
Suara pertarungan di dalam terowongan menggema, tawa Z terdengar sangat puas.
Lian, Rinda, Tari dan Kai harus bertarung melawan puluhan wanita juga anak kecil yang memiliki tenaga kuat.
Rinda terlempar, langsung dikeroyok puluhan anak kecil, Rinda hanya bisa melindungi wajahnya memejamkan matanya berusaha untuk tenang.
Mata Rinda terbuka, langsung mengeluarkan lipstiknya puluhan orang menyingkir. Rinda melemparkan ledakan sampai puluhan orang terpental.
"Kalian yang memaksa aku melakukan ini." Rinda langsung bangkit melihat tubuhnya penuh luka cakaran.
Berlian masih berdiri, lebih dari lima wanita berbadan besar yang menyerang Lian. Tangan Lian sudah berdarah karena terlalu banyak memukul.
Pukulan kuat menghantam wajah Lian membuatnya tersungkur, rambut Lian langsung ditarik, diseret lalu dicekik dengan kuat.
Tubuh Lian sudah kejang, mengambil cara terakhir menarik kalungnya. Mengikatkan ditangan wanita yang ingin membunuhnya.
Berlian langsung kaget, kalungnya mengeluarkan dua benda tajam yang langsung memutuskan tangan.
Lian langsung terjatuh bersamaan dengan wanita teriak histeris karena kehilangan tangannya, Lian berjalan merayap untuk menjauhi mereka.
Tari memukul bertubi-tubi, tapi tidak sedikitpun serangannya membuahkan hasil. Setiap Tari memukul tangannya yang langsung sakit.
Saat terjatuh Tari menangkis dengan kuat setiap pukulan, air mata Tari menetes langsung menatap tajam.
Pukulan, tendangan semua serangan Tari tidak ada yang bisa menjatuhkan lawan, pilihan terakhir Tari langsung mengigit kuat, apapun yang menyentuhnya.
Pertarungan sudah acak-acakan, tidak ada lagi tenaga karena sudah terkuras habis. Tari memutar rambut setiap orang ditangannya.
Kaira tidak bertarung dia sibuk mencari cara untuk menghentikan pertarungan, Kai merasakan ada sesuatu di dalam setiap dinding.
Kai memukuli dinding dengan kuat, Z langsung membenturkan kepala Kaira melemparkannya.
"Kamu terlalu cerdik, sehingga sebaiknya kamu mati saja." Z mengeluarkan tombak dari dalam dinding.
Kaira langsung menatap Z yang tersenyum sinis, Kai tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut, tatapan matanya terlihat menantang.
Tangan Z terangkat ingin menusuk jantung Kaira, Rinda sudah melompat menendang Z sekuat tenaganya.
"Kak Kai." Rinda langsung membantu Kaira berdiri.
Kaira teriak kaget, melihat kepala Rinda dipukul kuat menggunakan tombak, langsung ambruk dalam pelukan Kaira.
"Rinda!" Kai teriak kuat memeluk adiknya yang kepalanya mengalami luka parah, darah juga mengalir deras.
__ADS_1
Berlian dan Tari melihat Rinda langsung melemas, tidak mungkin mereka kehilangan Rinda.
Lian langsung berlari mendekati Rinda, memintanya untuk bangun. Kaira sudah teriak histeris karena Rinda sudah menutup matanya.
"Rinda bangun Rin." Lian menepuk pelan wajah Rinda, menahan kepala Rinda agar berhenti mengeluarkan darah.
Tari menatap tajam Z langsung megambil alat make up Rinda, berlari menyerang Z dengan penuh kemarahan.
Lian melihat Tari maju melawan Z langsung cepat berdiri untuk membantu, Lian mengeluarkan benda tajam dari kalung langsung menyerang.
Kaira mendudukkan Rinda, mengusap wajah adiknya membersihkan darah sambil menghapus air matanya.
"Tunggu di sini Rinda." Kaira langsung berdiri menatap tajam Z.
Kaira menendang kuat dinding sampai mengeluarkan tombak, seluruh ruangan sudah dikelilingi oleh tombak tajam.
Kaira langsung maju menyerang, banyak wanita yang menghentikan Kaira, tapi langsung dipukuli.
Tangan Kaira sudah menaburkan bubuk beracun yang bisa membuat otot melemas, Kaira menutup hidungnya dengan kain.
Tari dan Lian juga mundur, langsung menutup hidung mereka. Z menatap Kaira tajam langsung melemparkan belati, Kai menangkap langsung melemparkan balik menembus dada Z.
"Akhirnya kalian mulai menunjukkan kemampuan, ayo maju kalahkan aku." Z tertawa kuat.
Tatapan Z mulai gelap, langsung menyerang Kaira, Lian dan Tari. Ketiganya maju tanpa rasa takut demi membalaskan sakitnya Rinda yang sudah bermandian darah.
