah.


"Di mana wanita gila berada?" Bi menatap tajam, tidak terlihat ketakutan.


"Akulah dirinya!"


"Jangan bodoh, kamu hanya pion catur yang akan disingkirkan untuk mendapat kemenangan. Dalam pertarungan tidak ada teman semuanya musuh." Bi tersenyum, sebuah belati melayang mendekatinya tapi Paman sudah menangkapnya.


Bi sudah bosan dengan permainan sembunyi-sembunyi yang dilakukan wanita gila, ingin sekali Bi langsung mengebom pulau dan semuanya langsung berakhir.


Kristan berhasil keluar dari gedung yang penuh lika-liku, dia melihat Bianka yang sedang duduk. Dia orang berbadan besar sedang bertarung, mata Bi bertemu Kristan langsung tersenyum dan saat Bi ingin berdiri sebuah peluru melesat kearahnya, paman langsung menangkap peluru tersenyum melihat Bianka.


"Terimakasih paman, selamat bertarung." Bianka bukan tidak tahu soal peluru tapi sengaja mencari keburukan dari pengawal yang ayahnya bebaskan.


"Bi mempercayai paman, kita kembali bersama-sama." Bianka langsung melangkah pergi, masuk ke dalam bangunan dengan menyeret kepala Liona.

__ADS_1


***


__ADS_2