
Tubuh Maxi terlempar, Miko langsung meminta Rinda maju menyerang. Mik langsung maju membantu Maxi, Rinda masih sempat mengatakan jika dirinya polos.
Rinda bertepuk tangan melihat kemampuan bela diri Max dan Miko yang imbang, keduanya memang pengawal terbaik Chrispeter.
Satu persatu musuh mulai berjatuhan, Miko menembak tepat di dada sampai tembus. Pedang Maxi menembus jantung, lalu mencabutnya.
Miko meminta Max menyelesaikan sisanya, Miko menarik tangan Rinda untuk pergi meninggalkan bangunan untuk menemui yang lainnya.
"Tunggu!" Rinda berbalik badan, langsung berlari ke dalam melihat Maxi terdiam melihat seorang wanita yang dicekiknya.
"Kak Maxi awas." Rinda menghadang pedang, menembus jantung.
Miko yang melihat langsung terduduk lemas, mengusap dada melihat Rinda sudah terguling bersama Max. Wanita yang di cekik Max muntah darah jantungnya tembus.
Tatapan mata Max gelap, langsung mengunakan belatinya menancap dada pria yang memegang pedang sampai tumbang.
Maxi membuka bajunya, menutupi tubuh yang sudah berlumuran darah, Max memeluknya erat tanpa berbicara apapun.
"Siapa dia Max?" Miko berjalan mendekati melihat wanita yang sudah meninggal dalam pelukan Maxi.
Miko menundukkan kepalanya menatap Maxi yang melepaskannya, langsung melangkah pergi membawa pedangnya.
Rinda berjalan mengikuti Miko yang juga hanya diam saja, Maxi akan membunuh dengan tangannya sendiri pemilik dari pedang.
"Siapa wanita tadi?" Rinda melangkah beriringan bersama Miko.
"Jika kak Mik tidak salah dia ...."
"Kekasih kak Maxi?"
"Bukan Rinda, dia adiknya Max. Mereka satu Ayah beda ibu, keluarga Max hancur sejak Ayahnya selingkuh. Ibunya juga dibunuh di depan matanya, Max yang membunuh ibu tirinya dan Ayahnya, menyisakan adik tirinya."
Rinda menghembuskan nafasnya, kasian melihat Maxi yang berjalan dalam kegelapan, menjadi pembunuh keluarganya sendiri.
***
Semuanya berkumpul di pinggir pantai, Maxi duduk di pinggir pantai. Rinda juga duduk bersandar di punggung Boy.
"Kak Boy, Rinda bosan dengan pertarungan. Sekarang Rinda mengerti kenapa Mami selalu mengatakan jangan bertarung Rinda, hiduplah normal."
"Sudah jalan hidup kita Rinda, jangan dijadikan beban." Boy mendorong tubuh Rinda menjauhinya.
__ADS_1
Matahari sudah tinggi, Kaira membawakan makanan. Mereka tidak bisa kembali ke penginapan lagi jadinya harus berdiam diri di pantai.
"Apa rencana kita selanjutnya?" Reza mendekati Boy.
"Tidak ada pilihan lain, menghancurkan tempat ini. Jika hanya satu yang hancur mungkin bisa dikatakan anugrah, tapi jika semuanya hancur baru menjadi azab." Boy tersenyum sinis.
Boy memperhatikan Maxi yang masih fokus melihat ke arah laut, Boy yakin Max sudah menghilangkan jejak keberadaan mereka sehingga tidak ada yang bisa menemukan mereka.
Miko bertemu pandang dengan Boy, langsung membuang pandangannya. Boy tertawa pasti ada sesuatu terjadi kepada Max, dia memang pria dingin, tapi komunikasinya tetap baik
"Kak Maxi."
Max melihat ke arah Boy yang mendekatinya, duduk di samping Max sambil tersenyum mengejek.
"Siapa dia?" Boy melihat ke arah lautan.
"Aku tidak mengerti?."
"Boy mengetahui masa lalu kak Max, tapi jangan pernah menyalahkan diri sendiri dengan semua yang terjadi, puluhan tahun kak Max mencoba mengobati diri sendiri, juga memaafkan diri sendiri, jangan kembali lagi ke masa kelam."
"Boy, tempat ini menyerap masa lalu. Sejak pertama kita datang mereka sudah mengetahuinya. Tujuan kamu datang juga sudah terdeteksi, wanita yang kamu pikir Noni orang yang berbeda, mereka mempermainkan kita, sama seperti wanita yang mirip adik tiri ku, semuanya palsu." Max tersenyum sinis melihat Boy yang tidak terkejut.
