BIANKA DAN MAFIA KEJAM

BIANKA DAN MAFIA KEJAM
MANSION BARU


__ADS_3

Bara berjalan melewati koridor, tangannya menggandeng Bianka dan Nayla. Kristan diminta mengawasi Clori, sedangkan Asep sedang menelusuri orang yang terlibat dalam pembakaran Clori.


Di parkiran, Bara membukakan pintu mobil untuk kedua wanitanya. Mata Bara melirik seseorang yang memperhatikannya dari kaca, senyum manis terukir di bibir Bara.


"Kalian tidak akan bisa melihat Bara pada Ghavin, dan begitupun sebaliknya." Batin Bara dalam hati.


Mobil Bara melaju dengan kecepatan sedang, Nayla tersenyum bahagia tangannya sesekali memeluk Bianka. Bi hanya tersenyum dan mengelus kepalanya.


"Kita mau ke mana kak?" Nayla mendekatkan wajahnya ke Bara.


"Pulang ke Mansion."


"Nayla tidak mau pulang ke sana? Mansion sangat menakutkan." Nayla manyun, jika mengingat kenangan buruknya. Bara yang selalu menyakitinya, setiap hari melihat Bara pulang dengan berlumuran darah, belum lagi membunuh tanpa pandang bulu.


"Memang kamu tahu kita ke Mansion yang mana?"


"Ada Mansion lain lagi kak, bukan Mansion pembantaian." Nayla memandangi Bianka dan Bara.


"Mansion pembantaian! seperti kak Bara sangat jahat di mata kamu."


"Memang jahat!" Bianka yang menjawab.


"Mansion pembantaian sudah hancur, karena kakak ipar kamu yang sangat baik hati ini." Bara menatap Bianka yang sudah tersenyum menatapnya.


"Terimakasih Bara, aku sangat tersanjung." Bi tersenyum.


"Jangan senyum Bi, nanti nabrak. Aku jadinya lapar, awas kamu sampai mansion nanti menolak aku."


"Nayla juga lapar kak, kak Bi juga lapar."


"Bukan lapar ingin makan Nay!" suara kesal Bara sudah terdengar, Bianka menutup muluhtnya agar tidak tertawa.


"Namanya lapar ya harus makan kak." Nayla kebinggungan, Bi hanya tertawa sedangkan Bara terlihat kesal.


"Anak kecil diam saja!"


"Nayla sudah besar kak!"


"Di rumah sakit bilangnya masih kecil, sekarang sudah besar. Siapa kamu ini Nay?"


Bi tertawa bersama Nayla, Bara tidak punya selera untuk tertawa ingin cepat sampai.


Mobil masuk ke area mansion yang sangat luas, mata Nayla terpesona melihat luasnya Mansion baru Bara. Dulu juga besar tapi nuansa hutan, sedangkan yang sekarang sangat besar tapi nuansa modern.


Bi juga menyukai Mansion baru, keamanan juga sudah penuh. Asisten juga sudah terlihat dari kejauhan. Nayla membuka kaca mobil, dia melihat seorang pemuda yang sangat dia kenali.


"Kak Raka!" Nayla memangilnya.


Bianka yang mendengar nama Raka langsung melihat kearah tatapan Nay. Benar dugaan Bi Raka Chrispeter juga berada di mansion.

__ADS_1


"Nay kenal Raka?" Bi menatap Nayla yang masih melihat ke belakang.


"Iya kak! dia dulunya pernah datang ke sekolahan Nay, sebagai seorang arsitek hebat. Nayla sangat mengaguminya.


"Dia adik Rinda Rindu?"


"Serius kak, pantas saja wajah Kak Raka tidak asing."


"Kenapa Raka bisa ada di sini?" Bianka menatap Bara yang sudah memasukkan mobilnya di bagasi khusus.


"Perusahaan Raka membuka cabang baru khusus arsitek, jadi aku meminta Raka memperindah mansion agar terlihat modern klasik, kamu suka tidak?" Bara membukakan pintu Bi, baru saja Bara ingin membuka pintu Nay tapi dia sudah lari menemui Raka.


"Aku suka, sangat indah. Tapi mengapa banyak warna putih."


"Mau warna hitam!" Bara menggandeng Bi untuk masuk.


"Putih keemasan, Raka sangat hebat kalau soal desain."


"Kenapa memuji Raka, aku yang punya usul." Bara bicara dengan nada tinggi.


"Ya kamu hebat, dasar bocah haus banget dengan pujian."


