BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 KERETA KUDA


__ADS_3

Senyuman Berlian terlihat menatap dirinya yang menggunakan gaun berwarna gold, rambutnya disanggul, menggunakan mahkota gold.



Rinda juga berdiri di samping Berlian melihat wajahnya yang sangat cantik seperti boneka Barbie, Rinda menggunakan gaun berwarna maron yang bergemerlapan. Rambut Rinda diuraikan, menggunakan bunga di bagian belakang.



"Gaun kamu mewah sekali Rinda?"


"Pastinya Rinda suka dengan warna yang terang."


"Jangan sampai pingsan lagi nanti."


"Siapa juga yang pingsan, Rinda hanya mengantuk." Rinda langsung melangkah pergi bersama Lian.


Langkah kaki Lian dan Rinda terhenti melihat Mentari yang sudah berputar-putar menari di depan mereka.


"Bagaimana gaun Tari? cantik bukan."


"Lumayan." Lian tersenyum.


Mentari menggunakan baju yang warnanya gelap, tapi masih sama seperti Rinda yang banyak manik-manik. Rambut Mentari disanggul, menggunakan bunga berwarna putih mengelilingi sanggulnya.



Kaira juga muncul dengan banyaknya bunga pink mengelilingi bajunya, baju yang menjuntai panjang berwarna Salem memperlihat sosok Kai yang sangat lembut juga feminim.


Rambut Kaira di uraikan, menggunakan mahkota berwarna putih menunjukkan kecantikan Kaira yang semakin terlihat.



"Ayo kita berfoto." Kaira meminta bantuan pelayan untuk memotret mereka berempat.


Keempat berpose dengan gaya anggun, memperlihatkan bagian dada mereka yang terbuka dan terlihat sangat seksi.


"Kita cantik sekali." Tari tersenyum melihat foto mereka.


Bianka menatap empat wanita yang tertawa bersama menggunakan gaun yang mereka inginkan.


Sebenarnya keluarga menginginkan baju berwarna putih, tapi langsung ditolak karena keempatnya memiliki gaun impian masing-masing.


"Sudah siap." Bianka menghampiri.


"Siap Bunda."


Rindu tersenyum menatap putrinya, menggenggam tangan Rinda untuk melangkah keluar, Bianka juga menggenggam tangan Berlian.


Reva menyambut tangan menantunya yang sangat cantik, Tari langsung menggenggam erat tangan Reva.


Keisya mencium kening Kaira, memuji kecantikan putrinya. Langsung melangkah keluar.


Seluruh keluarga sudah berkumpul, menatap empat wanita cantik yang menggunakan gaun. Senyuman Rinda terlihat menatap keluarganya khusus wanita menggunakan baju gaun putih dan yang lelakinya menggunakan jas hitam.

__ADS_1


"Di mana pengantin pria? mereka lebih lama dari perempuan." Raffa melihat jam tangannya.


"Papi, Rinda ingin berjalan ke pesta bersama Papi, sedangkan Mami bersama kak Max."


"Oke, sini sayang." Raffa meletakkan tangan Rinda di lengannya berjalan keluar menuju kereta kuda mewah yang akan membawa mereka ke tempat acara pesta.


Bara mencium kening Bianka pamitan pergi lebih dulu, menyambut tangan Berlian yang tersenyum manis. Bara mengusap kepala Tari yang berjalan bersama Asep, sedangkan Kaira bersama Papanya.


"Ayah, Berlian bahagia sekali. Lian dulu sangat takut dengan dunia luar karena Lian tidak memiliki siapapun, tapi sekarang Lian merasa hidup kembali, memiliki keluarga yang hangat."


Bara tersenyum, apa yang Lian rasakan pernah Bara rasakan. Menikahi Bianka membuat Bara merasakan kehangatan keluarga besar.


"Kita pernah berada di posisi yang sama, karena itu Ayah meminta kepada kamu Lian untuk menjadi istri dan ibu yang bisa menjaga keharmonisan keluarga, jika bukan kalian yang berusaha mempertahankan keutuhan lalu siapa?"


"Lian akan mempertahankan keutuhan keluarga ini Ayah, terima kasih sudah menjadi Ayah yang baik untuk Lian, Tari juga tuan muda Boy." Berlian tersenyum duduk di atas kereta kebesaran Chrispeter.a


Sepanjang perjalanan menuju hotel penuh dengan orang yang melambaikan tangannya, memanggil nama Rinda, Lian, Tari dan Kaira yang langsung melambaikan tangannya.


Raffa mengerutkan keningnya melihat putrinya Rinda yang terus melambaikan tangannya, Raffa merasa mereka seperti sedang melakukan aktraksi sebuah peringatan adat setempat.


"Rinda duduk diam, Papi malu."