Rasa sakitnya jatuh tidak terasa lagi, hanya ada niat terus bangkit dan bangkit lagi terus bersemangat demi membunuh Z.
"Kai kita anggap dia kak Max, dulu kita bertiga selalu berjuang bersama untuk menjatuhkan kak Max. Sekarang waktunya kita menjatuhkannya." Lian menatap Kaira dan Tari yang mengangguk kepalanya.
Kaira langsung maju, melompat ke atas tubuh Z, Lian dan Tari berlari bersama, saat Z ingin memukul Lian, Kaira menarik kuat rambut Z.
Lian menarik satu kaki kanan, Tari kamu kiri membuat Z langsung ambruk membuat getaran kuat sampai terowongan bergetar meruntuhkan sebagian bangunan.
Kaira menancapkan belati di jantung Z, Tari menyuntikan jarum beracun yang Rinda miliki.
Z merasakan tubuhnya melemah, langsung membanting Kaira, menendang Tari sampai terlempar jatuh pingsan.
Berlian berhasil menghindar, Z langsung bangkit berdiri saat posisinya belum siap Lian langsung berlari mendorong kuat tubuh Z agar tertusuk diantara tombak.
Tangan Z langsung menarik Lian agar mati bersamanya, Kaira teriak kuat meminta Lian melepaskan Z.
Langkah kaki seseorang berlari langsung menangkap tubuh Lian sampai terjatuh, Boy memeluk erat melihat Lian hampir tertusuk bersama Z.
__ADS_1
Reza langsung menendang kuat Z sampai tertancap dengan lima tombak ditubuhnya. Boy langsung menatap Lian yang jatuh pingsan.
Boy memeluk erat Lian, mengusap punggung Lian yang penuh darah. Boy tidak bisa membayangkan jika sedikit saja dia terlambat, jantung Lian akan tertusuk.
Reza melihat Mentari tergeletak, melangkah perlahan mendekatinya langsung menyentuh tangan Tari merasakan denyut nadinya.
"Syukurlah kamu masih hidup." Reza langsung memeluk Tari erat.
Miko langsung mendekati Kaira, langsung membantunya berdiri. Kaira tidak sanggup bangkit lagi sampai Miko langsung memeluknya.
"Di mana Rinda?" Maxi mencari sekeliling mereka tidak melihat Rinda.
Suara ledakan terdengar, Paman meminta mereka semua untuk keluar.
"Kita tidak akan keluar sebelum bertemu Rinda?" Boy menatap sekeliling banyaknya wanita tergeletak.
Maxi mengacak-acak sekitar tempat mereka, menyingkirkan banyak wanita yang tergeletak. Maxi mirip orang gila yang terus memanggil nama Rinda.
"Di mana Rinda Kai?"
"Rinda terluka parah, kepalanya mendapatkan pukulan dengan tombak. Dia juga tidak sadarkan diri, banyak kehilangan darah." Kaira meneteskan air matanya.
Miko langsung berlari mencari Rinda, Boy dan Reza juga langsung mencari Rinda. Kaira terduduk melihat jarum suntik milik Tari kenang-kenangan dari Rinda.
"Apa mungkin dia menjadi makanan?" Paman Ahlan langsung berlari ke arah tempat anak-anak.
Boy, Reza, Maxi dan Miko langsung mengikuti Ahlan menatap puluhan anak-anak sedang mencabik-cabik sesuatu sedang pesta makan.
Air mata Kai menetes, memeluk lututnya menangis sesenggukan mengigat ucapan neneknya soal Rinda.
Hari kehancuran keluarga Chrispeter saat kepergian Rinda, Kai tidak sanggup jika untuk kedua kalinya keluarga kehilangan sosok Rinda.
"Maafkan kak Kai Rin tidak bisa melindungi kamu, maafkan kelalaian kakak." Kaira menghapus air matanya, menatap Lian dan Tari yang masih pingsan.
"Berlian bangun, Tari sadarlah. Kita harus menyelamatkan Rinda, bangun kita tidak punya banyak waktu tempat ini akan meledak karena ada bom." Kaira melihat ke atas, menatap bom yang muncul karena getaran terowongan.
Mister Z mati di terowongan yang dia bangun, juga sudah menyiapkan sewaktu-waktu tempat ini akan dia ledakan.
"Rinda itu bukan kamu." Boy menyingkirkan seluruh anak-anak yang menatap tajam, Boy melihat cincin Rinda langsung teriak kuat.
Reza langsung berlari melihat tubuh yang sudah hancur, langsung melangkah mundur tidak mungkin adiknya yang menjadi korban, Reza tidak percaya, jika Rinda untuk kedua kalinya gugur.
"Dia bukan Rinda." Reza langsung berlari menyingkir.
__ADS_1
***