
Suasana malam yang dingin, ditambah lagi lelahnya perjalanan dan berbenah membuat semuanya memutuskan tidur cepat.
Kaira terbangun sudah tengah malam, turun dari atas tempat tidur menuju toilet untuk buang air kecil.
Setelah selesai Kaira kaget melihat Miko berdiri di depan pintu, Kaira tersenyum memukul dada Miko.
"Kenapa kak Mik bangun? Kaira membangunkan ya?" Kai duduk di pinggir ranjang.
"Tidak kak Mik pikir kamu pergi ke mana?" Miko berbaring kembali, meminta Kai juga tidur.
Kaira tertawa kecil, langsung kembali ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam pelukan Miko.
Mata Miko terpejam merasakan kantuk, mengusap punggung Kai agar tidur kembali. Miko hanya tersenyum merasakan kebahagiaan memiliki teman sehidup semati.
"Kai kenapa belum tidur?" Miko menatap Kaira yang gelisah.
"Tidak bisa tidur lagi." Kaira tersenyum, menutup kepalanya dengan selimut.
Miko tersenyum masuk ke dalam selimut mencium pipi Kai, selimut terbuka Kaira langsung memunggungi Miko.
Suara petir menggelegar, Kaira langsung teriak memeluk Miko erat. Miko berusaha menenangkan Kai menepuk pelan punggungnya.
"Tenang sayang, aman di kamar ini."
Kaira menatap wajah Miko yang langsung terlihat murung, Kai tahu Miko sedang mengigat kembali masa kecilnya yang bertahan hidup dalam derasnya hujan, panasnya matahari.
Hujan petir menjadi pemandangan yang menakutkan bagi anak yang hidup di jalanan, tidak memiliki tempat tinggal.
"Kak."
"Iya Kai, kak Miko hanya berpikir berapa banyak orang yang sedang ketakutan melihat langit yang sedang tidak bersahabat."
"Bukannya setiap orang memiliki hidup yang harus mereka jalani Kak, tuhan sudah menentukan jalan hidup seseorang hanya saja bagaimana orang itu menghadapinya." Kaira tersenyum mencium bibir Miko.
"Maaf lancang." Kaira menutup mulutnya.
Miko tertawa langsung mencium Kaira secara bertubi-tubi, memeluknya erat tidak memberikan ruang untuk Kaira menolak.
"Kak Miko." Kaira tertawa merasakan geli.
Beberapa jejak merah terlihat di beberapa bagian tubuh Kaira, rasa perih juga terasa.
"Kai."
"Iya." Jantung Kaira berdegup kencang, merasakan sentuhan hangat.
"Kamu sudah siap, sudah memberikan izin." Miko menatap mata Kaira yang hanya mendapatkan balasan senyuman.
"Jika belum siap, tolak saja Kai. Kak Miko akan menunggu sampai kamu siap."
Kaira mencengkram kuat seprai ranjang, merasakan apa yang Miko lakukan. Kaira sesekali menutup mulutnya karena tidak ingin mengeluarkan suara menjijikan dari mulutnya yang mirip seperti film yang pernah dirinya lihat bersama Rinda, Tari, Lian.
"Kaira kamu bisa menghentikan kak Miko sekarang." Miko menciumi wajah Kai menunggu jawaban.
"Lakukan saja kak, tapi tolong ...."
Miko tersenyum mengerti maksud ucapan Kaira, meminta Miko lebih pelan dan lembut.
__ADS_1
Miko sendiri tidak mempunyai pengalaman, hanya sekedar tahu karena melihat secara langsung juga pernah, tapi tidak dengan *****, tapi emosi.
Kecupan sekilas di atas kening, Kaira tersenyum memeluk erat tubuh Miko yang ada di atasnya.
Keduanya melupakan jika sedang hujan lebat, lupa jika sedang ada petir. Kaira merasakan bibirnya perih menjadi ciuman panjang sampai Kai harus mengatur nafas.
Kaira menutup mulutnya kuat, merasakan sakit hanya bisa merintih dalam hatinya karena Kai tidak ingin mengeluh sakit.
Satu jam keduanya habiskan untuk bermesraan, Kaira menutup matanya yang sedang menahan air mata. Tubuh Kaira kaku merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Miko memeluk erat tubuh Kai yang tidak menggunakan apapun, menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal.
