BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
CERITA KETURUNAN CHRISPETER


__ADS_3

Suara erangan terdengar dari kamar mewah Bara dan Bianka, Bara mengulang lagi adegan nya yang membobol pertahanan Bianka.


"Bara! udah capek." Bianka sudah tidak sanggup mengikuti Bara yang belum puas, miliknya rasanya sobek.


"Jangan panggil Bara sayang, panggil kakak." Bara menyelesaikan hentakan terakhir sampai dia mendapatkan kepuasannya.


Bi menutup matanya, Bara hanya menutupi tubuh Bianka dengan selimut dan mencium keningnya. Bara mengambil ponselnya dan langsung cepat mandi, setelah mandi Bara menciumi wajah Bi lalu ke luar kamar karena hari sudah siang, dan dia ada urusan.


Tidak lama kepergian Bianka para girls datang, mereka terpesona melihat kemewahan istana Bara, cepat mereka berlari ke kamar masing-masing dan melewati barang-barang mereka yang seakan ingin mengungsi.


"Kak Reva, di mana kamar kak Bi ya."


"Rinda adikku yang cantik jelita, Bi pasti satu kamar dengan Bara." Reva menjitak kepala Rinda.


"Mau ke mana Rindu?"


"Kamar Bi, pasti lebih mewah ruangan penelitiannya pasti sangat luar biasa." Rindu melangkah naik diikuti oleh keisya.


Melihat Rindu dan Kei menuju ke kamar Bi, cepat mereka berlari menyusul dan menabrak dua tubuh yang terdiam. Mata mereka melotot melihat pakaian Bianka yang berhamburan, belum lagi Bi yang masih tertidur.


"Tidak ada Bara! berarti kita boleh masuk. Lumayan mendengarkan Bianka yang akan bercerita enaknya uwuh uwuh." Rindu cengengesan langsung masuk dan duduk di samping Bi.


"Kei, ayo masuk!" Reva mendorong Kei.


"nanti Bi marah, tidak sopan juga."


"Bianka bangun! Bi, kak Bi! Bianka." Rindu menatap wajah Bianka yang perlahan membuka matanya.


Mulut Rindu menganga melihat banyaknya warna merah dileher Bi, dibukanya sedikit selimut Bi. Dada Bi juga sudah merah.


"Mau apa?" Bianka duduk di sandaran sambil menekan selimutnya untuk menutupi tubuh telanjangnya.


"Semalam perang Bi! siapa yang menang." Reva langsung mendekat melihat warna merah ditubuh Bianka.


"Bara yang pastinya, lihat Bi sudah lemas gini." Rindu memeluk Bianka, dan terlihat sedih.


"Kenapa sedih Rindu? Bara tidak menyakiti aku." Bi mengelus kepala adiknya yang selalu mengajaknya bertarung.


"Bi, kita tidak bisa bertarung lagi, kamu akan sibuk dengan anak kalian."


"Kamu pikir membuat anak seperti adonan, bisa langsung jadi, buatnya capek tahu." Bianka tertawa dan menjitak kepala Rindu, Kei dan Rinda juga mendekat.


"Tapi enak!" Rinda mulai penasaran.


"Mau tahu, menikahlah Rinda."


"Sama siapa? Raffa! punya kak Rindu."


"Banyak pria diluar sana, tidak perlu keluarga Chrispeter."

__ADS_1


"Dengarkan Reva yang sudah bergerak, ingin mengait Asep." Bianka tersenyum, Reva sudah nyegir tidak mengelak.


"Kamu tahu Bi, Asep ganteng kalau sedang marah."


"Reva, Asep sangat kuat. Aku juga kalah melawan dia, kemungkinan juga dia hanya mengeluarkan setengah dari keahliannya." Bi mengigat pertarungan pertamanya dengan Asep.


"Serius Bi, bantuin dong. Biar cepat nikah, pengen juga capek di atas ranjang." Reva memutar bra Bi dan langsung melemparnya.


"Nanti juga nangis di atas ranjang."


"Bianka cukup! pembicaraan kita kenapa menjadi liar, biasa bahas penelitian tapi sekarang kenapa bahas bikin anak."


"Sekali-kali Kei, nanti kamu juga nangis di ranjang pas malam pertama sama Riki, lihat badannya Riki kekar gitu. Pasti gede!" Rindu langsung mendapatkan lemparan bantal dari Bianka."


