BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
S2 PENYUSUP


__ADS_3

Semuanya keluar hanya tersisa, Kaira, Keisya dan Riki bersama Miko. Riki menghapus air mata Kai memeluknya erat, Kai langsung menangis memeluk Papanya.


"Menikahlah, jika Miko menyakiti kamu pulang temui Papa." Riki mengusap matanya menakup wajah Kaira.


"Kai sayang Papa, tidak akan pernah pergi jauh dari Papa." Kaira memeluk Papanya erat.


Riki menganggukkan kepalanya, menatap Miko memintanya beristirahat agar cepat sehat, cepat sehat cepat juga menikah.


"Tuan, maafkan Miko yang membuat tuan dimarah Mami."


"Kak Rindu sudah biasa marah-marah mengalahkan Mami."


"Tuan, Miko juga minta maaf karena ...."


"Karena apa? kamu tidak salah lahir ke dunia ini. Anak rezeki yang dititipkan kepada kita, kamu juga anugerah yang dihadirkan dalam keluarga besar kami."


"Tuan, terima kasih atas pengertiannya, Miko sungguh minta maaf." Miko menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu minta maaf terus, jangan bilang kamu mempunyai istri di luar sana." Riki menatap tajam.


"Papa." Kai tersenyum.


"Kak Riki, bercandaannya tidak lucu." Kei menggelengkan kepalanya.


"Miko diam saja, berarti ucapan Papa benar."


"Maaf tuan, wanita pertama yang bebas mendekati aku hanya Rinda, lalu Kaira. Bagaimana saya bisa punya istri?"


"Saya pikir kamu bisu, seharusnya jika ada yang mempertanyakan masa lalu kamu jangan menundukkan kepalanya, jangan melangkah mundur. Katakan dengan lantang, masa lalu boleh kelam, tapi masa depan saya cerah."


Miko tersenyum menganggukkan kepalanya, mengucapkan terima kasih karena sudah mengizinkan dirinya yang bukan siapa-siapa, tidak memiliki apa-apa bisa mencintai keturunan Chrispeter.


"Panggil tuan lagi, coret dari daftar mantu." Riki langsung melangkah keluar.


"Miko istirahatlah, Mama keluar dulu."


"Terima kasih Ma, sudah menyelamatkan nyawa Miko."


"Miko, kalian jangan memiliki anak satu, apalagi perempuan satu-satunya."


"Kenapa Pa?"


"Agar kamu tidak merasakan hancurnya ditinggal menikah oleh putri semata wayang." Riki langsung keluar.


Miko dan Kaira saling pandang langsung tersenyum, Mama juga tertawa melangkah keluar.


"Kenapa kamu tidak memiliki adik?"


"Tidak tahu, Papa takut mungkin melihat Mama melahirkan."


"Kenapa kalian cucu Chrispeter hanya satu-satu."


"Emhhh, Ayah Bara seperti orang gila waktu Bunda melahirkan, jadi tidak sanggup melihat Bunda hamil, kalau Daddy karena Mommy sering keguguran jadinya Reza satu-satunya, kalau Papa Raffa tidak sanggup puasa katanya."


"Kenapa Papa puasa?"


Kaira langsung memukul Miko yang meringis, wajah Kai langsung memerah karena pertanyaan Miko.


Senyuman Miko terlihat, meminta Kai duduk di kursi samping ranjang. Kai menurut saja sambil menggenggam tangan Miko.


"Maafkan kak Miko Kai, maafkan jika aku melukai hati kamu."


"Tidak apa kak, Kaira sudah maafkan."

__ADS_1


Miko berusaha untuk duduk, Kai berdiri membantu Miko. Tangan Miko langsung merangkul pinggang Kai untuk mendekatinya.


Tangan Kai menyentuh wajah Miko, memejamkan matanya saat Miko mencium bibirnya, jantung Kai langsung berdegup kencang, salah tingkah tidak tahu merespon apa.


Di depan kamar rawat Miko, Boy mondar-mandir kebingungan, langsung membuka pintu melihat dua orang sedang asik berciuman saling membalas.


Boy menutup pintu perlahan, melihat banyaknya masalah yang dihadapi Miko dan Kai, Boy tidak ingin mengganggu, membiarkan mereka berdua saling melepaskan rindu.


Di pintu Boy menulis dilarang masuk, operasi hati sedang berlangsung.


***


Sudah tengah malam Lian belum bisa tidur memikirkan ucapan Papi Raffa, mendengar kabar Boy akan pergi selama tiga tahun.


Suara pintu balkon terbuka tidak Lian sadari, tangan kekar memeluknya erat langsung mendorong ke atas tempat tidur, tangan Boy menutup mulut Lian agar diam, tidak berteriak.


"Apa yang kamu lakukan?" Lian memukuli Boy yang berada di atas tubuhnya.


"Ayo kita melarikan diri sebelum aku di kirim ke negara lain."


"Pria sinting!" Lian teriak kuat, mendorong tubuh Boy.


"Aku serius nyonya Boy, ayolah. Kita menikah cepat, terus punya anak. Aku masih muda, kamu juga nanti anak kita seumuran sama kita."