"Saat sakit kenapa diam saja?" Miko mengusap keringat dari kening Kai.
"Kai baca artikel sakitnya hanya satu kali, jika melakukan lagi tidak sakit lagi." Kai menggaruk kepalanya.
"Kai jangan mengikuti artikel, maafkan kak Miko jika menyakiti kamu."
"Tidak Kak, awalnya sakit, tapi sekarang bukan hanya yang bawah sakit, semua bagian tubuh Kaira sakit."
"Kamu terlalu jujur Kaira." Miko tertawa, mencium kening Kai gemes.
"Pundak sakit, tangan, kaki, pinggang, apalagi yang ini."
"Maaf, membuat badan kamu sakit semua. Kita mandi air hangat saja."
"Tidak mau kak, di luar hujan. Dingin sekali."
"Mandi air hangat sayang."
Kaira menggelengkan kepalanya, masuk ke dalam pelukan Miko meminta pelukan hangat.
Senyuman Miko terlihat memeluk Kai, tanpa banyak penolakan Kaira hanya mengikuti saja apapun yang Miko lakukan.
Nafas Miko dan Kai ngos-ngosan, Kaira mencubit perut Miko yang membuat tubuhnya semakin sakit.
"Kak Miko, katanya hanya satu kali sakit."
"Ya sudah kamu tidur sekarang."
"Kak Miko ingin ke mana?"
"Mandi sayang, lihat keringat semua. Tidak bisa tidur jika gerah."
"Kaira juga ingin mandi, tapi gendong. Janji tidak melakukannya lagi."
"Iya untuk hari ini."
"Jadi besok lagi?" Kaira memonyongkan bibirnya.
"Iya, biar cepat ada baby." Miko tertawa langsung menggendong tubuh Kai berjalan ke arah kamar mandi.
"Emhhh, Kaira kehabisan tenaga. Lelah sekali kak Mik."
"Baru tiga ronde, bayangkan saja jika puluhan kali."
"Gila!" Kaira memukul dada Miko.
__ADS_1
Miko tertawa meletakan Kaira ke dalam bathtub, langsung mandi menggunakan air hangat.
Selesai mandi Miko meminta Kai memakai baju, karena takut tergoda lagi.
"Kak Miko takut ya?"
"Kasihan kamu Kai." Miko memeluk Kaira memintanya segera tidur.
"Sebentar lagi siang kak, pasti para pengganggu juga bangun."
"Tenang saja, mereka juga tidak akan bangun. Ini malam pertama mereka, kak Miko jamin tidak akan ada yang bangun di awal." Miko memejamkan matanya.
"Kaira tidak yakin." Kai memeluk Miko memutuskan untuk tidur.
Miko mengambil ponselnya, melihat beberapa hal yang harus dia kerjakan besoknya. Miko membatalkan semuanya, karena bukan hanya Kaira yang badannya sakit semua, Miko juga sama lelahnya.
Hujan di luar mansion sudah reda, tidak terdengar lagi suara petir. Suara dengkuran dua insan juga terdengar, tidur dalam keadaan berpelukan.
Suara kuat menggema membuat Miko dan Kaira terbangun, saling tatap melihat ponsel Miko yang berbunyi.
"Suara apa kak?"
"Siapa yang membuat alarm di ponsel ini? dasar manusia jahil."
"Pasti kak Boy, dia mengacau." Kaira menatap kesal langsung tidur lagi.
Miko mematikan ponselnya, menatap Kai yang langsung memeluknya erat.
"Boy memang dari kecil jahil ya sayang?"
"Rinda yang jahil, kak Boy juga, Reza juga. Mereka bertiga satu server, hanya Kak yang tidak punya jiwa jahil."
"Berarti anak kita pasti pendiam Kai, semoga dia sebaik dan sepintar Mamanya."
"Dia nanti sepintar Papanya, karena Mama pengemar Papa." Kaira tertawa memeluk Miko.
"Mama Papa, nama anak kita siapa?"
"Cowok atau cewek?"
"Cowok?"
"Kenzo, panggilannya Ken." Kaira tertawa mencium pipi Miko yang mengangguk kepalanya.
"Ayo tidur lagi sayang."
"Good morning Papa."
"Morning, masih gelap sayang."
"Tapi ini sudah jam lima kak, berarti pagi."
"Baiklah, ayo tidur."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***