Bara dan Bianka berkeliling Mansion, mereka melihat sedetail mungkin rumah baru mereka. Ada banyak kamar berukuran king, Bara tahu selama para girls Chrispeter belum menikah pasti akan mengacau di sini. Bara sudah menentukan kamar Reva dan Rindu yang mempunyai ruangan penelitian. Hanya Kei dan Rinda yang sangat kalem dan tenang. Melihat kamar Bara dan Bianka yang tiga kali lipat lebih besar dari kamar yang lainnya.


Bianka membuka ruangan penelitiannya dan Bara, pakaiannya dan Bara yang sudah tersusun rapi.


"Suka tidak sayang." Bara memeluk Bianka dari belakang, bukan hanya sekedar pelukan. Bara sudah mencium tekuk leher Bi.


"Sama aku juga, aku ingin memakan kamu Bi."


"Aku pengen makan Bara, bukan mau itu." Bianka coba melepaskan diri.


Bara akhirnya mengalah, menunda lagi keinginan yang sudah lama dia tahan. Mengikuti keinginan Bi untuk makan, mereka berdua turun dan mendekati meja makan yang sudah duduk Raka dan Nayla.


"Sudah melihat kamar kamu Nay," Bara tersenyum melihat Raka yang juga sedang makan.


"Nanti saja kak, Nayla lapar."


"Besok kamu mulai sekolah lagi, jangan coba-coba pacaran. Jika kamu ingin laki-laki itu masih hidup."


"Kak Bara, Nayla seperti adiknya gangster." Nayla bicara sambil mulutnya yang penuh.


"Gangster dan mafia beda Nayla, gangster segerombolan orang yang suka bertarung tapi mafia orang yang mempunyai bisnis gelap dan juga hidup dalam pertarungan."


"Kak Bara bangga menjadi mafia? dulu waktu aku masih di kandungan mami, hampir gagal lahir."


"Kenapa?"


"Mami diserang oleh mafia yang Keluarga terbunuh oleh Papi, istrinya sedang mengandung. Sebenarnya yang membunuh bukan Papi tapi bawahan, tapi tetap saja semuanya berjalan akan perintah Papi."

__ADS_1


"Terus Kakak bisa lahir!"


"Mami berhasil melarikan diri, Papi sangat depresi hampir gila."


"Siapa yang menyelamatkan Mami?" Nayla berhenti makan lebih semangat mendengar cerita Raka.


"Mafia itu, dia jatuh cinta ke Mami. Ingin hidup bersama Mami dan kami yang berada dalam kandungan Mami."


"Pasti Papi Rian sangat marah kalau tahu, terjadi peperangan." Bara juga fokus mendengarkan cerita Raka.


"Siapa bilang perang? Papi menggila karena kehilangan Mami, dan ayah Haikal juga Daddy Roy yang bertindak menyelamatkan Mami."


"Bikin malu sekali Papi!" Bara dan Raka tertawa bersama.


"Raka."


"Iya kak Bi."


"Sebaiknya kamu pulang, berisik." Bianka mengejek Raka yang bibirnya langsung manyun.


Bara tertawa melihat Bi dan Raka, keturunan Chrispeter memang aneh semuanya. Selsai makan malam, Bara memeluk Bi untuk masuk kamar. Bukannya Bi ingin menolak tapi dia belum siap, tapi juga tidak mungkin melarikan diri.


Bi sangat tahu keinginan Bara, tapi memang bisa mereka melakukan tanpa tahu perasaan masing-masing. Bi ingin tahu isi hati Bara, agar dia bisa yakin menyerahkan diri ke Bara.


"Bi kamu tahu keinginan aku, tapi kenapa masih menolak?" Bara mendudukkan Bianka di atas pangkuan.


"Bukan menolak! tapi...."


"Tapi kamu tidak siap, memberikan ke laki-laki yang hatinya tidak tahu untuk siapa?" Bara tersenyum.


"Setidaknya aku ingin tahu! pernikahan kita bukan didasarkan karena cinta. Kita hanya akan mengikuti nafsu."


"Siapa bilang? aku memang pria kejam tapi soal berhubungan aku tahu aturan. Jika aku hanya mengikuti nafsu, tidak mungkin aku masih menahan diri selama ini."


"Tapi sepertinya kamu memang harus menahan diri, lebih lama lagi."


"Bianka! sampai kapan? aku ingin mempunyai anak dari kamu, aku ingin mendengar tangisan bayi juga tawa bayi. Aku ingin membentuk keluarga."


"Iya Bara, jangan marah. Setidaknya tahan satu minggu lagi."


"Lama!" Bara mengacak rambutnya.


"Kamu mau melihat darah perawan sama haid bergabung."


Bara menggelengkan, langsung menurunkan Bianka. Dia masuk kamar mandi dan langsung mandi. Bianka hanya tersenyum melihat Bara yang lagi kesal.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2