"Nikah aja dulu Boy, jangan memikirkan soal anak."


"Kamu hamil dulu Lian, kita pasti langsung dinikahkan." Boy tertawa lucu melihat kemarahan Lian.


"Boy gila ...." Lian mengerutkan keningnya, karena suaranya menghilang.


Berkali-kali Boy menciumi bibir Lian, mengigit bibir perlahan. Lian memberontak, tapi tidak ada gunanya, tenaga Boy terlalu kuat.


Lian merasakan lehernya perih, kanan kiri leher Lian dibuat merah kecil seperti yang pernah Lian inginkan.


"Gigitan merah ini milik aku, tidak boleh pudar." Boy mencium bekas merah.


Lian menutup dadanya karena malu, Boy mencium kening Lian memintanya untuk tidur.


"Good night sayang."


"Sana pergi Lian ingin tidur."


"Tidur berdua."


"Tidak mau, nanti ada yang melihat."


"Aku tidak perduli Lian, siapapun yang melihatnya tidak masalah." Boy memeluk erat Lian.


"Boy."


"Aku tidak akan pergi ke manapun tanpa kamu, aku tidak mungkin sanggup satu hari saja berpisah Lian." Boy memejamkan matanya.


Berlian tersenyum, mengusap dada Boy yang tidak menggunakan baju. Lian membayangkan betapa indahnya jika mereka sudah menikah, tidak ada rasa takut karena mereka sudah sah, tapi sekarang jika belum menikah, Lian merasa dirinya seperti wanita penggoda.


Suara Boy tertidur sudah terdengar, Lian tersenyum bisa melihat wajah Boy sangat dekat dan terlihat sangat tampan.


Tangan Lian mengusap wajah Boy, menyentuh alis, hidung, mata, bibir yang terlihat sempurna.


"I love you Boy." Lian mencium kening Boy.


Mata Berlian perlahan terpejam, menyusul Boy ke alam mimpi.


Suara pintu terbuka terdengar, Boy langsung membuka matanya langsung melepaskan pelukannya terhadap Lian, turun ranjang bersembunyi melihat langkah kaki seseorang yang menatap Lian sedang tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali Lian, mungkin Boy akan menjadi pemilik kamu, tapi aku akan menjadi pria pertama yang meniduri kamu."


"Benarkah, bahkan kamu berani memasuki kamarnya." Boy tersenyum mengambil bajunya langsung memakainya.


Boy mendekati Lian, mencium kening Lian yang masih tertidur nyenyak, langsung menyelimutinya.


"Tuan maafkan saya, Lian yang mengundang saya untuk datang." Pengawal yang berjaga di kediaman Chrispeter langsung berlari keluar.


Boy langsung keluar, menutup pelan pintu. Suara Boy memukuli orang secara membabi-buta.


"Siapapun yang berani mendekati milikku pasti mati."


"Apa yang kamu lakukan Boy?" Reza berdiri di balkon kamarnya.


"Membunuh orang yang berani menyusup ke kamar Lian."


"Berarti kamu tidur di kamar Lian, seharusnya aku tadi tidak mengurungkan niatku untuk masuk kamar Tari. Jangan-jangan ada penyusup juga." Reza langsung lompat dari balkon kamarnya berlari menuju kamar Tari.


Boy menghubungi Max, jika ada pengawal yang memasuki kamar Lian. Boy langsung melemparkan satu tubuh ke bawah membuat tulang belulang patah.


"Dia mati Boy."


"Sudah menjadi takdirnya yang ingin mengambil milik orang lain."


"Singkirkan saja kak Max sebelum ada yang bangun." Reza keluar dari kamar Tari.


Maxi menggelengkan kepalanya, meminta pengawal lain menyingkirkan kawan mereka yang beraninya memasuki kamar Lian.


Boy kembali ke kamar langsung mandi, membersihkan darah dari tubuhnya.


Matahari terbit, Bianka mengetuk kamar Lian. Berlian terbangun langsung membuka pintu menatap Bunda.


"Sayang, ayo ikut bunda jalan-jalan pagi."


"Tunggu sebentar bunda, Lian ganti baju."


Boy keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, Berlian kaget bersama dengan Bi.


"Bunda berapa banyak pengawal baru di Mansion?"


"Banyak, mereka mengantikan pengawal yang pensiun." Bi langsung masuk menyentuh wajah Boy yang dingin.


"Berapa lama kamu berendam?"


"Seorang pengawal sialan masuk kamar Lian, Boy tidak terima."


"Kamu membunuhnya?"


"Iya, mereka bukan hanya satu Bunda, kehadiran orang baru membahayakan para girl, di sini juga ada si kecil anaknya Uncle Raffi. Dia wanita terkecil, cucu Chrispeter yang paling harus dijaga, Boy tidak ingin kejadian ini terulang."


"Bunda akan bicara dengan Ayah kamu, tapi kamu brengsek sekali Boy bisa tidur bersama Lian."


"Apa salahnya Bunda, dia calon istri Boy. Jika Boy tidak ada di sini lebih bahaya lagi."


"Kamu lupa, jika lima pengawal belum tentu bisa mengalahkannya." Bianka menarik telinga Boy agar keluar.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2