BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
SUKA NGAMBEK


__ADS_3

Seluruh keluarga Chrispeter berkumpul di pemakaman keluarga, semua anggota keluarga menggunakan baju hitam juga kacamata hitam. Papi Rian tidak mengizinkan ada yang menangis, satu-persatu keluaran mulai turun dari mobil masing-masing.


Bianka dan Reva turun diikuti oleh Rindu dan Keisya, Bara, dan Raffa sudah lebih dulu di pemakaman. Mobil yang di kawal hampir ratusan pengawal datang beriringan.


Papi Rian keluar dari mobil paling depan, dua peti yang diangkat oleh para pengawal mengikuti langkah Papi Rian dan ayah Haikal. Para Mami juga sudah mendekati Bara dan Raffa, dengan menghela nafas dalam Bianka menggenggam tangan Rindu sambil tersenyum.


Mereka melangkah mendekat mengantarkan Rinda dan Kristan ke tempat peristirahatan terakhir. Pemakaman keduanya penuh dengan hikmah, tanah mulai menutup, bunga juga sudah berhamburan di atas tanah yang masih basah. Kupu-kupu juga mengitari pemakaman keluarga Chrispeter, burung juga ikut bersuara menemani keheningan.


Seluruh pengawal diperintahkan untuk kembali, hanya tersisa keluarga Chrispeter dan dua paman yang Haikal bebaskan dari penjara.


"Kalian berdua pergilah!" Haikal memberikan perintah.


"Haikal, izinkan aku mendampingi keturunan Bianka." Paman dua memberikan hormat.


"Izinkan aku juga menjaga keturunan Rindu." Paman satu menudukan kepalanya, lalu memberikan hormat.


"baiklah, aku panggil kalian di saat mereka lahir ke dunia ini. Jika kalian telah berpulang, berikan keturunan kalian."


"Boleh aku memohon satu hal lagi, jika kalian mengizinkan."


"Katakan!"


"Bebaskan Maxi dan Miko! aku akan mendidik keduanya untuk menjadi penjaga keturunan Reva dan Keisya."


Haikal menatap Rian, karena Rian yang menangkap kedua remaja yang bringas membunuh ibu tiri mereka. Keduanya juga membunuh ayah mereka dan banyak orang tanpa belas kasihan.


"Akan aku bebaskan!" Rian menatap Paman satu dengan tersenyum.


"Siapa nama paman berdua?" Rindu akhirnya bersuara.


Keduanya saling pandang, karena mereka juga tidak tahu nama mereka. Hanya mengunakan nama kejahatan dengan gelar codet san tompel.


"Pasti tidak tahu nama!" Reva menatap sambil geleng-geleng.


"Nama paman satu Ahlan, paman dua Ahlam." Bianka memberikan nama membuat seluruh keluarga menatapnya.


"Kami tidak kembar Bianka,"


"Pokonya nama kalian Ahlan dan Ahlam."


Paman Ahlam dan Ahlan memutuskan untuk pergi, Rinda menahan mereka yang membuat semuanya menatap Rinda.


"Menikahlah Paman! aku tidak ingin keturunan aku di jaga oleh kakek-kakek, berikan pengawal putri yang kuat dan tangguh."


Setelah mendengarkan perintah Rinda, keduanya langsung pergi meninggalkan pemakaman.


Riani diam menatap tanah pemakaman putrinya, Bunga memeluk pundak Riana agar lebih kuat. Senyum manis terukir dari bibir manis Riani.

__ADS_1


"Kami pulang sayang, Mami akan selalu mencintai Rinda."


"Bunda juga pulang Rinda, selamat tinggal sayang. Tenang kamu di sana."


Tangan Rian merangkul pinggang istrinya, melangkah pergi meninggalkan pemakaman. Ayah Haikal juga melangkah pergi bersama Bunda Bunga. Papa Akbar juga mengelus batu nisan lalu pergi bersama Mama Kia, Roy memasang kacamata hitamnya merangkul pundak istrinya Dara untuk melangkah pergi.


Masih tersisa para boys dan girl yang masih fokus terdiam, dengan menggunakan kacamata hitam menatap langit yang dipenuhi kupu-kupu juga burung.


"Selamat tinggal Rinda dan juga Kristan, bahagia kalian di sana." Bara merangkul Bianka memintanya pulang, Bi menggagukan kepalanya melangkah pergi bersama Bara.


Raffa menggenggam tangan Rindu, mengajaknya pulang. Rindu hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki Raffa, diikuti oleh Riki dan Keisya yang akan segera bertunangan dan menikah.