"Papi, Rinda suka."


"Awas saja kamu pingsan." Raffa menundukkan kepalanya.


Boy melihat ke bawah sudah sepi, langsung berlari diikuti oleh Reza, Maxi dan Miko.


"Mana aku tahu."


"Dari mana kalian berempat? dicari dari tadi." Bianka langsung memukul kepala empat pria.


"Bunda, kita malu menggunakan kereta kuda, seperti anak raja saja. Sekalian menggunakan baju Tarzan." Reza menghela nafasnya.


"Ohh, jadi kalian berempat menghilang karena tidak ingin naik kuda." Reva melotot.


"Iya Mommy, lagian kenapa tiba-tiba mereka ingin naik kereta kuda seperti ratu saja." Boy melihat ke arah luar sudah tidak ada lagi kereta kuda yang dihias dengan banyaknya pernak-pernik yang membuat pusing.


"Kenapa kalian malu? bukannya suatu kebanggaan Max?" Rindu menatap Maxi.


"Bangganya dari mana, kita keluarga mafia bukannya keluarga kerajaan. Seharusnya kita menggunakan mobil yang sudah dirakit anti peluru, atau helikopter yang dirakit dengan gaya tempur, baru terlihat keren, bukan menggunakan kuda." Max tersenyum menutup mulutnya karena banyak bicara.


"Kak Max benar, ayo Bunda kita pergi menggunakan mobil." Boy merangkul Bundanya.


Keisya tersenyum melangkah bersama Miko, melihat pakaian pengantin pria yang tidak sesuai tema, mereka menggunakan baju putih yang terlihat dengan garis merah, beberapa lambang yang terdapat di lengan baju yang menunjukkan jika mereka keluarga besar Chrispeter.


"Kalian tidak satu pemikiran dengan istri kalian. " Kei memeluk lengan Miko.


"Maaf Mama, Miko tidak ingin menggunakan baju berwarna pink seperti keinginan Kaira."


"Tidak masalah sayang."


Empat mobil melaju ke arah hotel, mata Boy melotot melihat kereta masih di jalan.

__ADS_1


"Lewati saja pak, gunakan alarm." Boy melihat ke arah Ayahnya yang menutup wajah menggunakan jas.


Bianka dan Boy tertawa kuat, para lelaki Maco berubah menjadi lelaki hello Kitty, menggunakan kereta berbunga-bunga.


"Kasian sekali Daddy Mom, lihatlah wajahnya pucat." Reza tertawa kuat bersama Reva.


Empat mobil sampai lebih dulu, langsung keluar menunggu kereta kerajaan tiba. Boy dan Reza tidak bisa menahan tawa membayangkan wajah Ayah mereka.


Kereta Berlian sampai, suara tawa Boy, Reza, Bianka, Rindu dan Reva kuat mentertawakan Bara yang langsung berlari ke dalam.


Boy menyambut tangan Lian, tersenyum menatap ratu tercantik.


"Kamu cantik sekali sayang."


"Kamu jelek sekali Boy, Lian sudah bilang gunakan baju warnanya harus sama dengan gaun."


"Maaf sayang, bajunya sobek. Sepertinya aku mulai gemuk."


Boy melangkah masuk bersama Bianka, suara tawa masih terdengar melihat para Ayah yang sedang kesal.


Tamu undangan sudah ramai berkumpul, Boy berjalan melewati banyaknya orang yang menundukkan kepalanya melihat kehadiran keluarga besar Chrispeter.


Boy berdiri di atas pelaminan, diikuti oleh Rinda dan Maxi, Miko Kaira dan Tari Reza.


Tamu undangan sudah sangat ramai, seluruh rekan bisnis Bara juga bermunculan.


"Kak Max, bagaimana dengan keamanan?"


"Aku lupa membawa ponsel Boy, melihat ramai seperti ini tidak nyaman."


Rinda tersenyum melihat banyaknya ucapan selamat menempuh hidup baru.


"Kak Reza aman apa tidak orang seramai ini?" Tari memeluk lengan Reza.


"Semoga saja aman." Reza menepuk pelan tangan Tari.


Tamu undangan silih berganti, para kakek nenek memutuskan untuk kembali lebih dulu karena sudah mulai lelah melihat banyaknya tamu undangan.


Maxi ingin melangkah pergi, Rinda menahan tangan Max.


"Ingin ke mana kak?"


"Sebentar lagi acara selesai, kak Max ke belakang dulu."


Maxi meminta bawahannya untuk mengawal keluarga Chrispeter kembali ke Mansion utama, tidak ingin jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, apalagi para pejabat, orang berpengaruh sudah kembali semua hanya tersisa rekan bisnis dari beberapa negara.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT


BESOK VISUAL MEREKA.


***

__ADS_1


__ADS_2