"Boy sudah tahu dari awal, tempat ini sangat luar biasa hebatnya. Musuh kita bukan orang bersenjata, tapi orang yang manis ucapannya, bisa menyerap pikiran kita."
Awalnya Maxi berpikir Reza yang menakutkan di dalam keluarga Chrispeter, tapi ternyata Boy yang periang yang paling keras, tegas, juga licik, lebih menakutkan karena Boy membunuh tidak meninggalkan jejak.
"Siapa pemimpin tempat ini?"
"Si kembar Juwi dan Jem." Boy memperlihat sebuah lambang yang tidak asing.
"Juwi, bukannya dia wanita yang kita temui di tempat persembahan." Berlian melihat lambang di tangan Max.
"Iya, dia kembar dengan Jem."
Maxi memanggil Miko untuk melihat lambang di tangannya, Reza juga mendekat melihat lambang yang tidak asing.
Kaira, Rinda dan Mentari juga mendekat, menatap lambang yang aneh sekali.
"Lambang kegelapan, milik istri Iing. Dia meninggal ditangan pelayanannya, pengusaha terkaya di negara seberang." Rinda tersenyum, melihat lambang gelap.
Miko mengigat orang terkaya yang pernah ingin menculik Rinda, mereka kalah tender menyimpan kemarahan terhadap Rinda.
__ADS_1
Boy mengambil kembali, memperhatikan lambang yang Rinda kenali. Boy meminta semuanya berkumpul, lambang ini sebenarnya kunci keberadaan tempat ini.
Iing pengusaha yang memiliki banyak pulau, dia juga memiliki rahasia pulau tersembunyi bisa jadi pulau yang mereka maksud tempat seluruh harta kekayaan milik Iing.
"Iing, baru saja meninggal dua hari yang lalu." Reza memperlihatkan ponselnya.
"Meninggal?" Boy mengumpat kasar.
"Siapa pewarisnya? dia tidak memiliki keturunan." Rinda menatap Miko.
Berlian tersenyum, sebenarnya pulau ini tempat persembunyian keluarga Iing, dia menyembunyikan harta, rahasia, kejahatannya di sini.
Siapapun yang membunuhnya pasti orang yang sudah tidak membutuhkannya lagi, Juwi memiliki kalung berlambang kegelapan, sebenarnya bukan tanda pengenal, tapi tanda cinta.
"Juwi wanita yang disembunyikan, tempat ini menjadi saksi cinta mereka?" Miko menatap Lian.
"Cinta, cinta selalu soal cinta. Rinda tidak mengerti cinta itu apa?"
Boy pergi menjauh mengambil tablet Kaira, menggunakan aksesnya untuk mencari tahu soal Iing. Boy kaget Iing yang Rinda maksud sebenarnya musuh masa lalu keluarga Chrispeter.
"Iing, sebenarnya lelaki yang menginginkan aunty Nakusha, dia pergi membawa dendam karena kalah dari Ayah dan uncel Asep." Boy menundukkan kepalanya.
"Bukan Nakusha, tapi Natasya." Rinda memegang kepalanya, bayangan kecelakaan Natasya terlintas di kepala Rinda.
Max berdiri memegang Rinda yang berkeringat dingin, menatap Max sambil matanya berkedip-kedip sayu.
"Apa yang kamu lihat Rinda?" Boy menatap Rinda.
"Juwi sebenarnya Natasya, dia belum mati."
Semuanya kaget melihat ke arah Rinda yang memukul kepalanya, Reza mendekati Rinda langsung memeluknya untuk melupakan ingatan.
"Jangan paksa melihatnya, nanti kamu terluka, kita berada di sini untuk menghentikan mereka, jadi kamu jangan menyakiti diri sendiri."
"Natasya mengerikan kak Reza."
"Tidak ada yang paling mengerikan kecuali keluarga Chrispeter."
Kai tersenyum ternyata ucapan aunty yang selalu bercerita melihat Nata masih hidup ternyata nyata, keluar dari Kematian bukannya taubat, tapi menjadi orang lebih jahat lagi.
"Kak Kai, kita datang ke sini sudah di pancing dari awal. Boy yang mencari Kunci, Reza yang juga mencari sesuatu, mereka berdua incaran pertama." Tari berbisik, Kai setuju dengan Tari.
__ADS_1
"Bukan Boy yang akan menghancurkan tempat ini, tapi Natasya. Kita semua lenyap bersama tempat ini."
***