Reva manyun tidak memiliki pasangan, hanya tersisa Raffi dan Raka. Cepat Reva mengandeng tangan Raffi untuk melangkah pulang.


"Lalu aku dengan siapa?" Raka teriak membuat yang lainnya menoleh tapi mengabaikannya.


***


Satu Minggu sudah kepergian Rinda, tidak ada lagi kesedihan. Keluarga sudah sepenuhnya melepaskan Rinda. Aktivitas di kediaman Chrispeter juga sudah seperti biasanya, hanya saja masih tanpa tawa yang biasanya sangat berisik.


Bi berdiri di depan kaca besar memperlihatkan tubuhnya, Bianka merasakan keanehan terhadap tubuhnya sangat mudah lelah dan lebih suka tidur. Dia juga tidak suka bangun pagi, sangat membenci matahari. Biasanya dia sangat suka nge-gym tapi sekarang tidak punya selera.


"Kak, tubuh Bianka gemuk sekali." Bianka melihat ke arah Bara yang sedang mengancing bajunya.


"Gemuk di mana? masih sama." Bara sedang buru-buru karena ada pekerjaan bersama Raffa.


"Sayang! nanti malam saja ya." Bara tertawa mencium kening Bi mengajaknya turun untuk sarapan.


Sepanjang jalan menuju ruang makan, Bianka cemberut melihat Bara yang tidak perduli dengan tubuh Bianka.


"Kak, Kenapa membawa bebek dengan bibirnya dimajukan." Raka melihat aneh kearah Bianka.


Bara mendudukkan Bianka, Bunda Bunga menjitak kepala Bi yang cemberut.


"Pagi-pagi kalian berdua sudah bertengkar."


"Bara bunda! dia tidak perduli lagi dengan tubuh Bianka, pasti lebih suka dengan tubuh seksi di luaran sana."


"Sayang, aku tidak pernah mengatakannya."


"pergilah tidak usah pulang lagi," Bianka berdiri langsung meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


Seluruh orang menatap binggung, Bara lebih binggung lagi. Hanya karena mulai gemuk langsung ngambek.


"Seperti kita butuh membangun rumah sakit jiwa ayah, Bianka mulai sinting." Raffa meringis karena kepalanya sudah dipentung dengan centong nasi oleh Bunda.


"Bunda sakit, kekerasan dalam rumah tangga. Raffa laporkan kebagian perlindungan anak." Raffa cemberut, kepalanya sakit sekali.

__ADS_1


"laporkan saja bunda masukkan lagi kamu ke dalam perut."


Selesai sarapan Bara yang buru-buru langsung pergi, dia tidak sempat merayu Bi yang sedang ngambek tanpa sebab.


Reva mengetuk pintu kamar Bi, dia langsung masuk dan mendekati Bianka yang masih berbaring.


"Bi, pergi menembak yuk." Reva sudah lama tidak latihan menembak.


"malas ah." Bi tidak semangat masih memejamkan matanya.


"Ayo bertarung! aku bosan." Reva menarik tangannya tubuh Bi biar duduk.


"malas Reva, pergi saja dengan Rindu atau Kei." Bianka berbaring lagi.


"Kei pergi bersama Riki soal pertunangan mereka, Rinda pergi ikut Bara dan Raffa."


"Pergi bersama Bunda."


"Bunda Bunga lagi ke salon bersama Mommy, Mami."


"pergi bersama Mama."


"Mama pergi ke rumah sakit."


Bianka membuka matanya coba berpikir, mencarikan teman untuk Reva yang jomblowati juga tidak mempunyai teman. Bi sedang tidak berselera pergi kemanapun.


"Asep! pergilah dengan Asep. Kalian bisa berenang, main kuda-kudaan, memancing atau kalau perlu kalian bisa terjun dari jurang." Bianka memberikan usulan bodoh, tapi Reva langsung berdiri dengan semangat.


"Asep!" cepat Reva berlari menutup pintu kuat, dan meninggalkan Bianka yang masih bicara.


Reva berlari menuruni tangga, mencari keberadaan Asep. Seluruh pengawal dikumpulkan, bertanya soal keberadaan Asep.


"Kalian semua ada yang melihat Asep."


"Maaf Nona, Asep pengawal pribadi tuan Bara."


"Ya!"


"Asep pergi bersama pelayan, untuk mengantarkan perlengkapan makanan...."


"Apa!?" teriakkan Reva membuat pengawal terkejut tidak jadi menyelesaikan pembicaraannya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2