"Aku ngomong punya Riki bukan Bara! punya Bara pasti lebih besar." Cepat Rindu berlari menghindar sebelum Bianka memukulnya.


"Rinda bilang ke Mami, Rindu otaknya sangat kotor sebaiknya cepat di nikahkan."


"Kak Reva kenapa melamun? membayangkan punya Asep juga." Rinda dengan polosnya membuat tawa terdengar di kamar Bianka.


Bianka langsung berdiri membersihkan tubuhnya, setelah langsung memakai bajunya. Para girls masih di dalam kamar bercerita ditambah lagi sama Nayla yang membawa cemilan.


"Nay, jangan sampai dilihat kak Bara. Dia marah makan di kamar." Bianka ikut duduk di ranjangnya.


"Iya kak, tenang saja. Kak Bara tidak mungkin menendang Nay lagi." Nayla tertawa diikuti yang lainnya.


"Kalau Mama Keisya sama Papa Akbar?" Nayla semakin penasaran.


"Mama mencintai Papa tapi dijodohkan dengan ayah Haikal, persahabatan sejak kecil membuat mama menjadi wanita satu-satunya di antara pria Chrispeter. Tapi Ayah Haikal tidak pernah menyerah soal Bunda jadinya Oma luluh dan membiarkan para putra memilih pasangan hidup."


"Tapi yang paling unik Papi Tian, pacarnya banyak tapi langsung jatuh cinta ke Mami."


"Siapa yang bilang Rindu? Papi sama mami musuh bebuyutan."


"Tapi Papi ceritanya Cinta pertama, Mami langsung dinikahin. Berarti kita bertiga dibohongi Papi." Rinda menatap kakaknya Rindu.


"Memangnya cerita sebenarnya gimana Kei, kamu diceritakan oleh siapa?"


"Papa!"


"Kalau Papa pasti jujur!" Rindu menghela nafas dibohongi Papi.


"Cerita awalnya, Papi sangat membenci mami dibilang siluman kuman dan banyak caciannya lainnya."


"Kenapa Papi bilang siluman? mami Riani sangat cantik." Nayla memakan keripik sambil melihat foto keluarga Chrispeter.


"Dulunya Mami ditemukan di pulau terpencil!"


"Astaga pasti mirip monyet."

__ADS_1


"Lutung! atau genderuwo ya kak Rindu. Pasti mami dulu serem banget."


"Tubuh mami sangat hitam."


"Kalau Rindu jadi Papi sudah ditenggelamkan saja di laut merah."


"Kak itu mami kita!"


Bianka dan yang lainnya hanya tertawa melihat pertengkaran si kembar soal Maminya, bukannya mereka tidak tahu tapi memang sangat cuek dengan masalalu keluarga hanya Kei yang sangat menyukai sejarah Chrispeter.


"Terus kenapa bisa menikah?" Nayla masih penasaran.


"Mami dipermak habis akhirnya jadi amazing."


"Kenapa nama mami dan Papi hampir sama." Nayla masih penasaran.


"Sebenarnya dulu bukan Riani, tapi melihat kebencian Papi jadinya Rian dan Riani." Tawa Keisya diikuti yang lainnya.


Bara datang dan bertanya Bianka sudah makan belum, tapi maid juga belum melihat Bianka turun. cepat Bara berlari ke kamarnya.


"Apa sangat lelah sampai jam segini belum bangun?"


Bara membuka pintu, para girls yang di dalam langsung menatap Bara. Bara mendekati Bianka dan mencium keningnya.


"Kenapa belum makan ini sudah siang?"


"Iya sebentar lagi!"


"Bara kita manusia bukan nyamuk." Reva melotot.


"Sudah disiapkan kamar pribadi, masih saja masuk ke sini. Salah sendiri!"


"Astaga Nayla!" Bara melotot melihat ranjang yang penuh cemilan, Nayla sudah berlari sebelum Bara marah besar."


"Kenapa bawa makanan ke kamar?"


"Bukan Bi tapi Nayla."


Semuanya sudah berhamburan keluar, sisa Bara dan Bianka. Bara sangat tidak suka melihat makanan di kamarnya.


"Sabar Bara ayo sabar!" Bara menenangkan dirinya sendiri agar bisa mengontrol emosi seperti yang ayah Haikal katakan.


"Ya sudah minta beberapa maid membersikan kamar, kita keluar untuk makan." Bara mengandeng tangan Bi.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


***

__ADS_1


__ADS_2